Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 11: Inspirasi (3)


__ADS_3

Kembali ke ITC, setiap dia di tugasin ke lantai dasar, saat itulah saat yang paling indah, saat paling dia suka, saat yang paling dia tunggu-tunggu, dan sekarang dia tau siapa nama anak yang mirip Miccu, namanya Tian, dia tau namanya dari Ayu, dan dia tau nama Ayu dari Tian, jadi inget waktu kenalan sama Zahra, dulu dia tau nama Zahra juga dari Novi, yang sesudah itu dia tanya nama temannya, Zahra kasih tau nama temennya adalah Novi, persis banget dah prosesnya, sekarang dia lagi coba minta nomer hapenya Tian, biar nanti dia bisa tanya-tanya ke Tian tentang Ayu, tapi Tian orangnya keras, punya prinsip yang tidak mudah goyah, persis seperti Teguh, kalau punya prinsip selalu di jaga. Teguh melihat Tian, dia pasti mau sholat, dia ke kamar mandi lantai satu, dia mau ambil wudlu.


“Hallo Tian?”


“Mas Teguh? Ngapain di sini?”


“Ya aku lagi tugas di sini.” Biasa dia basa basi dulu. “Tian, minta nomer hapenya dong!”


“Buat apaan sih mas?”


“Ya buat di telpon lah Tian.”


“Ngga boleh mas, nanti mamasku marah.”


“Ya elah, cuman mau tanya aja kok Yan, tapi nanyanya di telpon gitu.”


“Ya kalau mau tanya, tanya sekarang aja mas!”


“Bener ya! tapi Tian jawab dengan benar ya! dengan jujur!”


“Memangnya mas Teguh mau tanya apa sih?” dia masih ragu, sebenernya dia mau nanya soal Ayu, oke dia harus siap, apa pun yang akan Tian jawab, dia harus siap!


“Sebenarnya aku mau tanya soal Ayu, kira-kira Tian bisa jawab ngga ya?”


“Insya Alloh mas, kalau soal Ayu, aku siap menjawabnya.”

__ADS_1


“Sebenarnya…” dia masih ragu, “Sebenarnya Ayu sudah punya cowok apa belum sih Yan?”


“O…Ayu?” Tian menatap matanya, dia yakin banyak pertanyaan yang ingin Tian tanyakan padanya, tapi tugas Tian sekarang adalah menjawab pertanyaannya.


“Ayu…” ada keraguan dalam nadanya, dia seperti tau isi hati Teguh, dia berhenti sekejap dari apa yang ingin dia ucapkan untuk menjawab pertanyaan Teguh itu, tapi kemudian…


“Ayu sudah punya cowok mas Teguh!”


“Jleger…” rasanya tepat di ubun-ubunnya, petir menyambar, sakiiiiittt banget dalam dadanya, ngapain dia harus nanya begini? Kan jadinya dia sendiri yang sakit hati, baru kali ini dia ngerasa sakit hati dan bener-bener terasa sampai ke tulang sumsum, entah apa yang harus dia lakukan sekarang, kenapa dia harus terus merasakannya?


“Maafiin Tian mas! Memang ini jawaban yang bisa aku kasih ke kamu.”


“Ngga apa-apa Yan, memang itu kan yang aku minta. Kamu jawab dengan benar, dan inilah kebenaranya.”


Dia masih mempunyai harapan untuk ngedapatin Ayu, dia memang gila, dia ngga bisa lupa walaupun hanya sekejap saja dengan wajah Ayu. Karena itulah dia coba berbagai cara untuk bisa lupa sama tu anak, pertama dia keluar dari ITC, dia ngerasa sudah tidak ada lagi yang istimewa di ITC, ke dua dia cari pacar, tapi tetap dia gagal, dia tak bisa lupa sama tu anak. Tapi dia memang harus memaksa hatinya, dia harus berhenti berharap! Pokoknya dia harus berhenti berharap, berhenti berharap, Berhenti !!! dia terima aja sakit hati yang ke sekian kali ini, mungkin sudah menjadi suratan takdirnya dia memang harus menjadi Pengembara, Sang Pencari Sejati, mencari cinta, tinggal satu cinta yang belum dia temui, yaitu cinta sejati.


