Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 5: Memilih (5)


__ADS_3

Dan apa yang terjadi di hari jum’at? Ini yang terjadi!


Yani datang ke asrama Teguh, sedangkan Teguh lagi asyik dengan buku yang di pinjam dari Arif yang berjudul ‘Harry Potter end the order of the phoenix’. Teguh pun dengan terpaksa menemuinya di depan 130, Yani menyambutnya sambil marah-marah.


“Sorry Guh, anggap saja kedatanganku ini sebagai iklan Harry Potter yang sedang kamu baca.”


“Ada apa lu kesini Yan?” Teguh pura-pura tidak tau apa-apa. “Lu ngga di marahin ayah ketemu sama gue?”


“Ngga penting Guh.” Yani menjawab dengan ketus. “Jadi bener yang di bilang Fauzi, kalau kamu lebih mentingin Harry Potter ketimbang aku cewek kamu?” Teguh kaget bukan main, melihat Yani marah-marah di depan 130, dan dia mulai berdiri, dan membawa Yani menjauh dari 130, mereka keluar asrama dan mencari tempat yang sepi. sebenernya apa sih yang Fauzi ceritakan sama Yani?


“Bukan begitu Yan, gue cuman…”


“Udah deh Guh, aku sudah tau semuanya.” Bagaikan gunting Yani memotong apa yang ingin di ucapkan oleh Teguh. “Kamu sudah ngga suka lagi kan sama aku? Kalau emang kamu mau putusin aku, ya sudah putusin aja! Aku ngga akan menangis merengek-rengek minta balik lagi sama kamu kok!” Teguh kaget banget, ini kali pertama dia denger kalimat ini keluar dari mulut Yani. “Emang aku cewek apaan?” sepertinya Teguh emang sudah marah banget, mukanya merah.


“O…” Teguh mencoba meredam emosinya, “Jadi selama ini elu berharap seperti itu?” sekarang giliran Yani yang terkejut, “Jadi elu pengen putus dari gue? Oke! gue akan mewujudkan harapan elu.” Ini juga pertama kalinya Teguh marah besar pada Yani, “Dan satu lagi yang harus elu ingat Yan! Jangan pernah lu meratap memohon ke gue tuk balikan lagi, Oke?” Yani bener-bener terkejut dengan respond Teguh yang luar biasa. “Emang gue sudah aneh dari dulu sama elu Yan, apa lagi dengan orang tua elu.” Yani ngga bisa lagi memotong kata-kata yang ingin di ucapkan oleh Teguh, “Dulu mereka baik banget sama gue Yan! Tapi sekarang? sekarang mereka benci banget sama gue, mereka ngeliat gue seperti ngeliat seekor kucing yang sudah maling lauk di meja makan mereka, mereka benci banget sama gue Yan, benciii…banget. Bahkan gue sudah ngga boleh lagi mencintai elu kan?” Yani mulai melelehkan air matanya, dan Teguh mulai sangat garang, mungkin kalau Yani adalah seorang cowok, dia sudah di tonjok mukanya, tapi Teguh masih bisa menahan amarahnya.


“Yan!” Yani melihat wajah Teguh, dan Teguh menarik nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat berikutnya, “Mulai detik ini kita putus.” Bagaikan petir menyambar di ikuti suara yang menggelegar, mungkin itu yang di rasakan hati Yani saat ini. Hancur lebur pastinya, dia bahkan sekarang sedang tidak dapat bernafas, dia ingin menjelaskan sesuatu pada Teguh, dan itu sangat penting.


“Tapi Guh, aku…” tapi sayangnya Teguh tidak mau mendengar sesuatu itu.


