Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 17 Sejati


__ADS_3

Dari sini lah akhirnya dia mengubah haluan untuk membuat buku, motivasinya membuat buku adalah untuk mencari dana pembuatan filmnya, dia berharap keputusannya tidak salah, dia pun mulai menulis sebuah novel berjudul Bumi Persada, novel ini terinspirasi dari pengalamannya sekolah di sebuah pesantren bernama Al-Zaytun, dia juga sempat mengirim karya-karyanya yang berbentuk buku novel ke penerbit besar di Jakarta, namun tiga kali dia mengirim, tiga kali juga buku itu kembali ke alamat rumahnya, tapi itu tidak membuat Teguh patah semangat.


Maret 2011


Setelah apa yang telah terjadi dengan asmaranya, Teguh pun hanya bisa mengalihkan perhatiannya untuk membuat buku, dia terhibur dengan kedatangan orang dari masalalunya, dia adalah Maryam yang dulu pernah ada dalam salah satu ruang hatinya.


“Halo kak!”


“Halo, ini Iyam? ada apa yam?”


“Kak, Iyam sekarang di Jogja, Iyam boleh main ke rumah kakak ngga?”


“Hah?” Teguh masih belum bisa mengerti arti dari pertanyaan Maryam, dengan kecepatan penuh, rasa perih di dadanya menghilang, serasa dia seperti tercebur ke dalam kolam madu, begitu manis pertanyaan ini.


“Tapi Iyam bareng ma temen Iyam.”


“I…iia boleh lah Yam! Kapan Iyam mau ke sini?”


“Kalau besok boleh kak? Tapi kan Iyam ga tau jalan ke rumah kakak?”


“Iyam naik kreta api aja Yam! Ntar kakak jemput di stasiun kroya.”


“Iya deh, besok kakak jemput Iyam ya!”


“Oke deh!” hape di matikan dan luapan kebahagiaan Teguh pun tertumpahkan dengan teriakan keras di dalam rumahnya, “Iyam I Miss U” saat ini dia sedang kehilangan rasa derita, tak ada satu apapun saat ini yang bisa membuat dia merasa lebih bahagia dari berita dia akan bertemu dengan cinta di masa lalunya. Seakan dia tak pernah merasakan perih karena kesetiaannya sia-sia, dia juga seakan tak pernah merasa kecewa karena perjuangan untuk menggapai mimpinya terhambat karena kemunduran para pemainnya, yang dia rasakan adalah kegembiraan karena besok dia akan bertemu kembali dengan Maryam.


Sebelum Maryam sampai di stasiun dia sudah sampai bersama Manto, kakak kandung Fitri, dia menanti dengan begitu sabar, meski jantung milik satu-satunya terus membuat dia bergetar.


Setengah jam kemudian sebuah kreta api dari Jogja pun berhenti, jantungnya semakin gerdegub kencang, dia pun langsung masuk ke pintu keluar stasiun, matanya terus mencari sesosok cewek yang sangat dia rindukan, dengan teliti dia terus melihat wajah cewek-cewek yang berkerudung.


Usahanya tak sia-sia, dia melihat Maryam dengan temannya duduk di salah satu kursi tunggu yang 25tahun lalu pernah diduduki oleh seorang Kasmini yang sedang mengandungnya, hapenya bergetar, sebuah sms masuk, dia pun melihat isi sms, dari Maryam.


“Kak, Iyam sudah turun di stasiun kroya.” Teguh tak membalas sms itu dia langsung memanggil Maryam.


“Yam! Kakak di sini!” Maryam pun melihatnya, ekspresinya jauh berbeda dengan ekspresi Teguh, senyum lebar terlukis di wajah Teguh, namun Maryam masih tak berubah, dia memang cewek yang super cuek. Tak butuh waktu banyak, setelah melepas kerinduannya pada Maryam, Teguh pun langsung membawanya ke kampung tercintanya Jetis, dia membawa Maryam yang pernah menjadi cewek nomer satu di hatinya ke rumah sederhana miliknya, warisan dari mamanya. Setelah memperkenalkan Maryam dengan orang yang selalu mencintainya Byunge, Teguh langsung membawanya ke tempat sahabat, tempat yang selalu bisa mendengarkan curahan hatinya saat dia sedih maupun senang, dialah Laut di belakang rumahnya,

__ADS_1


“Waow… beneran kak, rumah kakak dekat laut?”


