
April 1999
Saat ini Teguh Prayitno sudah menjadi seorang bocah yang berusia 12thn, Apa yang paling istimewa bagi seorang anak lelaki yang beriman? Pertanyaan untuk para lelaki yang baru akhil baligh, Saat akan di sunat! Ya bener sekali, setiap kalian yang ingin di sunat pasti akan merasakan hal yang sama, takut, senang, dan selalu bertanya-tanya ‘sakit tidak ya?’ itulah yang di rasakan oleh seorang Teguh Prayitno bocah, kelas 5SD, masih kecil memang, tapi dia memberanikan diri untuk di Khitan. Keinginan yang terbesar saat ini bagi Teguh kehadiran Bapaknya adalah segalanya. Tapi sampai saat ini posisi Bapaknya saja dia tidak tau di mana, tapi Teguh pernah menerima sepucuk surat dari Bapaknya, surat itu berisi kabar bahwa Sunar sudah menikah dengan seorang perempuan berdarah Jawa Timur bernama Monika, setelah dia menerima balasan surat dari Kasmini, dia pun memutuskan untuk mencari pengganti mamanya Teguh. lekas begitu dia ingat surat itu, dia pun mencarinya, begitu lama dia mencari, dari mulai isi lemarinya, sampai ke isi tas sekolahnya dia keluarkan, dan hasilnya nihil! Tidak ketemu, wah akhirnya dia putus asa. Bunuh diri tidak, gantung diri? Atau nyemplung sumur? Atau tidur di jalan raya biar di tabrak mobil? Kan biasanya orang putus asa begitu? Gila aja, tidak segitunya kali?! Teguh bukan tipe orang seperti itu, walau dia putus asa dia masih inget sama yang menciptakanya, dia di ciptakan oleh sang maha Pencipta itu untuk menerima cobaan, untuk bersabar, dan tentu untuk beribadah kepadaNYA, akhirnya dia coba membuka laci lemari yang emang isinya sudah di keluarin semua, lacinya copot, ada amplop putih kusam di bawah laci, tergeletak bercampur debu, di pungut lah sang amplop, di tiuplah permukaan amplop yang ada tulisan alamat rumah, ‘fuhhh…’ sekumpulan debu langsung beterbangan, tampak jelas lah sang alamat di tulis di permukaan amplop kusam itu. ‘jln suka slamet no 166, Desa Suka Jati, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kode pos 45264’. Kalau di lihat dari alamatnya, seperti dalam pedesaan banget.
Kegembiraan menyelubungi ruang hati Teguh Prayitno, karena di hari yang bersejarah nanti akan hadir orang yang sangat istimewa untuknya, segeralah Teguh memberikan alamat kusam itu pada sang mama.
“Ma! Lihat! Teguh menemukan alamat Bapak!” Kasmini pun menerima selembar amplop lengkap alamat mantan suaminya itu.
“Iya deh nanti mama langsung tulis surat buat Bapakmu!”
“Bener ya ma!” dengan anggukan mamanya Teguh merasa bahagia sekali.
Tapi, sampai hari bersejarah itu tiba, bapaknya tidak juga nampak, kini Teguh sungguh merana, semua angan-angan yang sudah terlukis di otak Teguh kecil kini sirnah sudah, kerinduan Teguh sudah membara, dia marah pada mamanya, dalam hatinya dia menuduh mamanya tidak kirim surat untuk bapaknya, dan Teguh tidak berani untuk mengungkap kemarahanya langsung, karena dia tau dia mengerti, rumahnya kini sedang ramai orang, semua orang dari berbagai kalangan hadir di sana, bagi seorang Teguh kecil mereka tidak ada artinya sama sekali. Yang dia tunggu hanya Bapaknya saja, bapak, bapak, dan bapak. Tidak ada yang lain. Dan sekarang dia ingin mencari tempat yang sepi, rumah orang lain lah tujuannya, karena semua tetangganya ada dirumahnya, dia tanpa ragu mengeluarkan, menumpahkan air matanya, meluapkan kemarahanya, bayangkan, selama bertahun-tahun bapaknya tak pernah menemuinya, dan kini dia ingin mengukir sejarah lelaki pun dia tak datang menemuinya, dia masih terus menangis, hingga datang orang-orang yang menyayanginya, mereka berusaha merayu, membujuk, menghiburnya.
“Guh, bapakmu mungkin sedang sibuk, dia pasti datang! Jangan gitu dong Teguh! Kamu tu lelaki, masa nangis?” ini adalah nasehat dari uwa’ Tengul, yang selalu perhatian padanya, dia berbadan besar, suaranya besar, pemain ketoprak adalah profesinya, eit! Jangan salah ya! bukan penjual ketoprak! Tapi pemain ketoprak, itu lho yang suka manggung, ya sejenis sandiwara, terus wayang orang, Kadang juga main kuda lumping, pokoknya serba bisa, tapi nasehat itu tidak bisa memadamkan bara rindu Teguh pada bapaknya. Tapi kemudian Tengul memberi dia uang sebesar Rp2000.
“Nih buat beli mie Ayam, sudah sana! Tidak usah nangis, uwa’ ngga suka liat keponakan lelaki uwa’ nangis.” Suaranya sangat keras, Teguh pun menerima uang dari Tengul tapi dia tetap murung.
