Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 9: Keluarga Besar (2)


__ADS_3

Teguh merasa kasihan pada Kamisah, dia tak mau kembali ke kampung membawa aib ini, bahkan dia pernah bilang “Lebih baik aku mati dari pada membawa anak ini ke kampung.” jalan satu-satunya adalah membawa Kamisah ke Malaysia, kalau begitu Teguh juga merasa harus ikut bertanggung jawab, walau bagaimana pun dia adalah adik dari Mamanya, orang yang sewaktu dia kecil momong dia, yang sayang sama dia, dan sekarang ketika dia sudah dewasa mengapa justru Kamisah yang jadi kecil lagi fikirannya ya? ‘udahlah ntar kalau sudah gajian, aku ikut Bantu biaya perjalan Lik Kamisah ke Malaysia,’ makanya dia harus giat bekerja, sekarang di hadapannya sudah ada campuran pasir, dan semen, sama air, mau dia aduk buat bikin tembok rumah, dia pun lagi pegang cangkul.


Setelah sebulan kurang dia di Malaysia dia pun harus kembali ke Indonesia, kali ini dia akan masuk Malaysia dengan membawa Kamisah, Teguh nyampe tujuannya, Kamisah sedang ke Selat Panjang, lagi buat passport baru, biar bisa masuk Malaysia, tentu sampai tujuan dia langsung nemuin tuan rumah yang ngurusin semua urusan Liliknya, waktu di itung-itung habisnya Kamisah buat ngurus passport plus tiket sama pelicin masuk Malaysia satu juta lima ratus ribu, gajian Teguh bulan ini tujuh ratus ringgit, semua di tukarin ke rupiah, di tambah seratus ringgit sama mamanya, jadinya dua juta lima puluh ribu rupiah. Oke Kamisah sudah sampai, berarti passportnya sudah jadi, besok Teguh sudah bisa ke Malaysia lagi dengan membawa Liliknya yang sedang hamil lima bulan, tantangan yang berat, kalau orang imigration tau Kamisah sedang hamil, pasti bakal di tendang, entar dulu! jangan salah tafsir, kalau di tendang pake kaki kasian Kamisahnya, masa lagi hamil di tendang-tendang? Jadi maksudnya di pulangin lagi ke Indonesia.


“Halo dek? Pakabar?” Kamisah menyapa Teguh, kemudian menjabat tangannya, Teguh cium tangannya, lalu dia peluk erat tubuh keponakannya, sungguh kasihan bila melihat keadaanya, tapi ada yang aneh dari wajahnya, tidak wajar, harusnya Teguh ngeliat wajah yang melas dari Kamisah, karena dia sedang di timpa musibah, tapi ini? apa yang dia lihat? Kamisah sumringah, seperti orang tanpa beban sama sekali, entah lah, Teguh juga bingung dengan Liliknya ini, satu lagi yang tidak wajar dari Kamisah, dia lagi hamil lima bulan kenapa dia pake clana jins dan baju ketat? ‘sok banget sih!’ batin Teguh memaki adik dari mamanya itu, mungkin biar orang mengira dia tidak hamil, tapi setidaknya dia pake baju besar kan bisa, jadi perutnya tidak terlihat mblendung.


“Lik! kamu perutnya dah besar lah, pake bajunya yang bener!” Teguh coba memberi tahu apa yang dia lihat dari Kamisah, tapi dia tidak menjawab, malah langsung membongkar isi tas yang Teguh bawa, dia ambil baju Teguh yang masih bersih.


“Ini cocok ngga buat aku?” dia tanya, tapi dia tak perlu jawaban, dia langsung aja masuk kamar dan langsung ganti pakaian, begitu semua sudah siap, dia langsung keluar rumah, Teguh ikutin, dan ternyata, dia ngobrol sama cowok seusia Teguh, entah apa yang di obrolin dia tidak perduli, dia datangi mereka, dia nimbrung.


