Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 14 Namanya Attin


__ADS_3

22 September 2008


Akhirnya Teguh sampai juga di Malaysia di Asia Orchid.sdn.bhd, semua jauh dari perkiraannya, dia bekerja di sebuah perkebunan bunga anggrek, awalnya dia mengira dia hanya akan bekerja di kebun yang kecil dan hanya mengurus beberapa bunga, tapi apa, dia harus mengurus kebun yang sangat luas, bahkan dia juga harus memegang cangkul.


Hujan rintik-rintik, ini hari pertama dia kerja, dua hari ini dia istirahat, dia tak ngapa-ngapain, cuman tidur, habis itu bangun, kadang kalau temen-temen datang ya ngobrol-ngobrol aja, hari ini hari kamis, suasana dingin, sampai di office metikin bunga anggrek dari tangkainya, sudah kayak di kantoran aja office, ya emang di sana ada kantornya, mangkanya di bilang office, jadi semua hasil dari perkebunan bunga ini di bawa ke tempat itu, cop absent juga di sini, jadi kalau masuk kerja ya pasti ke tempat ini dulu, sekarang semua orang berkumpul di sini, mandornya orang cina gemuk, dia berdiri di sana, agak jauh dari Teguh, dia mengawasi mereka semua, dia lihat satu persatu temen-temen baru yang sudah lama di sini, ada perempuan juga, tapi Teguh yakin kalau di sini tak ada gadisnya, pasti mereka semua sudah bersuami, tapi terlihat di sana di sebelah agak jauh, dia seperti anak kecil, perempuan rada pendek, anaknya centil, manja, mungkin dugaan ini salah, bahwa semua wanita di sini sudah bersuami, kalau dia sudah kawin, Kayaknya tidak mungkin, dia itu masih cocok jadi murid di salah satu sekolahan setingkat SMA, nanti lama-lama juga akan tau sendiri, kan Teguh di sini bukan sehari atau dua hari, mungkin bisa setahun atau mungkin dua tahun, atau mungkin lebih.


Bunga yang harus dia petikin sudah habis, dia tak tau sekarang mau kemana lagi, dia ikut aja kemana orang-orang di sini pergi, dan ternyata mereka pergi ke sebuah bangunan di belakang office, agak jauh, dan mereka harus hujan-hujanan, untung hujannya tidak terlalu deras.


“Kalau hujan kita kerjanya di kilang Guh.”


“Kilang?”


“Kilang tu pabrik, ntar kita cuci pasu, nah pasu itu pot bunga, di sini namanya pasu.” Namanya adalah Ujang, dia tu karyawan lama di orchid, sampai di kilang, si cina gendut itu sudah sampai, dia berdiri di dekat tiang kayu, dia mengawasi semua pekerjanya, namanya Akok, dia tau dari Ujang, di sebelah kilang ada juga orang sedang bekerja, ada suara seperti batu di ketuk-ketuk, mungkin orang-orang yang di sana lagi pada ngetukin batu kali, Teguh lagi cuci pasu.


Hari ke tiga dia kerja di kebun orchid ini, perasaan tidak betah masih aja menyelinap di hatinya, ke inginan untuk kembali ke kampung halaman masih kental, sekarang dia lagi berusaha mencari sesuatu yang bisa ngebuat dia tetap bertahan di sini, entah apa itu, tapi yang jelas, sekarang ini dia sedang berada di tengah-tengah hutan, yang namanya hutan dimana-mana ya isinya pepohonan dan rerumputan, ternyata orang-orang di sini cepat akrab dengan karyawan baru, sekarang ini aja dia sedang berempat, Teguh, Dekong, Rames, dan Yono, Dekong adalah anak yang ke sini bereng Teguh kemaren, Rames adalah salah satu temen barunya di sini, dan Yono adalah karyawan yang di sini sudah menginjak usia sepuluh tahun, dia di sini dengan istrinya, dan istrinya itu mengingatkannya pada seseorang, kulitnya putih, badanya tidak besar, alias kecil, ya tubuh wanita Indonesia lah, rambutnya lurus sebahu, senyumnya manis, bicaranya lembut, pertama Teguh ngeliat, Teguh mengira kalau dia tu belum bersuami, pokoknya dia tu cantik, namanya Sar, panjangnya Sartiyah, dia inget dengan kakak kandungnya, kakak kandung yang sekarang sudah tidak ada lagi di atas bumi ini, dia sudah meninggal dunia sembilan belas tahun lalu, mungkin kalau kakaknya masih hidup, dia sudah sebesar Sar, sudah bersuami, dan Teguh sudah mempunya keponakan, bukankah ada dalil yang melarang manusia mengandaikan sesuatu yang telah terjadi? Iya juga sih? Alloh melarang manusia untuk mengandaikan sesuatu yang sudah di tentukan olehNya, jadi ya iklasin aja apa yang sudah terjadi.


