
Kasian si Teguh, dia bingung dengan keadaannya saat ini, kenapa begitu banyak wanita yang bisa dia sukai, tapi ternyata tak ada satupun dari mereka yang bisa menyukainya. Mungkin benar orang bilang dalam hal Hati antara pria dan wanita itu berbeda, seorang pria bisa suka pada banyak wanita dan dia bisa membaginya yang kemudian dia harus memilih salah satu di antaranya, tapi seorang wanita hanya bisa suka pada satu pria, bila ada pria lain yang lebih dari pria yang sedang dia sukai, maka dengan mudah si wanita bisa memindahkan hatinya dari pria satu ke pria yang lainnya, pantas saja pria mudah melupakan wanita yang menyakitinya, tapi untuk wanita akan sulit melupakan pria meski dia sudah tersakiti, hem teori ngawur ini, tapi bila mau membuktikannya ya silahkan di survei.
Waktu terus berlalu, bulan april pun meninggalkannya dengan segudang ke sia-siaan, sekarang dia hanya punya satu harapan, meskipun dia dan Intan sudah sedikit dekat, dia juga sering ketemu dan berkomunikasi, tapi dia masih merasa takut untuk mengutarakan perasaan padanya padahal pendekatannya sudah memakan waktu lebih dari satu semester.
Tiba-tiba pada tahun baru 2005, Yani yang Teguh anggap sebagai sosok sahabat, marah padanya. Mungkinkah Yani tau kalau Teguh naksir sama banyak cewek? awalnya Teguh juga tak tau, Lima hari semenjak tahun baru tiba Yani tak mau bicara dengannya, Teguh kan jadi bingung, Ya akhirnya Teguh mengintrogasi Yani.
“Sebenernya salah gue apa sih Yan? Kok elu tiba-tiba marah sama gue?”
“Ngga apa-apa kok.”
“Kalau ngga apa-apa, kenapa apa-apa?” Yani masih belum mau banyak ngomong sama Teguh. Tapi dia mulai mau bertanya.
“Kamu ngga marah kalau aku tanya sesuatu sama kamu?”
“Kenapa gue harus marah?”
“Sebenarnya kamu nganggep aku tu apanya kamu sih Guh?” Teguh terkejut bukan kepalang, dia masih bingung dia masih terus berfikir, maksud dari pertanyaannya ini apa?
“Jawab Guh! Aku tanya kamu!” Teguh makin terpojok, dia bingung, dia ngga tau harus ngomong apa, tak mungkin dia menyakiti orang yang selama ini perduli dan perhatian padanya.
“Elu buat gue?” Teguh berfikir keras, dalam hatinya berkata ‘Intan belum tentu mau jadi cewek gue, ya seenggaknya masih ada cewek yang suka sama gue.’ “Elu buat gue adalah orang yang istimewa, elu bisa ngerti gue, elu juga selalu perhatian sama gue.” dia berkata begitu saja, sedikit dia tidak sadar dengan apa yang sedang dia bicarakan, begitu dia tersadar dia bingung.
“Makasih Guh! Jadi mulai sekarang kita pacaran?” ‘hah?’ Teguh terkejut lagi, dia bingung dengan apa yang terjadi, dia masih terus kepikiran Intan Sari Indah Sundari Tamrin, karena dia berharap Intanlah yang seharusnya bertanya hal ini kepadanya. Intan memiliki semua yang di Inginkan Teguh. Yani sekarang sudah tak di depannya lagi, otaknya terus berputar memikirkan hal ini, tapi akhirnya Teguh memutuskan untuk belajar mencintai Yani, Terjalinlah pasangan romantis Teguh Prayitno-Diah Herayani, dia lah pacar pertama Teguh Prayitno, dialah yang terpilih oleh Teguh dari sekian banyak cewek.
