
Maret 2007
Hingga saat ini dia belum juga bisa mendapatkan pekerjaan, dia hidup di Jakarta karena kiriman duit dari Kasmini, ibu kandungnya yang sangat menyayanginya, meskipun selama ini Kasmini sudah berusaha sekuat dia mampu untuk membujuk anaknya mau menurut dan ikut dengannya, namun dia masih mengalami jalan buntu, Teguh masih saja berobsesi pada dunia entertainer, dia juga sempat ikut dalam sebuah group agent peran figuran bernama Warna Entertaint, dia juga sudah mempunyai teman band, dan nama band mereka adalah Pegazus band, sayangnya Teguh tidak sama sekali mempunyai ilmu tentang dunia tarik suara.
Meskipun Kasmini tak pernah mendukung apa yang di lakukan oleh anaknya, tapi Maman, dia sangat mendukung apa yang di lakukan oleh keponakannya itu, selama di Jakarta Teguh tinggal di kontrakan liliknya itu, tapi yang jadi masalah adalah istri dari Maman yang kedua, dia tidak pernah akur dengan istri liliknya itu.
Dan sekarang dia sedang di landa badai asmara, bukan pada Titi, tapi pada gadis asli betawi, dia bener-bener harus ngaku, kalau dia emang bener-bener lagi jatuh cinta sama cewek yang namanya Vina, cewek kelas dua SMP yang tadinya dia cuman suka sama phoninya, sekarang dia sudah suka semuanya.
Sebenernya dia setengah tidak percaya, dia kecantol oleh cewek yang usianya baru empat belas tahun, yang jelas sampai hari ini dia belum menemukan penghuni hatinya yang tetap, yang akan ada selama dia hidup, sebenarnya dia sudah tidak sabar pengen tau siapa orang itu, apakah dia Titi Haryanti? Ataukah dia si Vina? Ataukah ada yang lain dari mereka? Ini pertanyaan yang harus menjawab adalah dia sendiri, karena memang ini adalah permasalahannya.
Semakin hari dia semakin bingung dengan apa yang menimpa dirinya, terutama tentang Vina, sebenarnya dia sudah maksa dirinya untuk tidak lagi memikirkan Vina, dan temen-temen juga selalu menasehatinya.
“Gila aja lu Guh! bocah bau kencur lu taksir, ngga ada cewek lain apa?” itu nasehat dari Iki salah satu teman Teguh di Jakarta, yang sekarang masih kelas satu SMK bassis Pegazus.
“Iya Guh, emang sih kita akui, Vina emang oke, tapi berfikir dewasa dong! Cinta boleh buta Guh, tapi mata hati harus tetap memilih!” kalau yang ini nasehat dari Rian, vakolis Pegazus.
“Tapi kalau memang elu bener-bener suka sama Vina, ya sudah langsung aja tembak dia, ngga usah basa-basi, ntar keburu basi tau ngga.” Dan ini dari Bagus gitaris Pegazus.
“Kalau menurut gue ya Guh, Vina tu masih bocah banget, dia ngga bakalan ngerti sama perasaan elu, ya kalau elu pengen dia ngertiin perasaan elu, tunggu aja sampai dia dewasa!” ini Sandra yang ngomong gitaris kedua Pegazus, yang dia sendiri sudah lama di taksir sama Eni, kakaknya Vina, tapi Sandra selalu acuh tak acuh sama Eni, ya akhirnya Eni gondok sendiri, kasian ya nasibnya Eni?! Dramer Pegazus jarang ngumpul bareng yang namanya Uki. Mereka lah teman yang selalu ada buat Teguh selama di Jakarta, Teguh masih bingung kapan pertama dia menaruh hati pada Vina, yang masih dia ingat adalah saat dia melihat phoni di atas matannya, itu alasan satu-satunya Teguh jatuh cinta pada Vina.
Teguh baru menyadari kalau selama ini, semenjak dia mutusin cewek pertamanya secara sepihak, dia selalu naksir sama anak ABG alias anak baru gede. Zahra empat belas tahun, terus Titi kelahiran 1993, begitupun dengan Maryam, itukan masih muda banget, sekarang malah dia naksir sama Vina, yang pasti lebih muda dari tiga ABG di atas. memang cinta itu tak pernah tanya usia.
