
February 1995
Kasmini sampai kampung di sambut oleh semua keluarga dan para tetangganya, termasuk tetangga yang dulu pernah di hajarnya di depan rumah. Kasmini pulang membawa sebuah TV hitam putih, karena di kampungnya listrik belum masuk, TV itu memerlukan sebuah accu.
“Ndi Kamisah Kas?” itu yang pertama di tanyakan Mad Gasmin ayahnya.
“Bocaeh ora gelem di sengi balik Ma! Dia sudah menikah dengan orang Jambi.”
“Kamu jangan buat alasan Kas! Nyong ngerti, Kamisah wis di dol mbok nang koe nggo balik?”
“Masya Alloh Ramane!” Kasmini Shok begitu mendengar tuduhan dari Ayahnya, “Rika nuduh aku adol adiku dewek?”
“Ulih duit pira koe adol adimu? Kamu sengaja menjualnya kan supaya tanah yang kalian beli di depan itu jadi hak kamu sendiri?”
“Ma!” Kasmini sedikit emosi mendengar ucapan dari Ayah kandungnya sendiri, “Tanah yang aku beli itu memang seratus persen hakku ma! aku memang memakai uang Kamisah untuk melunasi pembayaran tanah itu, tapi Kamisah juga sudah sepakat kalau aku berhutang padanya, dan aku sudah melunasinya di sana.”
“Mana buktinya kalau kamu sudah membayar hutang Kamisah? Nyong ora weruh!” Kasmini jadi serba salah dengan pertanyaan Ayahnya itu. Sedangkan di halaman rumahnya banyak tetangga yang berdatangan untuk melihat TV satu-satunya di kampung itu, sebagian ada yang membawa karung beras untuk alas, sudah seperti sebuah tontonan, ramai sekali. Kasmini dan Teguh sampai di rumah tadi pagi, dan sekarang sudah malam, Teguh di ajak Lilik Maman ke mushola untuk mengaji, besok Teguh harus kembali sekolah, dia akan di daftarkan ke sekolahnya yang dulu, SDN Jetis 04.
Sedangkan di dalam rumah masih terjadi pertengkaran antara Mad Gasmin dan anaknya Kasmini tentang Kamisah yang tidak mau pulang dan memilih tinggal di sana dengan suaminya, Mad Gasmin masih juga belum terima anak bungsunya tidak kembali bersama Kasmini. Pertengkaran ini belum bisa sampai di ujung permasalahan, masalah ini akan selesai bila mana Kamisah kembali ke kampung ini, dan Kasmini sudah berjanji pada ayahnya untuk menjemputnya kelak bila sudah ada rejeki lagi.
Sedangkan Slamet, suami Kasmini sekarang hanya bisa terdiam melihat pertengkaran istrinya dan mertuanya, ke esokan harinya Teguh di hantarkan oleh Maman adik lelaki mamanya ke sekolah, walaupun Teguh bertemu dengan kawan-kawan lamanya tapi dia masih merasa asing di kelas itu.
“Anak-anak, perkenalkan ini adalah Teguh Prayitno, temen kalian dulu yang pergi ke Riau, dan sekarang dia akan kembali belajar dengan kalian di kelas ini.” Ibu guru Sarjumi, guru kelas Teguh yang baru memperkenalkannya pada teman-temannya yang pernah dia kenal. “sekarang silahkan kamu duduk nak Teguh, di sebelahnya Baridin ya!” Baridin adalah anak tetangga Teguh yang ibunya pernah di hajar oleh Kasmini, Baridin pun mempersilahkan Teguh untuk duduk di sampingnya.
Sebulan pun berlalu Teguh sudah mulai mengenal semua anak-anak di kelas, terutama pada seorang anak perempuan bernama Tusmiati, diam-diam Teguh sering memperhatikan anak itu. Pada suatu hari, ketika Teguh sedang asyik memperhatikan tingkah Tusmiati, seorang teman Teguh yang bernama Sage memergokinya.
“Guh! Agi ngapa koe?”
__ADS_1
“Hah? Tidak kok, tidak ngapa-ngapain...” Teguh sedikit grogi mengetahui Sage tiba-tiba ada di sampingnya.
“Tusmiati cantik ya Guh?”
“Iya...” Teguh jadi beneran grogi begitu Sage menyebut nama orang yang sedang di perhatikannya, spontan dia pun menjawab pertanyaan Sage, Teguh pun segera menjauhi Sage dan masuk ke dalam kelas, tak lama setelah itu bel berbunyi dan semua anak-anak kelas dua masuk kelas, Tusmiati masuk dengan teman-temannya, Teguh masih memperhatikannya tanpa bosan, di tempat lain Sage juga terus memperhatikan Teguh.
Ke esokannya sebelum anak-anak masuk kelas, Sage berteriak-teriak di depan kelas.
