
Kembali lagi ke kawasan orchid, sekarang dia sudah capek banget, jam sepuluh, pasti Teguh sudah laper banget, dia sudah sampai di kongsinya lepas sepatu dulu, habis itu dia mau makan.
‘coba lihat nasinya ada ngga? Nah ada, lauknya apa? Coba lihat di wajan, wah mana wajannya? Rupanya tidak ada lauk hari ini, ya sudah lah masak mie aja, coba lihat di kotak mie, lha! tidak ada juga, bagaimana ini? tidak ada sesuatu buat di jadikan lauk, mau ke kantin jauh, pasti tidak sempat, istirahat cuman lima belas menit, ya sudah lah kalau begitu aku harus makan, kalau ngga? aku bisa pingsan di kawasan nanti tapi mau makan pake apa? Nasi doank? Ya tidak nafsu lah, ya sudah lah.’ sebenarnya Teguh sekarang sedang marah, tapi dia mau marah sama siapa? ini kan emang kesalahannya sendiri, kenapa dia tidak masak tadi pagi, kenapa juga dia tidak ke kantin semalam? Harusnya dia tu teliti, sekarang mau tidak mau dia harus makan.
‘lihat di tempat bumbu-bumbu masak, ada cabe, bawang merah, bawang putih, mrica pala, kemiri, tumbar, yang kira-kira bisa di buat lauk tu apa? Buat sambel aja apa ya? aku ngga suka banget sama yang namanya sambel, habis mau makan pake apa? sudah sekarang aku ambil nasi dulu.’ dia ambil nasi dengan setengah hati, begitu dia merasa cukup, dia lihat lagi tempat bumbu masak di dapur, dia korak-korek lagi tu sebuah kotak bumbu masak, ya akhirnya dia ambil dua bawang merah, dia ambil pisau dia kupas tu bawang, sudah dia kupas dia campurkan ke atas nasi, habis tu dia buka sebuah toples yang berisi garam, dia ambil garam secukupnya, dia taruh di salah satu sudut piring berisi nasi itu, yang sebenarnya piring itu tidak pernah ada sudutnya, piring kan bentuknya bulat, dan di manapun tempatnya, yang namanya bulat itu tidak ada sudutnya. Kembali ke sekolah lagi nih, dia langsung membawa piring itu ke ruang tamu, yang di sana ada dua sofa yang sudah bobrok, tapi masih bisa di pake buat santai. Dia duduk di atas sofa, piring berisi nasi itu dia letakkan di atas meja, dia lihat lagi nasi dan bawang merah serta garam di salah satu sisi piring itu.
__ADS_1
‘ingin rasanya aku menangis yang keras, biar orang tau kalau aku lagi sedih banget, nelangsa aku, ini kah Malaysia? Inikah yang namanya merantau? Ini kah yang namanya membanting tulang? Ya aku akui, sekali lagi ini salahku sendiri, tapi bukan kah… entahlah, aku tak tau mau ngomong apa lagi’ dia suap kan nasi putih ke dalam mulutnya yang sebenarnya di dalam mulutnya sudah banyak nasi yang sedang dia kunyah, tidak ada gairah sama sekali untuk menelan nasi ini, dia tahan amarah yang ada di dalam dadanya, bergejolak di dalam dadanya, sakit rasanya, dan perlahan air matanya menetes, dia sudah tidak bisa menahannya lagi, dia coba menghapus air matanya dengan bajunya, dia memang harus belajar bersabar, kalau memang hal ini harus dia alami, maka dia harus mengiklaskan semuanya, nasi sudah habis, matanya masih basah, dia mau cuci muka dulu, habis itu berangkat lagi ke kawasan, belum habis ngobat, dia berangkat lagi dengan hati yang sedikit tersayat.