Setahun berjalan hubungan mereka dengan normal, Teguh pun sudah berhasil mencintai Yani apa adanya walaupun dalam perjalanan hubungan mereka ada aja cewek yang perhatian lebih pada Teguh, terutama adik-adik kelasnya, nama Teguh Prayitno pun semakin men-Zaytun, bahkan adik kelas mereka memberi nama beken untuk Teguh yaitu “KTP” yang berkepanjangan Kak Teguh Prayitno, orang pertama yang menyebut nama itu adalah Maryam Thowilah Akmaliyah, yang sekarang masih kelas tiga SMP salah satu cewek yang semakin dekat dengannya, kesetiaan masih tetap dia berikan pada Yani, bahkan sampai ada seorang cewek kelas satu SMA yang memaksa Taguh untuk menjadi kakak angkatnya, atas izin dari Yani juga lah kemudian cewek bernama Santi Setiani cewek dari Bandung menjadi adik angkatnya, yang kemudian mereka selalu bermasalah karena Yani sering cemburu kalau Teguh menemui Santi, dan Santi selalu cemburu melihat kemesraan Teguh dan Yani, pernah juga mereka berdua bertengkar di belakang Teguh.
Hingga hari ini tiba Teguh dan Yani sedang asyik ngedate, mesra banget, Teguh pegang tangan Yani dan Yani pegang tangan Teguh, mata Teguh tertuju pada wajah Yani, tapi Yani malah nunduk. Yani nunduk karena malu, mereka bener-bener pasangan yang sangat amat romantis, mereka mesra abiz. Tapi Teguh masih tau aturan, selama mereka berpacaran mereka tak pernah melakun sesuatu yang di larang agama, lebih sering mereka berkomunikasi dengan surat kertas, tapi tiba-tiba ayahnya Yani datang menghampirinya dan merusak suasana.
“Lagi pada ngapain kalian hah? Masih kecil sudah mesra-mesraan gini? Yani! Balik ke asrama!” bapaknya galak banget, tapi sebenernya ada yang aneh dari bapaknya Yani, sebelumnya bapaknya Yani tu baik banget sama Teguh, apa yang terjadi? kenapa bisa berubah seratus delapan puluh drajat? Yani di pegang tangannya lalu di paksa pulang ke asrama, Tapi tidak segampang itu Yani di pisahin dari Teguh, tarnyata Yani mencoba membrontak.
“Lepasin tangan Yani yah! Apa-apaan sih ayah ni? Ini kan tempat umum, malu yah!” Teguh hanya duduk terdiam di atas kursi yang terbuat dari beton di dalam taman, Teguh bener-bener kecewa.
“Ayah minta, mulai sekarang Yani jangan pernah perhubungan lagi sama anak brandal ini!” kok jadi begini?
“Tapi yah, apa maksud ayah? Yani ngga ngerti.” Kali ini Yani tak bisa berbuat apa-apa, karena selain tenaga Yani jauh lebih lemah dari ayahnya, Yani juga paling takut kalau ayahnya sedang marah. Teguh masih bingung, Sebelumnya bapaknya Yani tu baik banget, waktu liburan Teguh kencan ke rumah Yani, bapaknya pasti menyambutnya dengan begitu istimewa, ibunya juga tak jauh beda.
“Eh...calon mantu, ayo masuk atuh anggap aja rumah sendiri!” ampe segitunya sambutan untuk Teguh. “Yani! Nih nak Teguh datang!” ibu Yani adalah orang sunda dan Ayahnya Jawa, bapaknya karyawan di sekolah ini sama seperti Sunar.
“Iya…ma! Bentar lagi!” Terus kenapa bisa berubah gitu? ternyata ada yang tak suka sama hubungan mereka, masalah ini berawal dari masalah sepele, hanya karena dia melerai temanya yang ribut dengan keamanan Al-Zaytun, dan keamanan itu ternyata adalah kawan bapaknya Yani, kemudian si keamanan itu melaporkan Teguh pada bapaknya Yani, padahal Teguh hanya melerai mereka si keamanan dan temannya, akhirnya Teguh dan Yani bekstrit secara diam-diam, itu berjalan sampi sebulan lebih bapaknya tak tau. Saat mereka bertemu, Yani curhat sama Teguh, begini curhatnya.
“Guh!...Yani pengen curhat sama Teguh”
“Tentang apa say?”
“Tentang ayah.” Yani nangis, tapi cuman keluar air mata.
“Semalam Yani berantem sama Ayah.”
“Masalahnya? Bukan karena ayah tau kita backstrit kan?”