Sekarang mari kembali ke dalam hutan, Sebenarnya mereka berempat tu lagi mau cari daun singkong, daun singkong adalah sayuran yang paling Teguh gemari, bahkan belum di apa-apakan pun terkadang dia suka memakannya, tentu sudah di rebus lah, mang kambing makan daun singkong mentah.


“Masih ada dua tu mau di petik sekarang apa tunggu biar besar lagi?”


“Sekarang aja lah kang! Kalau di petik lain kali nanti di petik sama orang.” Si Rames lagi diskusi sama kang Yono, sebenarnya mereka lagi pada ngomongin apa sih? Mereka bertiga pada ngeliatin sebuah pohon di tengah hutan ini, Teguh tak tau, soalnya dia ketinggalan di blakang tadi kan dia sibuk terus sama hapenya, dia terus memutar rekaman Video, dia mau abadikan pengalaman pertamanya masuk hutan, sudah kayak di tivi-tivi, tapi kalau di perhatikan hutan ini sepertinya dulunya adalah kebun karet, sebab di hutan ini banyak pohon karetnya, kayak si bolang, tau kan si bolang? Ya kalau tau sekarang ikuti saja petualangan dia di dalam hutan ini ya! Teguh dekati mereka, rupanya mereka sedang memperhatikan sebuah pohon nangka, pohon nangkanya cuman satu, kalau di perhatikan rasanya pohon ini memang menjadi rebutan oleh penghuni orchid, siapa cepat dia dapat, mungkin hukum itu yang berlaku untuk pohon nagka yang cuman satu ini.


“Kalau begitu cari kayu yang panjang sekarang!” si Rames mencari kayu yang di minta oleh kang Yono, Rames menemukan sebuah kayu yang panjang, sepertinya kayu itu memang tersedia di sini untuk memetik buah nangka itu. Dia arahkan hapenya ke pohon nanggka di atas, kang Yono mulai menolak buah nangka itu, satu jatuh, satu lagi, dua deh semuanya, Rames mengambil dua buah nangka yang masih muda itu dan menyembunyikan di sebuah tempat yang menurut dia tidak akan ada orang yang tau. Habis itu mereka berjalan lagi menelusuri tapak jalan di tengah hutan, kalau dia sampai tertinggal dia bakalan tidak bisa balik.


Benar saja, di sini ada pohon singkong, banyak banget lagi, seperti ada yang menanamnya, subur banget, dia belum menghentikan rekaman Video yang terus berjalan, Teguh terus mengikuti mereka memetik daun singkong, ternyata mereka bukan cuman mencari daunnya, mereka juga mencari singkongnya, bener-bener, seru deh pokoknya, mungkin kalau hasil rekamannya ini di jual di kota, mungkin bisa laku keras, biar orang-orang di Indonesia tau, bagaimana kehidupan di perantauan, demi menyumbat perut, mereka harus rela darah mereka di hisap oleh nyamuk, dia jadi kepengin ikut memetik daun singkong, jadi ya dia hentikan rekaman, dan dia ikut memetik daun singkong.


“Memangnya tidak ada yang marah kang? Kita petik daun singkong di sini?”


“Siapa yang mau marah? Orang pohon ini tumbuh dengan sendirinya, ini kan aslinya pohon di buang.”


“Kok di buang kang? Kenapa? Orang Malaysia tidak doyan sama singkong ya?”

__ADS_1


“Bukan begitu Guh, awalnya kawasan ini adalah kebun singkong, berhubung kebun ini mau di buat kilang, jadi ya pohon singkongnya di gusur, nah di gusurnya ke sini, sekarang kawasan kebun singkong itu sudah menjadi kilang, noh lihat, gedung yang besar itu, dulunya adalah kebun singkong, sekarang sudah menjadi kilang, sebelum jadi kilang kawasan ini adalah kebun singkong, berhubung kebun singkong ini mau di buat kilang jadi kebun singkong ini di gusur…” ‘dah terusin! Terus!!! Kalau cerita begini mah, ampe tahun jebodh tidak bakal selesai kang!’ batin Teguh sedikit dongkol karena kang Yono bercerita bolak-balik tentang kilang dan kebun singkong, Teguh sudah rada kecape’an, mereka mau balik dulu, tapi tidak mungkin kalau dia balik sendiri, hasilnya tiga karung daun singkong dan sekarung singkongnya, serta dua buah nangka yang masih muda.


