Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 2: Monyet (2)


__ADS_3

Begitu Kasmini mengetahui kebenaran ini, dia pun lekas mempersiapkan semuanya, dia akan pergi meninggalkan suaminya, karena dia tidak mau membuat suaminya menjadi seorang anak pembangkang, selain itu dia tidak lah mungkin meninggalkan anak satu-satunya yang sangat dia sayang lebih dari dirinya sendiri. Sakit hati pun di rasakannya, namun dia berusaha untuk tegar karena Kasmini memang perempuan yang tegar, ke susahan sudah biasa dia hadapi dari sejak dia kecil dulu.


Tiga hari kemudian Slamet menyusul ke rumah Kasmini yang super sederhana di desa Jetis, dia berharap untuk bisa meneruskan hubungan mereka.


“Hubungan kita sudah tidak bisa di pertahankan mas! Mas sayang kan sama ibu?” Slamet tidak bisa menjawab, “aku juga memohon pada mas Slamet, tolong jaga ibu! Meski dia tidak akan mengakui aku sebagai menantunya, tapi aku tidak akan pernah membencinya, aku senang bisa mengenalnya.”


“Kas! Aku mencintaimu.”


“Tapi aku tidak akan rela bila karena mas mencintaiku, mas telah membiarkan ibu mas mati, dia sangat menyayangi mas! Dan tidak mungkin aku bisa melebihi rasa sayang Ibu pada mas! Jadilah anak yang berbakti pada orang tua, karena tidak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara, aku bukan anak orang berharta mas! Kamu menikah saja lagi dengan pilihan ibumu, aku ikhlas.”


“Tapi Kas!...”


“Inilah keputusanku mas! Kita tidak akan bisa mempertahankan hubungan kita, sekarang aku mohon mas jatuh kan talak untuk aku!”


“Kas!”


“Tidak ada pilihan lain mas!” Kasmini tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk berbicara. “Ini demi kebahagian orang yang sudah melahirkan mas Slamet dengan mempertaruhkan nyawa.”


“Baiklah kalau itu yang kamu mau Kas!” Slamet tidak dapat berbuat apa-apa lagi, perlahan matanya mulai memerah dan tak lama kemudian dia pun menangis, itu membuat Kasmini juga ikut menangis, “aku jatuhkan talak satu pada istriku Kasmini dengan kesadaran penuh.”


“Terimakasih mas! Mulai sekarang kita bukan lagi suami istri.”


Kasmini kembali menjadi janda, untuk memenuhi nafkah anak dan ibunya dia pun kembali ikut menjadi seorang biduan, tak lama setelah itu sepucuk surat datang dari Jakarta, dan itu berasal dari mantan suaminya, ayah kandung dari Teguh Prayitno, surat itu berbunyi.

__ADS_1


“Untuk Kasmini,


Apa kabarmu ma? Semoga kabar baik selalu bersamamu, bapak di Jakarta juga dalam keadaan yang sehat wal’afiat, bapak memang bukan lah seorang pujangga yang pandai bermain kata-kata, bapak hanya mau bertanya pada mama, apa benar mama sudah menjadi janda lagi, bapak mendapat kabar dari tetangga mama yang bekerja dekat dengan tempat bapak bekerja, kalau itu benar, boleh kah bapak menjadi suami mama lagi, bapak janji akan berubah, bapak tidak akan egois lagi, dan bapak tidak akan menjadi orang yang sombong seperti yang mama pernah bilang dulu. Bapak akan menjadi suami yang penuh dengan tanggung jawab, kita akan besarkan bersama anak kita Teguh. Terima kasih kalau mama mau menjawab surat ini.


Tertanda Sunaryo”


Rupanya Sunaryo belum pernah mencari pengganti Kasmini selama ini, dia masih berharap bisa kembali pada pelukan Kasmini orang yang sangat dia cintai. Namun apa jawaban Kasmini dari surat Sunaryo itu, ini lah jawaban yang di tulisnya.


“Buat bapaknya Teguh Prayitno di tempat.