“Yani ngga tau Guh, dari mana ayah tau kalau kita masih pacaran.” Teguh mulai kerepotan, karena selain di tempat ini sepi, alias tak ada orang, dan tak ada tissue, tapi Yani masih nangis, makin banyak air mata yang mengalir.
“Ya sudah ngga usah sedih gitu dong sayang! Kan masih ada mas Teguh yang selalu setia menemani Yani.”
“Sepertinya ayah bener-bener ngga suka sama kamu Guh.”
“Maksud Yani?”
“Iya, semalam Yani di tampar sama ayah, karena Yani ngga terima ayah bilang kalau Teguh itu anak urakan, anak brandalan, anak jalanan… anak… pokoknya yang jelek-jelek deh!”
“Samapi segitunya kebencian ayah Yani sama Teguh?” sambil memeluk tubuh Yani, Teguh geram, Teguh emosi, Teguh bener-bener marah saat itu.
Teguh mulai bingung lagi, bimbang lagi, Teguh memang masih cinta sama Yani, tak tau cintanya seperti apa, karena sudah tercampur dengan kemarahan. akhirnya Teguh cari cara untuk memutuskan hubungannya dengan Yani. Teguh berfikir keras mencari caranya. Teguh makin pusing di sebabkan Yani sakit keras, Yani demam dan kena tipes, pasti Yani tak pernah makan gara-gara itu, sedangkan Teguh masih pusing, Teguh tak berani datang ke perkhidmatan, atau rumah sakit di Al-Zaytun, kebetulan temen Teguh yang namanya Arif kelas tiga SMP yang juga murid Theater, ternyata dia punya buku Harry Potter yang terbaru yang tebelnya sampai 1200 halaman. Teguh adalah salah satu penggemar si bocah sihir itu, jadi ya…
“Rif, gue pinjem Harry Potter nya dong! gue lagi stres nih.” Langsung saja Teguh datang ke kamar Arif yang masih satu asrama dengannya, dia temuin Arif yang sedang pegang buku super tebel itu di ranjang kamarnya.
__ADS_1
“Ya elah kak, gue belum selesai baca kak, besok aja deh nanggung nih setengah buku lagi.”
“Ah elu, setengah buku kok nanggung, itu mah bukan nanggung kali, tapi masih segunung, bentar doang Rif! gue janji deh, berapa lama elu kasih gue waktu? Ntar gue langsung balikin deh, swear!” sepertinya janji Teguh belum bisa meluluhkan hati Arif “Masa’ lu tega sama gue Rif? Jauh-jauh gue datang ke elu, hanya demi Harry Potter Rif!” kali ini Teguh memelas pada Arif, end the finally…
“Iya deh gue kasih pinjem! Tapi cuman tiga hari ya kak! Jangan telat ngembaliinnya!”
“Siii…p lah, emang elu murid gue yang pinter!” Padahal, Arif tu salah satu muridnya yang kurang cerdas, tapi ada yang harus di inget, walaupun Arif tu kurang cerdas, tapi Teguh adalah satu dari sekian orang yang pantang ingkar janji, inget ya, ‘pantang ingkar janji’. Mangkanya Teguh memproklamasikan diri pada semua orang bahwa dia sangat takut untuk berjanji.
“Lu janji ya kak!”
“Iya deh gue janji, tiga hari pasti gue sudah selesai!” sebenernya dia tidak perlu janji untuk menyelesaikan buku itu dalam waktu tiga hari, karena membaca adalah sesuatu yang sudah biasa di lakukan oleh Teguh, tapi apalah daya, dia sudah berjanji, maknanya dia harus menepatinya.
Dan, baru satu hari Teguh pegang buku itu, Fauzi yang tampangnya seperti orang cina, walaupun kulitnya tidak terlalu putih, dan rambutnya tak lurus-lurus amat, dan temen deket Teguh juga teman sekelasnya, datang menemuinya, emang dia sudah seperti jaelangkung, datang tak di jemput pulang tak di antar, biasanya kalau dia datang pasti ada maunya, atau mungkin ke taman untuk nemuin Hamidah makhluk yang sedang dekat dengannya, tapi entah apa tujuan Fauzi sekarang, dia emang belum cerita masalah yang sedang di alaminya dengan Yani. Mungkin karena Teguh belum sempet ngobrol sama Fauzi, sebab Fauzi sendiri sekarang jarang nyamper dia, mungkin karena Fauzi lagi ada masalah sendiri, entah lah, liat aja nanti apa mau Fauzi nemuin Teguh yang sudah dapat di yakini kalau dia lagi ngga mau di ganggu.
