
Dulu perjuangannya untuk masuk sekolah ini sungguh sangat berat, dan sekarang perjuangannya sudah berakhir, sekarang dia harus melanjutkan perjuangannya ini di luar sana, di dalam rimbanya dunia, rimba yang di dalamnya penuh dengan berbagai kebuasan, kerakusan, kelaparan, kelicikan setip manusia. Teguh harus siap! semoga modalnya menuntut ilmu selama enam tahun di Al-Zaytun sudah cukup untuk menghadapi rimbanya dunia!
Begitu Teguh keluar dari sekolah ini, bermulalah pengembaraannya, semenjak masuk dunia SMP dia sudah meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa mimpi satu-satunya yang terbesar adalah masuk melebur jiwanya dalam wadah dunia perfilman, mimpinya itulah yang akan dia cari dan dialah Sang Pencari Sejati. Seperti yang pernah di katakan Ibu Kasiem yang telah merubah namanya menjadi Teguh Prayitno.
Jakarta, dua puluh tahun yang lalu, Teguh lahir di sini, di tempat setiap orang mengadu nasibnya, dengan mengorbankan segalanya, menepikan kehormatannya, mengutamakan hidup dan masa depannya. Tempat di mana segalanya ada, tempat di mana manusia suka berdusta, tempat di mana segalanya bermula, di sinilah dulu Teguh di lahirkannya oleh seorang ibu yang tak berdaya. Dan sekarang dia kembali datang, setelah sekian lama dia mengembara, mencari kedamaian yang nyata, sekarang dia akan berjuang, seperti orang-orang yang selalu mencari menang, walau terkadang mereka tidak menang.
“Permisi mas, numpang tanya, kalau nomer dua puluh B yang…” tukang ojek itu tidak jawab, dia cuman tunjuk jari, ternyata nomer yang dia cari ada di sebrang jalan, malu deh Teguh. “Makasih ya mas!” langsung aja dia masuk.
“Permisi pak kalau mau casting…”
“Di sebelah mas!” malu lagi deh, sekarang tanya lagi.
“Tempat casting…”
“Langsung ke atas aja mas!” dia pun ke atas, sampai di atas ‘sekarang langsung masuk apa tanya dulu ya? ah langsung masuk aja lah!’
“Mas sudah daftar?”
“Belum bu!”
“Daftar dulu ya mas!”
“Tapi bu, saya sudah pernah kirim foto ke kantor ini.”
“Ya ngga apa-apa, sekarang mas daftar aja lagi ya mas!” sekarang dia yang di tanya, langsung dia isi biodatanya, biar tidak lama, ‘ni kasih foto berapa ya? aku cuman bawa foto dua. Mana foto di pinggir sungai lagi, ngga ada seninya sama sekali.’ foto yang lain pada bergaya, ya kaya foto artis gitu, foto close up gitu, nah Teguh? ‘jangan pessimist donk Guh! Pokoknya aku harus optimist! Kalau rejeki kan ngga ke mana’ dia mencoba mensport dirinya sendiri.
Semua sudah beres, dia kasih langsung kertas pendaftaran itu sama ibu yang tadi.
“Sudah selesai mas? “
“Sudah bu!”
“Ada nomer telephone, atau hape?”
“Ada bu!”
“Ya sudah makasih, mas boleh pulang, nanti kita hubungi lewat hape mas!”
“Makasih bu!” luar biasa! Teguh seneng banget, ini pertama dia terlibat dalam dunia perfilman, mimpinya, dia seneng banget, akhirnya dia menyentuh dunia yang selama ini hanya ada di otaknya, dia berharap dia di terima, lalu dia ikut shootting film, dan dia jadi actor, ‘aku ngga bisa ngebayangin sekarang aku pulang dulu’ satu langkah sudah dia lewati, walaupun dia tau untuk mencapai mimpinya itu dia harus melangkah sebanyak ribuan langkah, bahkan lebih, tapi bagi dia itu jumlah yang sedikit, karena dia yakin dengan mimpinya itu, sekarang dia mau pulang, lain kali dia datang ke PH yang lain. ‘Jangan menyerah Teguh! Mimpimu akan segera menjadi nyata, tidak akan lama lagi.’ Ya..kira-kira lima atau sepuluh tahun lagi lah. ‘Biar kata orang aku tu seorang pemimpi, ya...emang aku seorang pemimpi, kenapa?’ sepertinya dia memang sangat optimist dengan impiannya, mungkin karena dia memamng belum pernah merasakan pahitnya udara rimbanya dunia, selama ini dia itu seperti di kurung dalam kandang, dia hanya tau makan dan tidur aja.
