
Terlihat sekali kalau Teguh sedang capek banget, di kawasan ini sudah habis bajanya, sekarang mereka mau naik ke kawasan yang berbukit, jadi kawasanya ada di atas, mereka semua naik ke atas trela yang berisi baja, nah baja ini adalah campuran antara tai ayam, kulit sawit yang busuk dan beberapa campuran lainnya, jadi ya baunya sudah tidak jelas, berasap juga, asapnya tu panas, begh… sudah tidak karuan deh, trela ada dua, yang satu masih di belakang, lagi ngambil baja, yang ini masih penuh, karena baru di isi, mereka terus manjat ke atas bukit, matahari sudah bersinar dengan sempurna, tidak ada awan sedikitpun di atas sana, tapi belum terlalu panas kok, keringat sudah membanjiri tubuh mereka.
Wah parah, trelanya tidak kuat nanjak, jadi? Ya mereka turun lah, mereka jalan kaki ke atas lagi, sebagian naik trela yang satu, Teguh terpisah dari dua temennya, Dekong dan Rasno, sambil naik ke atas Teguh gendut yang sepertinya paling tua di sini mencoba berani bicara pada Katun.
“Tun, saya mau cakap sikit boleh?”
“Hah! Cakap lah!”
“Ini yang baru datang ini, budak baru, Akok salah pilih orang, jangan macam semalam tau, kita di Orchid biasa jam sepuluh pagi tu rehat, sekarang sudah dekat jam sepuluh nih.”
“Hah, iya lah, ini pun mau rehat, nanti sampai atas kita rehat minum air.”
“Bagus lah kalau begitu, bukan apa Tun, takut mereka pengsan. Kalau mereka pengsan siapa yang susah?” sambil terus berjalan Teguh gendut terus ngomong sama Mandor sawit yang bernama Katun, kanapa? Karena kemaren tu tidak ada rehat.
Akhirnya rehat juga, Teguh gabung sama Dekong dan Rasno.
“Nyesel gue Guh ikut ke sini.” Rasno sudah terus mengeluh.
“Bukanya elu tadi kegirangan waktu baru mau ke sini? Katanya tidak nyangkul di kawasan Siska?”
“Mangkanya gue nyesel Guh, Kong? Lu tidak capek apa?”
“Jangan tanya gue No, gue sudah tidak bisa ngomong nih, eh Guh, nyangkul enak tidak sih?”
“Lu mau nyoba? Coba aja, nih cangkulnya” Teguh kasih cangkul pada Dekong sedangkan mereka sekarang masih duduk di bawah trela berlindung dari sengatan matahari yang mulai panas, Dekong menerima cangkul dengan senang hati, air mineral masih banyak berserakan di atas rumput, Teguh minum sebanyak dia bisa minum, sekarang perutnya sudah kembung, isinya cuman air, luar biasa, capek banget.
“Waktu rehat sudah habis, ayo kerja lagi! Ayo semua bangun!” mereka bangun dengan malas, tapi ya gimana lagi, mereka harus bekerja, Teguh ambil beledi yang ada di atas trela yang sudah terisi dengan baja, tidak terlalu berat, dia ambil dan dia tuangkan di sekeliling pokok sawit yang berlubang, Rasno dan Dekong pegang cangkul, rupanya kalau di rasa, lebih simple naruh bajanya, trela terus berjalan dia ngikutin di sampingnya, mengambil beledi di atas trela yang sudah berisi baja, dan mengembalikan beledi kosong ke atas trela. beledi adalah ember, jam sudah menunjukan jam setengah dua belas siang.
__ADS_1
“Guh! Gantian ya!” ini Rasno, dia mau gantian lagi sama Teguh, dia kan tadi nyangkul, dia mau pegang beledi, di kiranya enteng kali, pegang cangkul, kalau menurut Teguh sih mendingan pegeng beledi, cuman aja kalau pegang cangkul tu tidak deket sama si Katun, mandor reseh itu, terus kalau pegang cangkul tu bisa ngumpet, jadi tidak kerja, kata orang orchid ‘ngula’ ngumpet lari dari kerja.