“Je… lagi sibuk ni ye?”
“Tumben lu? Dah lama lu ngga ke kamar gue? gue tau, pasti banyak urusan ya?” Teguh hanya melihat sekilas temen karibnya, dan masih focus pada buku super tebal milik Arif.
“Ya elah Guh, segitunya sama gue lu!? Ngga kok, gue kesini sebagai kurir.”
“Maksud lu?” Teguh masih seperti tadi, masih terus membaca kata demi kata cerita yang ada di dalam buku yang dia pinjem dengan pengorbanan janji pada Arif.
“Ya…maksudnya, namanya kurir kan bermakna menyampaikan pesan Guh? Ya sudah tentu lah gue kesini membawa pesan penting, dari sang Permaisuri, untuk sang Raja.”
“Udah lah Zi, lu jangan bikin buyar konsentrasi gue! gue lagi sibuk nih!”
“Oke…oke, I’m to the point aja kali ya Guh? Begini Guh, gue bawa pesan dari Yani…”
“Yani?...” Teguh langsung me-respon ucapan Fauzi, dan Fauzi terkejut bukan kepalang.
“Santai dong men! Calm, you know? Bikin jantungan gue aja! Respond sih boleh, tapi seharusnya dari tadi dong!” Fauzi jadi sewot sendiri dengan apa yang terjadi pada Teguh.
“Emangnya Yani sudah sembuh Zi? Dia kan lagi sakit?”
“Elu gimana sih? Bahkan kabar cewek sendiri ngga tau. Dia cuman pesen, sekarang kan hari kamis, besak hari jum’at, nah elu di tunggu di taman.”
“Tu kan terkejut lagi.” dia curiga dengan wajah Teguh, dia mulai menyelidiki pikiran sahabat sekelasnya. “Jangan bilang elu ngga bisa ya men!”
“Elu datang kesana kan besok?”
“Ya iya lah! gue kan mau nemuin si Hamidahku sayangku, cintaku, muah…” Fauzi begitu girang menjawab pertanyaan Teguh, dan Teguh masih memikirkan sesuatu.
“Ya sudah kalau gitu gue nitip pesen aja ya Zi!” dengan kecepatan tinggi, bahkan sangat tinggi, wajah Fauzi berubah total, dari wajah girang berseri-seri, berubah menjadi wajah yang mengkerut dan bertanya-tanya.
“Kenapa lagi Guh? Emang elu ngga kangen sama Yani? Bukankah elu sudah seminggu lebih ngga ketemu dia?”
“Lu kan tau sendiri Zi, gue gi sibuk banget nih, gue harus selesai baca buku ini, dan gue harus segera mengembalikannya sama Arif, lain waktu kan bisa Zi!” Teguh kembali mencoba memfokuskan diri pada buku terpentingnya saat ini. Dan Fauzi masih mencoba membujuk sahabatnya yang dia sendiri sudah tau jelas siapa Teguh, Teguh adalah orang yang selalu memegang prinsip. Jadi…ya…
“Ya elah Guh! Ayolah temenin gue! gue pengen nembak Hamidah besok, besok tu moment yang paling tepat Guh!”