Di sisi lain makin lama makin membara perasaannya sama Vina, di tambah lagi temennya pada ngomong macem-macem, ‘biasanya orang betawi seneng banget kalau dapet menantu orang jawa’ ada lagi ‘Vina tu montok abiz serasi banget ama Teguh yang kocak plus gokil’ tapi dia perlu mikir seribu kali lagi, dia tidak bakalan macarin si Vina! Vina masih anak kecil banget, masih bau kencur, ngelap ingus sendiri aja masih belum bisa, pokoknya semampunya dia menahan perasaan ini, walaupun dalam dadanya bergemuruh, bertengkar antara nurani dan perasaan yang tak tau dirinya.
Suatu hari dia bangun tengah malam, dan dia bergegas menuju mushola tempat rutinnya menyembah yang kuasa, tempat di mana dia mengadu padaNya, di sana lah dia serahkan segalanya.
“Ya Alloh! Sudah gilakah hambaMu ini? sudah ngga sehatkah akal hambaMu ini? Sudah ngga kuat kah hamba menerima cobaanMu? Cobaan yang bagiMu begitu kecil, di banding dengan cobaan yang akan Engkau berikan padaku suatu saat nanti. Semua adalah kehendakMu, ku pasrahkan segala urusanku padaMu ya… Alloh!”
Tetap saja, itu semua tak bisa meredakan perasaannya pada Vina, inikah yang di nama kan cinta buta? Oke cinta boleh buta, tapi mata hati harus tetap terbuka, agar supaya dia masih tetap bisa melihat segalanya, lama-lama dia tak tahan begini terus, dia rasa dia harus berbuat sesuatu, sesuatu yang dapat membantu menyelesaikan masalahnya ini.
Kalau inget Vina dia jadi mikir, gimana kalau dia pergi aja ke Malaysia, biar semuanya dapat dia lupain, tak mungkin dia bisa ngelupain Vina, kalau dia selalu ada di dekatnya, ‘kalau begitu aku iya’in aja kali ya, permohonan mama?’ dia pun mulai meyakinkan dirinya sendiri, ‘lagian aku di sini juga ngangur ngga karuan, bosen juga lama-lama, ya paling senengnya di sini aku banyak temen, selesein masalah sama-sama dengan temen, terus curhat sama mereka, pokoknya serasa ngga ada beban deh, meskipun aku hanya punya sebatang badan, kalau kita selalu kompak, polisi tidur pun serasa krikil yang mengganjal di jalanan.’ Emang ada polisi tidur? berarti jalanan pada macet. Kan polisinya pada tidur, seperti orang kampung yang baru masuk Jakarta saja, baru beberapa menit menghirup pahitnya udara Jakarta masih perlu mengenal Jakarta itu orang yang berpikiran seperti itu. Jadi intinya, Teguh bakal pergi ke Malaysia, mungkin itu adalah keputusannya yang terbaik, harus pergi untuk melepasnya.
Dia juga harus melepas Obsesinya tuk menjadi actor dan sutradara yang handal, itu yang sedang di pikirkannya, tapi sepertinya dia masih bingung menentukan pilihan.
“Aku harus gimana sekarang? Kerja enggak? Shootting enggak? Dapat panggilan enggak? Berantem melulu sama istri lilikku iya, inget sama Vina melulu iya, ah setres gini! aku harus gimana? sudah lah aku ke Malaysia aja, toh kata mama ‘Kalau aku ke Malaysia segalanya ngga bakalan kurang deh’ terus kali aja aku bisa menyambung atau mewujudkan impianku di Malaysia. Kalau begitu aku harus segera kasih kabar sama mama.” Memang terasa sangat sulit mengalahkan hati sendiri.