“Teguh sudah makan? Wit yuk makan!” aneh, kenapa dia tanya Teguh sudah makan apa belum, tapi dia ngajak cowok yang tidak Teguh kenal itu untuk makan, seharusnya kan ‘Teguh sudah makan? Yuk kita makan!’ begitu kan yang bener? tapi dia kemudian cuek dia pun langsung makan aja, mereka semua ke ruang makan, di ruang makan juga dia berbuat yang makin Teguh panas, dia siapin makan buat Teguh, tapi dia juga siapin makan buat cowok itu, caranya sama, tapi cowok itu lebih istimewa, Teguh bukannya cemburu atau apa tapi dia dengar Kamisah hamil aja dia sudah mendidih darahnya, apa lagi dia mesra-mesraan dengan orang yang tidak dia kenal? Terus Kamisah panggil dia ‘dek’ itu kan artinya Teguh adiknya, yang sebenarnya adalah dia keponakannya, yang berarti juga Kamisah sudah tua, Teguh jadi tak bersemangat ngeliat adegan mesra mereka, Teguh cepetin aja makannya, yang aslinya dia tidak bisa makan cepet.


‘Bismillahirrohmannirrohim! mudah-mudahan beres sampai tujuan!’ Teguh berdo’a dalam hatinya, semua sudah siap, sekaranglah tugas terberatnya, membawa seorang perempuan hamil ke negri orang, yang sebenarnya apa yang dia lakukan adalah melanggar hukum, tapi ini semua demi maruwah, demi nama keluarga besar, demi bersihnya nama Mad Gasmin, yang sesungguhnya dari dulu sudah tercemar. Teguh bersumpah, nama Mad Gasmin akan dia bersihkan, akan dia buat nama itu berkilau bak permata yang terkena sinar matahari, indah tak terkira di mata masyarakat, terutama di kampungnya. Dia janji, cucunya lah yang bernama Teguh Prayitno yang akan mengobati keresahan mereka yang pernah di resahkan oleh Mad Gasmin, mereka akan membanggakan Teguh cucu Mad Gasmin seorang actor dan sutradara handal dari kampung mereka.

__ADS_1


Sudah setengah jalan, jantungnya mulai berdegub kencang, dia tak tau deguban jantung Kamisah, yang dia lihat, wajahnya begitu murung, Teguh merasa dia tau apa yang Liliknya fikirkan, dia harap Kamisah sedang memikirkan bagaimana nasib anaknya yang sedang di kandung sekarang, atau dia memikirkan bagaimana keadaan dua anaknya yang di asuh oleh suaminya, di rumah kakak kandungnya, yang di wariskan kepada keponakannya. Baru kali ini Teguh ngeliat di wajahnya tersirat kesedihan, kesedihan yang mendalam.


Teguh tau, dia tau banget hubungan Kasmini dan Kamisah dari dulu, dari semenjak masih di jawa, di kampung halamannya, selalu saja lain pendapat, ujungnya marahan, tidak mau saling tegur, jauh-jauhan, kapan mereka baikan? Setaunya setiap kali salah satu membutuhkan yang lain, saat itu lah mereka kembali saling canda tawa, dan saat itulah Teguh merasa seperti ada di antara bidadari yang hatinya bagaikan desiran angin, yang bisa menyejukan hatinya, dan saat inilah, saat dia ngerasa ada kedamain yang pernah dia rasakan seperti yang pernah dia rasakan dulu, hanya saja masih ada yang kurang, di sini tak ada neneknya, ya byungnya itu, tidak ada Maman juga, dan di sini juga penuh dengan kebohongan, penuh dengan rahasia, rahasia yang sungguh berbau busuk! Dan salah satu orang yang harus menjaga rahasia itu supaya tidak tercium oleh orang lain adalah dia Teguh Prayitno, dia bisa ngeliat senyum ceria Kasmini, Kamisah dan Maman tentunya di Jakarta, itu semua karena Teguh dapat dengan sempurna membawa Kamisah sampai ke rumah ini, sekarang mamanya sedang telpon Maman.


