Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 3: Mama (4)


__ADS_3

Akhirnya Teguh menulis sepucuk surat pada bapaknya, untuk menjemputnya lebih awal, ini adalah sebuah rancangan yang Teguh rencanakan untuk menyelamatkan Kasmini yang sedang terjebak oleh dosa besar, apapun yang akan terjadi Teguh sudah merancang semuanya, dia pun sudah mengetahui kemungkinan resiko terbesarnya, dia akan menjadi anak durhaka, seorang anak yang melawan ibunya, tapi kali ini ceritanya bertolak belakang dengan kisah Malin Kundang yang karena harta dia rela menyakiti hati ibunya, kali ini Teguh sudah siap menjadi batu seandainya usahanya untuk menyelamatkan Kasmini dari dosa adalah suatu kedurhakaan anak pada ibunya.


13 Juny 2000


Sebelum Teguh menjalankan rencananya dia mengumpulkan ke empat sahabatnya namun kali ini yang datang hanya Dwi dan Sri, ke dua sahabat yang lain mungkin sedang ada urusan sendiri, hari ini sudah selesai semua ujian sekolah dasar, Ebtanas sudah Teguh lalui dengan baik, walaupun otaknya dia gunakan memikirkan dua hal.


“Terimakasih atas ke datangan kalian Wi, juga kamu Sri.”


“Iya sama-sama mas, memangnya mas Teguh mau ngomongin apa sih?”


“Masalah mamaku Wi, aku sudah pernah cerita sama kalian kan tentang mama?”


“Iya mama kamu sekarang serumah dengan orang yang bukan apa-apanya mama kamu kan.”


“Makasih Sri, kamu masih ingat, sekarang aku sudah memutuskan untuk kabur dari rumah?”


“Hah? Kabur dari rumah?”


“Jangan gila kamu Guh!” dua sahabat Teguh langsung berang mendengar rencana Teguh yang memang gila di dengar.


“Kalian boleh kok bilang aku gila, tapi inilah yang aku pikir hal yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk mamaku yang sangat aku sayang.” Teguh jadi semakin sedih atas respon dua sahabatnya, air mata di pelupuknya masih coba dia tahan, “Aku ingin menyelamatkan mamaku Wi, Sri! Justru aku itu penjahat yang tak termaafkan, anak yang tak tau diri bila membiarkan mamaku terus seperti ini, selama ini aku malu melihat mamaku seperti ini.” Kali ini dia tak dapat menyembunyikan ke sedihannya di hadapan ke dua sahabatnya, dia pun menangis, baik Sri maupun Dwi jadi ikut menangis.


“Aku ngerti maksud kamu Guh!” Dwi mulai mengerti tujuan Teguh pada mamanya.


“Kalau menurut kamu itu yang terbaik, lakukan saja Guh! Kami berdua selalu mendukungmu, iya kan Wi! Katanya kita adalah saudara selamanya?”


“Tapi kalau hal yang lain kayaknya kita ngga bisa bantu Guh.”


“Maksud kalian apa? Kalian sudah mau mengerti keadaanku saja aku sudah senang kok.” Teguh sudah tidak menangis lagi, dia pun melanjutkan pembicarannya.


“Nanti sore aku akan pergi ke rumah Bapakku di Indramayu, tapi kalian jangan bilang siapa-siapa ya! Besok mungkin bapakku akan sampai di desa ini, dia akan terkejut karena aku sudah tidak ada di rumah, dia juga tidak akan tau kalau aku ke rumahnya di Indramayu, aku sudah merancang semuanya.” Kepergian Teguh menuju rumah Bapaknya cuman dua sahabatnya yang tau.


Dan begitu bapaknya sampai di rumah Teguh, Teguh sudah pergi dari rumah, dengan membawa uang sebanyak sebelas ribu rupiah yang dia ambil dari dompet mamanya.


Teguh kabur dari rumah itu berita yang menyebar di seantero Jetis, kampung ini pun terjadi keributan, Kasmini tidak terima kalau anaknya pergi darinya, dan dia tidak tau Teguh pergi kemana, Kasmini berfikir keras, sebenarnya kemana Teguh pergi malam ini, akhirnya ada yang mengusulkan agar Kasmini pergi ke orang pintar, karena dia sudah tidak bisa banyak mikir, ya dia ikut aja. Orang pintar itu bilang kalau Teguh saat ini ada di tepi jalan, dia sedang tidur kata si orang pintar.

__ADS_1


Di stasiun kreta api Gombong Teguh sedang tidur di sebuah kursi tunggu. Memang benar Teguh ada di tepi jalan, tapi penafsiran mereka salah, mereka menafsirkan tepi jalan itu adalah tepi jalan raya, sebenarnya Teguh ada di tepi jalan kreta api, atau rel kreta api, atau lebih tepatnya lagi, dia lagi di stasiun kreta api, dia lagi nunggu kreta yang lewat Indramayu.