“Ya sudah nih beledinya! Sini cangkulnya!” Dia kasih beledi dan dia minta cangkul dari Rasno dengan cara halus, dia mah orangnya baik, je ileh segitunya kah? itu alasan ke dua, alasan pertama dia kasih beledi ke Rasno tu karena baja itu bau banget, dia tidak betah dengan baunya. tapi sepertinya kawasan ini sudah habis, mereka mau pindah kawasan lagi, pindah ke sebelah sana, di bawah kawasan ini, mereka harus turun karena kawasan ini adalah kawasan paling atas, mereka semua naik trela lagi.
“Panas banget ya No, tidak kuat gue kalau begini terus.” Dekong mulai mengeluh lagi.
“Kan kemarin aku sudah bilang, di sini panas banget, jangan pada ikut! Tapi kalian tidak ada yang percaya.” Teguh gendut mengingatkan mereka.
“Ini belum seberapa Kong, nanti kalau sudah jam dua, tunggu aja nanti, gue tidak mau cerita deh, ntar di bilang nakutin elu lagi.” Bisri nimpalin Teguh gendut.
“Ntar jam dua belas kita kan makan, nah makan yang banyak!” Dasimin ikut berceramah, Teguh diem aja, ngedengerin mereka pada ngobrol,
“e…eh… trelanya doyong, eh… trelanya mau roboh” roda depan trela ini masuk ke lubang, gimana nih? Ya mereka turun semua lagi, mereka lihatin aja si supir trela mencoba melapaskan roda dari lubang, tidak terasa sudah mau jam dua belas, dan supir trela belum berhasil.
“Halo! GCBnya bawa ke bukit ya! trelanya masuk kat lubang.” Katun memanggil GCB yaitu alat berat yang sedang di pakai untuk menggali lubang di seluruh keliling pohon sawit yang ada di kawasan kebun sawit ini, “Kalian semua! Kembali ke kongsi kita makan dulu!” rehat dulu, sudah hampir jam dua belas siang, capek banget, mereka jalan menuju kongsi, yaitu bangunan seperti rumah satu-satunya di tengah kawasan kebun sawit ini, anak-anak yang lain sudah di depan, Teguh sendiri di belakang, hapenya bunyi, dari Wiwit, temen kerjanya di orchid.
“Halo! Gimana kota tinggi Guh?”
“Sekarang lu lagi ngapain?”
“Jalan sendirian mau ke kongsi, gue mau makan, laper banget, capek banget, sudah pengen balik banget, pokoknya serba banget deh, ampe kebangetan semuanya.”
“Hahahaha…salah siapa ikut, eh Guh! Nih si Lasiman mau ngomong!”
“Halo Guh? Gimana di sana? Kerjanya ringan ya?”
“Ringan apanya kang? Kita sudah kayak di panggang di sini, panas banget, ya sudah lah gue mau makan nih, ntar besok lah gue ceritain kalau sudah sampai orchid.”
__ADS_1
“O ya sudah ati-ati kerjanya ya!” dia tutup telpon dan dia masih terus berjalan menuju kongsi yang ternyata jauh.
