Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab19: Tak Beralasan (2)


__ADS_3

Setelah Kasmini merasa sudah sembuh barulah ia berani bercerita apa yang sudah menimpa keluarganya, dirinya, dan adiknya. Satu persatu ia ceritakan dengan perlahan pada anaknya yang sudah sangat dia kenal. Perlu keberanian yang lebih untuk menyampaikan semua kabar ini pada seorang Teguh Prayitno. Yang pertama tentu kejadian dia jatuh di restaurannya, itu tidak membuat Teguh terkejut, karna Teguh fikir yang penting sekarang mamanya sudah sembuh, di lain hari Kasmini berani bercerita tentang adiknya.


“Masya Alloh Ma! Apa Mamas bilang, kejadian juga kan?” Teguh sangat lah marah saat itu namun dia hanya bisa marah. Di lain hari lagi baru lah dia berani bercerita tentang kisah asmaranya.


“Mama minta maaf Mas! Mama ngga bisa menepati janji mama sama Mamas.” Kasmini bercerita sambil menangis, “Pendapat mamas bagaimana? Mama sudah ngga kuat hidup dengan Ayob, dia sudah sangat berbeda sekarang, dia sudah berani main tangan, dia bersikap kasar pada mama, dan sekarang mama menemukan seorang lelaki yang bisa mengerti mama.” Teguh lemas, dia tak tau harus berpendapat apa pada kisah cinta mamanya ini.


“Ya seperti yang mama pernah bilang dulu, cinta itu bagaikan rumput ma, dia tumbuh se-enek wudelnya sendiri, di mana dia mau tumbuh ya dia tumbuh.”


“Tapi hubungan mama denga orang itu belum terlalu Mas, mama masih bisa mengontrol diri mama.”


“Ya Alhamdulillah! Kalau cinta itu adalah rumput, kita harus bisa tau mana yang harus di racun, di cabut kemudian di bakar, atau membiarkannya tumbuh subur dan menjadi pemandangan yang indah.”


Sedikit problema yang menimpa kisah asmara mamanya menjadi dia semakin takut untuk membuat cerita cintanya dengan Icha, namun kemudian ia meyakinkan dirinya bahwa keputusannya tidak akan membuat dia menderita kelak.


***


25 Februari 2013


Tiga hari lagi di kampung jetis akan di adakan pemilihan kepala desa, baru kali ini Teguh akan mengikuti momen seperti ini, dan baru kali ini juga Teguh di percaya untuk menjadi kader salah satu calon Kepala desa, sebenarnya dia paling tidak suka dengan dunia politik, maka dari itulah kita tidak akan membahas tentang politik, tapi kita akan membahas bagaimana hubungan Teguh dengan Icha Elisa, seorang gadis yang sudah sangat dia cintai, yang dia yakin bahwa Icha lah yang akan memenuhi janjinya, bahwa Icha lah yang akan menjadi ending dari kisah novel ini. Namun apa yang sedang terjadi di malam ini?


Sebuah hendpon samsung milik Teguh berbunyi, dan itu dari nomer Icha, itulah yang sedang dia tunggu, dia ingin segera menceritakan semua yang terjadi di hari ini.


“Halo yank!” itu sapaan Teguh untuk yang tersayang.


“Halo! Mas teguh ya!” ternyata dari sebrang sana bukan lah suara yang sedang ia nanti.


“Iya benar ini Teguh.”


“Ini temennya Icha, bagaimana ini mas, Icha dari tadi sore belum balik.”


“O...” Teguh sempat terkejut namun dia mencoba untuk relaks, “memangnya dia pergi kemana?”


“Ngga tau mas, tadi sore dia di jemput sama temennya naik mobil, temennya cowok.” Gejolak cemburu membahana seisi hati Teguh namun dia masih berusaha mengontrol diri, itu karna Teguh sudah tidak percaya dengan cerita teman Icha.


“Ya udah ntar kalo Icha dah sampai suruh nelpon ke sini ya!”


“Iya mas!”

__ADS_1


Tanda tanya besar terbentuk di minda otak Teguh, tapi Teguh memutuskan utuk tidak mempercayai cerita teman Icha itu. Selang beberapa menit Icha pun menelpon Teguh lagi.


“Halo Yank.” Ini benar suara Icha.


“Iya yank!”


“Tadi temen Icha telpon ya?”


“Iya.”


“Ngomong apa dia?”


“Ngga tau, dia ngomong kayak orang gila, ngga jelas gitu deh.”


“Icha capek banget nih, Icha mau bobo.”


“Ya kalau begitu Icha istirahat ya! Jaga kesehatan Icha.” Setelah megucap salam telpon pun di putus, rasa dongkol di dada Teguh masih ada dia tergugah untuk mengirim sms yang menegaskan bahwa dia tidak percaya dengan cerita teman Icha.


