
July 2012
Waktu berlalu begitu cepat melaju bagai kan pesawat tempur, kehampaan tanpa cinta pun terlewati tanpa ada lagi yang mampu membuat goresan pada hati Teguh Prayitno, segala apa yang dia lakukan tanpa sebuah perencanaan lagi, dia sadar bahwa hanya rencanaNya lah semua akan berjalan sesuai yang di rencanakan, langit masih biru, laut masih bergelombang, gunung masih terus mengeluarkan asap tebal, itu tanda bahwa bumi masih akan terus berputar, bermakna juga hidupnya masih akan berlanjut,
Seperti air sungai yang pasti kan menuju kelaut, dalam kehampaannya itulah kemudian hadir seorang dara nan cantik, seorang perempuan bernama Icha Elisa, perempuan yang mengharapkan cinta darinya, maka tanpa suatu perencanaan yang seharusnya di lakukannya dia menerima dengan begitu saja, meski dia tak punya rasa cinta untuknya namun dia ingat satu pepatah jawa yang berbunyi, “Tresno niku jalaran soko kulino” yang berarti cinta itu di sebab kan karena kebiasaan, pepatah ini bermakna juga bahwa tidak akan pernah ada cinta bila tak pernah bersua, itu sama juga artinya pepatah ini tidak berlaku untuk cintanya pada seorang Shireen Sungkar, juga cintanya pada seorang Attin, kalau di telusuri, semua cinta yang pernah di alami oleh Teguh tak ada yang sesuai dengan pepatah ini, semua berlawanan, lalu mana yang sesungguhnya benar? Kini dia ingin membuktikan bahwa pepatah itu benar dengan cara menjalani hubungan dengan Icha, tanpa satu perasaan apapun, ya mungkin ada sedikit perhatian padannya, apakah perhatian bisa di artikan cinta? gejolak dalam hati memang menolak apa yang di lakukannya, namun dia hanya ingin membuktikannya saja.
Hubungan itu berjalan beberapa hari, dan memang benar, perhatiannya pada Icha mulai bertambah, ke khawatiran akan semua tentang Icha mulai tertanam, namun ada yang mengganjal, dia tidak mempunyai cemburu pada setiap lelaki yang dekat ataupun pada lelaki yang dulu pernah menjadi pacarnya, begitu banyak lelaki yang sering di ceritakan Icha pada dirinya, dia tak punya cemburu, justru Icha marah bila Teguh membandingkannya dengan orang lain, terutama dengan orang yang pernah di cintainya, yang sampai saat ini masih ada dalam hatinya, mungkin mustahil baginya untuk membuang semua perasaan itu, dia hanya bisa membelenggu perasaan itu dia menyegel belenggu itu untuk tidak keluar lagi ke permukaan. Dia masih focus pada seorang Icha, rencana mulai dia kenal lagi, masa depan yang cerah tergambar dengan jelas di benaknya, hidup dengan orang yang tak dia cintai, mempunyai sebuah istana kecil di atas bumi, betapa indah rencana yang dia bentuk dalam minda otaknya.
“Hallo ma!” Kasmini, mamanya lah yang pertama di kabarinya tentang masa depannya itu.
“Ya mas? Ada apa?”
“Ngga, kepengen curhat aja ma!”
“Curhat tentang apa lagi nih?”
“Mamas punya rencana untuk kasih mama menantu.”
“Menantu? Hah, bagus lah kalau anak mama sudah berfikir ke arah itu, lalu siapa dan orang mana yang Mamas tawarkan pada mama?”
“Masih orang kampung kita juga ma!”
“Kalau begitu kasih mama nomer telpon calon menantu mama itu, mama mau tanya keseriusannya, mama ngga yakin dia mau terima anak mama yang jelek ini.”
“Ya boleh, tapi mamanya juga di Malaysia ma, mama mau langsung komunikasi aja sama calon besan mama?”
“Hah boleh juga, tapi apa mamas sudah yakin dengan rencana mamas ini”
“Seratus persen ma.”
“Mama ngga mau kalau mamas hanya akan di permainkan olehnya, seperti perempuan yang sebelumnya.”