Kini giliran sepupunya, yang bernama Ami widayanti, anak dari kakak mamanya juga tapi dari ibunya, Sisum, dia sangat perhatian pada Teguh, kalau kakak kandung Teguh masih ada pasti usianya sama dan tentu bodynya juga sama, cantiknya juga sama donk! akhirnya Ami juga berusaha menghiburnya.
“Guh! Bukan kamu saja yang sedih, kakak juga sedih karena mamanya kakak tidak ada di samping kakak saat ini.”
“Tapi kak! Teguh sudah bertahun-tahun tidak pernah ketemu Bapak, bahkan hari yang sangat penting ini pun dia tidak bisa mendampingi Teguh.”
“Kakak ngerti Teguh, kakak paham, tapi semestinya Teguh bisa dong buat mama tenang, bisa tersenyum, bisa ikut bahagia, karena mulai hari ini Teguh bukan lagi anak kecil, Teguh sudah dewasa, Teguh harus sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan mana yang harus Teguh lakukan.” Teguh sedikit tersentuh oleh kata-kata kakak sepupunya itu, sekarang dia mulai tenang, namun belum setenang air laut yang terlihat biru.
Endingnya bapaknya Teguh tidak datang, memang bapaknya Teguh sudah tidak perduli kali sama Teguh? Mangkanya Bapaknya tidak datang, dan itu membuat Teguh sedikit murung, di kelas dia selalu banyak diam, berbada dengan Teguh yang biasanya. Ke empat sahabatnya lah yang selalu menghiburnya, begitu kesedihannya sembuh karena hiburan dari sahabatnya, Teguh merasa sangat berterimakasih pada mereka, ternyata mereka berempat lebih ngerti dari pada mama ataupun Bapaknya.
“Gi!”
“Apa!”
“Aku minta rambutmu satu boleh?”
__ADS_1
“Buat apa?”
“Ada deh!” Teguh mencabut satu helai rambut Sugi dari kepalanya, Sugi pun tidak menolaknya.
“Au... sakit Guh! Kamu cabut berapa emangnya?”
“Ah Kamu cengeng! Ya cuman satu, nih kalau tidak percaya!”
Kemudian dia mendekati Lasino yang sedang serius menulis tulisan pak Guru Amir yang sudah di tulis di papan tulis.
“No!”
“Hmm...”
“Aku minta rambutnya satu ya!”
“Ambil aja! Satu aja tapi ya!” teman Teguh yang satu ini, masih juga focus pada pekerjaannya, sampai mereka kelas lima pun Lasino masih terlihat kecil, entah apa sebabnya dia belum juga tumbuh besar.
“Makasih ya No!”
“Udah kok.”
“Enak! Ambil lagi aja!”
“Ah kamu bisa aja, ntar kalau di cabutin semua, kamu bisa jadi botak lho.”
“Mana mungkin! Kalau kamu baru mungkin, kan biasanya orang pinter tuanya jadi botak, nah kalau kamu kan sudah dua tahun ini jadi rengking satu terus, ntar tuanya botak lho.”
“hahaha...” keduanya tertawa bersama, Lasino jadi lupa dengan pekerjaannya.
“Ya sudah kamu lanjutin nulisnya, aku sudah selesai dari tadi, o iya mau jajan apa nih? Aku traktir deh! Aku kan masih banyak uang pesangon sunat kemaren.”
“Tidak usah repot-repot Guh! Kalau mau traktir, langsung belikan aja tidak usah repot-repot kasih tau aku, soalnya ngga akan di tolak, hahaha...”
__ADS_1
“Yah sama aja No!” keakraban mereka memang sangat kental, giliran Teguh mendatangi ke dua teman perempuannya, Sri Paryani dan Dwi Septiani, keduanya hampir sama postur tubuhnya, tinggi badanya, ramping perutnya bahkan rata dadanya, hanya saja rambut Dwi jauh lebih kriting dari pada Sri.
“Lagi pada ngapain nih?”
“Emangnya kamu tidak melihatnya kak?” Sri Paryani menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Lihat apa?”
“Lha wong kita lagi makan jajan begini kok di tanya ‘lagi ngapain?’ ya sudah tentu lagi makan jajan.” Dwi membela sahabat karibnya.
“O begitu jadi aku tidak boleh mengganggu nih?”
“Ya boleh aja sih, tapi traktir kita dulu dong! Kan Mas Teguh habis jadi penganten sepit, pasti lagi banyak duit nih!” Dwi mencoba merayunya,
“Ya kalau itu syaratnya mah kecil! yang penting sekarang aku mau minta satu helai rambut pada kalian.”
“Mau buat apa Guh! Buat di guna-guna ya?”
“Gila aja kamu Wi! Emang aku ini dukun apa?”
“Habis mau buat apa mas?”
“Buat di satu kan dengan rambut-rambut ini.” Teguh menunjukan dua helai rambut Sugi dan Lasino.
“Maksudnya?” Sri Paryani masih belum mengerti juga.
“Supaya kita akan tetap menjadi sahabat, saudara selamanya.”
“O begitu? Mau di cabutin apa cabut sendiri?”
“Cabut sendiri aja deh.” Teguh pun mencabut rambut dua sahabat perempuannya satu helai-satu helai, “Nah sekarang giliran rambutku.”
Setelah dia menyatukan lima helai rambut itu dan mengikatnya bersama, Teguh pun membuangnya, itu artinya rambut mereka tidak akan pernah terpisah dan Harapan Teguh, apa pun yang akan terjadi kelak, mereka adalah sahabat yang harus saling membantu satu sama lain.
__ADS_1
***