***
26 April 2007
Hari ini adalah hari terakhir dia tinggal di Jakarta, mudah-mudahan segalanya bermula dari sini, dari keputusannya ini, dari hari ini, setelah 10bulan lebih dia terus berkelana pulang pergi dari kampung ke Jakarta, terus ke kampung, terus ke Jakarta lagi, terus ke Malaysia, dia merasa tidak dapat apa-apa, tapi tetep ada hasilnya, dia dapat mengenal berbagai macam cinta, ada cinta buta, ada cinta monyet, ada cinta sebelah mata, ada cinta lokasi, ada cinta satu pihak, ada cinta… bukan cinta yang seperti itu yang dia cari, tapi cinta sejati lah yang dia cari,
“Tapi sepertinya aku masih belum dapetin semua cinta yang ada deh, buktinya aku masih belum bisa nyebutin nama cinta, tapi atas nama cinta, aku adalah salah satu pemuja cinta, pengagung cinta, apapun nama cinta itu, tetap cinta itu mulia, tanpa cinta tak akan pernah ada dunia,”
Dia pun harus pamitan sama temen-temennya, dia berharap dia bisa ngeliat Vina untuk yang terakhir kalinya.
Kemaren dia kirim surat buat Vina lewat kakaknya, dalam surat itu tak ada kata-kata yang menyinggung tentang cinta, dia cuman nulis begini penggalannya,
“Vina! Meskipun aku tengah malam, bangun lalu aku melangkahkan kaki menuju ke mushola, lalu aku bersujud kepadanya, setelah itu aku berdo’a merengek, menangis memohon, agar kamu mau menjadi kekasihku, tapi kalau kamu ngga pernah suka sama aku, itu ngga ada artinya...” apa istimewanya tulisan ini? Dan kenapa Vina malah menjadi semakin takut sama dia? emang kata-kata ini menakutkan? Dia juga berharap sesampainya dia di Malaysia nanti, dia sudah lupa sama Vina, memang itu kan alasan dia pergi dari Jakarta. tapi ada masalah lain lagi, duit yang di kirim oleh Kasmini dari Malaysia belum nyampe juga, bingung dia jadinya, padahal sore ini dia harus cabut, atau lebih baik dia harus menunda kepergiannya?
__ADS_1
“Ngga! aku harus pergi hari ini!” perintahnya dalam hati, “apapun caranya aku harus pergi hari ini!”
Duit sudah aku pegang, jumlahnya pas enam ratus ribu rupiah, dia pun bersiap-siap berangkat! Hatinya masih tidak menentu, di saat yang bersamaan tiba-tiba dia melihat seorang gadis sedang datang, dia masih jauh, cara dia jalan, tinggi badannya, sekitar 145cm, Indonesia banget, beratnya sekitar 40kg, sudah pas, body yang ideal banget, wajahnya yang begitu manis, dan yang paling utama baginya adalah phoni di atas matanya yang menarik seluruh isi hatinya untuk terus mengenalnya, terus menyayanginya, dan untuk mengenangnya, karena sebentar lagi dia akan jauh dari dirinya, dia adalah Vina! kalau di lihat dari wajahnya, Vina tidak cocok kalau dia berusia 14tahun, wajahnya dua tahun lebih tua, dia cocok kalau dia itu berusia sekitar 16tahun atau 17tahun, tapi nyatanya dia emang baru berusia 14tahun. kira-kira dia berani tidak menyapa Vina? Sekalian ngucapin sampai jumpa padanya? bukan sampai jumpa, tapi selamat tinggal! Karena dia berharap kalau dia memang tidak bakal ketemu lagi sama Vina. Tapi sepertinya tidak mungkin dia berani melakukan itu, sekalipun dia berani, pasti Vina yang akan kabur. Tapi apa salahnya kalau dia mencoba? Masalah dia kabur apa tidak, itu urusan nanti.
“Vina…!” sesuai dugaan, dia kabur, dia lari langsung balik kerumahnya, padahal dia bareng sama temennya, Teguh juga tak tau siapa temennya itu, yang jelas dia tersenyum ngeliat Teguh, sepertinya itu anak kenal Teguh. “sudah tentu dia kenal sama aku, aku kan orang terkenal, dih GR banget aku ya, sudah ah jadi males aku, mending sekarang aku lanjutin siap-siap,”
Teguh sadar, alasan utamanya pergi karena dia ingin ngelupain Vina, dan sekarang dia pengen ngeliat Vina untuk yang terakhir kalinya, semoga suatu saat nanti, ketika dia bertemu lagi sama Vina, dia sudah berhasil menghapus namanya dari ingatannya, seperti harapannya, dia ngelupain Vina.
