Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 10 Setia Kawan


__ADS_3

Selama lima bulan berada di negri jiran Teguh sudah melewati berbagai persoalan yang sangat rumit, yaitu persoalan keluarga, dia banyak mengambil pelajaran dari waktu yang sudah dia lalui itu dengan fikiran yang positive, dia mencoba untuk melupakan pengalaman pahit yang terjadi di rumah Kasmini, yaitu rumah mamanya tercinta, namun ada sisi negative yang menyelinap pada diri Teguh, dia jadi takut salah memilih pasangan hidup, dia tak akan pernah mau mengalami apa yang sudah di alami oleh Mamanya, Liliknya baik itu Kamisah ataupun Maman, mereka semua selalu gagal dalam membangun rumah tangga, dia juga menjadi ragu untuk meneruskan perjuangannya mendapat cinta dari Titi, seorang cewek yang selama ini dia harapkan, kejadian di Malaysia sungguh merubah cara pola pikirnya menilai seorang cewek, untuk sementara setelah dia tau siapa Titi, dia tak mau lagi mengenal cewek lebih jauh. Sekarang bagi Teguh yang terpenting adalah kerja, maka dari itu setelah dia kembali ke Indonesia, selang beberapa hari dia langsung menuju Jakarta, dan satu-satunya tempat yang dia kenal dan ada kerabatnya yaitu tempat Liliknya, Maman lah yang dia tuju, terpaksa dia harus ke sana karena hanya Maman yang bisa membantunya mencari kerja.


Dia harus kerja di Jakarta apa aja yang penting halal, dan ternyata temen-temennya di Jakarta, band Pegazus, mereka semua temen-temennya, dalam masa setengah tahun ini banyak kemajuan, mereka sering manggung, jadi banyak fans, ada yang ganti dari lima anggota Pegazus, si Uki di ganti sama Lopez, entah sebebnya apa, tapi yang jelas si Lopez ini anaknya kurus abiz, beda banget sama Uki yang sedikit gemuk, bukan sedikit lagi, dia emang gemuk, soal kenapa dia di ganti, sepertinya karena ada masalah internal, dan kabar yang penting, ternyata si Bagus gitaris Pegazus pernah jadian sama Dila, namanya lah yang kemudian menjadi judul lagu Pegazus terbarunya „Dila‟ lagunya enak banget,


Apa maumu dari diriku,


yang menyayangimu,


namun kau masih ragukan aku,


tuk menjadi kekasihmu,


apakah kau tak merasa,


aku terluka karena cintamu,


reff: Oh…dila dengarkan lah,


rintihan hatiku,


memanggil indah namamu,


dalam setiap waktuku,


oh…dila lihatlah aku,


di sini ku menunggumu,


menunggu atas cintamu,


dalam sisa hidupku.


Itu lagu ciptaan Rian, vokalis Pegazus, sekarang anaknya masih di Tegal, di kampung halamanya.


Aslinya Teguh tidak tau persoalannya, tapi dia ikutan aja, taunya dia Pegazus band sudah di hina, di remehin, dia tidak terima , dia sekarang lagi jalan bareng-bareng ke taman gajah, sebuah taman di Jakarta selatan, mereka mau nemuin orang itu, mereka mau tauran! dan musuhnya orang betawi asli, masalahnya memang tidak bisa di selesaikan dengan cara baik-baik. Masalah ini tidak ada unsur ceweknya, rebutan cewek juga bukan, cewek selingkuh juga bukan, Atau cewek di ganggu juga bukan, Teguh sendiri juga tidak tau jelasnya gimana, Begitu dia sampai di Jakarta kemaren, masalah ini sudah bermula, dalih Teguh ikut berpartisipasi dalam aksi tauran ini hanya satu, yaitu setia kawan, pemicu utamanya adalah Bagus, jadi si Bagus kan pernah jadian sama Dila, sekarang sudah putus, dan Dila jadian lagi sama cowok lain, cowoknya Dila yang baru itu juga punya band, mungkin si Bagus cemburu atau gimana gitu, di tantang lah si cowoknya Dila yang baru, buat ngeband bareng, dan cowoknya Dila salah nanggepin, begitu si cowoknya Dila apel ke rumah Dila, di datangi lah si cowoknya Dila sama Bagus.