***


Baru beberapa hari dia di sini, tapi rasa ingin pulang ke Jetis semakin menjadi, sekarang mereka karyawan kebun lagi kerja mencabut pokok anggrek yang sudah tua, kawasan milik Siska, cewek satu-satunya yang masih belum bersuami, yang ternyata dia juga adalah orang Jetis, kabarnya dia memang masih bocah banget, bagaimana tidak? Dia sekarang aja baru berumur enam belas tahun, seharusnya kan dia masih duduk di bangku sekolah, ternyata ada cerita di balik kedatangannya ke Malaysia, dan sebab utamanya adalah karena dia anak tunggal, dia di tinggal ke dua orang tuanya semenjak dia masih kecil, bukan kecil lagi, tapi semenjak bayi, nasibnya sama seperti Teguh, pasti dia juga merasa tertekan, menurut cerita yang Teguh dengar dari orang-orang di sini, dia pergi kesini belum tamat sekolah, dia masih kelas dua SMA, kok jadi ngebahas Siska sih? Kembali ke benang merah, Teguh lagi kerja cabut pokok di kawasan Siska, lumayan berat, seluruh pakaian jadi berwarna hijau, mana sekarang sedang musim hujan, kan kasihan Kasmini, kok kasihan Kasmini? Ya iya lah kan yang nyuci pakainnya Kasmini mamanya, yang mau Teguh di sini kan mamanya itu yang menjadi alasan Teguh untuk menutupi kemanjaannya terhadap mamanya bila di katain orang lain, lagian juga, Kasmini nyucinya kan pake mesin cuci, jadi tidak terlalu berat.


Sekarang dia lagi mencoba mengikat segulung pokok, nanti dia seret sampai ke jalan, di jalan nanti dia naikan ke atas demper, nah demper itu sejenis kendaraan yang di gunakan untuk mengangkut sampah dan membuangnya ke tempat sampah, pokok tua yang sekarang sedang dia ikat ini adalah termasuk sampah, karena sudah tidak berguna lagi. si Deglag salah satu teman serombongan Teguh, dia sedang ngangkatin pokok naik ke atas demper, tidak pake baju lagi, sudah kurus, tidak mau pake topi, kulitnya hitam, nanti malah jadi makin hitam dia, bosnya masih berdiri aja di sebelah kawasan, dia sudah seperti patung bertolak pinggang, terkadang suka marah-marah.


“Dah pegi minum kopi sana!” nah itu bos yang ngomong, itu artinya mereka istirahat, “Nanti air buang putih obat akar daun pake keran ya!” mereka langsung pada bubar, seperti tawon bubar kembali ke kongsi masing-masing, Teguh juga tinggalin pokok yang sudah dia ikat dengan tali tambang, “Teguh, Dekong, dan kamu Rasno.” Teguh di panggil bos, di suruh ngapain ya? “Kalian besok ikut ke kota tinggi ya! ikut Bantu taruh baja, masih kurang orang di sana.”


“Iya bos, kami bertiga saja?”


“Banya kok, dengan kalian ya jadi dua belas orang, besok kalian berangkat pukul enam pagi, terus cop, habis tu berangkat ke kota tinggi, selesai balik lagi ke sini dan cop lagi.” Jam enam? Itu kan berarti masih pagi buta? Tapi mau bagaimana lagi ini kan printah dari bos, sepertinya ke dua temen Teguh juga happy-happy aja, tidak ada reaksi menolak sama sekali, kalau begitu besok dia tidak kerja di kebun orchid ini, tapi kerja di kebun sawit di kota tinggi, kenapa di kasih nama kota tinggi ya? mungkin karena kota itu terletak di dataran yang tinggi kali, tidak tau lah, mending lihat besok aja ya.