Coba bayangkan dan coba rasain betapa sedihnya hati Teguh! sebenarnya dia tak ada niat sama sekali untuk meninggalkan Jakarta, dia bener-bener ingin mengukir namanya di Jakarta, di tanah tumpah darahnya, dia pasti lagi sedih banget saat ini! Tapi dia harus pergi, pergi, dan pergi! Dia tak boleh mencintai Vina. Vina masih kecil, belum saatnya dia di cintai, entahlah, mungkin teorinya salah menyimpulkan, sebenarnya Vina boleh aja di cintai, di sayangi oleh siapa aja, tapi…entahlah, dia sedih banget pasti.
“Ingin rasanya air mata aku buang, biar aku lega, ngga ada beban lagi dah, tapi ketika aku berhenti menangis, pasti kesedihan akan aku rasain lagi, terus aku harus bagaimana? Aku harus tanya siapa lagi?” kebingungan dan peperangan yang ada di dalam hatinya, “Sekarang aku harus tegar! Aku tu seorang lelaki! Seorang lelaki ngga boleh menangis! Tapi aku sedih! sedih banget,” sungguh sangat berat jadi orang yang mencintai seseorang, tapi disisi lain dia sendiri yang melarangnya untuk mencintai seseorang itu, kali ini dia bakal nekad pergi dari Jakarta!
Dengan berat, sangat amat berat dia melangkahkan kaki, kemana saja akan dia pijak tanah ini, dengan tanpa tenaga, dia gontai menahan amarah yang dia coba tuk semua tak dapat mengetahui, seolah dia pergi karena kemauan sendiri, padahal yang dia harapkan dia dapat tetap di sini, meski dia harus merana, itulah jati diri.
“Tak ingin ku tertawa, tak tau diri, oh…dunia, oh…sang nyawa, oh…pujangga, di mana ku harus berada, di mana ku harus sandarkan segalanya, mengapa? Semua hampa? Semua sunyi? Tak berkata, inikah aku?”
Ia sudah pergi dari kontrakan Maman, Liliknya itu pun ikut nganterin dia naik angkot, anak-anak lagi pada nongkrong di depan, di sana ada Dila, ada Eni, ada orang yang tidak dia kenal, dia yang senyum ngeliat Teguh tadi di depan kontrakan Maman, yang di tinggalin Vina karena takut Teguh panggil, ternyata suaranya menakutkan ya, di sana juga ada Vina.
“Sudahlah! ngga usah ngomongin Vina lagi! Tapi dia ada di depanku sekarang, aku pamitan ngga ya sama mereka? Coba deh!” Pertama dia deketin mereka, Maman juga langsung paham, dia terus berjalan ninggalin Teguh yang mampir ke kumpulan cewek-cewek ini.
“Hai semuanya! Gi ngapain nih?” Vina sudah pengen kabur aja, tapi temennya melarang, di pegang tangan Vina sama tu cewek yang tidak Teguh kenal.
“Dila! gue cabut dulu ya!” dia jabat tangan Dila yang lembut, dengan hampa, “Maaf kalau selama ini gue buat salah sama elu, sama temen-temen elu, kesan yang ngga berkenan di hati elu.” Dila tidak ngomong apa-apa, dia cuman tersenyum terpaksa sama Teguh, terus dia jabat tangan Eni, kakak kandung Vina, sama! Dia juga diem aja, tidak ngomong apa-apa, tanpa, dan hampa, dia menjulurkan tangan ke Vina, tapi sebelumnya dia sempet bergetar kuat di sekujur tubuhnya, tapi dia terus coba menahan getaran itu, dia memaksa tuk berani, dia masih menjulurkan tangan pada Vina, satu, dua, tiga, empat detik tak ada respond, dia cuman sakit hati. Dia pun terima perlakuan Vina. Sekarang dia jabat tangan temen Vina yang sampai sekarang dia belum tau namanya, si teman Vina itu hanya tersenyum manis padanya, sepertinya dia sudah kenal banget sama Teguh, kenapa dia begitu? pasti karena Vina selalu bercerita tentang Teguh ke dia, dia pergi sekarang, tanpa ada harapan, tak ada angan, tanpa maaf, tanpa senyum Vina yang sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya, dalam hati nuraninya, dia sangat Teguh cintai, tapi dia tak boleh mencintainya.