Sore hari, sedang asyik dua insan itu, yaitu Dila dan sang kekasih, datang seorang pemuda lain, tidak lain adalah mantan kekasih Dila.


“Wan!” si Bagus memanggil Irwan, yaitu nama kekasih Dila, Irwan pun memenuhi panggilan Bagus, setelah mereka berhadapan, Bagus mengintrogasi Irwan.


“Maksud elu apa sih Wan? gue bicara baik-baik, gue pengen nantang elu ngeband Wan!” Irwan ketakutan karena Bagus marah.


“Sorry Gus! Gue ngga bermaksud begitu!”

__ADS_1


“Sorry-sorry, gue ngga pernah nyari ribut sama elu!” Bagus mendorong Irwan sampai dia mundur-mundur, nah si Dila ngeliat adegan itu dari jauh, keributan itu pun jadi bener-bener ribut.


“Ada apa ini? kenapa dengan kalian?” Dila nyamperin dua pemuda itu.


“Tanyain aja tu sama cowok elu!”


“Eh Gus! Elu jangan cari ribut di sini deh! Elu tu pendatang di sini!” ini Dila yang ngomong ke Bagus, Bagus jadi ngerasa sakit hati banget, mungkin karena Bagus emang masih ada rasa sama Dila, mangkanya dia ngerasa di sakitin, selain itu Dila ngebela cowoknya, dan lebih sakit lagi, dia bawa-bawa pendatang, Teguh juga jadi ngerasa, dia juga pendatang, tapi Teguh kan lahir di sini, di Jakarta ini, ya sudah Bagus tidak bisa apa-apa, dia langsung pergi, dan kecewa. Malam harinya si Dila telpon Bagus, dia marah-marah sama Bagus .


“Gus! Kenapa kamu ngelakuin ini semua sih?”


“Ngelakuin apa La? Gue ngga ngerti banget dah!”


“Elu nantangin Irwan kan? Maksud elu apa?”


“Dila! Dengerin gue dulu! Emang gue nantang Irwan, tapi gue tu nantang ngeband, Dila! gue pengen ngadu kebolehan kita ngeband aja, ngga ada maksud apa-apa.” Bagus meluruskan dugaan Dila.


“Iya gue tau elu nantang Irwan ngeband, maksud elu apa? Lu mau ngerebut gue dari Irwan? Kalau elu menang, gue harus balik lagi sama elu, gitu? Jangan PA deh lu!”


“Bukan itu maksud gue Dila,…” pertengkaran udara terus berlanjut, dan itu semakin membuat dia marah sama Irwan, awalnya Bagus bermaksud menantang Irwan dalam ngeband, tapi kenapa jadi ke urusan cewek? Kalau urusan Band itu artinya bukan urusan Bagus aja, tapi sudah menyangkut Rian, Iki, Sandra, Lopez dan dia sendiri, urusan Teguh tidak ya? harus dong, dia kan fans nomer satu Pegazus, setelah itu Bagus mengubungi Rian yang masih ada di kampung halaman, otomatis Rian langsung emosi habis-habisan, siapa yang tidak emosai coba, band yang dia dirikan dengan susah payah, dari nol, sampai sekarang sudah menciptakan beberapa lagu, ya walaupun belum pernah rekaman, di hina oleh orang lain. Ya sudah langsung saja Rian minta nomer hendphon Irwan, di telpon lah Irwan oleh si Rian dengan penuh emosi, berbagai kata-kata keluar dari mulut Rian yang tidak pernah takut pada siapa-siapa, itu membuat Irwan juga ikut marah. Makin membara permasalahan ini, dan sekarang lah puncaknya, mereka akan bertemu di taman Gajah, sebuah taman yang berada di kawasan cipete selatan, cilandak, Jakarta selatan, mereka sudah siap tauran, mereka orang pendatang versus mereka orang betawi asli, tak tau siapa yang akan menang, tapi yang jelas udara malam ini dingin di tambah lagi grimis, tapi yang di rasa Teguh justru badannya panas, semangat tempurnya tinggi, baru kali ini dia ikut tauran. Ketegangan pun tercipta, mereka semua jalan dari kawasan mereka, sebentar lagi mereka sampai ke taman Gajah.


