
Akhirnya sampai lagi di rumah, dia di anterin sama orang yang menjemputnya tadi pagi, keadaan rumah sepi, Gerbangnya ke buka, pintu juga tidak di kunci, mobil atau Kreta ayahnya juga ada, tidak biasanya rumah ini sesepi ini.
“Assalamu’alaikum! ma! Teguh pulang!” tak ada jawaban, rasa capek sudah menyelubungi tubuh Teguh, dia pun berfikir mau langsung tidur aja. dia mencari hapenya. Tadi pagi dia ngecasnya di samping TV, dia terkejut karena hapenya tak ada di tempat.
“Guh! coba Teguh baca sms ini!” Teguh kaget dia terperanjak, Kasmini tiba-tiba datang dari kamarnya membawa hapenya yang dia sedang cari, mamanya nunjukin sms, dia pun membaca sms dari Lik Kamisah, memang dia tidak memberi nama, karena dia tak pernah nyimpen nomernya.
“Guh, tu mama engkau sedang gayut, muak aku dengernya.” Kasar banget bahasanya, dia pun tak percaya kalau itu tulisan liliknya, dia sama sekali tidak percaya Kamisah sekasar itu.
“Memang tadi mama dapat talipon dari Harun, bos Teguh itu, tapi Harun cuman pengen ngajak mama tengok istrinya dekat hospital, apa hal dia sms macam ni pada Teguh? Tak salahkan mama buka sms hape Teguh? Toh Teguh anak mama?” Kasmini marah panjang lebar sama Teguh, segala pertanyaan di lontarkan padanya, dia bingung ngejawabnya, jadinya dia tak ngejawab semuanya, dia dengerin aja apa yang mamanya bilang, apa yang mamanya bicarakan, Kasmini juga bilang kalau dia sudah marahin Kamisah atas sms yang dia kirim untuknya, dia rasa mamanya sekarang sudah marah banget, dulu dia pernah marah pada tetangganya hanya karena dia menghina dirinya di depan umum, yang kemudian dia melabrak tetangga itu ke rumahnya.
Sekarang Kasmini merasakan hal yang sama, dia merasa terhina dengan sms yang adiknya kirimkan ke anaknya, Kamisah mengira Kasmini dan Harun tu ada main, dari wajahnya Teguh bisa bilang kalau mama memang marah besar, di ajaklah Teguh ke pekarangan depan rumah, sekarang Kamisah masih di kamarnya, entah apa yang sedang di lakukan olehnya Teguh juga belum sempat ketemu sama Kamisah, dia belum sempat untuk menanyakan maksud liliknya mengirim dia sms itu, di pekarangan Kasmini marah-marah lagi, tapi kali ini dia bukan marah sama Teguh ataupun Kamisah, ini bisa di bilang shering.
“Apa kurangnya mama buat Lik Kamisah Guh? dia dah bohongi kita, mama masih maafkan dia, dia hamil dengan Misam atas kebodohannya mama yang menanggungnya, mama tolong dia, mama izinkan dia tinggal di rumah mama, mama bohong pada semua orang, sama tetangga, bahwa dia hamil dengan suaminya, apasal ini balasannya?” belum selesai Kasmini shering pada anaknya, dia masih terus bercerita semuanya pada anak satu-satunya, pada Teguh Prayitno, pada bocah bau kecur dalam masalah kekeluargaan, tapi dia juga sudah bisa tau mana hitam dan mana putih.
__ADS_1
“Teguh tau apa hukuman orang yang melindungi orang kosong di Malaysia?” orang kosong di sini maksudnya orang tanpa documents, tanpa identitas, Kamisah lah salah satunya, memang awalnya dia masuk Malaysia menggunakan passport, tapi karena waktu izin tinggalnya sudah habis dan dia tidak nyambung ke imigration, maka dia sudah termasuk orang yang tidak di akui keberadaanya di Malaysia. “Denda RM20ribu plus kurungan dalam penjara 5tahun, siapa yang kena hukum? Ayah engkau tu hah!” makin membara mama, “Mama dah putuskan Kamisah harus pulang kat Indon.” ‘Alloh…’ Teguh terkejut mendengar keputusan mamanya dia bigung, ini semua sebenarnya bukan salah Kasmini, bukan juga salah Kamisah, ini semua gara-gara si Harun brengsek itu, sebenarnya Teguh ikut ngebaca setiap sms yang Harun kirimkan untuk Kamisah, pertama dia tak percaya, tapi dia kenal nomer hape bosnya itu, dan bener itu sms dari Harun, di dalam sms itu si Harun mengaku kalau dia ada main dengan Kasmini, tapi begitu dia berani menanyakan langsung pada mamanya, itu semua tidak bener.
“Mama pernah cakap kan sama Teguh, kalau mama akan serius, ini yang terakhir mama menikah, mama bersumpah, mama akan menjaga janji mama, ngga mungkin mama selingkuh. Apa untungnya buat mama?” Kasmini sudah berulang kali menikah, namun selalu dia gagal menjaga pernikahanya, dan itu terjadi karena dia memilih untuk tetap bersama Teguh anaknya, anak satu-satunya yang selalu membuat dia naik darah, membuat dia menangis, tapi itu semua tidak akan lagi Teguh lakukan, sekarang dia akan bertekat untuk tetap membuat mama tersenyum, terutama dia tersenyum karena melihat Teguh sukses, melihat dia meraih mimpinnya, walau pun hingga saat ini Kasmini belum pernah meng ‘iya’kan semua impiannya.