“Elu boleh kembali ke asramamu sekarang! Elu tau kan jalan ke asramamu?” Yani sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa terus menangis, dan menyesali apa yang sudah terjadi, ini bener-bener di luar dugaannya, dia belum pernah melihat kemarahan Teguh yang seperti ini, yang dia tau Teguh tak pernah bisa marah, Teguh orangnya lemah lembut, terutama pada orang yang di sayanginya, bahkan pada orang yang tak dikenalpun dia bisa ramah, sopan santun, lugu, tapi kenyataannya dia baru saja melihat kemarahan Teguh, dia pun mulai mengarahkan langkah kakinya, dengan sedikit mengusap air mata yang terus mengalir dia terus berjalan walaupun perlahan, karena dia berharap Teguh menghentikan langkahnya, menghapus air matanya, dan meminta maaf karena Teguh sudah bercanda kelewatan.


“Yan!” itu mungkin yang di harapkan oleh Yani, Teguh menghentikan langkahnya, dan dia pun berhenti, sedikit rasa gembira menyelinap di hatinya.


“Satu lagi! Semua yang telah terjadi dengan kita, anggap saja ini cuman mimpi belaka.” Suara Teguh halus, ini adalah suara yang selalu Yani dengar dari mulut Teguh, lemah lembut, penuh makna, sedikit beraroma puitis, tapi suara itu tak bisa menghentikan derasnya air mata yang mengucur dari pelupuk matanya, kini sirna semua harapannya.

__ADS_1


Menyedihkan sekali. Tapi tak semenyedihkannya ending dari cerita Romeo end Juliet kan? Tapi, sebenernya apa sih yang di omongin Fauzi ke Yani?


Besoknya Teguh mengintrogasi Fauzi.


“Zi, sebenarnya lu ngomong apa sih sama Yani?”


“O…sorry ya Guh! Gara-gara gue, elu putus sama Yani.”


“Ngga masalah kok, emang itu yang gue ingin kan, putus dari Yani, pusing gue pacaran sama dia, tapi lu ngomong apa sih?”


“Kemaren gue sebel sama elu Guh, gue sampein aja pesan elu ke Yani begini, ‘Teguh ngga mau ketemu sama elu Yan, Teguh mau baca Harry Potter aja katanya.’ gitu doank kok.” Teguh tersenyum lebar.


“Gue ucapkan makasih banget men! Emang, elu sahabat gue.” Fauzi malah bingung, awalnya dia mengira akan kena marah sama Teguh, “Tapi gimana Midah Zi?” sekarang Fauzi jadi murung lagi, tadinya dia emang sedang murung, pertama Teguh datang dia sudah begitu.


“Itu dia Guh! gue di tolak sama Hamidah, gue di tolak mentah-mentah Guh.”


“Gue juga ngga tau Guh, waktu Hamidah denger gue ucapin ‘I love you’ dia langsung pergi begitu aja.” Dengan tak sadar Fauzi menangis. Teguh terkejut sekali begitu dia melihat satu tetes air mata sahabatnya jatuh dari pelupuk mata kanannya, dan satu lagi jatuh dari plupuk mata kirinya. Sebegitu besarnya kah cintanya pada Hamidah? Dan sebegitu teganya kah Hamidah pada Fauzi?


“Ini ngga bisa di biarin!” Teguh pergi dari kamar Fauzi dengan sedikit membawa amarah menuju Asrama Hamidah. dia tidak abis pikir dengan Fauzi, seumur hidup, ini kali pertama dia melihat air mata milik sahabat terbaiknya jatuh, ini pasti karena Hamidah adalah orang yang pertama kali dia tembak, mungkin kalau kemarin Teguh bersamanya keadaannya tidak akan seperti ini. Sekarang Fauzi masih duduk di ranjang dalam kamarnya, dia mencoba membersihka air matanya, dia menghela nafas, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjangnya.


Sekarang Teguh sudah ada di Asrama Nisa’. Teguh menemui petugas 130 dan menyerahkan surat izin dari 130 asrama Rijal. Setelah tadi dia sudah menyerahkan surat izin pada petugas, tak lama kemudian Hamidah turun dari tangga asrama.