Di rumah mamanya masih terus mencari dan mencari, begitu dia mendengar apa kata orang pintar, gairah untuk mencari Teguh pun semakin melemah, dia memutuskan untuk masuk ke kamar Teguh, dia ritual sendiri di kamar itu, dia menyalakan sebuah lilin, dia terus menjaga lilin itu agar tidak padam, dia tidak tidur satu malam suntuk hanya ingin menjaga ke selamatan Teguh di perjalanan.


Setelah semalam suntuk Teguh nunggu kreta itu akhirnya ada juga yang lewat, langsung saja dia naik ke dalam kreta tanpa membeli karcis terlebih dahulu, pukul 04:00 subuh masih pagi buta, dan tepat  pukul 09:00 sampai di Haurgeulis, Teguh langsung menuju ke rumah bapaknya dengan berjalan kaki, cukup jauh lah, dan begitu dia sampai di rumah, ternyata Sunaryo belum sampai rumah, mama tirinya bilang bapaknya sedang ke rumah Teguh untuk menjemputnya, ya sudah dia pun langsung tidur, sekitar pukul 02:00 siang Teguh dengar suara bapaknya.


“Jam berapa Teguh sampai mi?”


“Sekitar pukul sepuluhan lah.”


“Dasar anak Idiot, anak nyusahin!”


“Emangnya ada apa sih Bi, sebenarnya?”


“Si Teguh tu kabur mi dari rumah, Abi juga ikut kalang kabut nyariin dia, pake nanya ke orang pinter segala lagi. Eh tidak taunya kabur kesini.”


“Kok bisa bi, Teguh kabur?”


“Mungkin Teguh tidak di izinin sama mamanya kali, Teguh memang anaknya keras mi, ya seperti mamanya, kalau sudah mau ya sudah harus!”


Selepas magrib, ketika Teguh, bapaknya, mama tirinya, adik perempuan tirinya, dan adik laki-laki tirinya tengah makan malam, Teguh seperti mendenger suara Kasmini mengucap salam. “Assalamu’alikum!” ‘apa hanya halusinasi?’ pikirnya tapi tidak, ini beneran, ini suara mamanya! dia seneng banget, langsung saja dia cari sumber suara itu dangan sangat kegirangan.


“Pak! Itu mama pak, mama ke sini!” dia langsung keluar rumah, dan…Ternyata Kasmini datang dengan pria jahanam itu, pria yang sangat Teguh benci, dia pun tidak sudi bicara sama mereka, dia langsung saja merebahkan badannya di atas kasur, dia tinggalin saja nasi yang tadi sedang di makannya, Sunaryo membukakan pintu untuk mamanya dan pria jahanam yang sangat Teguh benci itu, sepertinya memang Teguh tidak bakal mau bicara sedikit pun selama pria jahanam itu masih di lihatnya di sini. Sudah pasti Kasmini bakal marah, dan sudah tentu saat ini dia juga sedang marah banget sama Teguh, tapi Teguh juga marah sama Kasmini, kenapa dia datang dengan orang yang sangat di bencinya, padahal Teguh sudah seneng banget, waktu dia yakin bahwa suara orang salam di depan rumah bapaknya adalah Kasmini mamanya. Kasmini banyak berbicara pada Teguh, tapi sepatah kata pun Teguh tidak menjawab, dia hanya bisa nangis, nangis dan nangis, sampai akhirnya datang fajar Teguh tetap tidak mau bicara, akhirnya…


“Ya sudah lah Guh, kalau Teguh maunya tinggal sama bapak, mama izinkan,” Kasmini nangis, “mama sayang banget sama Teguh! Sayaaaaang banget Guh!” nada bicaranya sangat halus, sangat halus, bahkan suara itu menyentuh seluruh isi dadanya, pasti Kasmini mengucapkan kata-kata sayang itu juga dari hatinya, dari hati yang sangat tulus, “Teguh baik-baik di sini ya! jangan kecewakan bapak! Mama sudah tidak marah kok, mama tau apa yang ada di fikiran Teguh, karena mama adalah Ibunya Teguh, selamanya akan tetap Ibunya Teguh.” Kali ini Kasmini nangis, dia memeluk tubuh anaknya dengan erat, mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang, dan yang terakhir dia pamit.


“mama pamit ya nak! Mama sayang sama Teguh!” Teguh bener-bener ngerasa manusia yang paling berdosa saat itu, dia juga sebenarnya ingin banget ngucapin kalau dia sayang banget sama mamanya, bahkan lebih sayang dari dirinya sendiri, tapi, kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya, dan yang keluar hanya air mata yang deras dari pelupuk matanya itu.


Teguh melihat mamanya melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sunar dengan langkah yang sangat berat, berat banget, mungkin Teguh juga bisa ngerasain itu, karena dia lihat air mata terus mengalir dari pelupuk mata mamanya, sesekali Kasmini mengusap air matanya, Teguh hanya bisa melihat kepergiannya dengan seorang pria yang sangat dibencinya.