“Memang Iyam kira kakak bohong?”


“Kirain di belakang rumah kakak tu cuman empang, eh ternyata bener ini ada empang Alloh, bagus banget kak, nyesel Iyam datang cuman sebentar.”  


“Ya udah nginep aja Yam!”


“Ngga bisa kak, di Jogja mau ada acara besok pagi.”


“Ya terserah Iyam aja deh.”


Sayangnya Maryam hanya tiga jam di Jetis, tapi Teguh tak pernah mengeluh, bahkan kalau pun dia hanya di pertemukan hanya satu menit atau bahkan satu detik saja dengannya, dia sudah sangat bersyukur, itu tanda bahwa Alloh memang maha Adil.


May 2011


Teguh pun meneruskan rencana untuk membuat buku setelah kepergian Maryam, ini bukan buku pertamanya, tapi ini buku nomer sekian yang sudah dia tulis, dia kembali mengingat masa lima tahun yang lalu, untuk mengingat apa saja yang sudah terjadi di Al-Zaytun, dia harus kembali menghubungi teman-teman sekolahnya dulu, dia pun mengabarkan niatnya membuat buku pada teman-temannya, responnya positive, tanpa ragu Teguh langsung memulai menuliskan cerita yang sudah ada di otaknya. Perlahan tapi pasti buku itu pun sudah mulai ada alurnya, bersetting di sebuah Akademi, yang sebenarnya itu adalah Al-Zaytun, dan mengisahkan tentang perjuangan anak muda Indonesia yang ingin mewujudkan perdamaian untuk Indonesia.


Dalam masa tiga bulan buku selesai di tulis dan dia mulai mempuplikasikannya melalaui dunia maya dia bentuk PDF dan membagikan pada teman-temannya yang ingin membaca karyanya, awalnya dia tidak memikirkan materi, dia hanya ingin berkarya, namun setelah tau respon para pembaca dia akhirnya memutuskan untuk memperbanyak sendiri buku berjudul “Bumi Persada” dan mempublikasikannya ke khalayak masyarakat Indonesia, dia pun pergi ke Jakarta, lagi-lagi dia berhenti meneruskan niatnya setelah dia tau biaya yang harus dia keluarkan untuk memperbanyak bukunya itu.


Waktu terus berputar dengan pasti menemani langkah Teguh Prayitno menelusi hari demi hari, Printer pun akhirnya ikut menghasilkan duit hanya sekedar untuk membeli sebatang rokok yang sudah menjadi teman setianya, tetangga mulai meminta jasanya untuk mencetak foto. Tapi itu tidak bisa membantu Teguh mengejar mimpinya, dia pun mencetak naskahnya, dan hanya dalam waktu tiga bulan naskah itu kembali utuh sampai di alamat rumahnya, dia merasa dirinya memang sedang berada di tingkat terbawah dari semua nasib yang menimpanya selama ini. Mimpinya terkubur di dasar angannya, entah kapan dia akan kembali menggali mimpinya itu.


Saat dia sedang tak mau lagi memikirkan asmara, silih berganti cewek-cewek berharap pintu hatinya terbuka, mereka pun terpaksa tersakiti oleh keputusan Teguh yang akan tetap menunggu cinta sejatinya, saat dia yakin menemukan cinta sejatilah kemudian dia mulai kembali focus pada asmara.


Namanya Rany, dia adalah tetangga Teguh, dia dan Teguh memang tak pernah berjumpa sebelumnya karena Rany selalu di perantauan dia bekerja di Jakarta menjadi seorang pembatu rumah tangga, awal mereka berjumpa adalah di Facebook.


“Rany?” Teguh Inbox Rany di Facebooknya.


“Iya mas!”


“Masih inget sama aku ngga?”


“Iya masih, ini mas Teguh mamasnya Puji kan?”