“Ada apa Guh!” Teguh mempersilahkan hamidah duduk di kursi panjang di depan 130.


“Apa gue ngeganggu Dah?” Hamidah cuek.

__ADS_1


“Ngga kok, ada apa?”


“Aku mau ngomong soal Fauzi…”


“Gue tau Guh, gue salah karena gue sudah nolak Fauzi, dia anaknya baik ngga bisa di ragukan lagi.”


“Terus kenapa kamu menolaknya?” Teguh gantian menyelak Hamidah.


“Elu juga salah Guh! Karena elu sudah mutusin Yani sahabat gue.”


“Ini soal Fauzi! Jangan bawa-bawa Yani, Dah! gue baru saja dari kamarnya, dia bener-bener suka sama elu, dia cinta sama elu.” dia sedikit menekan suaranya di bagian suka dan cinta. “Kok elu tega sih Dah?”


“O…jadi mau tega-tegaan nih? Lu juga tega Guh. Lu tega sama Yani, kenapa gue ngga?” Hamidah cuek lagi.


“Itu kemauan Yani sendiri kok, dia yang pengen putus dari gue.” Teguh sedikit menaikkan nadanya lagi.


“Elu salah Guh.” Teguh bingung, “Sebenarnya Yani hanya ingin tau kesetiaan elu aja sebagai seorang kekasih, sebenarnya dia masih sayang sama elu.”


“Ngga mungkin Midah, itu ngga mungkin.” Teguh menyangkal Hamidah


“Baru aja Yani pulang dari kamar gue, dia cerita semua tentang apa yang terjadi dengan kalian sama gue, jadi, kita sama-sama salahkan?” Teguh diam dan kemudia pergi begitu saja dari hadapan Hamidah, hatinya bimbang, sebenarnya Teguh ke asrama Nisa’ adalah untuk memarahinya karena dia sudah ngebuat sahabatnya menangis, sekarang sudah jelas kan, apa yang sedang terjadi di dalam hati Teguh? Tapi ini lah pilihan Teguh, dia lebih memilih Prinsipnya, meski dia tau apa bila dia menerima kembali Yani, keadaan akan berubah. Namun Prinsip baginya adalah tongkat yang akan menuntunnya ke jalan yang akan dia tuju kelak.


Teguh Prayitno, saat ini dia sedang duduk di atas ranjangnya, buku ada di pangkuannya, sekarang dia sudah tidak duduk lagi, tapi rebahan, masih di atas ranjangnya, buku sudah pindah dari pangkuannya menjadi di depannya, sedang apa kah sekarang dia? Ternyata dia lagi nulis? Sekarang Teguh lagi bingung!? Sebab baru hari ini dia mulai jadi jomblo lagi, alias RETAK, alias lagi RemajaTAnpa Kekasih


“05 February 2006,

__ADS_1


Bagaikan burung yang terlepas dari sangkar, itulah aku, bebas rasanya, tanpa ada yang terus mengaturku, katanya aku harus beginilah, begitulah, memangnya apa aku? Robot? Atau pembantunya yang harus selalu patuh dengan apa yang dia perintahkan? Ngga bisa gitu dong! Aku harus bisa lepas dari dia. Dan sekarang, setelah lebih dari satu tahun aku harus merasakan sakit hati, cemburu, marah, bersedih, akibat dari ulah kekasihku, kini sudah berakhir. Sebenarnya aku kasihan sama Yani, dia masih suka sama aku, dia masih sayang sama aku, entah Hamidah bohong atau tidak padaku, barusan aku datang ke asramanya dan dia menceritakan semuanya kepadaku, apa yang sedang menimpa mantan kekasihku itu, ternyata Yani mogok makan, dia juga masih belum menerima keputusanku, aku jadi bingung. Apa mungkin aku menjilat ludahku sendiri? Anjing dong? Ngga aku bukan anjing.” ternyata Teguh sedang menulis diary?


***


__ADS_2