Dia mau ke kantor Sari Ratu, soalnya dia dapat panggilan, setelah tiga kali dia ngelamar, baru kali ini dia di panggil, terus siangnya dia mau ke Sanggar Poros, di Senen, Mau daftar Audisi, ‘Selangkah Menjadi Bintang Layar Lebar 2008 bersama Rudi Soejarwo.’ apa mungkin ini jalannya? Dari semua yang dia alami selama ini? setelah dia patah hati dia dapat pintu menuju mimpinya, kenapa tak bisa dua-duanya dia dapatkan, cinta dapat dan mimpinya tuk jadi sutradara dan actor pun dapat, dia harusnya bersyukur atas semua rahmat Alloh ini, bukannya malah menyesali atas ketentuannya.


Kemaren dia sudah daftar ke Sanggar Poros dan audisinya akan di laksanakan pada tanggal 30 maret, berarti masih ada dua bulan setengah lagi, dalam masa ini akan dia isi dengan menjadi karyawan di restaurant Sari Ratu dan sekarang dia sedang berjalan, menuju Pondok Indah Mall dua, karena dia di taruh tugas di sana, apa tidak salah dia jalan ke PIM2? kalau naik kendaraan dia akan ngabisin duit aja, kan tidak ada kendaraan yang langsung ke PIM2, jadi, tiap hari dia pulang pergi? Apa dia tidak capek? Sepertinya dia sudah terlatih, kan sewaktu dia di Al-Zaytun dia selalu jalan kaki.


Nanti pulang kerja dia berencana mau ke ITC Fatmawati, tadi temennya ada yang nitip minta di cetakin foto dari kameranya, dia kan punya sebuah kamera digital yang dia bawa dari Malaysia dulu, dia punya rencana, rencananya bagus juga, Jadi, selama ini kan mungkin dia sudah sering bohong, terus sering jahat sama cewek, terutama dia ngerasa salah sama Titi, walau bagaimana pun dia akui apa yang sudah dia lakukan ke Titi itu salah, salah banget, terus sama Tian juga, dia sudah ngebuat cerita bohong, terus satu lagi, ternyata Lusi ngerasa dia sudah nyakitin perasaannya, tau dari mana? Kemarin Tian cerita sama Teguh, katanya semenjak Teguh marah sama Lusi, terus dia menjauh darinya, dia sudah nyakitin perasaannya, dan ternyata di luar dugaannya, dia menaruh harapan sama Teguh, dengan tidak sengaja dia sudah berbuat dosa, dia harus meminta maaf sama mereka semua, demi apa yang dia cita-citakan, yang semuanya akan di tentukan pada 30 maret tahun ini, pintu sudah terbuka lebar, dan dia yakin kali ini adalah kesempatan emasnya.


Kan, kalau tak di rasain cepet sampainya, apa lagi kalau waktu lagi jalan mengkhayalnya yang macem-macem, dari mengkhayal jadi orang yang duduk di atas jok mobil mewah dan menyetir mobil itu, sampai mengkhayal menjadi orang yang jalan kaki kesana kemari, rambut awut-awutan tanpa alas kaki, terus celana non resleting, kaos oblong robek depan belakang, tak apa itu kan baru berkhayal, kalau jadi beneran baru boleh malu! Dia berharap nanti di ITC ketemu sama Ayu, sudah sebulan lebih Teguh tidak ketemu sama Ayu. Kemarin memang dia ke tempat Tian? Tian juga nanya ‘ngga ke bawah?’ sebenarnya dia juga seneng ketemu sama Ayu tapi dia sedang berusaha untuk melupakannya.


