Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 12: Keberanian (2)


__ADS_3

lumayan jauh jalan ke jalan raya, sampai di jalan raya mereka naik angkutan umum, lumayan ada seprapat jam naik angkutan umum, tadi jalan kaki dari rumah juga lumayan, sekarang sudah sampai di depan kantor Ida buka pintu gerbang, rupanya kantornya tidak besar, mungkin ini cocok kalau di bilang perumahan kantor.


“Bawa siapa bu?” seorarang satpam mencoba bertanya sama Ida tentang siapa orang baru yang di bawa bersamanya.


“Anak OB baru pak! Pak Yasin jaga pagi ya? o iya ni kenalin Guh! namanya pak Yasin.” Teguh jabat tangan satpam yang postur tubuhnya tidak terlalu gede, ‘sepertinya dia itu tidak cocok jadi satpam deh,’ Teguh mulai usil dengan pikirannya, ‘dia kurus, kecil, kalau ada apa-apa gimana? Tapi ngga parlu aku perdulikan dia, aku ke sini untuk cari kerja bukan mengkritik seseorang.’


“Teguh Prayitno pak! Cukup panggil Teguh!”


“Nama saya Yasin Nur Anas, saya tau, kamu pasti mengomentari penampilan saya kan? Saya kecil, kurus, tapi walau begitu saya bisa jadi satpam lho mas.” Wah hebat ni orang bisa baca pikiran Teguh rupanya dia, tapi Teguh sepertinya tak peduli dengannya, dia langsung masuk ke dalam kantor ini. di gedung ini ada tiga lantai, dia naik tangga menuju lantai dua.


“Lu tunggu di sini dulu ya Guh! mana berkas-berkasnya?” Teguh keluarkan sebuah amplop besar yang di dalamnya sudah ada semua dokumen pribadinya, KTP, Ijazah Al-Zaytunnya, dan surat lamaran pekerjaan serta selembar riwayat hidup.


“Gue ngapain nih Da?”


“Tunggu gue di sini.” Teguh langsung duduk di sebuah bangku panjang di depan ruang kantor, di belakangnya dinding, dan di sana ada papan pengumuman, tapi dia tak perduli, sekarang dia duduk diam aja di kursi ini, terdengar suara ramai dari arah tangga, karyawan kantor ini baru pada sampai.


“Tunggu siapa mas?” seorang lelaki lumayan besar badanya nanya ke Teguh.


“Ini pak, saya… saya mau melamar pekerjaan.”


“O…sudah ketemu dengan ibu Lily? Siapa yang bawa?”


“Ida pak!”

__ADS_1


“O ibu Ida, saya Aji, ya di tunggu ya! sebentar lagi Bu Lily sampai kok, saya masuk dulu ya!”


“Iya pak!” Lelaki itu ramah banget sama Teguh, ‘apa semua karyawan di sini seperti dia ramahnya?’ tanyanya dalam hati, tak lama kemudian seorang cewek seumuran Ida lewat di depannya, dia senyum sama Teguh, Teguh balas senyumannya.


“Da! Ida! Lu Bo’ong ya?” cewek itu langsung masuk ke ruangan di mana Ida tadi membawa amplop yang berisi berkas-berkas milik Teguh, cewek itu manis, rambutnya lurus, berkacamata, di jidadnya ada phoni, badanya sedikit gemuk, pipinya tembem, kayak bak pau, tak lama kemudian Ida keluar membawa semua berkas-berkasnya, dia juga bersama cewek yang memberi senyuman pertamanya pada Teguh dengan geratis.


“Nih Guh! yang asli masukin lagi ke tas, photo copynya aja yang di masukin ke amplop!” Teguh ikuti arahan dari Ida, “O iya Guh! nih kenalkan! Ini ibu Lasmi! Mi, ini Teguh, Teguh Prayitno” Teguh menjabat tangan Lasmi, lembut tangannya, “ sudah ngga usah kelamaan jabat tagannya Guh! dia di sini terus kok, ngga bakal ke mana-mana.” Tau aja Ida, kalau rupanya memang Teguh sengaja lama-lamain pegang tangannya, tapi kemudian mereka menuju ke lantai tiga, karena mereka naik tangga, sekarang Teguh kan ada di lantai dua, kalau naik tangga itu kan sudah pasti naik ke lantai tiga, lama lagi dia sendiri, seorang ibu-ibu naik tangga dari lantai bawah, sepertinya dia itu yang namanya Ibu Lily, tidak terlalu tua, tapi juga sudah tidak muda, dia cina, dia senyum sama Teguh, Teguh senyum juga. Ida turun lagi, sekarang dia turun dengan cewek yang lain lagi, badannya tak terlalu tinggi, rambutnya tidak panjang, di rambutnya ada penjepit rambut.


“Peh! Nih kenalin, partner elu yang baru.”


“Hai… Zulfah!”


“Teguh Prayitno!” mereka berjabatan tangan, ‘lumayan juga, dia cantik tapi kurang tinggi,’ dasar Teguh! Semua orang dia kritik,


“Ida!” seorang dari dalam ruang kantor keluar, “Temen elu di suruh masuk.”


