
Makan lagi, dia pasti sudah lapar benget, padahal dia tadi pagi makan jam delapan, sekarang sudah lapar lagi, tu anak-anak yang lain juga sudah ngambil jatahnya masing masing, dia juga mau ngambil, masih ada tiga lagi, ada yang mau? Tapi sepertinya jatahnya sudah pas deh, lain kali aja ya, ni khusus buat mereka yang lagi kelaparan, ambil satu terus gabung lagi sama yang lain, mereka pada makan di pingir rumah ini, di dalam rumah hawanya panas banget, memang panas, dia buka baju, yang lain juga pada buka baju, dia buka juga bungkusan nasinya, ‘wah banyak banget nasinya, wah lauknya doble, ada ikan laut, ada ayamnya juga, ada sayur daun singkongnya juga, tau aja kalau aku suka sama daun singkong’ girangnya dalam hati, langsung aja dia lahab makanannya, anak-anak yang lain sudah selesai makan, mereka merehat kan badan mereka, masih mencoba membuang kringat yang menempel di badan mereka, terlihat juga si Salim yang badanya sudah berbentuk, cocok banget kalau dia jadi binaraga, badannya kayak kodok ijo, membentuk mblenduk, kayak badanya Ade Ray, Teguh sudah selesai makan, ‘kenyangnya…’ dia minum dulu nih ada yang menyedu extra joss, beruntung banget dia ya, ‘wah kalau begini mah aku sudah siap bertempur lagi, aku akan hadapi terik matahari demi masa depanku yang cerah, hahahaha…’ sombongnya dalam hati.
“Ayo semua dah selesai makan kan? Kita mulai kerja lagi ya!” mereka semua bersiap kerja, semua bersemangat, mereka berangkat ke kawasan lagi, matahari sedikit muram, karena ada awan yang datang menutupinya, andai saja cuaca seperti ini akan sampai sore nanti. Dua belas orang dari orchid dan tiga orang dari kawasan ini, jadi semuanya ada lima belas orang, semua mulai bekerja, mereka sudah ada dua trela baja yang siap untuk di taruh, Teguh pegang cangkul, seperti biasa mereka berenam, Teguh, Dasimin, Bisri, Yono, Teguh gendut dan Rifa’i.
Sudah sampai di kawasan, mereka semua turun, mulai menimbun lubang-lubang yang sudah di isi baja oleh teman-teman. Waktu terus bergulir, awan semakin menghilang, udara semakin panas di rasa oleh tubuh mereka, angin pun tak bertiup dengan sempurna, terkadang bertiup terkadang tidak, kringat terus mengucur dari tubuh mereka, air yang tersedia di trela sudah hampir habis, perut mereka pun terasa kembung, badan mereka semakin lemas, mereka semua merasakan hal yang sama.
“Katun! Air minumnya habis nih!” seperti biasa, Teguh gendut adalah satu-satunya orang yang berani bicara sama Katun, setiap ada apa-apa dia yang turun tangan, Katun pun langsung menelpon seseorang, tak lama setelah itu sebuah kreta datang menghampri mereka semua, satu beledi air mineral di keluarkan dari dalam kreta, mereka langsung menyerbu beledi berisi air mineral, selesai minum, perut makin kembung, badan jadi lemas, tapi mending, sudah tidak haus lagi, mereka mulai kerja lagi, Teguh masih pegang cangkul, jadi tugasnya masih sama seperti tadi, yaitu menimbun lubang-lubang di sekeliling pokok sawit yang sudah di taruh baja.
__ADS_1
“Guh! Lu lemes nggak sih? Gue kok lemes banget ya?” Bisri nanya ke Teguh, sudah hampir satu jam semenjak mereka minum air tadi, ya sudah tentu dia lemes banget, dia sudah pengen jatuh.
“Gue sudah lemes banget nih Sri, kang Yono! Duduk dulu ya! lemes nih!”
