
Sepertinya perlu pembahasan satu per satu lima cewek yang sedang mengacak-acak isi hati Teguh, mulailah pembahasan ini dari:
Pertama Azka Daulia. Teguh naksir berat sama dia, tapi setelah dia tau siapa Bapaknya, Teguh langsung mengibarkan bendera putih, tandanya Teguh menyerah, karena ternyata Azka adalah putri dari eksponen (istilah pengurus Sekolahan yang Teguh tinggal sekarang Al-Zaytun). dan masih ada empat lagi.
Kedua Phini widayanti. Yang ini, sedikit menakutkan, hampir terjadi pertumpahan darah. Waktu itu anak Theater mau kolaborasi lagi sama anak sastra. Teguh sudah akrab abiz, Teguh dan Phini. Phini pake topi, nah karena Teguh tu anaknya sok usil, di ambilnya lah topi yang sedang di pake Phini secara gerilya, alias tidak di ketahui oleh sang pemakai, Phini terkejut dan langsung mengejarnya,
“Teguh! Balikin topi gue!” Teguh terus berlari sambil ngledek.
“Ayo ambil kalo bisa!” Phini masih mengejarnya.
“Teguh balikin topi gue!” Phini sepertinya mulai emosi, tapi Teguh cuek aja, karena Teguh mengira Phini cuman becanda, ternyata Phini emang marah beneran. Sekarang giliran Teguh yang berusaha mendekati Phini.
“Pini pidi pici, kami datang, kami berjuang, kami menang.” Ternyata usaha Teguh di mentahin sama Phini, usaha Teguh tak guna.
“…” kasian deh Teguh, yah…Teguhnya jadi serba salah, dia kasih aja topi yang sudah dia rebut secara gerilya itu pada Phini. Tapi Phini masih seperti itu, dan yang lebih kejamnya, sampai tiga hari Phini sama sekali tidak mau tersenyum padanya. dia sudah tak tau lagi bagaimana caranya untuk dapat perhatian lagi dari Phini.
Ternyata lebih kejam dari apa yang Teguh bayangkan, dua puluh hari usahanya di mentahkan oleh Phini, layaknya seorang striker sepak bola yang menendang bola ke arah gawang, bola menuju tepat pada sasaran untuk terjadinya gool, tapi lagi-lagi di mentahkan oleh sang kipper, dan hanya menghasilkan tendangan penjuru. Weleh dah klop abiz ya?
Akhirnya dia punya ide, bagaimana kalau dia kirimkan makanan kesukaannya pada hari ulang tahun Teguh yang ke sembilan belas lengkap dengan permohonan maaf, kalau di sepak bola mungkin sama dengan diving agar mendapat penalty, tapi ternyata apa? besok malamnya, dua orang kakak kelas menghampiri kamar di asramanya, Teguh baru balik dari pelajaran malam kurikulum di Al-Zaytun yaitu muhadhoroh, sebuah pelajaran berpidato dan berdiskusi, malam ini adalah malam jum’at, di depan kamarnya sendiri Teguh di introgasi, dua orang kakak kelasnya itu ternyata idolanya di Al-Zaytun, keduanya adalah striker dalam club sepak bola student united, Yakub dan Muji.
“Sorry, apa elu yang namanya Teguh?”
“Iya gue Teguh, kakak…Muji kan? Striker Student United? Ada perlu apa kak?”
“Boleh kita bicara sebentar?” Teguh sedikit curiga dengan nada suaranya, datar, seperti menahan emosi.
“Ya…tentu, dimana? Jangan jauh-jauh, di sini aja!” Muji membawa Teguh ke tangga asrama dengan paksa. “Lho apa maksudnya nih?” sekarang Teguh sedang berhadapan dengan dua orang kakak kelasnya, yang keduanya adalah idolanya, tapi apa maksud mereka memperlakukan Teguh dengan kasar?
“Lu kenal Phini?” Teguh terkejut mendengar Muji menyebut nama cewek yang sampai sekarang masih marah sama dia.
“Phini? Ya, gue kenal dia, kenapa?”
“Dia ngucapin met ulang tahun buat elu, dan makasih makanannya.” Muji masih keliatan menahan emosi. Tapi sepertinya emosi itu sudah tak bisa di tahan lagi, di pegangnya leher Teguh dengan kasar, “Lu apain Phini selama ini?”
“Apa maksud elu kak?” Teguh menahan tangan Muji sekuat dia bisa, agar dia bisa bicara, sambil dia ikut emosi.
“Ngapain lu rampas topi yang sedang di pake Phini?” sekarang dia sudah tau titik permasalahannya.
