Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 6: Bengkel Asmara


__ADS_3

Waktu terus bergulir, Teguh lagi tidur pakai baju hitam, celananya juga hitam, serba hitam, kaya mau layat orang mati, tapi kemana si Arsyi? biasanya selalu berdua? kali Arsyinya lagi ada urusan sendiri mungkin, pantesan Teguh pake baju serba hitam, kalau begitu berarti di ruang bend pasti sepi, kan dram, guitar, sama sounsystemnya sudah di pindah ke gedung serba guna buat pentas seni bulanan malam ini, berarti si Teguh lagi nunggu si Darmawan, Teguh mau latihan pantomim.


Darmawan adalah murid kelas satu SMA yang sudah pandai berpantomim, Darmawan baru datang. Dia langsung masuk ke ruangan seolah tak punya dosa, padahal dia kan sudah telat, Teguh sudah ketiduran gara-gara nunggu Darmawan.


“Teguh, sorry I’m late.”


“Hah…” Teguh terkejut, dia emang sudah tidur, matanya merah. “Dari mana sih lu?”


“Sorry Gun, gue habis ada urusan.”


“Ya sudah lah kita langsung latihan aja ya!” Teguh tidak marah, emang tu anak kelewat baik.


Jam menunjukan pukul 16:00 mereka pun selesai latihan, karena mereka berlatih dari pukul dua siang. Latihan Pantomim sangat membosankan, mereka tidak berdialog, bikin bete’. Tapi, kalau sudah di atas panggung, begh…itu adalah sajian atau suguhan tanpa kata yang luar biasa.


“Nagun, gue duluan ya!” Nagun adalah nama beken Teguh yang lain, nama ini di beri oleh teman-teman Teguh, kata mereka kumis Teguh kalau panjang seperti kumis naga, makanya mereka memberi nama Teguh dengan Naga Gunung atau Nagun.


“Ya sudah sana, langsung balik ya Peng! ntar gue lagi, yang kena marah sama wali kamar elu.” Dan Topeng adalah nama beken dari Darmawan, karena dia juga berprofesi sebagai tari topeng, sebuah tarian tradisional dari cirebon.


“Dasar lu Naga Gunung!”


“Dari pada elu Topeng! eh tunggu dulu dong! buka dulu Topengnya, masa Topengnya mau di bawa balik? Buka dong! Biar orang pada liat muka elu!” seorang cewek nyamperin Darmawan yang baru keluar dari ruangan theater.


“Eh Maryam.”


“Halo kak Darmawan? KTPnya ada?”


“Ada, pantomim! Naga! Ni Maryam nyariin!” dasar Topeng! Teguh deket gitu manggilnya kaya di tengah hutan, pake teriak-teriak segala.


“Tanks ya kak!” Teguh langsung keluar dari ruangan dan nyamperin Maryam.


“Sama-sama Iyam! Eh Yam, hati-hati ya ntar di sembur, haaah… gosong deh.”

__ADS_1


“Eh Topeng! Lu ngomong apa?” lagi-lagi dua orang itu berantem, tapi berantemnya tidak perlu tonjok atau tendang, hanya dengan kata-kata.


Maryam adalah anak yang manis, wajahnya juga cantik, lembut, bibirnya tipis, walaupun terkadang bikin orang gondok, sok cuek, padahal sebenarnya dia perhatian, yang jelas Maryam tu anaknya selalu ceria, dia sangat dekat dengan Teguh, mungkin lebih dekat dari saudara, hampir mendekati kekasih lah, tapi Maryam bukan kekasih ataupun pacar Teguh, dan Maryam juga bukan saudara Teguh, tapi Teguh lebih suka nganggep dia seperti adiknya sendiri, walaupun Maryam sudah punya dua saudara di sekolah ini, pertama perempuan, dia sudah lulus tahun lalu dan kedua, lelaki, dia kelas dua SMA, dan Maryam sendiri kelas tiga SMP, pokoknya Maryam anak yang begitu mudah untuk di sayangi, itu kata Teguh, dan sekarang Maryam sedang ada konflik dengan cowoknya, seperti biasa, Teguh lah yang selalu menjadi tumpuan Maryam.


“Gimana Yam? sudah beres?” Maryam geleng kepala, Teguh pun mengerti arti gelengan kepalanya.


“Bentar ya! kakak mau kunci ruangan ini.” Maryam menunggu di depan, sedangkan Teguh sedang mengunci pintu ruangan Theater, ruangan yang sudah seperti rumahnya sendiri, bagaimana tidak, setiap hari dia selalu ke ruangan itu, Sekarang sudah di kuncinya ruangan itu, dia nyamper Maryam.


“Yuk kita ke gedung serba guna!”


“Kak, gimana dong?” sambil terus melangkah kan kakinya menuju gedung dimana di sana sudah berkumpul semua murid yang akan memeriahkan acara pentas malam ini, Teguh mencoba memberi saran terbaiknya untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi oleh Maryam.