“Duduk aja! aku juga sudah lemes banget.” Yono langsung duduk di bawah pohon sawit yang masih pendek-pendek, terlihat wajah Yono sudah merah banget, sudah kayak warna tomat mateng, kan kulit Yono aslinya putih, kena panas begini ya sudah otomatis jadi merah, Teguh sudah tidak kuat lagi, dia ikut duduk di samping Yono, Bisri juga sudah duduk, Teguh gendut mana sama Dasimin? Wah tu dia, mereka juga sudah pada duduk, noh disana, di pohon sawit yang depan, Rifa‟i masih semangat, dia masih menimbun lubang, bener-bener, panasnya bukan main, panas banget, sudah duduk di bawah pokok sawit pun masih panas aja, udaranya nih yang tidak bisa kompromi, angin juga sama sekali tidak ada, matahari masih aja bertengger di sana, padahal tadi sekitar jam satu awan masih banyak, sekarang sama sekali tidak ada.
“Woi…ada yang pingsan nih!” ‘hah ada yang pingsan? Siapa ya? seperti suara Dekong, emang dia Dekong’ o alah… Rasno, dia di Bantu sama Dekong jalan, lha mereka jatuh bareng, mereka akhirnya berlindung di bawah pokok sawit seperti yang lain, Rasno rebahan di bawah pokok sawit.
__ADS_1
“Kenapa lu No?” Teguh tanya dengan lemas.
“Lemes banget Guh! Gue ngga kuat nih, besok gue ngga ikut lagi lah Guh!” terlihat si Dekong juga di sampingnya dia juga rebahan, Teguh bingung mau ikut rebahan di mana, ‘tu di bawah trela pasti adem’ dia rebahan di sana, dia langsung masuk ke dalam kolong trela, dia lemes benget, dia langsung rebahkan tubuhnya di bawah trela, dia lemaskan seluruh tubuhnya, relax, tidak bertenaga sama sekali, blank…
“Ayo lembu…lembu…bangun lembu…kerja lagi!” ini suara Katun, wah parah nih masak mereka di panggil lembu, semuanya, semua orang di sini di panggil lembu sama dia, kurang ajar tu cina, coba kalau dia bukan mandor di sini, sudah mereka hajar dia, tapi ya mau gimana lagi, memang ini nasib mereka, mereka kan emang lembu, mereka orang yang hanya bisa di suruh-suruh,
“Guh! Bangun! Trelanya mau di nyalakan tuh.” Rasno memperingatkan Teguh, dia langsung bangun, mending, sudah tidak terlalu lemes bisa lah kalau sekedar menimbun lubang yang sudah berisi baja, sebentar lagi jam tiga, nanti mereka pasti kan istirahat lagi, mereka melanjutkan pekerjaan mereka, trela sudah menyala lagi berjalan di antara pohon-pohon sawit.
__ADS_1
Tadi sudah makan roti, Teguh habis empat bungkus, sekarang sudah kerja lagi, sudah jam setengah empat, sudah mending, sudah tidak panas kayak tadi, semua orang sudah semangat bekerja, mereka ada di atas trela, Teguh sekarang bertugas mengisi beledi kosong dengan baja, mending begitu, yang capek tangannya, kakinya tidak capek, kan di atas trela, trelanya yang jalan, terlihat si Rasno mendekati Katun, mau ngapain dia ya? lho kok si Rasno di kasih air minum, itu kan 100plus wah habis ini Rasno pasti bakal tidur nyenyak nih, rupanya dia laporan sama Katun, dia sudah tidak kuat lagi mungkin, tu kan, dia tidak bekerja lagi, tapi dia duduk di salah satu lubang di pinggir sawit, eh dia bukan duduk tapi dia tiduran, kasian banget tu anak, pasti dia capek banget, yang lain melanjutkan kerjanya, biarin Rasno merilekan dirinya, yang lain tidak boleh iri sama dia, walaupun mereka tau kalau upah dia dengan mereka sama, tapi mereka juga harus tau, kalau dia adalah teman mereka yang sedang kecapean, mereka juga capek sebenarnya, tapi mereka masih sanggup bekerja. terlihat si Rasno, dia sudah tidur, ‘mimpi indah ya No!’
***