Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 13: Fitri bukan Shireen (3)


__ADS_3

Mushola Samsul Ma’arif, Teguh ada di situ sekarang sebentar lagi taraweh akan di mulai, sekarang orang-orang sedang melaksanakan sholat sunah ba’da ‘isya dua rakangat, dan dia tidak melaksanakannya, karena itu sunah dia tidak akan berdosa, dia lagi ngeliatin Fitri, anaknya di luar mushola, karena mushola ini kecil, jadi di halaman mushola ini di pasang tratag, atau kata orang Jakarta tenda lah, tapi ini atapnya dari seng, dia lagi bercanda, dia pake mukena, cantik, dia cantik banget, dan kalau terus di perhatikan, wajahnya tu mirip banget sama si Shireen Sungkar, sepertinya Teguh sudah bener-bener tertarik dengan Fitri, dia mulai menyadarinya, tapi ada satu hal lagi yang harus dia sadari, Fitri baru kelas I SMP, dan dia sudah lulus SMA, sudah dua tahun lagi, dia masih terus ngeliatin Fitri, ikomah di lantunkan oleh bilal, dia harus bangun dan mulai niat sembahyang taraweh,


Selesai taraweh dia lihat lagi Fitri, entah kenapa dia tak ada bosennya ngeliatin wajah Fitri, dia manis, dia cantik, bilal melaksanakan tugasnya lagi, tapi dia belum mau memalingkan penglihatannya ke wajah Fitri, Fitri sudah berdiri, dia ingin kembali niat sholat taraweh, tapi tiba-tiba dia duduk lagi, sepertinya dia ngeliat Teguh, dia tau kalau Teguh sedang memperhatikannya, dia tersipu malu, terus dia ngeliat Teguh, Teguh pun tersenyum penuh kebahagiaan, entah apa ini, dia tak tau, ‘apa dia yang selama ini aku cari-cari, tapi apa mungkin aku punya seorang kekasih yang baru masuk dunia SMP? Emang di bawah langit ini, ngga ada yang ngga mungkin.’ dia terusin sholat, dia sudah telat.


Taraweh sudah bubar, dia pulang jalan kaki, di sampingnya ada makhluk paling cantik di hatinya, dia adalah Fitri, dia deket banget sama Teguh, sekarang aja Teguh sedang ngobrol sama dia, anak-anak yang lain sebagian di depan dan sebagian lagi ada di belakang, mereka terus jalan kaki menelusuri jalan yang belum beraspal, memang dia tu masih kecil banget, kekanakannya masih melekat di pribadinya, dia sekarang lagi cerita tentang sandal, dia sedang kepingin sandal kayak punya Cinderella, tapi yang berwarna pink, dia sudah cari di pasar, tapi tak ada yang dia suka, dia juga lagi ngambek sama mamanya, terus dia juga lagi mau beli kamus bahasa inggris, tapi di pasar tidak ada yang jual, besok kan dia mau ke kroya, dia mau ambil duit di ATM, sekalian mau beli karcis kreta api yang bisnis, bukan yang kayak kemaren waktu dia dari Jakarta. Teguh ajak Fitri ke kroya, jangan tanya kenapa ngambil duit harus ke kroya! karena sudah pasti di kampungnya ini belum ada Bank. Teguh sudah sampai di depan rumahnya, tapi dia masih kepengin dekat dengan Fitri, jadi ya dia belum mau balik, dia ikut Fitri.


“Itu rumah mamas sudah sampai mas! Kok masih jalan?”


“Mamas mau nganterin Fitri samapi depan rumah Fitri, boleh kan?”


“Ngga boleh, ntar mamas baliknya jalan sendiri lho.”


“Biarin, mamas ngga takut.”


“Ya terserah mamas.” dia terus ikut ke rumah Fitri.


“Besok sore deh mamas ke rumah Fitri, Fitri siap-siap ya! sekitar jam empat lah.” Fitri mengangguk sepanjang jalan mereka terus ngobrol, tak terasa sudah sampai di depan rumahnya.


“Dah sana mamas pulang, kan Fitri dah sampai rumah, makasih ya sudah mau nganterin.”