“Iya ma mamas sudah yakin.”
“Kalau begitu sekarang juga mamas kirimkan nomer telpon calon mertua mamas itu, mama mau membuat rencana juga sama calon mertua anak mama ini.” Sedikit kegembiraan terbentuk lagi dalam hati Teguh, tak akan ada yang tau apa yang akan terjadi di keesokan hari setelah hari ini. Komunikasi via Telpon terus berlanjut dengan Icha yang sudah ada di Jakarta, komitmen sudah di terima oleh Icha yang baru berusia 16tahun, mereka jadi saling tukar suasana, saat Icha gundah atau bermasalah, Teguh ikut merasakannya, tapi yang pasti Teguh tidak pernah lagi bertemu dengan kegundahan, dia hanya bertemankan kegembiraan, meski saat ini dia belum bisa memberikan hatinya untuk Icha, tapi dia mulai yakin kalau pepatah jawa itu bisa dia buktikan, bahwa dia akan bisa mencintai Icha dengan benar-benar cinta.
Hingga suatu saat Icha menceritakan tentang Ayahnya yang tidak siap bila Icha harus menikah muda, mulai lah kegundahan di hatinya hadir kembali.
“Sekarang aku mau tanya sama Icha, Icha bener mau menjadi istriku apa enggak?”
“Ya mau lah mas, Aku kan sudah memegang komitmenku, aku cinta sama kamu.”
“Kalau begitu perjuangkan! Apa perlu aku datang ke rumah kamu dan langsung membicarakan hubungan kita dengan ayahmu?”
“Jangan dulu lah mas!”
“Kanapa? Sekarang ataupun besok kan sama saja, aku ngelamar kamu juga?”
__ADS_1
“Ayahku sih pasti akan menerima lamaran Mas Teguh kalau suatu saat nanti Mamas ngelamar aku, tapi dia ngga mau kalau Icha menikah muda.”
“Kalau begitu pegang komitmenmu, aku akan menunggu kamu!”
“Iya mas aku akan mencobanya.”
“Tapi Cha, kalau boleh tau, apa yang membuat Ayahmu ragu sama aku?”
“Dia tau kalau Mas Teguh udah pernah ngelamar teman Icha?”
“Teman yang mana? Itu gossip Cha.”
“Iya Icha tau itu, masalahnya kan Ayah punya teman banyak, jadi dia tau dari teman-temannya.”
“Mungkin yang di maksud Ayahmu itu Fitri, tapi kan aku belum sempat melamarnya, dia sudah berpaling dariku semenjak aku masih di Malaysia dulu.” Nama perempuan yang pernah membuat hatinya tercabik menjadi beribu keping itu pun tersebutkan di dalam komunikasinya dengan Icha, yang saat ini dia sedang berusaha menanamkan cinta padanya.
Komunikasinya dengan Icha mulai terhambat, nomer telpon yang dia hubungi aktif tapi tak ada jawaban dari sang pemilik telpon, kembali kegundahan menemani dirinya dengan setia.
Sedangkan Kasmini, mama dari Teguh sudah menghubungi mamanya Icha di Kuala lumpur ibu kota Negara Malaysia, mereka sudah merencanakan lebaran ini akan mengadakan pertemuan sekaligus lamaran Teguh pada Icha, namun setelah semua itu terjadi.
“Aku tau ini keputusan berat Mas, tapi aku harus memutuskannya, aku masih terlalu dini untuk menjadi seorang istri untuk mas Teguh.” Sebuah sms yang sangat membuat jantung Teguh berdegup melaju begitu kencang, hingga menusuk jauh ke dalam serasa jantung itu sudah lelah tuk memompa darah demi keperluan tubuhnya.
“beribu kali maaf aku ucapkan, aku tau mas Teguh pasti tidak akan pernah memaafkan Icha, tapi sekali lagi Icha minta maaf sama mas Teguh, Icha tidak bisa pegang komitmen, Icha mundur mas!” tanpa Teguh ketahui alasan apa yang menjadi pegangan Icha, hingga tiba-tiba dia memutuskan untuk berhenti dan mundur dari perjuangannya. Teguh masih belum bisa membalas sms dari Icha yang sudah lebih dari lima sms yang bertuliskan kemundurannya.
