
Sesampainya Teguh di kampung dia langsung menuju ke kuburan kakeknya, dia mengirim do’a untuk kakeknya, dia pergi ke kuburan itu bersama dengan Kasmini, mama tercintanya.
Satu orang anak dari Mad Gasmin yang belum mengetahui kenyataan ini, dialah Kamisah yang sekarang masih ada di Singapore, Kasmini tau apa yang harus dia lakukan, kali ini dia akan menerapkan teori yang pernah Mad Gasmin ajarkan padanya juga pada Teguh tentang kebohongan.
“Halo dek!” Kasmini menelpon adiknya begitu semua rencana sudah di susun dengan rapih.
“Ya yu! Ada apa?”
“Kamu bisa balik sekarang tidak? Bapakmu sakit.”
“Waduh gimana ya yu? Kontraknya belum habis.”
“Tapi ini sangat penting dek! Kamu harus pulang!”
“Iya yu, aku izin dulu sama majikanku, nanti kalo boleh pulang aku langsung pulang.”
“Sekarang ya dek!”
“Kalau sekarang ya susah lah yu, mungkin besok, soalnya kan tiket juga harus di pesan dulu.”
“Ya sudah ngga apa-apa, tapi usahakan secapatnya ya!”
__ADS_1
Itu lah kebohongan yang Kasmini lakukan untuk menjaga perasaan adiknya, sebab dari semua anak Mad Gasmin, Kamisah lah yang paling di sayang olehnya, perasaan Kamisah pasti akan sangat terpukul bila mendengar berita duka ini, rencananya Kasmini akan memberi tahu Kamisah begitu dia sampai di rumah nanti.
Ke esokan harinya Kamisah pun di izinkan pulang, Kasmini mengajak Maman juga Teguh menjemput Kamisah di airport Sukarno-Hatta, Puji dan Fery pun ikut bersama mereka, Puji anak dari Kamisah dan Fery adalah cucu dari Tengul anak pertama Mad Gasmin. Mereka menuju Airport dengan menyewa sebuah mobil kijang.
Mereka pun sampai di Airport setelah semalam suntuk mereka dalam perjalanan, Fery berulangkali memuntahi celana Liliknya, yaitu Teguh yang selalu menyayanginya, begitu pun Puji tapi dia bersama dengan Mbokdenya yang selalu menyediakan plastik untuk dia muntah. Mungkin kesialan untuk Teguh yang tidak tau bahwa Fery selalu mabok kendaraan.
Kamisah pun keluar dari airport setelah beberapa jam mereka menunggu.
“Yu, apa kabar?” begitu dua saudara itu bertemu mereka langsung berpelukan, Maman pun ada di antara mereka, Kamisah bergiliran memeluk yang lain, dan yang terakhir dia menggendong anaknya yang sudah jauh lebih besar semenjak tiga tahun yang lalu dia meninggalkannya bersama suami dan Ibunya.
“Kamu ngga boleh di jemput ya sama petugas Airport?”
“Iya yu, katanya aku harus di antar sampai rumah, tapi aku sudah sogok petugasnya kok.”
“Tapi kan ke untungan juga buat kita yu!” Maman yang dari tadi tak bersuara ikut berpendapat sambil mencoba merapihkan rambut gondrong sebahunya yang awut-awutan karena baru bangun tidur, dia tidak pernah memotong rambutnya semenjak anak pertama dengan istri keduanya lahir, dan anaknya sekarang sudah berumur 3tahun “coba kalo si petugas tidak menerima sogokannya Kamisah, bisa repot kita.” Mereka bertiga terlihat begitu akur.
Sampailah mobil kijang sewaan itu di rumah Kasmini.
“Pak! Bapak! Kamisah pulang nih!” yang keluar dari dalam rumah bukan Mad Gasmin tetapi sang Ibu Lasinah, “Yung! Kamisah sudah balik nih.” Dia memeluk tubuh ibunya yang sangat kecil kurus.
“Kamisah kenapa kamu jadi kurus begini sih Sah?”
__ADS_1
“Bapak mana yung?”