“Inikah cinta yang aku cari selama ini? cinta yang aku cari ngga mungkin membiarkan aku merana, tapi ini? cinta ini sungguh menyiksaku.” dia terus melangkah kedepan tanpa berani melihat belakang, dia takut, Teguh takut dia tidak akan bisa ngelupain Vina. hadapi dengan senyuman aja, tidak selamanya menyerah itu kalah.
Maman menghantar Teguh sampai angkotnya, namun angkon tujuan blok M masih belum lewat, Terpaksa dia menyerahkan ATMnya sama liliknya, kenapa? Punya utang? Justru itu duitnya belum sampai juga, jadi dia minta duit aja sama liliknya Rp600ribu buat ongkos pergi ke Malaysia, dia pergi ke Malaysia cuman bawa duit Rp600ribu?
“Aku juga pernah mengalami hal serupa Guh, sewaktu aku masih bujang dulu...”
Maman masih menjadi seorang santri yang rajin, ini adalah kisah cinta pertama yang dia alami, ada yang sangat mencintainya wanita yang cantik, tapi sayang dia adalah anak orang kaya di kampung bernama Jetis, sedangkan Maman hanyalah seorang anak yang tidak berpunya, sebenarnya Maman juga mencintainya, Warisah adalah namanya.
“Sah! Kamu sadar apa ngga sih sebenarnya?”
“Aku sadar Man, aku mencintai kamu, aku ngga akan bisa hidup tanpa kamu.”
“Bukan itu yang aku tanyakan Sah, kamu sadar ngga sih kalau kita itu beda?”
“Beda bagaimana?”
“Atau kamu hanya berpura-pura tidak mengerti?”
“Aku memang tidak mengerti apa yang kamu maksud Man!” Warisah tidak mengerti sama sekali dia masih terus bertanya-tanya apa yang di maksud orang yang sangat dia cintai itu dengan kata ‘beda’.
“Aku dan kamu itu beda Sah, aku hanyalah seorang anak yang tak berpunya Sah! Sedangkan kamu... kamu...”
“Ngga Man, aku mencintaimu apa adanya Man, aku tidak perduli siapa kamu, dan aku ngga perduli siapa aku, sampai kapan pun, aku akan tetap mencintaimu!”
“Isah! Cobalah kamu mengerti! Kita ngga akan mungkin bisa bersama, lebih baik sekarang kamu pulang, ini sudah malam Sah!” dalam diam Warisah mulai menitikan air mata.
__ADS_1
“Sebenarnya kamu cinta ngga sih sama aku?”
“Jangan tanyakan itu Sah! Jujur aku juga mencintaimu, tapi Ayahmu tidak mau kita bersama, aku ngga akan bisa ngebuat kamu bahagia.” Warisah memeluk tubuh Maman dengan erat, dia tak mau melepasnya, awalnya Maman canggung pada Warisah namun kemudian dia juga membalas pelukan Warisah.
“Kenapa kita tidak perjuangkan cinta kita Man?” sambil terus dia menangis.
“Isah! Apa kamu sadar apa yang kamu katakan baru saja?” Maman memegang kedua pipi Warisah dengan halus, “itu bukan jalan terbaik Sah, kita hidup tidak sendirian, kita punya orang tua, kita punya saudara, kita punya kerabat, kita juga punya harga diri, kita harus menjaganya, apa kamu akan rela bila kamu di buang oleh orang yang telah membesarkanmu? Oleh orang yang melahirkanmu? Kamu mau di cap sebagai anak durhaka? Tidak patuh apa kata orang tuamu?” Maman berani berbicara seperti itu karena dia tau cerita tentang perjalanan cinta kedua orang tuanya, Mad Gasmin dan Lasinah yang di buang oleh keluarga Lasinah dan tidak di akui oleh kerabatnya hanya karena Lasinah memaksakan diri untuk menjadi istri Mad Gasmin yang dia cintai.
“Tapi aku mencintaimu Man!”
