
Kelas I SMP, Lugu? sudah pasti, culun? Yongkru! Namanya juga anak baru. Semua anak baru pasti lugu, culun, penakut, atau pengecut, tapi lain dengan Teguh Prayitno, pertama masuk SMP dia pemberani, dia tantang kakak kelasnya, tapi sebentar dulu, kita bukan berbicara soal otot, tapi kita sedang bicara soal otak, jadi waktu Teguh baru masuk SMP dia rada sedikit sombong, kenapa begitu? Karena dia ngerasa lebih pintar dari yang lain, bahkan dia lebih pintar dari kakak kelasnya, parah kan? bayangin aja, selama dua tahun dia jadi rangking di kelas, dan NEMnya jauh di atas rata-rata kelas, dan yang bikin dia makin sombong adalah dia dapat NEM tertinggi di kampung bukan hanya di kelas saja, wah makin membusung aja dadanya, wajar lah, waktu itu dia belum mendapat ilmu agama yang cukup di tambah lagi pengalaman pahit yang dia alami dalam keluarganya, dan apa yang menjadi pertarungan antara Teguh dan sang kakak kelasnya? pertama mata pelajaran matematika, dan sang hasil Teguh berhasil mengalahkan sang kakak, makin besar kepala dia, makin melambung kesombongannya, kok bisa dia menang dari kakak kelas? Sebab soal-soalnya berasal dari pelajaran matematika kelas lima SD, ya wajar kan, kakak kelasnya sekarang kan sudah kelas dua SMP, pasti dia dah lupa dengan pelajaran SD, apa lagi rata-rata anak SMP sekarang kan sukanya ngeluyur, mbolos.
Sementara Teguh yang menang, sekarang giliran Teguh yang mengikuti pelajaran SMP, dan yang menjadi medan peperangan kali ini adalah Bahasa Indonesia, yaitu menulis novel, ‘gila’ Teguh terkejut bukan main, ‘apa itu novel?’ Teguh tidak tau sama sekali, ya perlu di maklumi juga, dia sekolah SD di kampung, dan sekarang dia SMP di Al-Zaytun, murid di sana mencapai 1800 lebih, itu baru satu angkatan Teguh, kakak kelasnya hanya berselisi sedikit jumlahnya dari angkatannya.
Peperagan di mulai, dan Teguh di beri waktu selama satu bulan untuk menggarap sebuah novel, ya seperti seorang pengembara yang tersesat di tengah hutan dia mencari jalan keluar dari hutan, nah dia pun mencari petunjuk-petunjuk yang mengarah ke novel, hingga akhirnya ada sebuah pengumuman di majalah dinding sekolah tentang pembukaan generasi baru Theater, ‘nah apa lagi tu theater?’ Teguh penasaran, dia ikut aja ternyata dia bertemu dengan sang kakak kelas yang sedang bertarung membuat novel dengannya di sana.
__ADS_1
“Lho kak Akmal? Kakak di sini?”
“Eh Teguh? Iya lah kakak kan emang pengurus Theater ini, bagaimana novelnya? sudah jadi?” sama sekali dia belum berbuat apa-apa untuk pertempuran kali ini.
“Sorry kak, saya belum mengerti apa itu novel.”
__ADS_1
Selama dia menjadi seorang murid di Al-Zaytun ini, dia selalu teringat dengan mamanya, Kasmini, dan dia juga masih belum bisa melupakan dosa besar yang telah dia perbuat, meninggalkan mamanya seorang diri dengan Jengad manusia yang paling dia benci di atas bumi ini, dia tidak tau bahwa mamanya sudah tidak lagi dengan Jengad, hingga suatu hari sepucuk surat dari mamanya sampai di tangan Teguh, dalam surat itu tertulis bahwa mamanya yang berterimakasih padanya atas apa yang sudah dia perbuat padanya, Kasmini juga mengabarkan pada anaknya bahwa dia sudah mengusir Jengad dari rumahnya, kebahagiaan yang luar biasa tersirat di wajah Teguh Prayitno, apa yang dia harapkan sudah terkabulkan.
Sekarang Teguh lebih focus pada pelajaran di sekolahnya, teman perlahan dia dapat kan dari berbagai penjuru dunia, karena Al-zaytun muridnya bukan hanya dari Indonesia saja, dari Malaysia dan berbagai negara lainnya.
Dia juga masih berkomunikasi dengan Sri Paryani dan Dwi Septiani melalui surat pos, karena saat ini hendpon masih belum popular, mungkin sudah banyak beredar namun di Al-Zaytun tidak di perbolehkan siswa memiliki handpond. Teguh masih tetap memikirkan cewek yang dulu pernah dia taksir, dialah Kuwat yang bernama asli Tri Nur Hayati, tak segan dia pun menanyakan kabar Kuwat pada dua sahabatnya itu, setelah sekian lama dia masih memikirkan Kuwat, dari itulah kemudian dia menetapkan bahwa cinta pertamanya adalah Kuwat, meskipun cinta ini tak pernah di ketahui oleh Kuwat.
__ADS_1
Liburan sekolah semester pertama tahun pertama, semua murid di Al-Zaytun sudah pulang ke asal mereka masing-masing, tinggal beberapa orang murid saja yang tertinggal di sana tapi Sunar bapak Teguh belum juga menjemputnya, dia sudah merasa sangat kangen pada mamanya, dia ingin segera bertemu dengan Kasmini, dia pun merasa sedih selama seharian dia menunggu bapaknya belum juga kunjung datang, tinggal dia sendiri di kamar asramanya, dia pun tak kuasa untuk menahan kesedihan ini, dia menangis sendiri di kamar tanpa seorang pun yang tau bahwa dia sedang sedih sampai akhirnya dia pun tertidur.
***