“Tu Guh! masuk sana!” dia pun masuk ruangan dengan penuh ketegangan.


Setidaknya dia sudah punya alasan kuat untuk mempertahankan dirinya supaya bisa lebih lama tinggal di Jakarta, karena Kasmini sudah bilang, bahwa dia dalam waktu dekat ini akan di buat kan permit, atau visa, kalau visanya turun, itu artinya dia akan segera menetap di Malaysia, setidaknya satu tahun dia tidak bisa ke Indonesia, dan itu sama juga artinya dia akan jadi bunga bangsa, sama juga dengan TKI, alias tenaga kerja Indonesia, si pahlawan devisa, hebat jadi pahlawan. ‘Itu aku pikirkan nanti lagi, yang penting sekarang aku harus focus pada misiku’ misinya adalah mempertahankan diri tetap di Jakarta, lupakan tentang visa, permit, atau apalah ***** mbengek yang bisa mengusik keberadaannya di Jakarta ini, yang pentingkan sekarang dia ada di Jakarta, sekarang apa yang harus dia lakukan? Sekarang dia mau balik aja ke kontrakan Maman, siapkan diri besok mulai kerja, stamina harus terjaga, tapi kelau dia balik ke rumah kontrakan Maman, mau ngapain? Toh Maman juga lagi kerja, Akhirnya ITC fatmawati adalah tujuan berikutnya, kali ini dia akan menemui orang yang pernah dia cintai dengan cinta yang sungguh luar biasa, Ayu lah orangnya.


tentang ayu sudah habis, dia sudah bisa melupakan ayu seperti cewek-cewek lain yang pernah singgah di hatinya, kemarin setelah bertemu dengan ayu, dia sudah tidak merasakan sesuatu yang dulu pernah dia rasakan, mungkin karena kali ini ayu sudah resmi menjadi istri danang, cowok yang selalu di sanjung oleh ayu di depan teguh, ayu juga sudah mengembalikan buku novel tulisan tangannya, dan dia hanya bilang.


“bagus kok novelnya mas! menyentuh banget, itu novel tentang mas teguh ya?” dan teguh tidak menjawab, “ayu minta maaf kalau ternyata selama ini ayu sudah menyakiti hati teguh.” teguh masih diam tapi kali ini dia tersenyum, dia pun merasa puas karena dia berhasil menyampaikan apa yang dia rasakan lewat tulisan tangannya, bukan surat tapi novel. baginya cukup ayu yang membaca karyanya yang satu ini, karena karyanya yang satu ini memang dia dedikasikan untuk seorang tri ratna astuti hartayu.

__ADS_1


***


sekarang dia mau kerja lagi, dia habis makan siang, kenyang, habis makan nasi bungkus lauknya telur, sudah hampir satu bulan dia jadi ob di kantor wadas, setelah dirasanya ternyata enak juga jadi ob, banyak tip nya, masalah makan juga sudah terjamin, ini aja nasi bungkus yang baru dia makan tidak beli pake duitnya sendiri, jadi tadi tu si risman, salah satu karyawan wadas nyuruh dia beli nasi bungkus, ceritanya begini.


“guh! nasi satu, sayurnya orek aja, lauknya ikan bawal, kamu terserah pake apa, sama es teh dua, buat kamu satu.” si risman kasih duit teguh rp15.000,00 buat beli semua pesanan risman rp6.500,00, es rp2.000,00 masih rp6.500,00 dia cukup nasi sayur daun singkong dan telur bulat satu, rp4.500,00 masih lebih seribu, dia mau kembalikan tu lebih duitnya.


“nih masih lebih seribu,…” belum selesai dia ngomong, si risman sudah motong.


“buat elu aja guh!” terus dia senyum sama teguh, begitu, jadi hari ini dia dapat makan siang geratisan, tapi tidak setiap hari, kadang sama sekali tidak dapat tip, kadang dapat lebih dari rp40.000,00 lumayan juga, jadi aslinya pendapatannya lebih banyak dari karyawan wadas, tapi ya gitu deh, dia jual harga dirinya, dia harus mau di suruh ini, di suruh itu, walau begitu dia tetap mencoba menjadi orang baik, jadi orang yang jujur, kemarin dia juga dapat pelajaran kusus dari zulfa, seniornya, kemaren dia kan habis belikan pak wily rujak, salah seorang karyawan wadas juga, karena dia belinya lima ribu, ya dia bilang sama pak wily harganya segitu, begitu dia ketemu sama zulfa, dia nanya.


“habis beli apa guh?”


“rujak, buat pak wily.”


“berapa harganya?”


“lima ribu.”


“lu bilang ke pak wily berapa?”


“ya lima ribu lah.”


“bodoh lu guh!” kaget kan? kok si zulfa bilang teguh bodoh? “harusnya lu jangan terlalu jujur guh! lu sudah rendahin harga diri elu, lu harus tukar harga diri lu dengan duit mereka, seharusnya lu bilang ke pak wily harga rujak itu 6 atau 7ribu lah, kan lumayan.” kenapa zulfa ngajarin dia untuk bohong? tidak mempan! dia akan tetap jadi orang yang jujur,

__ADS_1


***


__ADS_2