“Kalau menurut Teguh, ini salah Harun ma! Harun yang selama ini selalu sms-an sama lik Kamisah, Harun yang cakap dengan Kamisah kalau dia ada hubungan sama mama.”
“Ngga mungkin lah Guh! kurangajar si Harun, Teguh percaya kan sama mama?” bukan hanya percaya, dia sangat dan teramat percaya dengan mamanya, percaya banget sama Kasmini. Kebenaran mulai nampak, dia sudah tau siapa yang harus di salahkan, tidak lain tidak bukan, dialah Si Harun biang semua ini, Kamisah melambaikan tangan ke Teguh, dia memanggil Teguh, sudah mau magrib.
“Sana liat Lilikmu! Takutnya dia bunuh diri, kan entar tambah repot urusannya.” Kamisah nangis, dia marah-marah sendiri di dalam rumah, kelihatan dari luar Teguh langsung aja masuk, terlihat Kamisah pergi ke belakang rumah dia lari, Teguh juga harus cepet-cepet ke sana, takut terjadi apa-apa sama Kamisah, bukan apa-apa ini waktu magrib, setan berkeliaran, sepertinya Kasmini tidak apa-apa di depan sendirian.
“Lepasin aku Guh! lepasin aku! Aku pengen mati saja!” Kamisah meronta-ronta, tenaganya kuat benget.
“Jangan tolol Lik! Jangan goblok!” Teguh terus berusaha merampas racun dari tangannya, dia coba membanting racun itu, tapi tangan Kamisah masih memegang erat racun itu, racun tumpah kemana-mana di dalam dapur, dengan susah payah dia terus berusaha merampas racun itu, begitu dapat, dia langsung membanting botol berisi racun itu di lantai dapur, “Prang…” pecah.
__ADS_1
“Lepasin aku Guh! aku ingin mati saja!” Teguh panik, dia tak tau harus gimana sekarang, Kamisah memeluk erat tubuhnya, dagunya di sandarkan di pundak Teguh, dia lihat mamanya mendekat, sambil menelpon, Kasmini terlihat begitu santai medekati mereka, seolah dia tak pernah perduli dengan apa yang akan terjadi dengan Kamisah.
“Bang! Balik! Ada yang mau bunuh diri, adik engkau tu nak minum racun serangga!” Kasmini menelpon suaminya dengan santai mengadukan apa yang baru saja terjadi, dan Kamisah masih memeluk tubuh Teguh yang masih panik sambil menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi baju Teguh, keringat banjir di badannya, dia tak tau harus berbuat apa sekarang, dia hanya bisa diam dan diam, tak dapat berbuat sesuatu apapun. Suasana mendingin beberapa menit, dia tarik nafas panjang, sekali, dua kali, terlihat dia sangat kecapekan menahan beban Kamisah dan kandungannya di dadanya, tapi Kamisah masih menangis tersedu, walaupun tidak seperti waktu tadi, sewaktu Teguh baru berhasil merampas racun di tangannya.
“Kenapa Teguh tolongin dia? Biar aja dia mati biar tambah repot mamamu ini, biar dia puas!” ribut lagi, Teguh bingung, Teguh sangat kerepotan, ‘kemana sih si Ayah?’ batinnya, dia tak bisa apa-apa, Kasmini dan Kamisah sudah mulai membombardir dengan membuka aib yang lain, yang sebenarnya Teguh sendiri juga sudah tau.
“Ada apa ini hah? Siapa nak bunuh diri? Siapa nak minum racun?” ‘Alhamdulillah ayah sampai juga’ batinnya sedikit bersyukur, tapi tetap dia tak bisa ngomong apa-apa. “Dek! Bunuh diri itu dosa! Dosa besar! Kenapa adek mau mati? Sedangkan adek belum di tentukan untuk mati? Itu sangat di benci Alloh dek!” Ayob cuman ceramah, terjadi lagi perang, kali ini lebih dahyat, tapi kali ini Teguh rada ringan, karena sudah ada yang jagain Kasmini, tapi…
“Emang semua salah aku, aku ini ngga ada gunanya…” ‘astagfirulloh...’ Kasmini mukul-mukul kepalanya sendiri, dia tendang kipas angin yang sedang berdiri di kamar Teguh, lemari baju besar yang ada di kamar Teguh di tendang sampai bergeser, ‘ya Alloh apa yang mama lakukan?’ Teguh semakin panik.
“Ika! Jangan begitu Ika! Nyebut Ka!” Ayob mencoba mencegah aksi Kasmini yang mulai membabi buta, Teguh sudah tidak tahan ngeliat mamanya berusaha melukai dirinya sendiri.
“Mama…mama…” dia nangis, dia tidak kuat, dia tidak tahan melihat semua ini, dia menangis sekencang dia bisa.
__ADS_1
***