
Hari berikutnya Teguh menuju kampungnya untuk kembali berpamitan pada Byunge, dia sudah tak lagi merasakan sakit akibat penolakan yang dia terima dari Mimi, kembali dia harus menaiki kreta api ekonomi.
Udah pagi, dia masih di dalam kreta api, kretanya sudah melambat, dia lihat plang stasiunnya, pelan-pelan kretanya berhenti, dia lihat plang dari jendela, Maos, selama ini dia belum pernah turun di stasiun ini, sepertinya kali ini dia ingin mencari penggalaman baru, dia turun di sini, dia ambil tas gendong yang berisi sepasang baju, dan dokumen pribadinya, termasuk buku novel yang dia tulis sendiri yang berjudul ‘Pengembara Cinta’ termasuk juga ‘Sayap Pegazus’ yang sudah dia print dari komputer di Wadas, tasnya sudah dia gendong, ringan, bahkan sangat ringan, karena isinya cuman itu tadi, sepasang pakaian dan dua buah buku, serta dokumen pribadinya, sekarang dia harus buru-buru keluar dari kreta ini, sebelum kreta ini jalan lagi, dia buru-buru banget pintu keluar sudah dekat, akhirnya sampai di pintu keluar kreta juga, dia langsung lompat aja dari pintu kreta, kreta langsung jalan lagi, sebentar banget berhentinya.
“Adipala…adipala…adipala…” rupanya bus sudah menunggunya.
“Yang mana adipala mas?”
“Sing kue mas, bise mung siji kok, langsung munggah bae!” ini bahasa cilacap, bahasa Cilacap adalah bahasa Ibu Teguh, maksudnya bahasa ibu adalah bahasa di mana tempat kita di besarkan oleh ibu, yang punya ibu, oleh ayah, yang punya ayah, kalau tidak punya ibu atau ayah? Ya pokoknya bahasa pertama sebelum kita tau bahasa yang lain, seperti Teguh, bahasa ibunya adalah cilacap, jawa ngapak, kalau lahir di Jakarta dan besar di Jakarta, berarti bahasa ibunya adalah bahasa betawi, begitu, dan arti dari bahasa jawa di atas adalah ‘Yang itu mas, bisnya hanya satu kok, langsung naik aja!’ Teguh pun langsung naik, karena emang bisnya cuman satu, dalam sekejap, bis itu langsung penuh, dan bis itu langsung jalan ke adipala, belum sepuluh menit bis ini sudah sampai di terminal Adipala, dia turun, sekarang dia harus cari bis bernama Gunawan, Arah Gombong, tak perlu lama menunggu bis lewat, dia hadang bis itu, bis pun langsung berhenti, ternyata sudah penuh dengan anak sekolah, dia langsung naik dan mencari tempat duduk, tapi ya gimana mau nyari tempat duduk? wong bisnya sudah penuh, mana mungkin ada sisa tempat duduk.
“Mudun ngendhi mas?” si kenet bis tanya Teguh,
__ADS_1
“Jetis prapatan kidul.” dia kasih uang lima ribu selembar, si kenet mengembalikan seribu ke Teguh, habis itu dia ke dalam.
“Dek, nyat! Wis ***** kan?” anak sekolah lelaki di suruh bangun sama si kenet dan menyuruh dia duduk di kursi itu, dia langsung duduk, dia masih berusaha untuk meyakinkan dirinya bahawa dia tidak salah dalam memutuskan untuk pergi ke Malaysia.
“Mas! Jetis prapatan kidul, wis gujug!” dia terlalu banyak ngelamun, jadi cepet sampainya, penumpangnya tinggal tiga orang, anak sekolahnya sudah ngga ada satupun, dia turun dari bis, sebuah plang di ujung jalan tertulis ‘jalan sukun’ ini adalah nama jalan rumah Teguh, ada yang ngeliatin dia, seorang ibu-ibu, tidak terlalu tua lah, dia kenal dengan orang itu.
“Eh mas Teguh? Baru nyampe ya mas?”
“Iya nih kak.” Namanya Yatirah kakak kandung Iwan Dahlan sahabat Teguh waktu kecil, terlihat juga dari dalam rumah ada seorang cewek yang masih ABG, dia keluar, dia ngeliat Teguh terus senyum ke Teguh, namanya Dian Safitri, baru kelas satu SMP, dia anak dari Yatirah, dia dekat sama Teguh, dari dia masih kelas 4 SD, meraka lama tidak saling ketemu.
“Teguh ya?”
__ADS_1
“Iya yung, kie putumu.” makin erat dia memeluknya, sedang kan Manto kakaknya Fitri yang menghantarkannya ke sini dia pamit mau pulang, kemudian dia pergi, dia langsung ajak Byunge masuk ke rumah, Puji datang dari arah barat rumah, dia itu sepupunya, sedikit hitam, hitam manis gitu, rambutnya juga ngga lurus, tapi ngga kriting juga, dia ikut masuk ke rumah menyusul Teguh, kemudian dia menyalaminya.
“Baru sampai ya mas? Kok lama ngga kabar-kabar?”
“Iya maaf! Yang pentingkan sekarang mamas sudah di rumah, dan kamu lihat sendiri kan kalau mamas sehat wal afiat? Nih mamas bawa oleh-oleh untuk kamu.” Teguh keluarin baju yang dia beli di blok M kemaren. “Ada dua, kamu pilih yang mana?”
“Ih bagus mas, yang satu buat Fitri ya mas?”
“Iya, bener, buat Fitri.” Teguh langsung nyaut.
“Fitri pasti seneng banget mas, aku yang hijau aja deh, dia kan suka benget dengan warna pink.” Puji langsung pergi, sepertinya dia mau ke rumah Fitri untuk menghantarkan baju dari Teguh, soalnya dia bawa baju yang Teguh kasih tadi. sekarang Teguh mau istirahat dulu, Pasti dia capek banget.
__ADS_1
Teguh belum pernah ngerasa senang sesenang sekarang, Di atas pelepah pohon kelapa, dan pohon kelapa ini tingginya sekitar 15m, lumayan tinggi, awalnya dia tu kepengin memetik dhegan, sekarang di bawah sana sudah ada tiga dhegan, tapi dia masih belum mau turun dari pohon kelapa ini, sekarang dia sedang melihat indahnya teluk penyu yang berada 400m di belakang rumahnya ini, benar-benar indah, di antara laut dan rumahnya ini ada sawah yang terbentang luas, suara ombak menggelegar keras, sampai terdengar dari sini, angin bertiup kecang, membuat rambutnya tertarik ke belakang, dan di atas pohon kelapa ini sangat dingin, meskipun matahari masih bersinar penuh, ya terang saja, dia kan emang tidak pake baju, kalau kulit tubuhnya terkena angin kencang kan ya sudah tentu akan kedinginan. Sekarang dia mau turun, dia mau ke sana, ke laut, melihat laut dari dekat, karena bagi Teguh Laut adalah sahabat terbaiknya, Teguh kerepotan mau turun, naiknya aja tadi bisa, masa turunnya ngga bisa?
***