”Mama!!!” sebutnya lirih hampir tak terdengar oleh telinga, dia menangis menyesali apa yang sudah dia lakukan, namun dia yakin perbuatannya akan berdampak baik untuk mama tercintanya.


***


Di kampung, sesampainya Kasmini sampai di rumahnya pertengkaran hebat kembali terjadi antara Kasmini dan Jengad.

__ADS_1


“Ini semua karena kamu mas! Kamu yang membuat anakku pergi dariku, sekarang juga aku minta kamu pergi dari rumahku!”


“Kas! Kenapa kamu menyalahkan aku? Dia mau kabur atas dasar keinginannya sendiri kok, kenapa kamu limpahkan kesalahan padaku?”


“Sekarang kamu pergi atau aku akan teriakin orang-orang kampung untuk mengusirmu dari kampung ini sekalian?”


“Iya baik Kas aku pergi.” Tanpa pikir panjang Jengad pun pergi meninggalkan Kasmini sendirian di rumah.


Kesedihan yang mendalam di alami oleh Kasmini, tapi inilah yang di inginkan oleh Teguh, mamanya menyadari kesalahannya, andaikan saja Teguh mendengar berita ini, dia pasti akan segera kembali dan memeluk mamanya yang sangat dia cintai, karena sejak awal alasan Teguh pergi meninggalkan Kasmini adalah si Pria jahanam itu.


Selama ini Kasmini tidak pernah perduli dengan Teguh, semenjak masalahnya dengan suaminya Agus Makin bermula, sejak saat itulah perhatian Kasmini pada anaknya sama sekali tidak ada, kali ini begitu Teguh Pergi darinya barulah dia merasakan, benar yang di nyanyikan oleh Roma irama ‘kalau sudah tiada baru terasa’ dia juga tidak pernah memperhatikan bagaimana Teguh di sekolahannya, bagaiman cara dia belajar, seperti apa pandangan para guru yang mengajarnya.


Dan sekarang dia harus rapat dengan para guru untuk membicarakan murid-murid di sekolah bersama wali murid yang lain.


“Selamat pagi para wali murid yang saya hormati.” Pak Tasirun, kepala sekolah SDN Jetis 04 mulai membuka acara di pagi yang cerah ini, “terimakasih atas ke hadiran bapak juga ibu di sekolah kami ini.” Pak Tasirun terus melanjutkan pembukaan pertemuan ini, sampailah pada intinya, yaitu membicarakan murid-murid.


“Pada tahun ini ada seorang murid dari sekolah ini yang sangat berprestasi, dia mengalahkan saingannya sesama murid dengan jarak yang sangat jauh, murid ini bernama Teguh Prayitno.” Kasmini langsung tersentuh hatinya begitu anak satu-atunya di sebutkan, tanpa di sadari dia menitik kan air mata.


“Teguh di mata guru-guru juga adalah anak yang sangat istimewa, tidak ada catatan buruk sedikit pun, dia anak yang patuh, penurut, dan berbudi pekerti yang sangat baik, bukan hanya di mata guru, bagi teman-temannya dia juga menjadi kawan yang baik, selama dua tahun ini dia merajai kelas dengan terus mempertahankan prestasinya menjadi rangking teratas,” pak Tasirun berhenti berbicara begitu ada seorang ibu yang terus terisak.


“Ibu?” dia menyapa Kasmini


“Iya pak?”


“Ibu kenapa? Kok ibu menangis?”


“Saya terharu dengan prestasi murid bapak itu.”


“Memangnya ibu ini siapa? Wali dari siapa?”


“Saya ibunya Teguh Prayitno yang sedang Bapak sanjung.”


“O... ibu adalah Ibunya Teguh Prayitno? Ibu harus bangga mempunyai anak sehebat Teguh, saya yakin kelak dia akan menjadi orang hebat.” Kasmini semakin menangis, Pak Tasirun tidak mengetahui apa yang sedang di alaminya, dia juga tidak tau apa yang sudah di lakukan anaknya padanya. Tapi kali ini dia sudah sangat menyadari kesalahannya, dia telah membuat anak istimewa di mata setiap orang yang mengenalnya meninggalkannya.


Dengan sadarnya Kasmini atas kehilangan anaknya itu, dia muluai berfikir positive, dia kembali menjalani profesinya menjadi penyanyi panggung, dia pun memulai kembali hidup barunya, Teguh tidak akan menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan, memang hanya dengan cara meninggalkan mamanya lah dia baru bisa menyadarkan orang yang sangat dia sayangi itu. Pantaskah dia di sebut anak durhaka? Atau kah dia adalah pahlawan untuk mamanya? Ibu yang melahirkannya?

__ADS_1


***


__ADS_2