“Ngga bisa Zi! gue sudah janji sama Afif, lu ngerti kan?” dan akhirnya Fauzi pun harus mengalah, karena emang dia tidak mungkin bisa menang sama Teguh dalam hal Prinsip. dia pun pergi dengan kekecewaan yang sempurna. Gimana bentuknya ya kekecewaan yang sempurna? Ada-ada aja, tidak perlu di gambarin deh, yang jelas Fauzi tu marah besar sama Teguh, mungkin? dan pasti dong! Mungkin Teguh pantas di vonis jahat banget. Ya! Kalau di fikir memang seperti itu, Teguh juga yakin kalau apa yang sudah menjadi keputusannya adalah yang terbaik untuk dirinya. Itulah prinsip, kata orang, ngga punya prinsip mending ngga usah hidup, karena dia hanya akan menyusahkan orang yang hidup di sekitarnya. ambil saja contoh, orang yang plin-plan, dia nyusahin kan? Orang yang suka ingkar janji, dia merugikan kan? Terus orang yang suka koar-koar, congkak, atau sombong, mereka menguntungkan buat orang lain tidak? Itu lah contoh orang yang ngga punya prinsip, dan orang yang ngga punya prinsip biasanya mudah tumbang, mudah kalah, dan mudah menyerah, akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri kan? Semoga kita bukan salah satu dari mereka, amiiiiin…
Dan apa yang terjadi di hari jum’at? Ini yang terjadi!
Yani datang ke asrama Teguh, sedangkan Teguh lagi asyik dengan buku yang di pinjam dari Arif yang berjudul ‘Harry Potter end the order of the phoenix’. Teguh pun dengan terpaksa menemuinya di depan 130, Yani menyambutnya sambil marah-marah.
“Sorry Guh, anggap saja kedatanganku ini sebagai iklan Harry Potter yang sedang kamu baca.”
“Ada apa lu kesini Yan?” Teguh pura-pura tidak tau apa-apa. “Lu ngga di marahin ayah ketemu sama gue?”
“Ngga penting Guh.” Yani menjawab dengan ketus. “Jadi bener yang di bilang Fauzi, kalau kamu lebih mentingin Harry Potter ketimbang aku cewek kamu?” Teguh kaget bukan main, melihat Yani marah-marah di depan 130, dan dia mulai berdiri, dan membawa Yani menjauh dari 130, mereka keluar asrama dan mencari tempat yang sepi. sebenernya apa sih yang Fauzi ceritakan sama Yani?
“Bukan begitu Yan, gue cuman…”
“Udah deh Guh, aku sudah tau semuanya.” Bagaikan gunting Yani memotong apa yang ingin di ucapkan oleh Teguh. “Kamu sudah ngga suka lagi kan sama aku? Kalau emang kamu mau putusin aku, ya sudah putusin aja! Aku ngga akan menangis merengek-rengek minta balik lagi sama kamu kok!” Teguh kaget banget, ini kali pertama dia denger kalimat ini keluar dari mulut Yani. “Emang aku cewek apaan?” sepertinya Teguh emang sudah marah banget, mukanya merah.
__ADS_1
“O…” Teguh mencoba meredam emosinya, “Jadi selama ini elu berharap seperti itu?” sekarang giliran Yani yang terkejut, “Jadi elu pengen putus dari gue? Oke! gue akan mewujudkan harapan elu.” Ini juga pertama kalinya Teguh marah besar pada Yani, “Dan satu lagi yang harus elu ingat Yan! Jangan pernah lu meratap memohon ke gue tuk balikan lagi, Oke?” Yani bener-bener terkejut dengan respond Teguh yang luar biasa. “Emang gue sudah aneh dari dulu sama elu Yan, apa lagi dengan orang tua elu.” Yani ngga bisa lagi memotong kata-kata yang ingin di ucapkan oleh Teguh, “Dulu mereka baik banget sama gue Yan! Tapi sekarang? sekarang mereka benci banget sama gue, mereka ngeliat gue seperti ngeliat seekor kucing yang sudah maling lauk di meja makan mereka, mereka benci banget sama gue Yan, benciii…banget. Bahkan gue sudah ngga boleh lagi mencintai elu kan?” Yani mulai melelehkan air matanya, dan Teguh mulai sangat garang, mungkin kalau Yani adalah seorang cowok, dia sudah di tonjok mukanya, tapi Teguh masih bisa menahan amarahnya.
“Yan!” Yani melihat wajah Teguh, dan Teguh menarik nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat berikutnya, “Mulai detik ini kita putus.” Bagaikan petir menyambar di ikuti suara yang menggelegar, mungkin itu yang di rasakan hati Yani saat ini. Hancur lebur pastinya, dia bahkan sekarang sedang tidak dapat bernafas, dia ingin menjelaskan sesuatu pada Teguh, dan itu sangat penting.