“Mereka lebih mencintaimu Sah dari pada aku, mereka bisa membahagiakanmu, sedangkan aku? Aku ingin membuat diriku bahagia saja susahnya minta ampun, demi mereka juga demi aku Sah! Kembali ke rumah! jangan membuat mereka susah!” Warisah pun mulai luluh, tak lagi dia meneteskan air mata.
“Kalau begitu antarkan aku pulang Man!”
“Nah begitu kan bagus, senyum dong!” dengan terpaksa Warisah melebarkan senyum, Maman langsung menghantarkan Warisah pulang ke rumahnya.
Di rumah Warisah, dia sudah di tunggu oleh orang tua dan kerabatnya, Maman di sambut baik oleh keluarga Warisah, mereka sudah tau siapa Maman, dan mereka juga tau siapa ayah dari Maman.
“Terima kasih atas kebaikanmu Man!” sambutan Ayah Warisah begitu Warisah sampai di rumahnya.
“Iya pak! Saya minta maaf bila selama ini saya ada salah sama bapak, dan sudah menyusahkan bapak!”
“Saya tau Maman adalah orang yang baik, tapi Warisah bukan jodoh yang tepat untuk nak Maman, bapak harap Maman bisa mengerti!”
“Iya pak saya bisa mengerti kok, saya juga sadar pak! Saya tidak akan bisa membahagiakan dia seperti yang telah bapak lakukan selama ini, saya tidak punya apa-apa pak!”
“Jangan begitu Man! Bukan itu yang kami permasalahkan! Tapi dia memang bukan jodoh yang tepat untuk nak Maman.” Ayah Warisah mulai kehabisan kata-kata.
“Kalau begitu saya pamit pak! Sekali lagi saya minta maaf telah membuat bapak dan keluarga susah.”
“Iya sama-sama Man!” Maman pun langsung pergi melangkahkan kakinya meninggalkan rumah orang yang dia cintai, rasa dalam dadanya ingin menangis, namun dia terus menahannya, dia pun langsung merencanakan sesuatu, dia harus pergi untuk melupakannya.
“Bagitulah ceritanya Guh.”
“Wah ternyata selama ini aku punya lilik yang hebat ya lik!” Teguh membanggakan Liliknya ternyata apa yang dia alami sekarang ini sudah pernah di alami oleh liliknya, tapi lain perkaranya, kisah Maman adalah kisah tentang dua orang yang mencintai dan mereka terhalang perbedaan antara keduanya, sedangkan sekarang, yang Teguh alami karena hatinya lah yang melarang dan karena Vina tidak pernah mencintainya.
“Terus apa kamu sudah positive Guh pengen ke Malaysia?” sudah ketara banget dia serius begini, masih di tanya begitu.
“Udah dong lik!”
“Terus sampai di Malaysia mau ngapain?”
“Ya kerja lah lik!” terlihat liliknya seperti sedang menyusun kata-kata.
“Ya pesan ku sih, gini Guh!” liliknya masih terus berusaha menyusun kata-katanya, entah kata apa yang akan dia ucapkan untuk pertemuan terakhinya dengan Teguh, “Mungkin di Malaysia nanti, Teguh akan bertemu dengan orang yang sangat Teguh benci, dan mungkin lebih dari benci.” Cara Maman bicara padanya sangat berbeda dengan biasanya, “Tapi aku mau Teguh bisa menahan amara, mengontrol emosi, ingat! Malaysia itu bukan Indonesia, tentu semua berbeda, mama Teguh juga cuman numpang di sana, jadi, sepintar-pintar Teguh lah di sana!” dia pun iya-iya aja hanya saja dia masih tanya-tanya, siapa sih yang di maksud liliknya ‘orang yang sangat dia benci?’ Maman begitu serius bicara soal ini, sepertinya dia bicara sambil terus menahan emosi, dia belum pernah melihat liliknya begitu, kecuali waktu Maman menghajar istrinya habis-habisan, sepertinya ini tidak penting buat di tulis, tidak perlu di bahas! Wajar lah, namanya juga keluarga, berantem kan katanya bumbunya orang berkeluarga.