***
__ADS_1
Dia mulai merasa Capek! dia capek nunggu panggilan dari PH yang dia datangin dulu. Sekarang sudah dua minggu lebih, tapi tak ada kabar apa-apa, dia tanya Maman, tapi katanya tidak ada telpon buat dia, nomer hape yang dia cantum kan di dalam biodatanya adalah nomer hapenya Liliknya itulah kenapa dia tanyakan kabar pada Maman, lenyap deh kesempatan, ‘kalau begitu, mulai sekarang aku akan datangin PH yang lain, dan aku harus ikut casting sebanyak mungkin! Kali aja mujur’ dan sekarang ini dia sudah ada tiga alamat PH di Jakarta, dia harus segera bergerak! sebenarnya dia juga capek di kontrakan mulu, mana istri Maman bawel abizzz, masa dia nyuruh Teguh pulang kampung? Katanya dia di sini selalu jadi beban, sebab dia pengangguran.
‘Jangan salahin aku dong! aku pengen ngontrak sendiri sama Lilik Maman ngga boleh. Ya sudah aku numpang deh, tapi nanti kalau aku sudah jadi actor terkenal, aku ngga bakal numpang sama siapa-siapa lagi, aku akan ngebuat bangga setiap orang yang sudah mengenalku, Teguh Prayitno gitu loh!...’
Dia mau berangkat lagi, kali ini dia mau ke PH Virgo Putra, Jalan tampak siring nomer sebelas, kata Maman sih deket dari sini, tinggal jalan aja sampai katanya, dia pun bersiap pergi dia pergi lewat depan rumah pemilik kontrakan Maman, anak perempuan bang O’is si pemilik kontrakan sedang duduk di ruang tamu, sepertinya dia sedang kencan, sebab ada seorang cowok di sampingnya, anggun, cantik, imut. Tapi dia sudah punya cowok, ngapain memuja cewek orang, sampai sekarang Teguh belum tau namanya siapa.
“Permisi bu!” begitu dia melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi
“Mas Teguh mau ke mana?”
“Biasa bu, mau mengenal Jakarta, mari bu!”
“Ya..mari..mari…”
Sampai di jalan tapak siring, ketemu juga akhirnya, dia jalan menuju jalan ini ternyata jauh, di pedalaman, naik turun, sekarang dia harus cari nomer sebelasnya, dia terlihat senang, deg-degan mau casting film, ‘nah ketemu juga nomer sebelasnya’ ada tulisan ‘casting di samping’ dia pun bertanya pada orang yang jaga rumah itu.
“Maaf pak, kalau mau ikut casting di mana ya pak?”
“Di ruang samping dek! Tapi mulainya nanti dek jam dua siang! Soalnya sekarang orang-orangnya masih di lokasi shootting, nanti datang lagi aja dek!”
“Oh iya makasih pak!” ternyata belum mulai castingnya, ‘lebih baik aku cari makan dulu, aku kan belum sarapan tadi pas pergi.’ Dia melihat warung soto,Tanpa ragu dia pun masuk dalam warung soto tersebut.
***
“Gue kira casting film, kalau casting sinetron mah gue ogah..” cowok kribo keluar dari ruangan casting, sombong amat, dia pergi, bisa di tebak si kribo tadi pasti pemain senior, buktinya dia sudah berani bilang kayak tadi. kalau sekelas Teguh, dapat peran sekedar lewat di dalam sebuah cerita aja sudah bangganya setengah hidup kali.
“Ya berikutnya.” Teguh masuk, dia sedikit gemetar juga, padahal dia dengan yang namanya acting sudah biasa, ada banyak orang ternyata.
“Mundur sedikit, ya sedikit lagi dek! Perkenalan dulu ya dek!” ‘hah perkenalan? O..aku ngerti.’ Dia memang baru kali ini ikut casting.
