
Desember 2007
Hari ini dia kerja pertama, Teguh dapat kerjaan di ITC Fatmawati, jadi cleaning service, apa aja lah, yang penting halal, dia sekarang masuk siang, Tujuh belas ribu rupiah adalah harga tenaganya, Murah banget tenaganya, dia memang harus terima, Katanya tadi yang penting halal, rada susah, tapi rada gampang juga, orang kerjanya cuman jalan-jalan aja, cari sampah yang ada di gedung ini, hari ini tak ada yang istimewa.
“Teguh! besok kamu masuk pagi ya! soalnya sift paginya kurang orang.” supervisornya yang bilangin dia, tidak masalah.
Sekarang sudah hari ke dua, pagi-pagi, jam setengah tujuh dia harus sudah bangun, tapi ternyata dia sudah telat, dia di omelin sama supervisor, katanya „anak baru sudah suka telat ya! gimana kalau sudah lama kamu?‟ dia terima omelan sang supervisor, hari ini dia di taruh di lantai dasar, dia tidak tau apa-apa, jadi dia kerja asal kerja aja, dia di suruh nyapuin karpet, dia sapuin aja itu karpet.
“Eh bang! Bukan begitu caranya bang!” dia itu seniornya, Teguh di ajarin cara kerjanya. “Begini, jadi lebih mudah kan bang? Ya sudah aku mau ngebaping.” ‘apa tu ngebaping?’ Teguh memang belum tau apa-apa, ‘tapi ramah juga tu anak, enak kali kerja sama dia.’ Tebaknya dalam hati.
Semua sudah beres, sekarang tinggal nunggu, nanti keliling cari sampah-sampah, tadi yang ngajarin dia namanya Sugianto, anaknya hitam kecil pendek, tapi tampangnya tua, suka ngelawak, suka sama lagu dangdut, anaknya oke buat partner.
“Guh, lu pengen ngeliat cewek cantik ngga?”
“Cewek cantik? Memangnya ada cewek cantik di sini?” dia coba bercanda dengan seniornya.
“Lu kira cewek di ITC jelek-jelek semua? Pokoknya elu ngga bakal nyesel deh kenal sama tu cewek, namanya Solehah, itu, yang di sinetron, yang di rebutin Rendra sama Evan.”
“Itu sih namanya Marsyanda.”
“Iya…yang ini Solehahnya.” Teguh tidak penasaran, dia cuek aja, tapi dia ikutin Gianto, ikutin aja sambil nyari-nyari sampah.
“Tu Guh yang namanya Solehah.”
“Yang mana?”
“Itu yang pake kerudung, mirip banget kan kayak solehah?” ‘masya Alloh, aku ngga salah lihat kan? Tu cewek cantik banget, pake kerudung, terus eh…dia tersenyum, senyumnya sama aku.’ jadi GR dah si Teguh.
“Udah jangan lama-lama lihatnya!” Gianto ngagetin Teguh, karena dia terpaut dengan manis wajahnya, ‘ya Alloh, andaikan dia adalah jodohku, aku pasti akan bahagia banget,’ harapnya dalam hati, baru kali ini dia ngeliat cewek, dan dia langsung ada rasa sama tu cewek, ‘oh cinta…oh dunia…oh raga…aku jatuh cinta lagi untuk ke sekian kalinya,’ dia masih asyik dengan khayalannya, sebenarnya dia belum sadar seratus persen, sepertinya dia masih terhipnotis oleh wajah sang bidadari yang begitu sempurna, begitu lengkap bila di lihat dari hati, begitu menyilaukan hati, begitu halus bila di sentuh dengan hati, begitu mempesona, tapi dia harus bekerja, dia harus keliling satu lantai dasar ini, ‘kapan lagi ya aku bisa ketemu lagi sama dia?’ tanyanya entah pada siapa, padahal setiap keliling lantai pasti sampai di depan tokonya juga.
Dia sudah sampai di ITC lagi, kali ini dia tidak telat, dia berharap dia hari ini di tempatkan di lantai dasar lagi, biar dia bisa ngeliat wajah cantik nan jelita milik cewek solehah kemaren.
“Teguh! Kamu hari ini tugas di lantai dua ya!” ‘ya… kenapa di lantai dua sih?’ sesalnya dalam hati, begitu lah kerja, dan dia bawa enjoy aja kerja hari ini, keliling lantai sambil mencari teman sebanyak mungkin.
Bentar lagi jam satu, tak terasa, cepet banget waktu bergulir.
“Baru mas?”
“Iya nih baru tiga hari kerja.” seorang cewek yang tidak dia kenal menyapanya, dia itu anak penjaga toko baju, anaknya berkerudung, dia tidak tau siapa namanya, sebab, ya emang dia belum kenalan, tapi Teguh merasa anaknya baik, buktinya Teguh aja yang tidak dia kenal di sapanya, ramah anaknya.