“Yan….! Rian…”, anak-anak belakang pada manggilin Rian, mereka emang ada di depan, rupanya mereka orang-orang betawi ada di belakang, mereka pada naik motor, Rian, Bagus, Teguh, dan Hendro langsung mendekati klompok orang asli,mereka jalan ke belakang lagi.


“Siapa yang namanya Rian?” salah satu dari mereka nyolot abiz, yang kelihatannya paling tua, dia kayaknya yang jadi pentolan mereka.


“Elu kalau mau ribut jangan gitu dong caranya! Berani lewat telpon, ayo sekarang!”


“Ayo siapa takut, siapa yang cari ribut? Elu yang cari ribut, bukannya elu yang nantang, cari gera-gara, ngeremehin Band gue?” mulai panas, Rian emosi benget, Teguh jadi ikut emosi, Rian sudah siap ribut dengan cowok yang kelihatan tua itu, tapi Bagus menahan emosi Rian, bener Bagus, ini bukan tempat mereka, mereka jangan cari perkara dulu, sabar ikhlas nyebut! Sekarang bagus yang maju.


“Sebenarnya ini permasalahan sepele aja bang! Biar gue urus sama si Irwan aja bang!”


“Ngga bisa, elu sudah nantang kita, elu jual gue beli!”


“Udah ngga usah lama-lama Gus!” Rian sudah ingin menyerang orang yang dari tadi ngomong terus itu, tapi Teguh dan Bagus langsung menangkap Rian, mereka berdua bawa Rian menjauh dari hadapan klompok orang betawi, temen-temen para pendatang yang lain sudah ikut tegang di tempat yang agak jauh.


“Tahan emosi elu Yan! Kita harus pakai kepala dingin!” Bagus memarahi Rian, karena emang sifat Rian begitu, dia mudah banget kepancing emosinya.


“Oke gue minta maaf Gus!” mereka kembali lagi.


“Wan!” Bagus memanggil Irwan yang dari tadi tidak berani berhadapan dengan mereka, Irwan pun maju, dia sedang menghisap rokok, dia mematikan rokoknya.


“Sekarang mau elu apa Gus?”


“Gue yang seharusnya tanya sama elu Wan! Mau elu apa?”

__ADS_1


“Ngga bisa gitu dong! Kan elu yang nantang gue?”


“Jadi elu mau kita ngeband bareng?”


“Wah… kalau ngeband bareng, gue susah Gus, personil kita pada sibuk-sibuk, sudah pada kerja, ada yang sudah berumah tangga juga, kita susah kumpulnya.”


“Lha…lu kira kita semua nganggur gitu? Kita juga punya kerjaan masing-masing Wan, tapi kita masih bisa bersama, lu ngga usah banyak alasan deh!”


“Kok lu maksa banget sih hah? Sekarang mau lu apa? sudah lu ngaku salah aja deh Gus!”


“Lho gue ngaku salah bagaimana? gue ngga salah kok!” panas lagi, kedua-dua pihak ngga ada yang mau mengalah, dua-dua pihak maunya bener, ngotot, tapi dari sana tidak mau memulai dulu, coba satu orang dari mereka ada yang mulai, pasti masalah ini bakalan pecah, Bagus sendiri terus berusaha untuk menahan emosi sahabat-sahabatnya, termasuk emosi Teguh. Akhirnya Bagus dan Irwan kembali berdiskusi, jadi tidak seru, ntar pasti ujung-ujungnya damai! Mereka menuju ke persoalan awal, yaitu masalah Band, tapi tetep mereka pada tidak mau mengalah, dan klompoknya Bagus juga tak mau di salahin. akhirnya taurannya di cancel, mereka langsung jalan patah balik, tidak jadi tauran, padahal Teguh sudah semangat empat lima, syukur kalau tidak jadi, kalau tadi kejadian tauran, tau deh Teguh dapat berapa korban, jadi korban iya mungkin.