“Lepasin kak!” Teguh mencoba merayu Muji dengan halus, tapi itu tak mempan, “Aku bilang lepasin!!!” kali ini dia memerintah Muji dengan cara kasar, di dorongnya tubuh Muji yang ngga jauh beda dengan postur tubuhnya. “Aku ngga pernah ngerasa ngerampas topi dari Phini.” Teguh masih emosi, tapi dia masih bisa mengontrol diri. “Dari mana lu tau ini? Emang lu siapanya?”
“Gue nganggep dia seperti adek gue.”
“O…ceritanya dia ngadu lah sama kakaknya.”
“Nah lu siapanya?”
“Lho kok nanya gue? Lu tanya lah sama adek lu itu, tapi yang jelas gue baru kenal dia, dan sekarang gue sudah kenal banget sama dia, bukan dia saja, tapi kakaknya juga.”
__ADS_1
“Dia ngga suka cara elu ngerampas topinya…”
“Sekali lagi gue bilang sama elu kak, gue ngga ngerampas topinya!” Teguh memotong kalimat Muji dengan cepat sambil dia menudingkan jarinya ke wajah Muji.
“Terus apa dong ngambil topi yang sedang di pake secara diam-diam?”
“Ya gue cuman bercanda, layaknya seorang temen.”
“Elu suka sama Phini?” Teguh terkejut lagi dengan pertanyaan ini, dia perlu berfikir dulu sebelum menjawab.
“Suka? gue baru kenal sama dia kak, semestinya gue harus tau dulu dong siapa dia.”
“Terus kenapa lu deketin dia?”
“Eh kak, kalo elu sendiri, ngga ada masalah tiba-tiba ada orang marah sama elu, sedangkan yang marah itu temen baru yang baru beberapa hari elu kenal, apa yang akan elu perbuat? Pasti elu lakukan apa yang sudah gue lakukan kan? Oke, kalau emang gue salah, gue minta maaf.” Muji langsung diam, sedangkan Yakub masih tetep diam di samping Muji, persis seperti kambing congek, “Puas lu?! Sorry gue masih ada kerjaan yang jauh lebih penting dari pada ngelayanin kalian di sini.” Teguh pergi ninggalin idolanya dengan menabrakan dua bahunya di antara dua orang itu. Mungkin kalo di ibarat kan lagi dalam sepak bola, si striker yang tadi diving kena batunya, dia di keluarin dari lapangan, dan dia di kartu merah. Dua orang sudah tersaring, sekarang siapa lagi? Melangkah ke cewek berikutnya, Kalau yang ini sangat sederhana.
Ketiga Ises Trisnawati. Teguh naksir pada kedewasaannya, Ises percaya banget sama dia, kepercayaanya hanya untuk urusan curhat tapi Teguh malah mengartikannya dengan lain pengertian. Setelah Teguh memberi saran pada Ises, memberi pendapat yang brilliant, dan Ises menjalankannya, ya walaupun dengan cowoknya bisa putus, tapi ternyata, Ises langsung mendapat penggantinya, ya jelas bukan Teguh lah. Hanya saja Teguh merasa kecewa, tapi di dalam hati Teguh tak ada rasa menyesal, toh apa yang sudah Teguh berikan pada Ises berbentuk pendapat benar adanya, bahwa setiap lelaki hanya membutuhkan kejujuran dari hati seorang wanita yang di cintainya, sepertinya sama Ises tak ada cerita, Ceritanya hanya Ises jadi temen baik Teguh.
Tinggal dua, sekarang lah grand final yang sangat menegangkan.
Keempat Lejarti Senyum dan usilnya lah yang sudah ngerebut perhatian Teguh, waktu itu kan akhirnya Teguh dapat kesempatan jalan bareng sama mba Lee untuk pertama kali, sebenernya dia sudah rada curiga dengan logat mba Lee, senyumnya selalu ngebuat jantungnya berdebar kencang.
“Sudah lama mba Lee ikut bola?”
“Jangan panggil aku mba dong Guh!”
“Kalau panggil aku Lejarti susah ya Guh?”
“Ngga sih, pengen aja kasih nama kamu.” Repot amat sih banyak protesnya. Lagian juga sih, orang punya nama kok di kasih nama lagi, kalo bapak ibunya tau bisa di labrak lho.
“Aku sudah agak lama juga sih ikut bola. Kalau kamu, siapa nama kamu?”
“Teguh! Kalau panjangnya Teguh Prayitno.”
“Beneran namanya tuh? Bagus juga sih!”