“Kok tau mba?”
“Ya iya lah mas! Kan masih pake baju hitam putih.” Iya juga, Teguh masih pake baju training, ngeliat wajah cewek ini dia jadi inget sama Miccu, adik kelasnya yang ngefans banget sama Teguh, nama aslinya Nur Fitriah, anaknya imut, tapi cewek ini bukan Miccu, karena dia lulusan SMA bareng dengannya, yaitu 2006, jadi sudah tua dia! tidak juga, palingan kelahiran tahun delapan delapan, kali ini dia baru bisa bilang cewek ini ramah, entahlah nantinya dia bakal bilang apa lagi sama ni anak.
Bener-bener, waktu bergulir begitu cepat, tak terasa dia sudah sepuluh hari kerja di sini, dia sudah tiga kali tugas di lantai dasar, jadi sebanyak itu juga dia bisa ketemu sama solehah, sepanjang waktu ini dia belum bisa ngedapetin nama aslinya, siapa dia juga dia belum tau, tapi rasa ini sudah membengkak, rasa ingin mengenal siapa dia, rasa ingin tau dekat dengannya.
Hari ini dia libur, karena hari ini hari jum‟at, dan dia mau ngeliat isi ATMnya, karena Kasmini sudah transfer duit lagi buat dia, biasa dia pencet nomer pin, satu lima satu satu, malam ini kan malam lima belas bulan sebelas, dia teringat pada Titi, jadi malam ini adalah malam ulang tahunnya. sepertinya harus flest back dulu bila ingin mengingat Titi! tiga hari yang lalu, Teguh suruh Rian tuk telpon Titi pake nama Afiq, Afiq adalah nama dari anak Kamisah yang di Malaysia, yang sekarang di rawat oleh Kasmini, sehari setelah Teguh pergi dari Malaysia Muhamad Afiq lahir dengan selamat, dan Kamisah hanya menyusuinya satu kali, saat Afiq baru di lahirkan, setelah itu Afiq tidak lagi minum ASI, ternyata Kamisah memang tidak menginginkan sama sekali bayi yang di kandungnya, dia mau menyusui anaknya saja itu karena permintaan Kasmini, dan Kasmini harus memaksanya. Kembali pada masalah Titi, Rian memakai nama Afiq untuk mengakui bahwa yang sms selama ini adalah Rian, di sana lah dia memutuskan untuk berhenti berharap, ketika dia bener-bener mengetahui kejujuran dari Titi langsung.
__ADS_1
“Jadi Titi emang ngga ada pintu hati untuk Teguh?”
“Ya mau bagaimana lagi Yan? gue ngga ada perasaan apa-apa sama Teguh?” Teguh bener-bener jadi lemas tak bertenaga dan tubuhnya gemetar mendengar satu kalimat itu, saat itu juga dia sadar, wanita di dunia ini bukan hanya Titi.
“Emang ngga ada cewek lain selain gue di bumi ini?”
“Itu lah cinta Ti, dia itu buta, kalau Teguh memilih elu bagaimana? Ya seperti elu juga yang sudah memilih untuk kembali dan memaafkan cowok elu, padahal elu sendiri kan yang memutuskan hubungan?”
“Tapi gue masih suka sama dia.”
“Sama Ti, Teguh juga suka sama elu, lu tau ngga pengorbanan Teguh tuk bisa ketemu sama elu? Dia sudah rela ngebujuk mamanya, agar mamanya rela melepas Teguh, dan sekarang, setelah dia sudah di sini, elu cuekin dia, kasian Teguh Ti!” lho kok Rian jadi marahin Titi sih? Tapi tetap saja Titi tidak ngerubah pendiriannya.
“Ya… gimana lagi Yan? gue ngga cinta sama Teguh.”
“Ya sudah ngga masalah, itu sudah jadi keputusan elu, tapi perlu elu inget bahwa karma pasti berlaku!” lho kok jadi nyeremin gitu sih pembicaraannya?, Teguh lemes tak ada lagi kekuatan tuk menopang tubuhnya, serasa tubuhnya tidak bertulang.
“Mending lu ngga usah lagi berharap sama anak itu Guh! dia ngga bisa di percaya, dia bukan tipe elu yang punya jiwa setia, jiwa yang tetap dalam prinsip, dah cari yang lain aja!” Rian tidak ngedukung banget kalau dia sampai ngejar-ngejar Titi, tapi itu tiga hari yang lalu, sekarang dia lagi lihat ATMnya, tapi ternyata belum sampai, duitnya belum sampai, dia balik lagi aja, kecewa dia, di tinggalnya ATM di depan gedung ITC tempatnya bekerja, dia berjalan menelusuri jalan di trotoar, biasa orang pejalan kaki berlalu.