Kehancuran yang ke sekian kalinya bagi seorang Teguh Prayitno dalam perjalanannya memburu sejati, entah di mana sejati bersarang dalam dunia ini, dia masih akan terus mencarinya.
“Icha ngga salah, itu adalah keputusan yang Icha ambil, sebelumnya kan aku sudah bertanya kalau sekedar pacaran aku ngga bisa, kalau mau menikah, aku akan mencoba, tapi kalau Icha mundur, ya sudah! Dari pada Icha menyesal kemudian, aku kan orang miskin, orang jelek, selain itu aku juga orang yang sudah tua, bukan Icha aja kok yang bilang hal itu.”
“Ya sudah lah, ngga perlu di bahas lagi, ini sudah menjadi keputusan Icha, aku ngga akan menyesalinya, ini semua sudah menjadi takdirku, inilah suratanku, aku pasti akan menerimanya dengan suka rela.”
Ada Sesuatu yang terlupakan oleh Teguh ketika dia di buat bahagia dengan kehadiran Icha, Laptop, dialah teman setia yang tak pernah menyakitinya, dan selalu menemani setiap kesepian menghampirinya, dia pun kembali memainkan jemarinya untuk kembali mengetik keybord yang ada di laptopnya, kembali dia mengadu padanya tentang perburuan sejatinya, dia tak pernah menyangka bila perjalanan pencariannya masih belum menemukan pelabuhan, yang awalnya dia kira pelabuhan ternyata hanya lah sebongkah karang yang menghilang begitu air laut pasang, dan andai suatu saat akan terlihat kembali, dia tak akan pernah lagi perduli.
Ia masih focus pada curhatnya, dia tulis semua yang telah dia alami selama ini, dia teruskan novel yang pernah dia tulis, sebuah novel yang sudah berulang kali dia kirimkan ke penerbit besar di Jakarta, namun berulang kali juga novel itu sampai di alamat rumahnya, sepertinya dia belum jera dengan pengalamannya mengirim naskah pada penerbit, dia kini bertekad untuk mengedit novel itu untuk yang ke sekian kalinya dan akan dia kirim lagi.
Namun ketika dia sedang asyik mengetik tiba-tiba saja laptop mati. Dia pun hanya terkejut seperti layaknya terkena aliran listrik berkekuatan 5watt. Mungkin itu karena effek dari seringnya dia tersambar petir. Bagi Teguh Prayitno tersambar petir itu sudah biasa, keputusan Icha untuk mundur dari komitmen yang dia pegang pun termasuk dalam kategori petir, namun itu tidak lah sebesar petir saat dia melihat Fitri naik motor dengan lelaki lain dulu.
Ia juga sudah tau kalau hal ini pasti akan terjadi, laptopnya memang sudah tua, sampai saat ini dia sudah bertemankan laptop selama 3tahun, karena dia sudah tau, maka dari itu lah setiap dia berhenti mengetik, dia picit tombol ctrl+s itu untuk mengantisipasi laptop hang. Hal itu pun terjadi, kemungkinan bila laptopnya sudah bener lagi, hanya satu kalimat yang tidak tersimpan.
Kali ini Wagiman lah tujuannya, mungkin dia bisa membantu memulihkan laptopnya, tidak sampai 20menit dia pun sampai rumah Wagiman yang ada di kota Sumpyuh. Wagiman langsung menangani laptopnya, akan tetapi…
“Kayaknya ini harus di install ulang bro!”
“Kamu punya shoftwearnya kan?”
“Punya sih, tapi data-data kamu gimana?”
“Data-dataku yang penting udah aku simpan di hardis eksternal kok.” Saat ini untuknya data yang tepenting adalah naskah-naskah novelnya.
__ADS_1
“Berarti bisa langsung di install nih, beneran udah ngga ada data yang penting lagi?”