“Yam, kalau Iyam memang masih suka sama Rahmat, ya sudah baikan aja lagi! Rahmat juga pasti berharap seperti itu Yam. Beres kan? Rahmat juga sering curhat sama kakak, sebenarnya kalian tu masih suka sama suka, hanya saja kalian tu sama-sama egois, mau menang sendiri.” Teguh hanya ingin apa yang pernah dia alami dulu tidak di alami oleh orang lain, begitu banyak kegagalan yang dia alami dalam asmara, itu yang membuat dia menjadi seperti bengkel asmara.


“Terus baiknya gimana kak?”


“Sekarang Iyam temui Rahmat ya! dia sekarang sudah di gedung serba guna, tadi kakak sudah bilang ke Zizah, kakak suruh dia jemput Rahmat.” Rahmat sudah pasti cowoknya Maryam, Sekarang mereka sudah di gedung serba guna. Tadi Teguh sama Maryam jalannya lelet dan yang di bahas itu-itu aja, Maryam sedang naik tangga. Sampailah mereka di lantai dua gedung serba guna Al-Akbar,


“Tuh dah datang bocahnya, sekarang lu bilang ke Maryam, lu minta maaf gitu deh, lu pasti paham kan?”


“Iya deh, tapi..”


“Apa lagi?” Rahmat keliatan kaku, dia pun sedikit melirik Zizah, dan kemudian…


“Zah lu temenin gue ya! gue takut.”


“Takut apa lagi?” sepertinya Zizah menolak, itu artinya Zizah tau, kalau ini bukan lah tugasnya, “Kan kak Teguh kemarin sudah bilang kalau Iyam emang masih suka sama elu!” Rahmat pun kembali berfikir.


“Oke deh! gue bakal berusaha, makasih Zah! lu sudah mau Bantu gue.”


“Sama-sama lagi, good luck! Semangat ya!” Rahmat pun pergi dan duduk di salah satu kursi penonton Gedung serba guna Al-Akbar ini.

__ADS_1


Zizah Khodijah Adalah anak kelas tiga SMP berbody langsing, kalau di lihat dari ujung monas, alias Gendut, mungkin bisa tergolong anak manja, walaupun dia hanya seorang anak karyawan seperti Teguh, sedikit bawel, tapi penurut, keliatan banget manjanya kalau dia ketemu sama Teguh Prayitno, terus ada maunya. Zizah menemui Teguh dan Maryam, dan meninggalkan Rahmat.


“Kak tuh Rahamatnya, sudah Zizah bawa, Zizah seret dia dari ranjang tidur, masa jam segini dia tidur? Gak gaul banget kan?” Zizah hanya bercanda, karena tidak mungkin murid perempuan boleh masuk dalam kamar murid lelaki.


“Hebat dong? Tapi ya…wajar aja lah, Rahmat kan sudah kayak lidi, badannya kecil.” Di ikuti dengan sedikit tawa Teguh, dan ternyata ada yang tidak terima.


“Kakak jangan gitu dong! Walaupun Rahmat kuyus, tapi dia kuat, hebat main bola, nah kakak bisanya apa?”


“He…he… apa ya?” Teguh sedikit tersenyum, tiba-tiba Zizah menarik Teguh, dan berbisik ‘Kak, sudah biar mereka berdua ketemu!’ Teguh pun mau pergi meninggalkan Maryam yang sudah putus dan sekarang mau mencoba menyambung kasihnya bersama Rahmat kembali. “Yam kakak pergi dulu ya! sana temuin Rahmat!” tapi Wajah Maryam masih cemberut “Apa lagi? sudah deh inget apa yang kakak bilang tadi, oke?” Maryam berbisik pada Teguh.


“Iyam masih takut. Temenin!”


“Udah lah langsung aja!”


“Ngga mau, pokoknya Antarin!” Apa boleh buat, Teguh memang pantang dengan suara manja setiap Wanita, apa lagi suara milik orang yang istimawa untuknya, tidak bakal ada kata ‘ngga’ untuk dia yang istimewa.


“Ya sudah ayo! Zah, Zizah ke temen-temen yang lain ya! kakak nganterin Iyam dulu.”


“Uh…dasar Iyam manja!”


“Biarin weee…”  


“Iya deh, ntar kakak ke sana ya!”


“Iya!” mereka memang suka gitu, saling iri meng-iri dengan perhatian Teguh, tapi Teguh tetap berusaha membagi perhatian pada mereka sama rata, karena mereka itu adalah orang-orang istimewa. Teguh pun membawa Maryam mendekati Rahmat yang sedang duduk di salah satu kursi penonton.


“Halo Mat? Pakabar?” seperti pertemuan dua sahabat, mereka akrab. “Nih ada yang mau ngomong sama elu, Yam, sudah ya! ni Rahmatnya, Kakak mau gladi resik dulu.”


“Kak, Iyam Malu!”


“Ya elah, sekarang Iyam duduk aja di sini, selesaikan masalah kalian, ambil yang terbaik ya!” Teguh pun pergi. sekarang saatnya Teguh nemuin anak-anak asuhnya, angklung dan theater. Di sana sudah ada Zahra, dia pun duduk di samping Zahra sambil bercanda, bercerita dengan semua anak asuhnya, sambil sesekali memantau Maryam dan Rahmat.

__ADS_1


***


__ADS_2