“Tapi Guh, aku…” tapi sayangnya Teguh tidak mau mendengar sesuatu itu.
“Elu boleh kembali ke asramamu sekarang! Elu tau kan jalan ke asramamu?” Yani sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa terus menangis, dan menyesali apa yang sudah terjadi, ini bener-bener di luar dugaannya, dia belum pernah melihat kemarahan Teguh yang seperti ini, yang dia tau Teguh tak pernah bisa marah, Teguh orangnya lemah lembut, terutama pada orang yang di sayanginya, bahkan pada orang yang tak dikenalpun dia bisa ramah, sopan santun, lugu, tapi kenyataannya dia baru saja melihat kemarahan Teguh, dia pun mulai mengarahkan langkah kakinya, dengan sedikit mengusap air mata yang terus mengalir dia terus berjalan walaupun perlahan, karena dia berharap Teguh menghentikan langkahnya, menghapus air matanya, dan meminta maaf karena Teguh sudah bercanda kelewatan.
“Yan!” itu mungkin yang di harapkan oleh Yani, Teguh menghentikan langkahnya, dan dia pun berhenti, sedikit rasa gembira menyelinap di hatinya.
“Satu lagi! Semua yang telah terjadi dengan kita, anggap saja ini cuman mimpi belaka.” Suara Teguh halus, ini adalah suara yang selalu Yani dengar dari mulut Teguh, lemah lembut, penuh makna, sedikit beraroma puitis, tapi suara itu tak bisa menghentikan derasnya air mata yang mengucur dari pelupuk matanya, kini sirna semua harapannya.
Menyedihkan sekali. Tapi tak semenyedihkannya ending dari cerita Romeo end Juliet kan? Tapi, sebenernya apa sih yang di omongin Fauzi ke Yani?
Besoknya Teguh mengintrogasi Fauzi.
“Zi, sebenarnya lu ngomong apa sih sama Yani?”
“O…sorry ya Guh! Gara-gara gue, elu putus sama Yani.”
“Ngga masalah kok, emang itu yang gue ingin kan, putus dari Yani, pusing gue pacaran sama dia, tapi lu ngomong apa sih?”
“Kemaren gue sebel sama elu Guh, gue sampein aja pesan elu ke Yani begini, ‘Teguh ngga mau ketemu sama elu Yan, Teguh mau baca Harry Potter aja katanya.’ gitu doank kok.” Teguh tersenyum lebar.
“Gue ucapkan makasih banget men! Emang, elu sahabat gue.” Fauzi malah bingung, awalnya dia mengira akan kena marah sama Teguh, “Tapi gimana Midah Zi?” sekarang Fauzi jadi murung lagi, tadinya dia emang sedang murung, pertama Teguh datang dia sudah begitu.
“Itu dia Guh! gue di tolak sama Hamidah, gue di tolak mentah-mentah Guh.”
“Wah…alasannya apa? Bukankah kalian sudah deket banget, bahkan banyak orang mengira kalian sudah pacaran?”
“Gue juga ngga tau Guh, waktu Hamidah denger gue ucapin ‘I love you’ dia langsung pergi begitu aja.” Dengan tak sadar Fauzi menangis. Teguh terkejut sekali begitu dia melihat satu tetes air mata sahabatnya jatuh dari pelupuk mata kanannya, dan satu lagi jatuh dari plupuk mata kirinya. Sebegitu besarnya kah cintanya pada Hamidah? Dan sebegitu teganya kah Hamidah pada Fauzi?
“Ini ngga bisa di biarin!” Teguh pergi dari kamar Fauzi dengan sedikit membawa amarah menuju Asrama Hamidah. dia tidak abis pikir dengan Fauzi, seumur hidup, ini kali pertama dia melihat air mata milik sahabat terbaiknya jatuh, ini pasti karena Hamidah adalah orang yang pertama kali dia tembak, mungkin kalau kemarin Teguh bersamanya keadaannya tidak akan seperti ini. Sekarang Fauzi masih duduk di ranjang dalam kamarnya, dia mencoba membersihka air matanya, dia menghela nafas, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjangnya.