“Kirain sudah lupa sama aku.”

__ADS_1


“Ya enggak lah mas! Apa kabarnya mas?”


“Baik, Rany sendiri apa kabar?” Teguh mulai berkomunikasi dengan Rany via Online, hal ini bermula beberapa hari setelah hatinya di hancurkan oleh seorang Fitri, namun saat itu Teguh masih belum yakin dengan perasaannya. Teguh selalu komentar pada status Rany, kadang juga Inboxan,


Hari raya id alfitri pun tiba, Rany pun kembali, dia bertemu denga Rany, dia pun canggung karena ada perasaan lain yang dia rasa di dalam dadanya yang belum juga dia meyakini bahwa itu cinta.


Kecewa yang dia rasa begitu dia mengetahui Rany sudah mempunyai Pacar, namun dia masih menaruh harapan padanya, dia menawarkan Rany untuk menjadi model video clip yang sedang dia garap dengan lawan mainnya adalah Fery keponakannya yang ternyata Fery adalah sahabatnya dari kecil.


“Aku ngga bisa mas! Aku kan jelek.”


“Kata siapa Rany jelek, nanti mainnya bareng sama Fery.”


“Sama Fery? Iya deh nanti bagaimana sama Fery.” Teguh belum berani bercerita sama Fery tentang perasaannya pada Rany, mereka pun berlanjut komunikasi dengan hape, mereka pun akhirnya menjadi sahabat lewat udara, mereka saling curhat tentang masalah mereka, perasaan Teguh terhadap Rany semakin membengkak setelah dia merasa mengenal Rany lebih jauh, saat itulah Teguh baru yakin bahwa perasaan itu adalah cinta.


Mereka akhirnya menjadi sahabat yang begitu kental, Teguh pun mulai memberanikan diri untuk curhat pada Rany tentang perasaannya pada seorang cewek yang dia yakin dia mencintainya, tak lain dia adalah Rany sendiri, namun Teguh belum berani memberitahukan nama cewek tersebut pada Rany, dia hanya curhat dan ingin tahu komentar Rany tentang kisah cintanya.


“Rany, Rany percaya ngga sama cerita mamas?” mereka berkomunikasi melalui sms.


“Cerita aja dulu mas! Nanti baru Rany komentar.”


“Dari mana ya mulai ceritanya? Mamas juga bingung mau mulai dari mana.” Teguh memang masih bingung, tapi kemudian dia menyambung cerita itu pada sms berikutnya,


“waktu mamas patah hati, setelah beberapa hari kemudian mamas ketemu sama cewek di Fb, cewek itu sudah lama mamas kenal, tapi mamas lama ngga ketemu.” Teguh masih menyambung ceritanya lewat sms berikutnya,


“mamas seperti ada rasa sama cewek itu, sampai kemudian hari raya tiba, mamas pun ketemu sama cewek itu, ya mamas seneng aja akhirnya ketemu sama dia.”


“tapi sayang, ternyata cewek itu sudah punya pacar, mamas kecewe Ran, mamas selalu berdo’a semoga mereka segera bubaran, menurut Rany mamas jahat ngga?”


“Ya menurut Rany sih jahat sih enggak, cuman namanya mendo’akan orang supaya bubaran ya itu termasuk ngga baik mas.”


“Tapi kan mamas cinta sama itu cewek.”


“Tapi kan ngga seperti itu caranya mas, yang namanya jodoh kan Alloh yang menentukan, kalau mas Teguh emang jodoh sama tu cewek suatu saat nanti pasti akan di pertemukan.”


“Kalau begitu sebaiknya mamas do’akan cewek itu semoga langgeng sampai ke jenjang pernikahan, walaupun hati mamas menjerit.” Berakhir lah komunikasi mereka lewat sms, Teguh mulai menyadari atas kekeliruanya, Teguh di mata Rany adalah jahat, karena dia sudah mau merebut cewek orang lain, Teguh pun jadi bingung, apa lagi yang harus dia lakukan untuk bisa membuat dirinya baik di mata Rany.

__ADS_1


__ADS_2