Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 14: Namanya Attin (2)


__ADS_3

Baru beberapa hari dia di sini, tapi rasa ingin pulang ke Jetis semakin menjadi, sekarang mereka karyawan kebun lagi kerja mencabut pokok anggrek yang sudah tua, kawasan milik Siska, cewek satu-satunya yang masih belum bersuami, yang ternyata dia juga adalah orang Jetis, kabarnya dia memang masih bocah banget, bagaimana tidak? Dia sekarang aja baru berumur enam belas tahun, seharusnya kan dia masih duduk di bangku sekolah, ternyata ada cerita di balik kedatangannya ke Malaysia, dan sebab utamanya adalah karena dia anak tunggal, dia di tinggal ke dua orang tuanya semenjak dia masih kecil, bukan kecil lagi, tapi semenjak bayi, nasibnya sama seperti Teguh, pasti dia juga merasa tertekan, menurut cerita yang Teguh dengar dari orang-orang di sini, dia pergi kesini belum tamat sekolah, dia masih kelas dua SMA, kok jadi ngebahas Siska sih? Kembali ke benang merah, Teguh lagi kerja cabut pokok di kawasan Siska, lumayan berat, seluruh pakaian jadi berwarna hijau, mana sekarang sedang musim hujan, kan kasihan Kasmini, kok kasihan Kasmini? Ya iya lah kan yang nyuci pakainnya Kasmini mamanya, yang mau Teguh di sini kan mamanya itu yang menjadi alasan Teguh untuk menutupi kemanjaannya terhadap mamanya bila di katain orang lain, lagian juga, Kasmini nyucinya kan pake mesin cuci, jadi tidak terlalu berat.


Sekarang dia lagi mencoba mengikat segulung pokok, nanti dia seret sampai ke jalan, di jalan nanti dia naikan ke atas demper, nah demper itu sejenis kendaraan yang di gunakan untuk mengangkut sampah dan membuangnya ke tempat sampah, pokok tua yang sekarang sedang dia ikat ini adalah termasuk sampah, karena sudah tidak berguna lagi. si Deglag salah satu teman serombongan Teguh, dia sedang ngangkatin pokok naik ke atas demper, tidak pake baju lagi, sudah kurus, tidak mau pake topi, kulitnya hitam, nanti malah jadi makin hitam dia, bosnya masih berdiri aja di sebelah kawasan, dia sudah seperti patung bertolak pinggang, terkadang suka marah-marah.


“Dah pegi minum kopi sana!” nah itu bos yang ngomong, itu artinya mereka istirahat, “Nanti air buang putih obat akar daun pake keran ya!” mereka langsung pada bubar, seperti tawon bubar kembali ke kongsi masing-masing, Teguh juga tinggalin pokok yang sudah dia ikat dengan tali tambang, “Teguh, Dekong, dan kamu Rasno.” Teguh di panggil bos, di suruh ngapain ya? “Kalian besok ikut ke kota tinggi ya! ikut Bantu taruh baja, masih kurang orang di sana.”


“Iya bos, kami bertiga saja?”


“Banya kok, dengan kalian ya jadi dua belas orang, besok kalian berangkat pukul enam pagi, terus cop, habis tu berangkat ke kota tinggi, selesai balik lagi ke sini dan cop lagi.” Jam enam? Itu kan berarti masih pagi buta? Tapi mau bagaimana lagi ini kan printah dari bos, sepertinya ke dua temen Teguh juga happy-happy aja, tidak ada reaksi menolak sama sekali, kalau begitu besok dia tidak kerja di kebun orchid ini, tapi kerja di kebun sawit di kota tinggi, kenapa di kasih nama kota tinggi ya? mungkin karena kota itu terletak di dataran yang tinggi kali, tidak tau lah, mending lihat besok aja ya.


Bener-bener masih pagi buta, mana hujan lagi nih, sekarang jam setengah enam pagi, dia sudah bangun, ‘makan dulu tidak ya? tapi tidak ada makanan yang bisa di makan’ Teguh ragu mau makan, sekarang pak Parno, orang yang serumah sama Teguh belum balik, dia jam tiga tadi sudah pergi kerja, katanya sih kerja mun, tidak tau mun tu apa? Tapi kemarin pak Parno bilang sih sejenis bakteri, ‘mending sekarang aku nanak nasi aja lah, nantikan begitu pak Parno balik kerja, nasi sudah masak, aku gimana? Makan mie rebus aja, mie instant, iya deh, ntar dulu nanak nasi dulu baru ngrebus mie.’ Teguh sibuk dengan pikirannya.