“Sama-sama, mamas juga makasih karena mau nemenin mamas.” Dia masuk ke rumahnya, dia riang benget, sepertinya dia seneng banget karena bisa jalan bareng sama Teguh.


Celana jins warna biru, dan kaos oblong warna hijau, dia memang tidak jago masalah pakaian, yang penting kelihatan rapih aja, dia lagi ke rumah Fitri, sudah jam empat sore, mungkin Fitri sudah siap, dia emang sudah siap, dia pake baju yang dia beli di Jakarta kemarin lusa, ‘ya Alloh, betapa cantiknya perempuan yang kau ciptakan ini.’ dia anggun, celana jins biru, dan baju panjang warna pink, rambut panjangnya di ikat ke blakang, kalau rambutnya di biarkan terurai malah lebih cantik lagi, tapi katanya risih, tidak nyaman, ya sudah itu kan style yang dia suka, karena Teguh tidak punya motor ya pinjem sama abangnya Fitri, sebenarnya tu motor bukan punya abangnya Fitri, tapi itu motor bapaknya abangnya Fitri ya sama saja itu juga motor Fitri, dia langsung saja bawa Fitri dan motornya ke kroya.

__ADS_1


Sampai juga di depan bank BNI cabang kroya, motor dia parkir di depan bank itu, rupanya antri, sekitar delapan orang ada di depannya, dia lihat Fitri masih duduk di atas motornya, dia nungguin Teguh, sepertinya dia kelelahan, gimana enggak, jarak antara jetis dan kroya tu hampir sebelas kilometer, kalau di hitung dengan waktu hampir setengah jam, perlahan orang di depannya semakin berkurang, dan tibalah gilirannya, dia keluarkan sekeping kartu ATM, dan dia masukkan ke dalam mesin ATM, transaksi pun berlangsung, dia lihat sisa uang yang ada di ATM, masih tiga ratus ribu labih, dia ambil dua ratus ribu, cukuplah untuk beli karcis, dan beli sandal buat Cinderellanya ini, dan sebuah kamus untuk belajar si geniusnya ini, serta untuk beli oleh-oleh buka puasa untuk yang dia sayangi ini. transaksi selesai, dia mundur dan menuju ke Fitri, sekarang dia mau ke stasiun dulu, dia langsung menuju ke stasiun, samapai di stasiun dia langsung ke loket, dan Fitri seperti biasanya, dia masih di atas Motornya.


“Jakarta satu bu! Yang bisnis.”


“Delapan puluh ribu dek!” dia keluarkan dua lembar lima puluh ribuan, dia ambil karcis dan kembalian uangnya, dan dia langsung menuju ke motor, langsung menuju ke sebuah toko swalayan di kroya.


Masuk ke tempat parkir, mereka turun berdua, mereka masuk bareng ke dalam pusat perbelanjaan, tak sadar Teguh menggandeng tangan Fitri, Teguh kaget, dia refleks, tapi Fitri ngerasa nyaman dengan gandengan tangan itu, jadi dia tetap pegang tangan Fitri, dia juga ngerasa nyaman, mereka langsung menuju tempat di mana ada sandal yang di cari oleh Cinderellanya ini.


“Nih Fit, sandal yang kamu cari, muat ngga?”


“Pasti muat lah mas, malah kegedean nih mas, cari yang pas aja mas.” Dia cari sendiri sandal itu, sandal yang Teguh pegang dia letakkan lagi di tempatnya semula. “Mas, nih bagus ngga? Warnanya Pink.” Dia senyum sama Teguh, dia manja sama Teguh, Teguh seneng ngeliat dia begitu, langsung aja mereka ke petugas penjaga sandal ini.


“Ni mba! Satu.”


“Sudah di coba belum?”


“Di coba dulu! Kalau sudah di bawa pulang ngga boleh di kembalikan lagi.” Fitri langsung mencobanya.


“Bagus ngga mas?”


“Iya bagus, kayak Cinderella.” Fitri tersipu malu ngeliat wajah Teguh yang langsung memasang wajah tersenyum lebar.


“Ya bungkus mba!” nah sandal sudah di ketemukan, sekarang waktunya mencari kamus, mereka langsung menuju ke tempat buku-buku. Langsung aja kamus itu di ketemukan, dia ambil kamus terbesar dari semua kamus yang ada.