“Ya beneran lah, ini nama dari mamaku lho, bagus kan?”
“Perasaan aku pernah lihat kamu deh, tapi di mana ya? Kalau ngga salah kamu kan yang pensi kemaren bermain drama berperan jadi cowok yang terpaksa memilih cewek yang sebenarnya ngga kamu cinta, setelah itu cewek yang kamu cintai menyesal. Kalau ngga salah juga yang judulnya ‘Aku Bukan Untukmu’ lagunya Rossa kan?”
“Wah…ternyata kamu hebat ya mba, eh maksud aku Lejarti, ternyata kamu selama ini perhatian ya sama aku.”
“Aku kan ngefans banget sama kamu.”
“Ah yang bener?” Teguh jadi salting deh, “ Kalau emang benar, sekarang juga kamu minta sesuatu sama aku, apa aja, aku pasti bakal mengabulkan permintaanmu.”
“Bener nih Guh?”
__ADS_1
“Kok Guh sih? Emang kamu kelas berapa?”
“Kelas satu, iya deh kak Teguh, kalau begitu aku mau coklat silverquin .”
“Itu saja? Ngga ada yang lain? Kalau gitu hari rabu minggu ini kita ketemu, bagaimana?” Lejarti masih mikir.
“Oke deh kak. Makasih ya!” Lejarti merasa senang, tapi sepertinya ada sesuatu yang di rahasiakan dari Teguh.
Hari Rabu, Bukan sekedar hari Rabu saja, tapi sekarang adalah hari Ulang Tahun Teguh yang ke 19.
“Mana coklatnya?”
“Ada, tenang aja, tapi ada syaratnya.” Lejarti kaget, tapi tidak sampe jantungan kok, cuman matanya sedikit jadi melotot, “Kamu mau kan?” Lejarti sudah mulai menduga-duga.
“Nih coklat pesenanmu, sekarang syaratnya, kamu harus…” sekarang Lejarti sedang tegang ‘jangan-jangan aku di tembak nih?’ pikirnya, kemudian Teguh melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti.
“…kamu harus ucapin selamat ulang tahun padaku, karena hari ini aku ulang tahun!” Teguh mengulurkan tiga bungkus coklat, dan Lejarti menerimanya, sekarang Teguh masih menunggu ucapan met ultah dari Lejarti, lama Teguh nunggu, tapi Lejarti masih diam.
“Kalau kamu ngga mau ngomong sekarang juga ngga apa-apa kok, besok jum’at malam kan ada pertandingan bola kamu datang ntar ya!, dan kamu ucapin met ultah buat aku, gemana?”
“Iya deh besok aku datang aja ke stadion, tapi aku ngga janji ya!” ini juga bisa di bilang emang Teguh itu Idiot, bagaimana tidak, dia ulang tahun hari ini tapi orang lain boleh ngucapinnya dua hari lagi. Aneh bin ajaib.
“Ya sudah sampai jumpa jum’at malam ya, aku tunggu lho.” Sekarang Teguh ninggalin Lejarti, terlihat jelas di raut wajah Lejarti, dia seperti baru keluar dari sarang harimau. Teguh emang berharap banget sama Lejarti secara yang lain sudah gagal dia dapat.
Sekarang sudah malam jum’at nih, sekian banyak penonton yang datang tak satupun yang wajahnya seperti Lejarti, tapi Teguh masih tetep nunggu kedatangannya.
“Teguh Prayitno, lu sedang apa? Yuk naik ke tribun, dah mau mulai tuh bolanya!”
“Iya bentar lagi Ar!” Teguh masih mondar-mandir di di bawah dom tribun. “Kok Lejarti belum datang juga ya Ar?”
“Lupa kali Guh, pasti dia datanglah, Kan dia dah janji.”
“Dia bilang ngga janji Ar.”
“Kalau begitu kenapa Lu masih nunggu dia? sudah yuk naik ah!”
“Bentar lagi deh Ar!” ternyata yang datang dua teman Lejarti.
“Kak Teguh nunggu Lejarti ya? Kata Lejarti met ultah, sorry dia ngga bisa datang, dia demam, sorry banget katanya.”
“Ya makasih ya!”
“Tu kan apa gue bilang?”
“Lu ngga bilang apa-apa kok?” Teguh akhirnya naik ke tribun, sedangkan Arsyi ngikutin dia di belakangnya sambil terus tertawa. Sebenarnya Teguh sudah menduga, Teguh bahkan sudah yakin sekali kalau Lejarti berbohong. Tapi Teguh bukanlah tipe cowok yang mudah menyesal.
***
__ADS_1