Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 8: Melepasnya


__ADS_3

Maret 2007


Hingga saat ini dia belum juga bisa mendapatkan pekerjaan, dia hidup di Jakarta karena kiriman duit dari Kasmini, ibu kandungnya yang sangat menyayanginya, meskipun selama ini Kasmini sudah berusaha sekuat dia mampu untuk membujuk anaknya mau menurut dan ikut dengannya, namun dia masih mengalami jalan buntu, Teguh masih saja berobsesi pada dunia entertainer, dia juga sempat ikut dalam sebuah group agent peran figuran bernama Warna Entertaint, dia juga sudah mempunyai teman band, dan nama band mereka adalah Pegazus band, sayangnya Teguh tidak sama sekali mempunyai ilmu tentang dunia tarik suara.


Meskipun Kasmini tak pernah mendukung apa yang di lakukan oleh anaknya, tapi Maman, dia sangat mendukung apa yang di lakukan oleh keponakannya itu, selama di Jakarta Teguh tinggal di kontrakan liliknya itu, tapi yang jadi masalah adalah istri dari Maman yang kedua, dia tidak pernah akur dengan istri liliknya itu.


Dan sekarang dia sedang di landa badai asmara, bukan pada Titi, tapi pada gadis asli betawi, dia bener-bener harus ngaku, kalau dia emang bener-bener lagi jatuh cinta sama cewek yang namanya Vina, cewek kelas dua SMP yang tadinya dia cuman suka sama phoninya, sekarang dia sudah suka semuanya.


Sebenernya dia setengah tidak percaya, dia kecantol oleh cewek yang usianya baru empat belas tahun, yang jelas sampai hari ini dia belum menemukan penghuni hatinya yang tetap, yang akan ada selama dia hidup, sebenarnya dia sudah tidak sabar pengen tau siapa orang itu, apakah dia Titi Haryanti? Ataukah dia si Vina? Ataukah ada yang lain dari mereka? Ini pertanyaan yang harus menjawab adalah dia sendiri, karena memang ini adalah permasalahannya.


Semakin hari dia semakin bingung dengan apa yang menimpa dirinya, terutama tentang Vina, sebenarnya dia sudah maksa dirinya untuk tidak lagi memikirkan Vina, dan temen-temen juga selalu menasehatinya.

__ADS_1


“Gila aja lu Guh! bocah bau kencur lu taksir, ngga ada cewek lain apa?” itu nasehat dari Iki salah satu teman Teguh di Jakarta, yang sekarang masih kelas satu SMK bassis Pegazus.


“Iya Guh, emang sih kita akui, Vina emang oke, tapi berfikir dewasa dong! Cinta boleh buta Guh, tapi mata hati harus tetap memilih!” kalau yang ini nasehat dari Rian, vakolis Pegazus.


“Tapi kalau memang elu bener-bener suka sama Vina, ya sudah langsung aja tembak dia, ngga usah basa-basi, ntar keburu basi tau ngga.” Dan ini dari Bagus gitaris Pegazus.


“Kalau menurut gue ya Guh, Vina tu masih bocah banget, dia ngga bakalan ngerti sama perasaan elu, ya kalau elu pengen dia ngertiin perasaan elu, tunggu aja sampai dia dewasa!” ini Sandra yang ngomong gitaris kedua Pegazus, yang dia sendiri sudah lama di taksir sama Eni, kakaknya Vina, tapi Sandra selalu acuh tak acuh sama Eni, ya akhirnya Eni gondok sendiri, kasian ya nasibnya Eni?! Dramer Pegazus jarang ngumpul bareng yang namanya Uki. Mereka lah teman yang selalu ada buat Teguh selama di Jakarta, Teguh masih bingung kapan pertama dia menaruh hati pada Vina, yang masih dia ingat adalah saat dia melihat phoni di atas matannya, itu alasan satu-satunya Teguh jatuh cinta pada Vina.


Di sisi lain makin lama makin membara perasaannya sama Vina, di tambah lagi temennya pada ngomong macem-macem, ‘biasanya orang betawi seneng banget kalau dapet menantu orang jawa’ ada lagi ‘Vina tu montok abiz serasi banget ama Teguh yang kocak plus gokil’ tapi dia perlu mikir seribu kali lagi, dia tidak bakalan macarin si Vina! Vina masih anak kecil banget, masih bau kencur, ngelap ingus sendiri aja masih belum bisa, pokoknya semampunya dia menahan perasaan ini, walaupun dalam dadanya bergemuruh, bertengkar antara nurani dan perasaan yang tak tau dirinya.


Suatu hari dia bangun tengah malam, dan dia bergegas menuju mushola tempat rutinnya menyembah yang kuasa, tempat di mana dia mengadu padaNya, di sana lah dia serahkan segalanya.

__ADS_1


“Ya Alloh! Sudah gilakah hambaMu ini? sudah ngga sehatkah akal hambaMu ini? Sudah ngga kuat kah hamba menerima cobaanMu? Cobaan yang bagiMu begitu kecil, di banding dengan cobaan yang akan Engkau berikan padaku suatu saat nanti. Semua adalah kehendakMu, ku pasrahkan segala urusanku padaMu ya… Alloh!”


Tetap saja, itu semua tak bisa meredakan perasaannya pada Vina, inikah yang di nama kan cinta buta? Oke cinta boleh buta, tapi mata hati harus tetap terbuka, agar supaya dia masih tetap bisa melihat segalanya, lama-lama dia tak tahan begini terus, dia rasa dia harus berbuat sesuatu, sesuatu yang dapat membantu menyelesaikan masalahnya ini.


Kalau inget Vina dia jadi mikir, gimana kalau dia pergi aja ke Malaysia, biar semuanya dapat dia lupain, tak mungkin dia bisa ngelupain Vina, kalau dia selalu ada di dekatnya, ‘kalau begitu aku iya’in aja kali ya, permohonan mama?’ dia pun mulai meyakinkan dirinya sendiri, ‘lagian aku di sini juga ngangur ngga karuan, bosen juga lama-lama, ya paling senengnya di sini aku banyak temen, selesein masalah sama-sama dengan temen, terus curhat sama mereka, pokoknya serasa ngga ada beban deh, meskipun aku hanya punya sebatang badan, kalau kita selalu kompak, polisi tidur pun serasa krikil yang mengganjal di jalanan.’ Emang ada polisi tidur? berarti jalanan pada macet. Kan polisinya pada tidur, seperti orang kampung yang baru masuk Jakarta saja, baru beberapa menit menghirup pahitnya udara Jakarta masih perlu mengenal Jakarta itu orang yang berpikiran seperti itu. Jadi intinya, Teguh bakal pergi ke Malaysia, mungkin itu adalah keputusannya yang terbaik, harus pergi untuk melepasnya.


Dia juga harus melepas Obsesinya tuk menjadi actor dan sutradara yang handal, itu yang sedang di pikirkannya, tapi sepertinya dia masih bingung menentukan pilihan.


“Aku harus gimana sekarang? Kerja enggak? Shootting enggak? Dapat panggilan enggak? Berantem melulu sama istri lilikku iya, inget sama Vina melulu iya, ah setres gini! aku harus gimana? sudah lah aku ke Malaysia aja, toh kata mama ‘Kalau aku ke Malaysia segalanya ngga bakalan kurang deh’ terus kali aja aku bisa menyambung atau mewujudkan impianku di Malaysia. Kalau begitu aku harus segera kasih kabar sama mama.” Memang terasa sangat sulit mengalahkan hati sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2