Bener-bener masih pagi buta, mana hujan lagi nih, sekarang jam setengah enam pagi, dia sudah bangun, ‘makan dulu tidak ya? tapi tidak ada makanan yang bisa di makan’ Teguh ragu mau makan, sekarang pak Parno, orang yang serumah sama Teguh belum balik, dia jam tiga tadi sudah pergi kerja, katanya sih kerja mun, tidak tau mun tu apa? Tapi kemarin pak Parno bilang sih sejenis bakteri, ‘mending sekarang aku nanak nasi aja lah, nantikan begitu pak Parno balik kerja, nasi sudah masak, aku gimana? Makan mie rebus aja, mie instant, iya deh, ntar dulu nanak nasi dulu baru ngrebus mie.’ Teguh sibuk dengan pikirannya.


Lumayan kenyang, tapi resikonya kalau makan mie tu kenyangnya tidak lama, jadi ya siap-siap lah laper lagi.


“Iya aku sudah bangun kang!” langsung aja dia keluar rumah, hujan masih deras, lebat banget, ‘apa jadi pergi ke kota tingginya nih? Ah sudah lah, sekarang mending segera pergi ke office’.


“Kang! Tungguin!” kang Yono sudah di depan agak jauh, dia pake payung, Teguh tidak punya payung, ‘lewat selasar rumah kongsi aja’ Teguh pun menelusuri selasar rumah, si Salim masih di rumah salah seorang yang ikut pergi ke kota tinggi.


“Lim! Berangkat yuk!”


“Iya sebentar, tanggung nih.” Dia lagi nyabutin janggut, Teguh pun mampir nungguin Salim, dia masuk ke rumahnya ikut duduk.


“Di rumah sendirian gini Guh, repot, biasanya apa-apa tinggal makan, sekarang ya harus masak dulu.” tidak nyambung amat sih ni anak, orang lagi nyabutin jenggot, eh yang di obrolin masakan, Salim tu tinggal dengan abangnya, nah abangnya tu ada istri di sini, jadi kan istri abangnya yang selalu masakin, sekarang abang sama istrinya lagi balik ke Indonesia, jadi sendiri dia, di luar seperti ada orang lagi jalan, dia lihat ternyata si Dekong.


“Kong!” dia ngeliat Teguh yang memanggil.


“Ayo! Ngapain di situ?”

__ADS_1


“Lagi nungguin Salim Kong! Lim! Yuk!” si Salim lihat jam dan kemudian dia bergegas bangun, dia tinggalin alat-alat pencabut jenggot, di atas TV di rumah ini, hujan kelihatanya memang belum reda, jadi dia langsung masuk ke bawah payung yang di bawa oleh Dekong, mereka menelusuri kawasan bunga anggrek, sesampai di office, rupanya semua orang sudah berkumpul, card absent mereka sudah di cop kan, jadi mereka langsung masuk ke dalam Van, sejenis mobil carry kalau di indon, Van ini memuat dua belas orang plus satu sopir. Teguh duduk di jok paling belakang bertiga dengan Rasno dan Dekong.


“Yes! Yes! Gue tidak nyangkul!” Rasno seneng banget kayaknya, karena dia hari ini tidak nyangkul di kawasan Siska yang sedang di cabut pokoknya, karena sudah seperti biasanya kalau kawasan di bongkar pasti langkah berikutnya adalah di cangkul, biar tanahnya bergunduk lagi, habis itu baru di tanami pokok bunga anggrek yang baru, Van pun bergerak menuju kota tinggi, ini adalah pengalaman baru buat mereka. Rasno dan Dekong adalah teman serombongan yang baru datang juga dari Indonesia


Van berbelok ke kanan, ini sudah di kota tinggi, Van sudah mengarah ke kebun yang mereka tuju, sebuah kebun kelapa sawit yang akan di taruh baja, serombongan lembu sedang cari makan, tidak ada pengembalanya, mereka seperti liar, tapi sebenarnya mereka ada yang punya, gimana tuh? Liar tapi ada yang punya? Terus kalau yang punya mau nangkep tu lembu gimana? Gampang aja, tinggal tembak aja, beres deh! tidak di sembeleh? Memangnya hahal? Bukan begitu, tapi begini, lembu itu di tembak dengan bius, jadi kalau di tembak, lembu itu tidak mati, tapi pingsan aja, habis itu di bawa ke tempat penyembelehan hewan, karena ternyata menyembelih hewan di Malaysia tu tidak bisa sembarangan, ada tempatnya tersendiri, Van pun terpaksa berhenti, nunggu si lembu bubar, karena sebagian lembu ada yang di tengah jalan, sebentar lagi Teguh dan temen-temennya akan sampai tujuan.