Kesalahan Teguh pun harus terjadi, sepertinya Icha tidak terima dengan isi sms yang Teguh kirim untuk dia. Icha marah.


“Mamas cuman kasih tau Icha kalau mamas itu ga percaya sama cerita teman Icha.” Keduanya pun beradu argumen. Teguh merasa emosinya udah keluar, dia tidak akan mau berantem dengan Icha, akhirnya ia pun dengan masih di kuasai oleh emosi, ia memutuskan telpon kemudian mengirim sms.


“Mamas ga mau berantem sama Icha, karna mamas sayang sama Icha, mamas lebih percaya sama Icha.” Isi sms itu tidak membuat Icha meredakan marahnya, justru semakin dia membumbung emosinya.


Setiap hari Teguh berusaha mendekati Icha lagi, ia sadar dia salah karna memutus telpon, dia setiap malam menelpon Icha namun tak bisa terhubung, dia pun menulis sms, hingga satu minggu Teguh ngga punya cara lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Inisiatif terakhir adalah menanyakan kabar Icha pada mamanya yang sudah kembali dari Malaysia.


“Halo ma! Apa kabar?”


“Kabar baik, ini Teguh ya!”


“Iya ma!”


“Eh Teguh ada apa sih dengan Icha?” Teguh terkejut ‘apa mungkin Icha sudah cerita tentang pertengkaran ini.’ Batin Teguh.


“Ngga kok ma! Ngga ada apa-apa.”


“Udah deh Teguh ngaku aja, mama tau kalau kalian lagi ngga beres.” Teguh pun tak dapat berbuat apa-apa, akhirnya dia pun bercerita apa adanya pada mamanya Icha.

__ADS_1


“Teguh mohon ma! Jangan marahin Icha.”


“Enggak Guh! Mama ngga akan marahin Icha.” Teguh tau persis kalau Mamanya Icha itu sangat tegas pada Icha, kalau sampai mamanya Icha memarahinya, pasti masalah Teguh dan Icha akan semakin meruncing.


Dan benar mamanya Icha pun ingkar janji, Icha di marahin habis-habisan sampai Icha menangis.


Sekarang keadaan hubungan mereka berdua berada di ambang kehancuran, Teguh mendapat informasi dari Teman FB yang juga teman sekerja Icha, bahwa selama ini Icha selalu telponan dengan mantan pacarnya. Itu mambuat hati Teguh rasanya ingin meledak. Tapi dia berhasil untuk menahan amarahnya, dia tak percaya dengan berita itu, dia masih percaya pada Icha. Tekadnya untuk mempertahankan Icha masih kokoh.


Dan hari ini tanggal 7 bulan maret tahun 2013, Icha menelponnya saat dia masih tertidur, lekas dia mengangkat telpon itu.


“Halo yank!” rasa bahagia di dada mengembang dengan sangat cepat.


“Ada yang mau mamas bicarakan dengan Icha?”


“...” Teguh bingung dengan satu pertanyaan itu.


“Kalau ada sekarang cepet katakan!” nada bicara Icha seperti sambil menahan tangis.


“Mamas sayang sama Icha...”


“Begitu cara Mamas menyayangi Icha? Membuat Icha di marahin sama mama? Mamas ngga pernah tau sih seperti apa kalau mama marah, apa mau lihat mama marahin Icha?”


“...” Teguh masih belum bisa ngomong apa-apa.


“Udah kan ngga ada yang mau di bicarain lagi?”


“...” Belum sempat Teguh berbicara Icha sudah menabraknya lagi.


“Udah lah mulai sekarang Icha ngga mau ngomong lagi sama Mamas, Icha ngga mau lagi kenal sama Mamas.” Udah hanphon pun berbunyi “tut-tut-tut” tanda sudah di putus dari sebrang.


Ngga ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini, kecuali dia harus ke jakarta, walau bagaimanapun nantinya, Mamanya Teguh akhir bulan ini akan datang ke rumah Icha, dia ngga mau lagi membuat kecewa mamanya, karna itu juga termasuk janji Teguh pada dirinya sendiri, dia memendam permasalahan ini sendiri, tak ada yang tau permasalahan mereka, kecuali ya mereka berdua.


Teguh sudah tidak punya alasan lagi untuk melepas Icha, karna awalnya dia pun tak tau dari mana dan kenapa dia bisa jatuh hati pada Icha, awalnya dia hanya ingin membuktikan sebuah pepatah jawa. Dan akhirnya dia pun membuktikannya.


“Tresno niku jalaran soko kulino”


***

__ADS_1


__ADS_2