
26 April 2007
Hari ini adalah hari terakhir dia tinggal di Jakarta, mudah-mudahan segalanya bermula dari sini, dari keputusannya ini, dari hari ini, setelah 10bulan lebih dia terus berkelana pulang pergi dari kampung ke Jakarta, terus ke kampung, terus ke Jakarta lagi, terus ke Malaysia, dia merasa tidak dapat apa-apa, tapi tetep ada hasilnya, dia dapat mengenal berbagai macam cinta, ada cinta buta, ada cinta monyet, ada cinta sebelah mata, ada cinta lokasi, ada cinta satu pihak, ada cinta… bukan cinta yang seperti itu yang dia cari, tapi cinta sejati lah yang dia cari,
“Tapi sepertinya aku masih belum dapetin semua cinta yang ada deh, buktinya aku masih belum bisa nyebutin nama cinta, tapi atas nama cinta, aku adalah salah satu pemuja cinta, pengagung cinta, apapun nama cinta itu, tetap cinta itu mulia, tanpa cinta tak akan pernah ada dunia,”
Dia pun harus pamitan sama temen-temennya, dia berharap dia bisa ngeliat Vina untuk yang terakhir kalinya.
Kemaren dia kirim surat buat Vina lewat kakaknya, dalam surat itu tak ada kata-kata yang menyinggung tentang cinta, dia cuman nulis begini penggalannya,
“Vina! Meskipun aku tengah malam, bangun lalu aku melangkahkan kaki menuju ke mushola, lalu aku bersujud kepadanya, setelah itu aku berdo’a merengek, menangis memohon, agar kamu mau menjadi kekasihku, tapi kalau kamu ngga pernah suka sama aku, itu ngga ada artinya...” apa istimewanya tulisan ini? Dan kenapa Vina malah menjadi semakin takut sama dia? emang kata-kata ini menakutkan? Dia juga berharap sesampainya dia di Malaysia nanti, dia sudah lupa sama Vina, memang itu kan alasan dia pergi dari Jakarta. tapi ada masalah lain lagi, duit yang di kirim oleh Kasmini dari Malaysia belum nyampe juga, bingung dia jadinya, padahal sore ini dia harus cabut, atau lebih baik dia harus menunda kepergiannya?
__ADS_1
“Ngga! aku harus pergi hari ini!” perintahnya dalam hati, “apapun caranya aku harus pergi hari ini!”
Duit sudah aku pegang, jumlahnya pas enam ratus ribu rupiah, dia pun bersiap-siap berangkat! Hatinya masih tidak menentu, di saat yang bersamaan tiba-tiba dia melihat seorang gadis sedang datang, dia masih jauh, cara dia jalan, tinggi badannya, sekitar 145cm, Indonesia banget, beratnya sekitar 40kg, sudah pas, body yang ideal banget, wajahnya yang begitu manis, dan yang paling utama baginya adalah phoni di atas matanya yang menarik seluruh isi hatinya untuk terus mengenalnya, terus menyayanginya, dan untuk mengenangnya, karena sebentar lagi dia akan jauh dari dirinya, dia adalah Vina! kalau di lihat dari wajahnya, Vina tidak cocok kalau dia berusia 14tahun, wajahnya dua tahun lebih tua, dia cocok kalau dia itu berusia sekitar 16tahun atau 17tahun, tapi nyatanya dia emang baru berusia 14tahun. kira-kira dia berani tidak menyapa Vina? Sekalian ngucapin sampai jumpa padanya? bukan sampai jumpa, tapi selamat tinggal! Karena dia berharap kalau dia memang tidak bakal ketemu lagi sama Vina. Tapi sepertinya tidak mungkin dia berani melakukan itu, sekalipun dia berani, pasti Vina yang akan kabur. Tapi apa salahnya kalau dia mencoba? Masalah dia kabur apa tidak, itu urusan nanti.
“Vina…!” sesuai dugaan, dia kabur, dia lari langsung balik kerumahnya, padahal dia bareng sama temennya, Teguh juga tak tau siapa temennya itu, yang jelas dia tersenyum ngeliat Teguh, sepertinya itu anak kenal Teguh. “sudah tentu dia kenal sama aku, aku kan orang terkenal, dih GR banget aku ya, sudah ah jadi males aku, mending sekarang aku lanjutin siap-siap,”
Teguh sadar, alasan utamanya pergi karena dia ingin ngelupain Vina, dan sekarang dia pengen ngeliat Vina untuk yang terakhir kalinya, semoga suatu saat nanti, ketika dia bertemu lagi sama Vina, dia sudah berhasil menghapus namanya dari ingatannya, seperti harapannya, dia ngelupain Vina.