Makan lagi, dia pasti sudah lapar benget, padahal dia tadi pagi makan jam delapan, sekarang sudah lapar lagi, tu anak-anak yang lain juga sudah ngambil jatahnya masing masing, dia juga mau ngambil, masih ada tiga lagi, ada yang mau? Tapi sepertinya jatahnya sudah pas deh, lain kali aja ya, ni khusus buat mereka yang lagi kelaparan, ambil satu terus gabung lagi sama yang lain, mereka pada makan di pingir rumah ini, di dalam rumah hawanya panas banget, memang panas, dia buka baju, yang lain juga pada buka baju, dia buka juga bungkusan nasinya, ‘wah banyak banget nasinya, wah lauknya doble, ada ikan laut, ada ayamnya juga, ada sayur daun singkongnya juga, tau aja kalau aku suka sama daun singkong’ girangnya dalam hati, langsung aja dia lahab makanannya, anak-anak yang lain sudah selesai makan, mereka merehat kan badan mereka, masih mencoba membuang kringat yang menempel di badan mereka, terlihat juga si Salim yang badanya sudah berbentuk, cocok banget kalau dia jadi binaraga, badannya kayak kodok ijo, membentuk mblenduk, kayak badanya Ade Ray, Teguh sudah selesai makan, ‘kenyangnya…’ dia minum dulu nih ada yang menyedu extra joss, beruntung banget dia ya, ‘wah kalau begini mah aku sudah siap bertempur lagi, aku akan hadapi terik matahari demi masa depanku yang cerah, hahahaha…’ sombongnya dalam hati.
“Ayo semua dah selesai makan kan? Kita mulai kerja lagi ya!” mereka semua bersiap kerja, semua bersemangat, mereka berangkat ke kawasan lagi, matahari sedikit muram, karena ada awan yang datang menutupinya, andai saja cuaca seperti ini akan sampai sore nanti. Dua belas orang dari orchid dan tiga orang dari kawasan ini, jadi semuanya ada lima belas orang, semua mulai bekerja, mereka sudah ada dua trela baja yang siap untuk di taruh, Teguh pegang cangkul, seperti biasa mereka berenam, Teguh, Dasimin, Bisri, Yono, Teguh gendut dan Rifa’i.
Sudah sampai di kawasan, mereka semua turun, mulai menimbun lubang-lubang yang sudah di isi baja oleh teman-teman. Waktu terus bergulir, awan semakin menghilang, udara semakin panas di rasa oleh tubuh mereka, angin pun tak bertiup dengan sempurna, terkadang bertiup terkadang tidak, kringat terus mengucur dari tubuh mereka, air yang tersedia di trela sudah hampir habis, perut mereka pun terasa kembung, badan mereka semakin lemas, mereka semua merasakan hal yang sama.
“Katun! Air minumnya habis nih!” seperti biasa, Teguh gendut adalah satu-satunya orang yang berani bicara sama Katun, setiap ada apa-apa dia yang turun tangan, Katun pun langsung menelpon seseorang, tak lama setelah itu sebuah kreta datang menghampri mereka semua, satu beledi air mineral di keluarkan dari dalam kreta, mereka langsung menyerbu beledi berisi air mineral, selesai minum, perut makin kembung, badan jadi lemas, tapi mending, sudah tidak haus lagi, mereka mulai kerja lagi, Teguh masih pegang cangkul, jadi tugasnya masih sama seperti tadi, yaitu menimbun lubang-lubang di sekeliling pokok sawit yang sudah di taruh baja.
“Guh! Lu lemes nggak sih? Gue kok lemes banget ya?” Bisri nanya ke Teguh, sudah hampir satu jam semenjak mereka minum air tadi, ya sudah tentu dia lemes banget, dia sudah pengen jatuh.
“Gue sudah lemes banget nih Sri, kang Yono! Duduk dulu ya! lemes nih!”
“Duduk aja! aku juga sudah lemes banget.” Yono langsung duduk di bawah pohon sawit yang masih pendek-pendek, terlihat wajah Yono sudah merah banget, sudah kayak warna tomat mateng, kan kulit Yono aslinya putih, kena panas begini ya sudah otomatis jadi merah, Teguh sudah tidak kuat lagi, dia ikut duduk di samping Yono, Bisri juga sudah duduk, Teguh gendut mana sama Dasimin? Wah tu dia, mereka juga sudah pada duduk, noh disana, di pohon sawit yang depan, Rifa‟i masih semangat, dia masih menimbun lubang, bener-bener, panasnya bukan main, panas banget, sudah duduk di bawah pokok sawit pun masih panas aja, udaranya nih yang tidak bisa kompromi, angin juga sama sekali tidak ada, matahari masih aja bertengger di sana, padahal tadi sekitar jam satu awan masih banyak, sekarang sama sekali tidak ada.