Sekarang Teguh sudah ada di Asrama Nisa’. Teguh menemui petugas 130 dan menyerahkan surat izin dari 130 asrama Rijal. Setelah tadi dia sudah menyerahkan surat izin pada petugas, tak lama kemudian Hamidah turun dari tangga asrama.
“Ada apa Guh!” Teguh mempersilahkan hamidah duduk di kursi panjang di depan 130.
“Apa gue ngeganggu Dah?” Hamidah cuek.
“Ngga kok, ada apa?”
“Aku mau ngomong soal Fauzi…”
“Gue tau Guh, gue salah karena gue sudah nolak Fauzi, dia anaknya baik ngga bisa di ragukan lagi.”
“Terus kenapa kamu menolaknya?” Teguh gantian menyelak Hamidah.
“Elu juga salah Guh! Karena elu sudah mutusin Yani sahabat gue.”
“Ini soal Fauzi! Jangan bawa-bawa Yani, Dah! gue baru saja dari kamarnya, dia bener-bener suka sama elu, dia cinta sama elu.” dia sedikit menekan suaranya di bagian suka dan cinta. “Kok elu tega sih Dah?”
“O…jadi mau tega-tegaan nih? Lu juga tega Guh. Lu tega sama Yani, kenapa gue ngga?” Hamidah cuek lagi.
“Itu kemauan Yani sendiri kok, dia yang pengen putus dari gue.” Teguh sedikit menaikkan nadanya lagi.
“Elu salah Guh.” Teguh bingung, “Sebenarnya Yani hanya ingin tau kesetiaan elu aja sebagai seorang kekasih, sebenarnya dia masih sayang sama elu.”
“Ngga mungkin Midah, itu ngga mungkin.” Teguh menyangkal Hamidah
“Baru aja Yani pulang dari kamar gue, dia cerita semua tentang apa yang terjadi dengan kalian sama gue, jadi, kita sama-sama salahkan?” Teguh diam dan kemudia pergi begitu saja dari hadapan Hamidah, hatinya bimbang, sebenarnya Teguh ke asrama Nisa’ adalah untuk memarahinya karena dia sudah ngebuat sahabatnya menangis, sekarang sudah jelas kan, apa yang sedang terjadi di dalam hati Teguh? Tapi ini lah pilihan Teguh, dia lebih memilih Prinsipnya, meski dia tau apa bila dia menerima kembali Yani, keadaan akan berubah. Namun Prinsip baginya adalah tongkat yang akan menuntunnya ke jalan yang akan dia tuju kelak.
Teguh Prayitno, saat ini dia sedang duduk di atas ranjangnya, buku ada di pangkuannya, sekarang dia sudah tidak duduk lagi, tapi rebahan, masih di atas ranjangnya, buku sudah pindah dari pangkuannya menjadi di depannya, sedang apa kah sekarang dia? Ternyata dia lagi nulis? Sekarang Teguh lagi bingung!? Sebab baru hari ini dia mulai jadi jomblo lagi, alias RETAK, alias lagi RemajaTAnpa Kekasih
“05 February 2006,
__ADS_1
Bagaikan burung yang terlepas dari sangkar, itulah aku, bebas rasanya, tanpa ada yang terus mengaturku, katanya aku harus beginilah, begitulah, memangnya apa aku? Robot? Atau pembantunya yang harus selalu patuh dengan apa yang dia perintahkan? Ngga bisa gitu dong! Aku harus bisa lepas dari dia. Dan sekarang, setelah lebih dari satu tahun aku harus merasakan sakit hati, cemburu, marah, bersedih, akibat dari ulah kekasihku, kini sudah berakhir. Sebenarnya aku kasihan sama Yani, dia masih suka sama aku, dia masih sayang sama aku, entah Hamidah bohong atau tidak padaku, barusan aku datang ke asramanya dan dia menceritakan semuanya kepadaku, apa yang sedang menimpa mantan kekasihku itu, ternyata Yani mogok makan, dia juga masih belum menerima keputusanku, aku jadi bingung. Apa mungkin aku menjilat ludahku sendiri? Anjing dong? Ngga aku bukan anjing.” ternyata Teguh sedang menulis diary?
***