“Eh…mas?…” ‘Siapa? lha dia tu si solehah.’ Batinnya, “Mas siapa ya?” ‘astagfirulloh,’ dia masih saja belum bisa mengeluarkan suaranya, ‘aku ketemu sama tu anak, lho kok ada Miccu juga? Wah mereka rupanya kawan toh?’ dia hampir tak dapat bernafas, dia jadi salah tingkah, si solehah senyum, senyumnya maniiiiiiiissss banget, tapi mereka tidak berhenti, mereka terus jalan menuju gedung ITC, dia pun masih belum mengerti, ini kebetulan atau? dia belum yakin dengan yang baru saja dia lihat, dua cewek yang dia kenal berlainan tampet ternyata mereka teman akrab, mulai sekarang kalau dia pengen tau siapa solehah sebenarnya, dia harus deketin si Miccu itu, padahal si miccu aja dia belum tau siapa, sekarang yang penting jalanin aja dulu, ikutin air sungai yang mengalir ntar juga ujungnya kelautan.
Atas kejadian yang tak terduga di depan gedung ITC tadi pagi, Teguh mendapat sebuah Inspirasi, dia ingin menulis sebuah buku novel yang mengisahkan tentang perjalanan cintanya selama ini, dari mulai dia memutuskan pacar pertamanya, sampai kemudian dia menemui Solehah yang sampai sekarang belum dia tau nama aslinya, apapun yang akan di alaminya nanti, dia akan tetap menulis buku ini, dia tak berharap setiap orang akan membacanya, tapi yang terpenting sang inspirator buku novelnya bisa membacanya, karena memang dia tidak punya laptop juga komputer, dan dia hanya punya sebuah buku tulis yang tebal, yang biasa dia gunakan untuk sekedar corat-coret bila dia rindu akan hobinya, yaitu menulis, sebuah ilmu yang dia punya semenjak dia sekolah di Al-Zaytun dulu.
Sekarang dia masuk siang, jadi pulangnya malam jam sepuluh, dia lagi jalan ke ITC. kemaren dia juga kenalan sama cewek, namanya Lusi, kenalannya lucu, dua hari yang lalu Teguh nglembur di lantai dua, tempatnya si miccu, si Lusi tu tokonya bersebelahan sama Miccu, dari sore memang dia sudah ngeliat si Lusi memperhatikan dia mulu, Lusi ngeliatin dia karena aneh, tapi, pertama Teguh ngeliat Lusi dia tu lagi murung, pasti lagi ada masalah, di hiburnya lah si Lusi oleh Teguh, malamnya antara jam tujuh dan jam delapan dia kan cari sampahnya pake kardus kosong, dia dorong pake sapu, sudah kaya anek kecil yang kurang perhatian, buat dia yang penting orang yang sedang bersedih, langsung bisa tertawa ketika ngeliat dia, itu caranya menghibur hati yang sedang lara, siapapun dia, tugas Teguh untuk kembali melukis senyuman di wajahnya.
“Ayo…Jogja…Malang…silahkan naik mba!” Lusi ketawa kan?
“O…jadi orang mana?”
“Orang Semarang!”
“Kalau begitu, ayo… Semarang… Semarang…” eh Lusi makin ketawa, padahal ya, boro-boro mau ngeliatin giginya tadi sore, eh sekarang malah sudah cekakak-cekikik, jadi tugasnya sudah selesai, dia pun kerja lagi, dia mau cari sampah lagi entar baru ngepel, dia nyiapin pel-pelannya dulu di kamar mandi, waktu dia lagi ngepel si Lusi sama temennya mau pulang, dia manggil Teguh.
“Mas minta nomer hapenya dong!” dia yang minta nomer hape ke Teguh.
“Boleh, catet ya! nol delapan satu tiga tujuh dua nol enam delapan delapan tujuh dua, sudah kasih namanya Teguh Prayitno!”
“Makasih mas! Kita duluan ya!”
“Iya sama-sama.” ternyata ada gunanya, ternyata menjadi sang penghibur begitu mudah, tapi kenapa ketika dia sedang gundah, tidak ada yang bisa menghiburnya ya, hape Teguh bunyi ada sms.
“Ini nomerku mas! Namaku Lusi.” Lusi namanya.
Dia sudah di basement, mau absent jari, jadi jarinya di masukin di tempelin ke infra merah, entar bunyinya trititit, gitu.
“Tritit.” tu kan bunyi, sekarang dia naik ke parkiran satu, absent manual.
“Teguh kamu tugas di lantai dua ya!” lantai dua lagi, ‘kenapa ngga di lantai dasar?’ pintanya dalam hati. Tapi tidak apa-apa di lantai dua juga ada si Miccu, dia pun jalan aja ke lantai dua.
__ADS_1
Teguh masih keliling lantai dua, Capek yang di rasakanya pun mulai terasa, sampai juga dia di depan tokonya si Miccu.