“Pengumuman semuanya, murid baru di kelas ini, yang namanya Teguh telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Tusmiati.”
“Bohong!” Teguh tidak terima dengan kata-kata Sage, “Sage itu tukang bohong, jangan percaya sama dia!”
“Kalo aku bohong kenapa kamu marah?”
“Tek Jotos koe Ge!”
“Tek Jotos temenan koe Sage!”
“Arep njotos aku? Ayo nek wani jotos aku!” Sage berlari keluar kelas, Teguh mengejarnya, Sage berlari terus dan Teguh terus mengejar, sampai di pekarangan jauh dari sekolah akhirnya kedua teman baru itu pun berkelahi layaknya dua anak kecil yang sedang berebut mainan, tapi di permasalahan ini bukan mainan yang menyebabkan mereka berantem, tapi karena seorang gadis kecil bernama Tusmiati, dialah cinta monyetnya Teguh Prayitno yang sekarang beru berusia delapan tahun.
Perkelahian itu berakhir begitu Ibu guru Sarjumi melerai mereka.
“Opo sih sing nggawe koe podo kerah ngene” Ibu Sarjumi menceramahi dengan bahasanya yang logat kental bahasa jawa kromo, karena Ibu Sarjumi asli orang jawa daerah timur, kedua teman baru itu tidak ada yang menjawab, Sage hanya tersenyum-senyum saja, dan Teguh masih menahan amarahnya. “kalian itu teman, sesama teman jangan saling berantem, kalau sudah saling berantem bigini kan jadinya kalian berdua kena jewer dari Ibu.” Keduanya di jewer oleh Ibu guru Sarjumi
“Iya bu Sage minta maaf, ini salah Sage.” Teguh masih diam saja.
“Kalau begitu sekarang Sage minta maaf sama Teguh!”
__ADS_1
“Iya bu Sage mau minta maaf, tapi jangan di jewer lagi dong bu! Kan sakit.” Bu Sarjumi melepas kedua jewerannya.
“Dan kamu Teguh, kalau ada temenmu yang minta maaf, kamu harus memaafkan.”
“Iya bu, Teguh maafkan Sage.” Keduanya berjabat tangan di depan kelas.
“Nah kalo begini kan bagus, sekarang berpelukan!” mereka pun berpelukan. Dan kemudian keduanya kembali ke tempat duduk masing-masing. Taguh sekilas mencuri pandang pada Tusmiati, sedangkan Sage masih juga cengengesan melihat Teguh. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan ucapan Ibu Kasiem, Uwa’ Kasmini tentang sang Pencari sejati? Di usianya yang baru delapan tahun, dia sudah merasakan debaran cinta?
Di lain cerita Kasmini mendapatkan cobaan dalam keluarganya, Kasmini ikut pergi ke rumah keluarga suaminya di Kebumen, Kasmini galau dalam menentukan pilihan, antara suaminya atau anaknya, karena ternyata mertua Kasmini tidak menerima Teguh dalam keluarga Slamet.
“Kamu ini bagaimana Slamet?” Ibu Slamet menasehati anaknya, “Kamu itu jejaka, usiamu baru 19tahun, tapi kenapa kamu menikah dengan seorang janda yang sudah beranak?”
“Tapi Slamet mencintainya Ibu!” diam-diam Kasmini mendengarkan obrolan mereka di balik pintu rumah kamar suaminya.
“Lagi-lagi kamu mengatas namakan cinta pada kesalahanmu, ibu sudah menjodohkan kamu dengan seorang gadis cantik di kampung ini nak!”
“Tapi Slamet tidak mencintainya Ibu.”
“Jadi kamu ngelawan kemauan ibu? Apa kamu lupa Slamet, sorga itu ada di telapak kaki ibu.”
“Ibu! Slamet sayang sama ibu, tapi Slamet mohon bu! Soal cinta, biar kan Slamet yang menentukannya, apapun Kasmini, dan Siapapun dia Slamet sangat mencintainya bu!”
“Huh! Ya sudah kalau itu maumu, sampai kapanpun Ibu tidak akan mengakui Kasmini dan anaknya itu sebagai keluarga Ibu.” Ibu Slamet beranjak dari ranjang anaknya menuju pintu kamar, Kasmini yang ada di balik pintu kamar lekas pergi dari balik pintu. “kalau kamu memilih istrimu, silahkan kamu pergi dari rumah ibu, ibu tidak sudi punya anak pembangkang, dan satu lagi, kamu jangan pernah lagi kembali ke rumah ini, karena begitu kamu kembali ibumu sudah di kubur.”
“Ibu! Jangan begitu! Ibu!” Ibunya pun keluar dengan lemah, sedangkan Slamet masih kebingungan mendengar pernyataan dari ibunya yang sangat dia sayangi.
***
__ADS_1