Ada pintu gerbang yang terbuat dari kabel-kabel listrik, tapi pintu itu sudah terbuka, jadi Van ini tinggal masuk.


“Nah, kita sudah sampai kawasan candradimuka, sebentar lagi kita di gembleng, hahahaha…” Dasimin si kepala botak, rupanya dia sedang berusaha menghibur.


“Memangnya kita ini Gatotkaca? Kita kan karyawan orchid yang di gaji sehari delapan belas ringgit” Teguh si gendut juga ikut angkat bicara, di dalam van ini ada dua nama Teguh, tapi yang satu kurus yang satu gendut, mungkin lebih tepatnya tinggi besar, Van sudah berhenti mereka ada di tengah-tengah kebun sawit yang baru berumur beberapa bulan, sawitnya belum berbuah, ya batang pohonnya aja belum ada, yang ada baru dahan-dahannya yang berduri.


“Kita sudah sampai, sekarang kalian turun kan semua barang kalian, masuk ganti pakaian makan kemudian bersiap kerja.” Namanya Katun, dia yang membawa mereka ke sini, dia juga orang cina, dia lain dari yang lain, kelihatan lebih angkuh, sombong dan sok belagu di bandingkan dengan mandor lain, dia yang berkuasa di sini, Teguh pun ambil barang-barang di dalam bagasi dulu, ntar dia ganti baju, terus makan.


Enak banget lauknya, ayam goreng, Teguh makan dulu, temen-temannya juga lagi makan semuanya, mereka lahap banget, dan memang masakannya enak, tadi pagi dia bukannya sudah sarapan? Tapi kan sarapan mie rebus, apa yang terjadi dengan Rasno? Dia tidak makan nasi itu? Sekarang nasi dan lauk pauknya masih utuh di tangannya.


“Kenapa lu No? Kok tidak di makan?”


“Gue kenyang Guh, gue sudah makan tadi waktu mau ke sini di rumah.”


“Makan aja No, paksain, nanti kita mau kerja berat lho.” Rasno membuang nasi dan lauk yang masih utuh itu di depan Teguh, „Yah… kalau tidak mau, buat aku juga mau‟ batin Teguh menyesal, tapi nasi itu sudah di buang sama Rasno.


“Gue sudah kenyang banget Guh.”


“Ati-ati lho No, pamali buang rejeki, bisa kualat nanti lu.” Dia terusin makan yang lain sudah bersiap-siap mulai bekerja, jam sudah mendekati jam delapan pagi, selesai makan dia ikut bergabung dengan yang lain.


“Ayok cepat semuanya, kita mulai dari arah sana!” mereka pergi dengan terburu-buru, sudah seperti kerja paksa jamanya penjajahan jepang di Indonesia, rupanya di sini ada big bos, dialah yang mempunya kawasan ini, kawasan bunga, juga ternak babi di belakang kebun bunga, dialah si orang kaya itu, badanya gemuk, sudah tua, tapi dia masih berwibawa.


Mereka teruskan pekerjaan yang kemarin, Teguh langsung pegang cangkul, dia timbun semua lubang-lubang yang ada di keliling pohon sawit ini, yang sudah ada bajanya tentunya.


“Ayo cepat-capat… itu yang sana belum, yang sini juga…” si Katun masih menyuruh-nyuruh orang yang taruh baja, yang pegang cangkul sekarang tu Teguh, Bisri, Dasimin, kang Yono, Rifa‟i dan Teguh gendut, sisanya membawa beledi kosong dan membagikan baja pada sekeliling pohon sawit. Rerumputan di sini masih basah dengan embun, hawanya juga masih dingin, matahari baru akan terlihat, menurut orang-orang yang kemarin sudah ke sini katanya kalau sudah sekitar jam satu atau jam dua, di sini panas banget, itu kata mereka, dari sini kelihatan orang-orang yang sedang membagikan baja, sepertinya mereka mudah saja, mengambil beledi di trela, habis itu menuangkan isi beledi ke lubang yang ada di sekeliling pohon sawit, bagitu aja, kalau yang pegang cangkul, mereka cuman menimbun lubang yang sudah ada bajanya, tapi cepat capek, tidak usah di hayati, pasti nanti cepat selesai.

__ADS_1


__ADS_2