Kasmini merangkul adiknya, dan Maman duduk si salah satu sofa yang ada di ruang tamu rumah Kasmini, Teguh, Puji dan Fery masih ada di dalam mobil, tetangga pun mulai berdatangan ingin melihat keadaan Kamisah, Kasmini memaksa adiknya duduk di sofa juga di samping Maman, Kasmini duduk di samping Kamisah, jadi Kamisah ada di antara dua kakaknya.
“Aku mau ngomong sama kamu Sah! Bukan maksud kami untuk membohongimu,” Kamisah mulai mengetahui arah pembicaraan kakak lelakinya, “sebenarnya Bapak sudah meninggal sebulan yang lalu.”
“Jadi kalian membohongiku? Kenapa kalian tidak mengabarinya dari dulu? Kalian tega!” Kamisah tiba-tiba hilang kontrol, dan kemudian jatuh pingsan, Maman membopong adiknya ke dalam kamar, mereka sudah menduga sebelumnya dengan apa yang akan terjadi bila Kamisah mendengar berita duka ini, maka dari itu lah mereka memutuskan untuk memanggil Kamisah pulang, pa bila ke adaan ini terjadi di Singapore apa jadinya? dia sendirian di sana, dan bersyukur rencana mereka berjalan dengan lancar.
Seperti tahun sebelumnya Teguh hanya punya waktu satu bulan untuk berlibur, dia pun kembali ke Al-Zaytun untuk meneruskan pendidikannya, tentu setelah semuanya kembali normal, selama dia di kampung dia juga sudah menemui ke empat sahabatnya, semua melanjutkan sekolah kecuali Sugi yang langsung ke Jakarta merantau, tapi karena ini adalah lebaran maka dia ada di rumah, Teguh juga sudah berhasil mengabadikan gambar mereka dalam kodak foto miliknya, rencana dia akan mencucinya sesampainya di Al-Zaytun, dia juga sudah berhasil memiliki sebuah foto milik orang yang sangat dia taksir yang bernama Kuwat, dia dapat dari Sri Paryani, memang mereka adalah sahabat terbaik yang pernah di miliki Teguh Prayitno.
Di lain cerita Kasmini berencana untuk kembali ke Malaysia, tapi kali ini dia bukan sendirian, dia akan membawa adiknya Kamisah dan keponakannya Kesrag, ibu dari Fery. Kamisah sudah berhasil membeli sebidang tanah hasil rejekinya mengais di negri tetangga Singapore, sedangkan Kesrag hingga hari ini dia masih mendirikan rumah di tanah milik orang lain, atau bahasa jawanya ‘Mondok’ itu yang kemudian Kasmini berinisiatif untuk mengajaknya ke Malaysia, barangkali ini adalah jalan Kesrag untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, Fery sudah mempunyai seorang adik perempuan yang berumur tiga tahun bernama Merlina.
“Pak, aku berangkat kalau bapak mengizinkan, tapi bila bapak tidak mengizinkan aku ngga akan berangkat.” Kesrag pun izin pada sang suami.
“Kalau itu sudah menjadi ke inginan mama, ya bapak izinkan ma! Tapi apa ngga bisa kita cari rejeki di rumah saja, kasihan Lina ma, dia masih sangat kecil.”
“Kapan lagi pak ada kesempatan ini? Bibi Kasmini akan membiayai semua ongkos perjalananku sampai di Malaysia.” Akhirnya dengan berat hati suami dari Kesrag pun memperbolehkannya pergi mengadu nasib di negri jiran bersama kedua bibinya, Kasmini dan Kamisah adik se ayah dari ayahnya.
Perjalanan mereka tidak semulus seperti yang mereka bayangkan, Kamisah bermasalah di saat mereka memasuki Malaysia, itu membuat mereka terpisah, Kasmini dan Kesrag menuju tujuan mereka di Malaysia sedangkan Kamisah harus kembali ke tanjung balai, namun itu tidak berlangsung lama, Kamisah berhasil masuk sehari berikutnya, Kasmini pun langsung mencarikan pekerjaan untuk adiknya itu, sedangkan Kesrag dia bekerja bersama Kasmini di Laundry tempat dulu dia bekerja.
Waktu terus berlanjut.
__ADS_1
***