__ADS_1


“Yang ini Fit?”


“Iya mas, yang itu” langsung dia bawa ke petugas, dan petugas langsung membungkusnya, mereka beralih ke tempat makanan, mereka tidak beli apa-apa di sana, soalnya, tuan putrinya ini tak mau di belikan apa-apa lagi, dia ambil aja sebotol sirup untuk buka puasa Fitri. mereka keluar, ambil motor di tempat parkir, hari semakin gelap, sekarang sudah jam setengah enam, kreta apinya berangkat dari stasiun kroya jam delapan seperempat, awalnya dia mau cari buah di pinggir jalan, tapi sudah tidak ada penjual buah di tepi jalan, jadinya ya dia langsung labas ke kampungnya, sampai di rumah hampir jam enam, ayah dan mamanya Fitri sudah nungguin mereka di teras rumahnya, Fitri turun langsung menunjukan apa yang Teguh belikan buat dia.


“Habis berapa semuanya Fitri? Ma! Ambil duit di dalam ganti duit mas Teguh.”


“Ngga usah kang! Itu ngga seberapa kok.”


“Jangan begitu, kamu kan dapat duit dari bekerja.”


“Ngga usah bener kang! Ngga usah, lagian itu kan Saya kasih ke Fitri sebagi kenang-kenangan, bentar lagi saya ke Jakarta lagi, besok saya sudah ke Malaysia. Bener kang! Saya iklas kok! Kapan lagi saya bisa belikan oleh-oleh buat dia.”


“Ya sudah kalau ngga mau, ati-ati di jalan ya!” dia pulang dengan jalan kaki, karena sepeda yang dia bawa tadi sudah di ambil sama Puji, tapi belum sepuluh langkah dia pergi dari rumah Fitri, Fitri sudah menyusulnya dengan motornya, dia naik di belakang Fitri, sampai di depan rumahnya, dia turun dan dia ajak Fitri ngobrol lagi.


“Tahun depan bisa ngga kita jalan-jalan lagi kayak tadi?”


“Ya ngga tau.”


“Mudah-mudahan bisa ya Fit, Fitri bakal kangen ngga sama mamas nanti?”


“Kalau kangen sih pasti mas, kita kan bakal jauh, makasih ya mas, atas semuanya, mamas baik banget deh.” Dia masukan gigi satu, Teguh terpaksa melepas dia pergi, karena adzan magrib sudah berkumandang, mereka harus berbuka puasa, dia pergi, dia pun masuk rumah, barang yang mau dia bawa sudah siap dalam satu tas rangsel, dia batal kan puasa, sholat magrib, dan makan malam, habis itu ayahnya Puji keluar mencari motor, tak lama kemudian Wagio kembali membawa motor, dia pamit sama byunge, neneknya yang paling dia sayang, sama Puji, dan sama Edi adiknya Puji, dia peluk erat tubuh byunge, Byunge menangis.


“Hati-hati ya nak! Yang betah kerja di sana! Salam buat mama kamu!”

__ADS_1


“Iya Yung! Do’ain Teguh biar jadi orang yang sukses.” dia cium kening byunge, byunge cium kedua pipi Teguh, Teguh pun keluar rumah, naik motor yang akan di setir oleh Suami Kamisah, Kamisah sendiri sekarang ada di Jakarta. Keluarganya baru tahu kalau Kamisah di Jakarta satu bulan yang lalu, mereka semua memang masih belum tau kenyataannya, tentang Kamisah mempunyai anak bukan dengan suaminya, Teguh sendiri saat ini masih kecewa dengan Liliknya itu, bila ingat apa yang terjadi di Malaysia setahun yang lalu, rasanya dia tak mau lagi mengenal Kamisah, dia memang tidak tau alasan Kamisah melakukan hal ini, entah masalahnya apa dengan suaminya, kini dia cuek dengan Kamisah dia tidak akan perduli lagi dengan Liliknya itu, dia pergi ke Malaysia pun tidak pamit padanya, padahal tempat kerjanya tidak jauh.


***


__ADS_2