“Miccu, beneran nih! cewek yang jalan bareng elu dulu tu siapa namanya?” sebenernya Teguh sudah sering nanya ke dia tentang siapa nama asli solehah, tapi selalu dia nolak kasih taunya, mangkanya kali ini Teguh mendesak banget.
“Bukanya mas sudah tau namanya?”
“Emang bener namaya Solehah?” si Miccu diem .
“Bukan, namanya Ayu!” ‘yes!!! Perjuanganku selama ini akhirnya berhasil.’ teriak Teguh dalam hatinya, ternyata namanya Ayu.
“O ya? namanya Ayu?” ternyata namanya sesuai dengan wajahnya, dia jadi kangen sama Ayu. ‘Kira-kira Ayu sudah punya cowok apa belum ya? eh bego banget sih aku ya?’ pikirnya ‘tanya aja sama miccu, dia kan pasti semua tau tentang Ayu.’ tapi apa Teguh sudah siap nerima semuanya? Kalau dia sudah punya cowok gimana? mau gimana lagi? Dia…ya hak Ayu, mau punya cowok apa tidak, dia tidak ada hak tuk melarangnya.
Teguh sudah di ITC, tapi dia hari ini libur, si Lusi katanya pengen cerita sama Teguh, katanya dia lagi ada masalah sama mantannya, aneh, ada mah masalah sama pacarnya atau sama suaminya. Ini akal-akalannya atau apalah, mending jangan buruk sangka dulu, tunggu aja apa yang ingin dia ceritain sama Teguh, anaknya baru turun dari lantai dua.
“Lama ya mas nunggunya?”
“Ngga kok baru satu jam, mang ada masalah apa sih?”
“Iya mas, mantan aku tu, kemaren kan dia telpon aku, katanya dia mau nikah.” ‘Lha apa hubungannya dengan dia?’ tanya dalam hati.
“Bukannya dia itu sudah mantan kamu? ya biarin aja! Yang mau nikah kan dia.”
“Dia mau manasin aku aja mas, dulu kan dia pernah ngajak aku nikah, aku ngga mau.”
“Kenapa ngga mau?”
“Orang aku baru lulus SMA masa langsung nikah?”
“Ya ngga apa-apa, kalau kalian mau?”
“Ogah ah!”
“Ya itu hak kamu, kamu mau kek, enggak kek.” Sepertinya Teguh kurang menanggapi setiap cerita yang Lusi ceritain ke dia. Jadi kurang romantis dia cuman berfikir Siapa dia siapa Lusi? Tapi kemudian dia berfikir itung-itung dia latihan ngobrol romantis, kalau saja suatu saat nanti dia temui cewek yang pas buat dia, ‘sukur-sukur cewek itu si Ayu yang manis itu,’ harapnya berlebihan, dia masih cuekin Lusi dan sibuk dengan fikirannya yang selalu memikirkan Ayu, kemudia dia ajak bercanda, buat dia tersenyum, Teguh sedikit bercerita tentang siapa dia, tapi tidak semuanya.
“Mas sudah punya pacar belum?”
“Udah.” ‘udah dari hongkong?’ Teguh membohongi Lusi dia tertawa dalam hati.
“Emang pacarnya mas Teguh ngga marah ketemu sama aku?”
“Ya enggak dia kan ada di kampung.” Sebenarnya Teguh tidak tega, dia sudah bohong sama Lusi, padahal kan dia masih retak, alias remaja tanpa kekasih tapi ngakunya sudah punya cewek.
“Anaknya masih sekolah kok, dia masih kelas dua SMK.”
“Oh…” Lusi percaya aja sama kebohongannya, dia tidak tau kalau Teguh sebenarnya lagi bohong, tapi memang dia tak punya pengalaman membohongi orang, ya begitulah cara dia berbohong, habis itu dia bawa si Lusi jalan, ke jalan raya maksudnya, pengen Teguh ajak makan bareng, tapi dia tidak mau, kesel juga sebenernya, sudah dia paksain tidak makan dulu sebelum ketemu sama tu anak, malah dia ngga mau di ajak makan, jadinya dia kelaperan, dia pulang setelah nganterin si Lusi naik metro mini, jalan pulang dia nemu mangga mateng di bawah pohonnya, ‘ah lumayan bisa buat ganjel perut,’ senang Teguh, padahal itu mangga mateng tinggal setengah, emang yang setengah kemana? Di makan kampret! Hi…hi…makan mangga sisa kampret? Ngga salah tuh? Malu-maluin aja, ya mau gimana lagi wong perutnya laper? Andai saja dia tidak berbohong sama Lusi, pasti dia bisa makan bareng sama Lusi, tapi ya karena dia tidak bisa berbohong dan karena dia tidak biasa berbohong lah hal ini terjadi.
***
__ADS_1