“Guh! Nih Lik Maman mau ngomong.” dia ambil hape mamanya dan dia bawa.


“Guh! bisa suaranya ngga di loudspeaker?”


“Apa? Ngga di loudspeaker?” dia ngerti! itu artinya di dengerin sendiri.


“Sudah? Ya sudah nih dengerin aku mau ngomong.” Maman serius berbicara, “Masih inget kan kata-kataku dulu? Jadi Teguh harus bisa jaga amarah Teguh, kendalikan emosi Teguh! Sebenarnya aku juga marah banget waktu pertama denger kabar ini, tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang tugas Teguh jaga lilik kamu! Ya itu Lilikmu, mau di akui atau tidak, dia tetep Lilikmu, walau sampai kapanpun dia tetep lilikmu!” Teguh hanya meng iyakan saja semua nasehat Maman, dan memang semua kata-katanya bener.


Kesel juga Teguh, gara-gara Kamisah datang, dia harus tidur di depan TV tiap malam, tapi sepertinya Teguh biasa aja dia ikhlas, ikhlas dunia akhirat.

__ADS_1


***


Agustus 2007


Tak terasa sudah dua bulan Kamisah di Malaysia, perutnya makin membesar, usia kandungannya sudah tujuh bulan, tu bayi pasti sudah gede di dalam perut Kamisah, Kemaren sudah di chek in ke dokter kandungan terus janinnya di foto, lucu, kata dokter anaknya cowok, soalnya janinnya punya buntut di depan, sudah bisa di pastikan kalau si jabang bayi itu adalah cowok. aslinya Teguh sekarang harus kerja, sudah pagi, jam delapan waktu Malaysia, dia sudah mandi, sudah siap berangkat kerja, dia juga masih ngantuk banget, sebab semalam dia habis nonton bola, Real Madrid kalah 1-0 sama Valencia kesel juga dia jagoannya kalah, dia sudah hendak pergi tapi dia ingat hapenya hampir ketinggalan, ternyata batrenya low, dia pun meninggalkan hapenya di chargenya hape dia tinggalin di rumah.


“Tin…tin…” enak kerjanya Teguh, berangkat di jemput, pulang di anterin, biasanya dia di jemputnya sama bos, tapi sekarang sama anaknya bos, naik motor, kalau sama bos biasanya naik mobil.


“Ma! Teguh berangkat dulu ya! Assalamu’alaikum!” langsung aja dia cabut, Kamisaha masih tidur jam segini, dia bangun ntar kalau dia sudah kepengen bangun, kalau malem aja kadang jam satu, jam dua dia belum tidur, kalau Teguh tidak usir-usir dia, dia tidak mau tidur, kalau Kasmini, dia sudah bangunin Teguh secara paksa.


“Teguh! Bangun lah! Dah siang nih! Sholat! Ntar mandi baru sarapan! Tu mama dah buat kan Tongkat Ali.” itu baru namanya mama, selalu perhatian sama anaknya, ingatkan untuk selalu sholat. Siapkan sarapan untuk anaknya, bagi Teguh itu sudah maksa banget sebab, Kasmini banguninnya sampai berkali-kali, bahkan akhirnya dia di tarik tangannya dan di berdiriin ya sudah dia jadi kayak zombie, mayat hidup. Yang akhirnya dia pergi ke kamar mandi dan dia mandi, Tongkat Ali, baru denger? Tongkat Ali itu minuman, kalau di Indonesia sejenis kopi torabika, atau Nescafe, tapi ini lebih nikmat, peringatan! Cewek Tidak boleh minum, sebab ini khusus lelaki.


Pantasnya dia merasakan capeknya setengah hidup, mana belum kelar lagi, tapi sudah sore, waktunya pulang, bosnya jarang di tempat kerja, dia bepergian melulu, temen senior kerjanya aja jadi pada sebel sama bosnya, tapi tak perlu di pikirkan, yang penting dia sekarang pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2