“Dalam hitungan…eh sebentar dek! Coba menghadap kanan, ya sekarang ke depan lagi, menghadap ke kiri, senyum! Ya sekarang menghadap ke depan lagi, oke… satu..dua..tiga..action!”
“Nama saya Teguh Prayitno, tinggi seratus enam puluh sembilan centimeter, berat lima puluh lima kilogram, umur dua puluh tahun, saya tinggal di jalan haji saidi tiga dalam, cipete selatan, cilandak Jakarta selatan.”
“Oke bagus! Apa pengalaman adek?”
“Saya pernah ikut sebuah festival di sebuah theater, dan saya mendapatkan…” dia tidak pede, dia takut nanti kalau pas casting dia tidak bisa gimana? Pasti dia akan malu. ‘Optimist dong!’ suportnya untuk dirinya sendiri dalam hati “THE BEST ACTOR” dia terkejut, merkeka semua yang ada di ruangan ini pada tepuk tangan, dia jadi rada pede.
“Hebat..hebat.., sekarang coba adek peragakan adegan ketika adek dapat ‘the best actor’ itu.”
“Sepotong aja ya bang?”
__ADS_1
“Ya, sepotong aja nanti kalau semuanya, yang lain pada ngga jadi casting.” dia sedikit lupa. Tapi dia coba semampunya.
“Sekarang sudah aku dapatkan selendang bidadari ini, harus aku apakan selendang ini? Apa aku bakar saja selendang ini? Jangan! Lebih baik aku simpan saja!”
“Bagus..bagus, sekarang coba adek perankan seolah adek gagal menjalankan tugas dari bos! Bisa?”
“Bisa bang!”
“Oke...action!”
“Maafkan saya bos! Tapi saya janji bos, kalau saya di beri kesempatan, saya akan tebus semua kesalahanku ini bos, saya mohon bos! Kasih saya kesempatan sekali lagi, bos…”
“Ya cukup! Ya terima kasih adek Teguh Prayitno, ada nomer telpon kan dek?”
“Ada bang!”
“Ya bagus dek!” dia bangga banget, mudah-mudahan ini adalah awal dari segalanya buat dia, dia harus bersyukur, dia mau sholat ‘asar dulu ini ada masjid, dia seneng banget, dia mau bersyukur sekalian berdo’a kepadaNya.
Hatinya masih gembira karena dia berhasil ikut casting, dia pun kembali ke kontrakan Maman, saat dia sedang santai di kontakan itu lewatlah seorang cewek cantik.
“Siang Dila? Dari mana nih?”
“Habis beli es, mas Teguh gi ngapain?”
“Lagi ngobrol ma Dila.” lengkapnya Fitka Fadila. Cantik kan namanya? secantik orangnya. siapa Dila itu? Dila itu anaknya bang O’is yang punya kontrakan ini, bedegh…anaknya cantik bgt deh. Kalau tau artis cantik yang namanya Naysila Mirdad, ya... wajahnya sebelas dua belas deh. Manjanya juga bikin orang di sekitarnya merasa ser… gitu.
“Ya... kalau itu sih Dila sudah tau. Mas Teguh sudah kerja ya?”
“Belum Dil, kalau Dila kelas berapa sekarang?”
“Kelas satu mas.”
“Kelas satu?” sebenarnya dia sudah tau kali, kalau Dila emang kelas satu, tapi dia pengen basa-basi dulu, biar dia tau sedikit-banyak tentang Dila. “ngga mungkin lah Dil, mas Teguh ngga percaya”
“Lho…emang Dila tu kelas satu SMA kok, emang menurut mas Teguh Dila kelas berapa?”
“Dila tu mas kira sudah kelas tiga gitu deh, lagian body Dila sudah gede sudah dewasa gitu.”
“Ah ngga juga, Dila kan masih imut.”
Ternyata ngobrol sama Dila enak juga, nyambung, ini membuat Teguh semakin bersemangat.
__ADS_1
Rupanya casting yang dulu di Virgo Putra tak dapat membawanya menuju impiannya, dia tidak lolos, hal ini membuat dia terpukul, baru dia rasakan kejamnya rimba dunia.
***