“Woi…ada yang pingsan nih!” ‘hah ada yang pingsan? Siapa ya? seperti suara Dekong, emang dia Dekong’ o alah… Rasno, dia di Bantu sama Dekong jalan, lha mereka jatuh bareng, mereka akhirnya berlindung di bawah pokok sawit seperti yang lain, Rasno rebahan di bawah pokok sawit.
“Istirahat dulu aja semuanya…” dari tadi kek istirahatnya, Katun baru menyuruh mereka istirahat, padahal mereka sudah pada rehat dari tadi, Teguh mencoba jalan mendekati dua temennya, terlihat kang Yono sudah rebahan di bawah pokok sawit, mungkin dia sudah tidur, Dasimin juga sama, Teguh gendut juga, wah semuanya, semua orang ada di bawah pokok sawit, si Salim juga.
“Kenapa lu No?” Teguh tanya dengan lemas.
“Lemes banget Guh! Gue ngga kuat nih, besok gue ngga ikut lagi lah Guh!” terlihat si Dekong juga di sampingnya dia juga rebahan, Teguh bingung mau ikut rebahan di mana, ‘tu di bawah trela pasti adem’ dia rebahan di sana, dia langsung masuk ke dalam kolong trela, dia lemes benget, dia langsung rebahkan tubuhnya di bawah trela, dia lemaskan seluruh tubuhnya, relax, tidak bertenaga sama sekali, blank…
“Ayo lembu…lembu…bangun lembu…kerja lagi!” ini suara Katun, wah parah nih masak mereka di panggil lembu, semuanya, semua orang di sini di panggil lembu sama dia, kurang ajar tu cina, coba kalau dia bukan mandor di sini, sudah mereka hajar dia, tapi ya mau gimana lagi, memang ini nasib mereka, mereka kan emang lembu, mereka orang yang hanya bisa di suruh-suruh,
“Guh! Bangun! Trelanya mau di nyalakan tuh.” Rasno memperingatkan Teguh, dia langsung bangun, mending, sudah tidak terlalu lemes bisa lah kalau sekedar menimbun lubang yang sudah berisi baja, sebentar lagi jam tiga, nanti mereka pasti kan istirahat lagi, mereka melanjutkan pekerjaan mereka, trela sudah menyala lagi berjalan di antara pohon-pohon sawit.
__ADS_1
Tadi sudah makan roti, Teguh habis empat bungkus, sekarang sudah kerja lagi, sudah jam setengah empat, sudah mending, sudah tidak panas kayak tadi, semua orang sudah semangat bekerja, mereka ada di atas trela, Teguh sekarang bertugas mengisi beledi kosong dengan baja, mending begitu, yang capek tangannya, kakinya tidak capek, kan di atas trela, trelanya yang jalan, terlihat si Rasno mendekati Katun, mau ngapain dia ya? lho kok si Rasno di kasih air minum, itu kan 100plus wah habis ini Rasno pasti bakal tidur nyenyak nih, rupanya dia laporan sama Katun, dia sudah tidak kuat lagi mungkin, tu kan, dia tidak bekerja lagi, tapi dia duduk di salah satu lubang di pinggir sawit, eh dia bukan duduk tapi dia tiduran, kasian banget tu anak, pasti dia capek banget, yang lain melanjutkan kerjanya, biarin Rasno merilekan dirinya, yang lain tidak boleh iri sama dia, walaupun mereka tau kalau upah dia dengan mereka sama, tapi mereka juga harus tau, kalau dia adalah teman mereka yang sedang kecapean, mereka juga capek sebenarnya, tapi mereka masih sanggup bekerja. terlihat si Rasno, dia sudah tidur, ‘mimpi indah ya No!’
***