Semua kawasan sudah di semprot, sekarang dia mau ke kawasan Siska, biasa, macul, kan kawasannya belum habis, semua temen-temennya pasti sudah di sana, itu mereka sudah mulai mencangkul tanah di kawasan Siska, oke mumpung lagi bicara tentang Siska, sekalian nerangin tentang dia, Teguh pernah ketemu dengan seorang bidadari di Jetis. Itu lho waktu dia mencoba keliling kampung naik sepeda, ternyata dia namanya Attin dan dia ternyata masih bersaudara dengan Siska, sedikit banyak dia cerita tentang Attin sama Teguh, baru sekali ngeliat dia masih tetap ingat hebat memang Teguh, dan Teguh jadi tau kalau ternyata dia itu mantannya Wiwit, tetangganya di kampung, Wiwit sekarang kerja di Malaysia, dia kerja satu tauke dengan Teguh, Teguh di orchid Wiwit di belakang, kerjanya membuat makanan Babi, sekarang lupakan Wiwit dan Attin, kembali ke Siska, dan ternyata lagi dia waktu di rumah pernah berpacaran dengan seorang temannya yang namanya Agus, dan memang Agus adalah teman sekelasnya waktu SD, sekarang Teguh sudah sampai di kawasan, dan tugasnya sekarang adalah mencangkul.
November tanggal 3, bulan ke dua untuk Teguh di kebun orchid ini, besok pak Parno akan pulang kampung, jadi sekarang di rumah kongsi ini ramai tamu, mereka mau memberi pesangon untuk pak Parno, dia pulang karena ada kabar dari rumah kalau mamanya pak Parno meninggal dunia, dia ikut berbela sungkawa atas meninggalnya mamanya pak Parno, tetangga-tetangganya yang di kampung berdatangan, salah satunya adalah Jarko, Jarko itu rumahnya persis di depan rumahnya pak Parno, Jarko anaknya seperti sudah dewasa, walaupun usianya masih sama dengannya,mereka teman ngaji waktu masih kecil dulu, Jarko itu hebat memainkan piano, berminat lah pada musik.
__ADS_1
“Bener kata Jarko Guh! Jangan ngandelin orang lain, kalau kamu ngga mau kelaparan seperti beberapa hari yang lalu, kamu harus rajin masak sendiri, memang kemarin tu saya sengaja ngga masak, saya sengaja masak nasi aja, biar pikiran kamu terbuka.” Ooo rupanya mereka sengaja membuat dia kelaparan beberapa hari yang lalu, keterlaluan sekali mereka, okelah dia terima nasehat dari Jarko dan dia juga akui kalau dia malas masak, dia akan latihan masak sendiri dia akan ingat kejadian di mana dia makan nasi hanya dengan bawang merah dan garam, sakit hati dia, sekarang baru dia tau kalau dia di kerjain, tapi ya sudah lah dia ambil hikmahnya, dia tidak akan ulangi sejarah ini.
Baru semalam dia bilang kalau dia terima semua nasihat dari Jarko, dan dia juga akui kalau dia emang pemalas, eh sekarang apa? Pak Parno sudah pulang kampung, tapi Teguh kecewa banget sama dia, bukan apa, dia mengadukan semuanya sama Kasmini, apa yang terjadi? Baru saja Kasmini telpon ke Teguh, dia nangis, dia menangisi nasib Teguh, dia tidak terima kalau Teguh di kapokin, di kerjain di biarin kelaparan, Kasmini menangis sampai tersedu-sedu, dia tidak terima, Teguh malas lagi tinggal bareng sama pak Parno, dia mau pindah kongsi saja, pak Parno di kampung mungkin dua bulan, begitu dia sampai sini lagi nanti, dia pasti sudah tidak bareng lagi sama Teguh, dia sedih, dia sedih banget ngedenger isak tangis mamanya, Kasmini menangis gara-gara dia, entah berapa banyak air mata Kasmini terbuang, sekarang air mata itu harus di buang lagi dengan sia-sia, hanya karena dia tau Teguh di kapokin,
‘Ya Alloh… kenapa sih nasib hamba selalu saja membuat mama hamba menangis? Padahal hamba selalu berusaha untuk selalu menjaga hatinya.’
__ADS_1
Gajian lagi, sudah dia ambil semua gajihnya bulan ini, sisahnya lumayan banyak, sisah dari potongan permit, ini pasti karena kebantu sama kota tinggi kemarin dulu itu yang memakan korban Rasno, jadi Rasno tu pingsan, tapi berkat dia lah, mereka jadi merasa tertolong, yang jelas dia tak akan mau lagi kesana.
***