Dia lagi seneng banget karena mimpinya sudah di depan mata, dia akan menjadi actor, impiannya sejak dulu, tapi untuk sekarang ini dia tidak cerita sama siapapun, kalau dia sudah daftar selangkah menjadi bintang layar lebar, Teguh pengen orang tau dia sudah jadi actor, sekarang biarin aja dia menjadi seorang waiter.

__ADS_1


Dia sedang menuju ke tempat cetak foto, dia lewat depan toko Ayu, harapannya pun terkabul dia bertemu dengan Ayu, Serrr…kayak di tiup angin di dalam dadanya bisa ngeliat Ayu lagi, dia menghidupkan kameranya, dia mencoba paparazzi dia mau foto Ayu, tapi tidak bilang ke Ayu kalau dia minta foto Ayu! Krek!.. ‘yah jelek, dia balik badan sih,’ Teguh kecewa, dia tau kalau Teguh mau motret dia, Teguh akan mencoba lain kali.


“Baru keliatan lagi mas? Kerja di mana?” dia nanya ke Teguh, sepertinya Ayu belum tau namanya, Ayu tidak sebut namanya, sekarang saatnya berbasa-basi, sebenarnya dia sudah tau kalau Ayu sudah punya cowok, tapi dia setengah tidak percaya, dia tau dari Tian waktu dia ketemu sama Tian di depan kamar mandi, waktu itu Tian mau sholat.


“Sekarang aku kerja di Pondok Indah Mall.”


“O…ni baru balik?”


“Iya.” dia tinggalin Ayu untuk sementara, karena dia mau ke tempat cetak foto, memang Ayu manis anaknya. Andaikan dia sudah di takdirkan tuk jadi jodoh Teguh, pasti Teguh akan menjadi orang yang paling bahagia di atas bumi ini, inilah harapannya, walaupun kemungkinanya hanya satu persen saja, dia sadar siapa dia, tapi apakah salah kalau dia berharap begitu?


Cuman mindahin dari kartu memori kamera ke computer terus di pilih, jadi cepet, sekarang sambil nunggu fotonya jadi, dia mau ke tempat Ayu lagi.


“Nyetak foto ya mas?” Ayu mau sholat, ini salah satu yang Teguh suka dari Ayu, dia sholehah, dia taat banget sama ajaran islam, nah teguh? kalau dia taat si iya tapi tidak pake banget.


“Ayo mas! Foto Ayu! buruan!” tiba-tiba, dia ber pose seperti model, langsung aja dia potret, ‘jepret’ tapi kameranya kan tidak ada bliznya karena di tempat yang terang di sangkanya belum di foto, jadi, hasilnya cakep, dia pun cetak lagi, ntar dia mau pajang di tembok bareng sama foto-fotonya, dia juga mau minta nomer hapenya, hampir dia lupa.


“Yu! Aku minta nomer hapenya dong!” setelah Ayu sholat tentunya, aslinya Ayu ragu mau ngasih nomernya, tapi kemudian…


“Nih! Catet!” dia ngga bawa hape, tapi kemudian dia catet aja di tangannya.


“Berapa Yu?”


“Kosong delapan lima enam…” dia catet aja di tangan kirinya, ‘yes! Akhirnya aku dapet nomernya.’ Gembira di dalam hatinya, “Tapi Ayu ngga suka kalau Ayu di kerjain, kalau nelpon pake private number Ayu ngga mau angkat!”


“Oke! Aku ngga bakal ngerjain Ayu kok, makasih ya! aku pulang dulu!” walau apa pun yang kan terjadi, apapun yang menghalangi tak kan ada yang bisa menghentikan luapan ke bahagiaannya saat ini, Karena dia akan menjadi orang istimewa buat Ayu, memang selama ini, dia hanya bisa tau dia Ayu namanya, dia tak tau siapa ayahnya, ibunya, berapa saudaranya, di mana tinggalnya, orang mana, siapa cowoknya yang Tian maksud, semuanya akan dia ketahui.

__ADS_1


***


__ADS_2