Memang selalu Bagus itu ada aja masalahnya, beberapa bulan yang lalu itu anak-anak pegazus lagi latihan di tempat biasa, di sana setelah Pegazus ada yang lagi ngantri, mereka itu anak-anak jalanan, anak-anak pengamen maksudnya, mereka pada iseng, jadi sandal dari satu anak pegazus di umpetin, ya sudah Pegazus nyariin tu sandal, tapi waktu Pegazus lagi nyari sandal anak-anak itu yang mau masuk setelah mereka pada ketawa, ya sudah Rian langsung tu pegang satu anak dari mereka.


“Apa maksud kalian ngetawain kami?” anak-anak sana langsung nyerang Rian, ya otomatis semua anak Pegazus membantu Rian, terjadi bentrokan, di depan studio band, Pegazus menang, mereka minta maaf dan mengakui kalau mereka emang sudah iseng ngumpetin sandal salah satu anak Pegazus. Berakhir dengan damai, walaupun salah satu anak dari mereka babak belur sama Rian.


Selang beberapa hari Bagus di hadang sama anak-anak itu, padahal si Bagus itu mau berangkat kerja, ya sudah habis itu dia langsung balik lagi, dia tidak jadi berangkat kerja, dia cuti deh, begitu sampai di rumah, Rian ngeliat Bagus babak belur.


“Eh Gus lu kenapa?”


“Itu anak-anak yang dulu ribut sama kita, dia ngeroyok gue Yan!” Rian langsung jalan sendiri menuju di mana mereka berada sekarang.


“Yan lu mau kemana? Mereka banyak Yan!” Rian berhenti.


“Gue bukan elu Gus! lu mah payah, lu ngga bisa ngelawan mereka kan? gue bisa Gus!”


“Tapi mereka banyak Yan!”


“Lu takut? Jangan ikut!” Rian langsung meneruskan perjalannya, Bagus dan Sandra ngikut juga akhirnya. Sampai di sana, sampai di tempat anak-anak yang ngeroyok Bagus, mereka masih di tempat yang sama.


“Kalau mau cari ribut sama gue sini!” Rian marah, mereka tidak ada yang berani maju, begitu ada satu orang maju, dia bilang.


“Sorry coy kita ngga bermaksud cari ribut, kita cuman iseng aja kok.”  Wah parah ni anak-anak, mereka kecil-kecil tapi sepertinya nyali mereka gede juga.


“Apa maksud kalian?”


“Ya kita main-main aja, bercanda begitu, ya kalau ternyata jadi begini ya aku minta maaf lah!” mereka menjabat tangan Rian, Bagus, dan Sandra, begitu acara berjabat tangan selesai, Rian dan dua temenya itu kembali pulang, tapi begitu baru beberapa langkah dia pergi, sebongkah batu bata merah melayang dan mendarat di kepala Rian, Rian langsung menyambar orang yang melempar kan batu itu, tapi baru satu pukulan di muka, dia sudah bisa melarikan diri, lebih dari tujuh orang itu lari kalang kabut, kejadian itu terjadi di tepi jalan raya, jadi ya banyak orang yang melihat.


“Hei…pengecut kalian!” Rian tidak mengejar mereka, darah mengucur dari kepala bagian belakang, dia tidak menyadarinya, Bagus melihat darah itu.


“Yan! Kepala elu berdarah.” Rian meraba kepalanya, benar saja darah banyak banget keluar dari kepalanya, tapi Rian masih seperti tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, dia masih bisa berjalan menuju rumah kontrakannya.


Begitu cerita yang Teguh terima dari teman-temannya selama dia berada di Malaysia, sungguh hebat mereka, mental mereka bagus, memang seharusnya manusia itu tak perlu takut pada siapa pun, selama dia benar, kenapa dia harus takut? Cuman gara-gara sandal di umpetin, ujungnya kepala Rian yang jadi korban, itu bisa di jadikan pelajaran!

__ADS_1


***


__ADS_2