Wagiman pun langsung meng-install laptopnya, saat install sudah di lakukan baru dia teringat dengan data-data yang lain, seperti foto-foto saat dia masih di Malaysia dan video tentang pertama kali dia masuk hutan di Orchid dulu, kliping berita Shireen Sungkar beserta foto dan videonya, gambar Fitri, memang Laptopnya mungkin harus di bersihkan seperti jiwa pemiliknya yang masih kena virus asmara.
“Lha katanya sudah ngga ada yang penting lagi? Udah aku bersihin Guh! Udah ngga bisa di balikin lagi.” Teguh pun ngga bisa berbuat apa-apa, dia menerima saja apa yang harus dia terima, kali ini laptopnya akan benar-benar baru, kenangan masa lalu semua hilang, itu mungkin yang seharusnya dia lakukan, menghapus semua masa lalunya, dan dia harus kembali membuka lembaran baru. Hal ini juga membuat dirinya ingin melupakan tentang novel, dia putus asa dengan perjuangannya untuk menerbitkan bukunya itu.
Begitu laptop kembali bisa dia pergunakan, dia tak lagi sering menulis, namun data-datanya tentang buku itu masih tersimpan rapi dalam salah satu sudut hardis eksternalnya, kali ini dia lebih sering menggarap pekerjaan yang menghasil kan rupiah, meng ufdreg foto dan mngeditnya untuk siapa saja yang menginginkan jasanya. dia jadi mempunyai rencana lain, yaitu membuat counter di depan rumahnya.
Sebelumnya dia sudah mengabarkan berita duka tentang mundurnya Icha pada Kasmini.
“Kok bisa mas?”
“Kenapa enggak ma?”
“Mama kan udah sepakat sama mamanya Icha kalau besok lebaran mau ketemu.”
“Batalin aja ma! Repot amat.”
“Malang sekali nasib anak mama satu-satunya ini. Sekarang mamas punya rencana apa?”
“Mamas mau buat counter aja ma di depan rumah.”
“Ya udah buat aja, kira-kira habisnya berapa tu mas?”
“Ngga tau lah ma, orang belum di buat.”
Tanpa sebuah perencanaan yang mateng dia pun mulai membeli material untuk pembangunan counternya. Beberapa hari dalam rencananya membuat counter dia mempunyai inisiatif untuk menjalin hubungan yang baik-baik saja dengan mamanya Icha.
“Teguh minta maaf ma! Karena udah ngga bisa memperjuangkan hubunganku dengan Icha.”
“Maksudnya apa Guh? Mama ngga ngerti.”
“Hubunganku dengan Icha sudah berakhir.”
“Alasannya apa? Kan mama kamu sama aku sudah sepakat lebaran besok mau lamaran.”
“Tapi Icha sendiri yang memutuskan untuk mundur, aku ngga mungkin memaksakannya, mungkin itu yang terbaik untuknya ma!”
“Ngga bisa begitu dong Guh? Emang itu anak, perlu di kasih pelajaran nih.”
“Mama ngga usah marahin dia, dia membuat keputusan pasti beralasan lah ma.”
“Iya tapi alasannya apa?”
“Aku ngga tau alasannya apa ma, dia ngga bilang apa-apa sama aku.”
“Biar mama yang tanya ke dia.”
__ADS_1
Ternyata setelah mamanya Icha menanyakannya, Teguh sedikit terkejut, alasannya sungguh tidak masuk akal pikiran. Katanya dia takut kalau nanti mereka menikah, dia akan menyesal karena dia dengar kabar kalau Teguh masih mengharapkan Fitri, terus selain itu banyak perempuan yang menginginkannya. Kabar inilah pertama kali yang membuat dia tertawa terpingkal-pingkal, baginya itu sangatlah lucu siapalah dia sampai menjadi rebutan para perempuan, tapi dia sedikit marah juga saat dia tau alasan yang lain, yaitu karena dia masih berharap pada Fitri, dalam hatinya yang terdalam, nama Fitri masih ada, tapi mustahil baginya untuk menerimanya kembali walaupun seandainya suatu saat nanti dia akan kembali. Butuh waktu berabad-abad untuk kembali memunculkan nama Fitri di permukaan hatinya.
***