Kehangatan tak dia rasa lagi, karena hari ini dia sungguh tak kan menyesalinya, walaupun suatu saat nanti dia harus terus mengingat keputusan yang sungguh berat untuk dirasa hatinya, tapi Teguh yakin dia tak sendiri, masih banyak tempat untuk bersandar diri, tuk melabuhkan hati, tuk mengukir cinta pada diri, nikmati saja, tak perlu kecewa, karena semua pasti merasakan hal yang sama setiap manusia sedang jatuh cinta.
Pintu rumah sudah dia buka, santai aja! anggap aja rumah sendiri, jadi ya… ngepel-ngepel kek nyapu-nyapu kek ya kalau ada makanan tinggal di makan aja! tak usah malu! Kamar mandi di sebelah kamar Teguh, shower juga ada jadi tidak usah pake gayung jebar-jebur gitu, tu yang depan, yang ada di sebelah kamarnya adalah kamar Kasmini mamanya sama ayah tirinya Ayob, di dalam sudah ada kamar mandinya kok, tidak usah takut mandi ngantri ya! itu ruang yang bersebelahan sama dapur adalah ruang makan, ada kulkas, kalau mau minum yang dingin sudah tentu ada di dalam kulkas, tinggal ambil aja, tinggal buka pintu kulkasnya! Es krim juga ada, rasa kelapa atau rasa coklat? Atau mau ambil buah, tu yang ada di kulkas paling bawah, ada anggur, apel, pier, ada juga buah jambu biji, tapi katanya jambu biji kok malah tak ada bijinya ya? ini buah kesukaan mamanya, atasnya lagi ada daun singkong, wortel, ceisin, tomat, nah kalau mau nyeplok telor, telornya ada di pintu kulkas, atau mau goreng fread chicken, ayamnya di sini, di tempat yang ngegantung nempel di bawah tempat biasa buat es, nah yang paling atas adalah tempat yang sudah di bilang tadi, yaitu tempat buat bikin es, es apa aja bisa di buat di sini, kalau mau masak mie, mienya ada di lemari di samping depan kulkas, nah ini adalah perabotan makan, yang ada di antara kulkas dan lemari, kalau mau nonton TV di ruang tamu aja ya! kalau mau karaokean tinggal masukin CDnya ke VCD, jangan lupa di nyalain dulu! kalau ini kamarnya, sudah kayak sarang apa gitu deh…kalau mamanya bilang kayak kandang kambing. Di dinding kamarnya ada banyak foto-foto, temen-temennya, guru-gurunya, dan dah tentu foto-foto dirinya sediri, yang sudah tak karuan, gayanya bikin sakit perut orang yang ngeliat. sudah jadi hobinya, memasang banyak foto di dinding kamar, ya kalau di ruang tamu mah dia tidak berani, kalau di kamar kan cuman dia yang ngeliat. Lho kok jadi cerita tentang rumahnya Teguh? Teguh mau nyalain TV, dia mau nonton TV chenelnya Indonesia, dia pun mencari chanel SCTV, acara favoritnya belum selesai, ini sinetron Cinta Fitri, pemeran utamanya adalah Shiren Sungkar, bagus ceritanya menurutnya, mamanya aja tidak bisa pergi dari depan TV kalau sedang nonton Cinta Fitri, tapi memang tidak rugi nonton sinetron ini, komedinya dapet, religinya juga dapet, romantisnya apa lagi dapet banget, dan pemerannya acting dengan totalitas action.
__ADS_1
Shireen Sungkar adalah satu-satunya artis Indonesia yang Teguh sangat mengidolakannya, pertama dia melihat Shireen adalah saat dia main di sinetron Wulan bersama Dini Aminarti, saat itu Shireen masih terlihat sangat muda, masih sangat lugu, bisa di bilang Teguh jatuh cinta pada pandangan pertama sama artis Indonesia berdarah Arab ini, semenjak itulah dia selalu suka dengan apapun yang Shireen lakukan, bahkan sinetron serial Cinta Fitri tidak pernah dia tinggalkan, alasan kenapa dia selalu nonton sinetron ini, karena dia ingin melihat Shireen, dia selalu merindukan senyum manisnya, serak-serak basahnya, phoni di atas matanya, dan sudah tentu wajahnya yang begitu manis.
***