__ADS_1


Lumayan kenyang, tapi resikonya kalau makan mie tu kenyangnya tidak lama, jadi ya siap-siap lah laper lagi.


“Guh! Bangun! Berangkat yuk!” seperti suaranya kang Yono.


“Iya aku sudah bangun kang!” langsung aja dia keluar rumah, hujan masih deras, lebat banget, ‘apa jadi pergi ke kota tingginya nih? Ah sudah lah, sekarang mending segera pergi ke office’.


“Kang! Tungguin!” kang Yono sudah di depan agak jauh, dia pake payung, Teguh tidak punya payung, ‘lewat selasar rumah kongsi aja’ Teguh pun menelusuri selasar rumah, si Salim masih di rumah salah seorang yang ikut pergi ke kota tinggi.


“Iya sebentar, tanggung nih.” Dia lagi nyabutin janggut, Teguh pun mampir nungguin Salim, dia masuk ke rumahnya ikut duduk.


“Di rumah sendirian gini Guh, repot, biasanya apa-apa tinggal makan, sekarang ya harus masak dulu.” tidak nyambung amat sih ni anak, orang lagi nyabutin jenggot, eh yang di obrolin masakan, Salim tu tinggal dengan abangnya, nah abangnya tu ada istri di sini, jadi kan istri abangnya yang selalu masakin, sekarang abang sama istrinya lagi balik ke Indonesia, jadi sendiri dia, di luar seperti ada orang lagi jalan, dia lihat ternyata si Dekong.

__ADS_1


“Kong!” dia ngeliat Teguh yang memanggil.


“Ayo! Ngapain di situ?”


“Lagi nungguin Salim Kong! Lim! Yuk!” si Salim lihat jam dan kemudian dia bergegas bangun, dia tinggalin alat-alat pencabut jenggot, di atas TV di rumah ini, hujan kelihatanya memang belum reda, jadi dia langsung masuk ke bawah payung yang di bawa oleh Dekong, mereka menelusuri kawasan bunga anggrek, sesampai di office, rupanya semua orang sudah berkumpul, card absent mereka sudah di cop kan, jadi mereka langsung masuk ke dalam Van, sejenis mobil carry kalau di indon, Van ini memuat dua belas orang plus satu sopir. Teguh duduk di jok paling belakang bertiga dengan Rasno dan Dekong.


“Yes! Yes! Gue tidak nyangkul!” Rasno seneng banget kayaknya, karena dia hari ini tidak nyangkul di kawasan Siska yang sedang di cabut pokoknya, karena sudah seperti biasanya kalau kawasan di bongkar pasti langkah berikutnya adalah di cangkul, biar tanahnya bergunduk lagi, habis itu baru di tanami pokok bunga anggrek yang baru, Van pun bergerak menuju kota tinggi, ini adalah pengalaman baru buat mereka. Rasno dan Dekong adalah teman serombongan yang baru datang juga dari Indonesia


Van berbelok ke kanan, ini sudah di kota tinggi, Van sudah mengarah ke kebun yang mereka tuju, sebuah kebun kelapa sawit yang akan di taruh baja, serombongan lembu sedang cari makan, tidak ada pengembalanya, mereka seperti liar, tapi sebenarnya mereka ada yang punya, gimana tuh? Liar tapi ada yang punya? Terus kalau yang punya mau nangkep tu lembu gimana? Gampang aja, tinggal tembak aja, beres deh! tidak di sembeleh? Memangnya hahal? Bukan begitu, tapi begini, lembu itu di tembak dengan bius, jadi kalau di tembak, lembu itu tidak mati, tapi pingsan aja, habis itu di bawa ke tempat penyembelehan hewan, karena ternyata menyembelih hewan di Malaysia tu tidak bisa sembarangan, ada tempatnya tersendiri, Van pun terpaksa berhenti, nunggu si lembu bubar, karena sebagian lembu ada yang di tengah jalan, sebentar lagi Teguh dan temen-temennya akan sampai tujuan.


***

__ADS_1


__ADS_2