Coba bayangkan dan coba rasain betapa sedihnya hati Teguh! sebenarnya dia tak ada niat sama sekali untuk meninggalkan Jakarta, dia bener-bener ingin mengukir namanya di Jakarta, di tanah tumpah darahnya, dia pasti lagi sedih banget saat ini! Tapi dia harus pergi, pergi, dan pergi! Dia tak boleh mencintai Vina. Vina masih kecil, belum saatnya dia di cintai, entahlah, mungkin teorinya salah menyimpulkan, sebenarnya Vina boleh aja di cintai, di sayangi oleh siapa aja, tapi…entahlah, dia sedih banget pasti.
Dengan berat, sangat amat berat dia melangkahkan kaki, kemana saja akan dia pijak tanah ini, dengan tanpa tenaga, dia gontai menahan amarah yang dia coba tuk semua tak dapat mengetahui, seolah dia pergi karena kemauan sendiri, padahal yang dia harapkan dia dapat tetap di sini, meski dia harus merana, itulah jati diri.
__ADS_1
“Tak ingin ku tertawa, tak tau diri, oh…dunia, oh…sang nyawa, oh…pujangga, di mana ku harus berada, di mana ku harus sandarkan segalanya, mengapa? Semua hampa? Semua sunyi? Tak berkata, inikah aku?”
Ia sudah pergi dari kontrakan Maman, Liliknya itu pun ikut nganterin dia naik angkot, anak-anak lagi pada nongkrong di depan, di sana ada Dila, ada Eni, ada orang yang tidak dia kenal, dia yang senyum ngeliat Teguh tadi di depan kontrakan Maman, yang di tinggalin Vina karena takut Teguh panggil, ternyata suaranya menakutkan ya, di sana juga ada Vina.
“Sudahlah! ngga usah ngomongin Vina lagi! Tapi dia ada di depanku sekarang, aku pamitan ngga ya sama mereka? Coba deh!” Pertama dia deketin mereka, Maman juga langsung paham, dia terus berjalan ninggalin Teguh yang mampir ke kumpulan cewek-cewek ini.
“Hai semuanya! Gi ngapain nih?” Vina sudah pengen kabur aja, tapi temennya melarang, di pegang tangan Vina sama tu cewek yang tidak Teguh kenal.
“Dila! gue cabut dulu ya!” dia jabat tangan Dila yang lembut, dengan hampa, “Maaf kalau selama ini gue buat salah sama elu, sama temen-temen elu, kesan yang ngga berkenan di hati elu.” Dila tidak ngomong apa-apa, dia cuman tersenyum terpaksa sama Teguh, terus dia jabat tangan Eni, kakak kandung Vina, sama! Dia juga diem aja, tidak ngomong apa-apa, tanpa, dan hampa, dia menjulurkan tangan ke Vina, tapi sebelumnya dia sempet bergetar kuat di sekujur tubuhnya, tapi dia terus coba menahan getaran itu, dia memaksa tuk berani, dia masih menjulurkan tangan pada Vina, satu, dua, tiga, empat detik tak ada respond, dia cuman sakit hati. Dia pun terima perlakuan Vina. Sekarang dia jabat tangan temen Vina yang sampai sekarang dia belum tau namanya, si teman Vina itu hanya tersenyum manis padanya, sepertinya dia sudah kenal banget sama Teguh, kenapa dia begitu? pasti karena Vina selalu bercerita tentang Teguh ke dia, dia pergi sekarang, tanpa ada harapan, tak ada angan, tanpa maaf, tanpa senyum Vina yang sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya, dalam hati nuraninya, dia sangat Teguh cintai, tapi dia tak boleh mencintainya.
“Inikah cinta yang aku cari selama ini? cinta yang aku cari ngga mungkin membiarkan aku merana, tapi ini? cinta ini sungguh menyiksaku.” dia terus melangkah kedepan tanpa berani melihat belakang, dia takut, Teguh takut dia tidak akan bisa ngelupain Vina. hadapi dengan senyuman aja, tidak selamanya menyerah itu kalah.
__ADS_1
Maman menghantar Teguh sampai angkotnya, namun angkon tujuan blok M masih belum lewat, Terpaksa dia menyerahkan ATMnya sama liliknya, kenapa? Punya utang? Justru itu duitnya belum sampai juga, jadi dia minta duit aja sama liliknya Rp600ribu buat ongkos pergi ke Malaysia, dia pergi ke Malaysia cuman bawa duit Rp600ribu?
***