Kabar mama Teguh di sini juga sehat, tapi mama Teguh minta maaf bila balasan surat ku ini sangat mengecewakan bapak di sana, bukan aku tidak mau, tapi aku sudah pernah menikah dan bapak belum pernah menikah, kita tidak bisa rujuk pak, karena itu sudah menjadi aturannya, kalau masalah cinta, jujur aku juga masih cinta sama bapak, sampai kapanpun aku tidak akan melupakan kebersamaan kita selama delapan tahun dulu, tapi kita memang tidak bisa untuk bersama lagi. Maafkan aku bapaknya Teguh!” Itulah jawaban Kasmini atas surat dari Sunaryo yang di tujukan padanya. Dan Sunaryo pun mengerti.


Kembali ke inginan Kasimini untuk pergi ke Malaysia datang, seorang agen TKI Malaysia sedang membutuhkan banyak karyawan, namun sebelum itu, dia membeli sebuah rumah dan mendirikanya di tanah yang dulu sudah di belinya, kali ini rumahnya akan menghadap ke utara, membelakangi laut di sebelah selatannya, Teguh akan kembali hidup hanya dengan Kakek dan neneknya, dia juga berjanji pada Ayahnya untuk mebawa kembali adik bungsunya, hingga saat ini Ayah Kasmini masih tidak percaya padanya.


Teguh hidup dengan neneknya saja, sebab, Mad Gasmin kakeknya sudah mulai kumat lagi gilanya, dia lebih sering tinggal di rumah perempuan lain, ya Gambreng itu yang sudah melahirkan anaknya di luar nikah, Byunge nenek dari Teguh adalah orang yang pelit, tapi pelitnya itu beralasan, dia pelit karena ingin menghemat uang yang dia punya supaya esok masih bisa makan.


“Yung! Njaluk duite!”


“Byunge ora due duit Guh!”


“Satus lah Yung!”


“Domong ora due duit koh ya, koe ndableg temen sih ya Guh?”

__ADS_1


“Kalau ngga seratus ya lima puluh juga ngga apa-apa Yung!” Teguh mulai merengek tapi byunge masih juga tidak memberi, “ya wis selawe ya kena yung lah!”


“Ngga punya duit Guh, kamu kok jadi ndablek sekali.” Teguh akhirnya pergi ke sekolah dengan keadaan masih menangis karena tidak di kasih uang saku oleh neneknya, dan byunge pergi ke sawah untuk ngasag, mencari padi sisah rontokan di sawah.


Siang harinya Teguh pulang sekolah, makan siang dan kemudian mau tidur, dia masih tidur seranjang dengan neneknya, dengan tak sengaja selembar kertas lima ratus rupiah dengan gambar orang hutan dia temukan di dalam sarung bantal tempat tidur, dia terkejut tapi dia juga gembira dengan penemuannya itu, tanpa ragu dia mengambilnya dan langsung dia gunakan untuk membeli jajan kesukaannya.


Begitu dia berhasil menghabiskan uang lima ratus rupiah itu dia pun kembali ke rumah, di rumah Byunge sedang kebingungan, dia seperti sedang mencari sesuatu di kamar tidurnya itu.


“Yung! Kamu lagi ngapain?”


“Kamu nemu duit lima ratus ngga di sarung bantal Guh?”


“Katanya Byunge ngga punya duit?”


“Itu duit buat beli beras Guh, kamu ya yang ngambil?”


“Aku ngga ngambil duit Byunge, tapi tadi aku nemu duit di dalam sarung bantal itu Yung.”


“Itu duit Byunge, sekarang mana duitnya?”


“Sudah habis Yung, tadi aku buat jajan semua.”


“Ualah Guh! Itu duit buat beli beras, mau makan apa kita besok?” Byunge kini yang merengek dan menyesali apa yang sudah terjadi, sebenarnya ini bukan salah Teguh, dia itu seorang bocah, salahnya Byunge, dia sudah membohonginya dengan cara Byunge bilang ke Teguh kalau dia tidak punya uang, dan itulah yang terjadi, Teguh hanya tau Byunge tidak punya uang, kalau ada uang di dalam sarung bantal, itu artinya uang itu bukan milik Byunge, pelajaran yang sangat berharga buat seorang nenek yang mempunyai cucu jujur dan polos seperti Teguh.

__ADS_1


Kepergian Kasmini sudah hampir memasuki dua tahun, kehidupan Teguh pun seperti dahulu, tanpa ke dua orang tuanya yang selalu menemaninya, tapi dia merasa bahagia dengan keadaan ini.


***


__ADS_2