Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 3: Mama (3)


__ADS_3

Tapi, apa yang terjadi tepat sepuluh hari setelah itu? Teguh sangat marah, tapi Teguh tak mampu meluapkan amarahnya itu, dia ingin menangis tapi serasa air matanya sudah mengering, dia ingin terbang jauh ke angkasa, tapi dengan apa? dia ingin berlari sekencang kencangnya, tapi kemana? dia jadi serba salah. dia terus berfikir, kenapa semua ini terjadi, kenapa harus dia yang menerima kenyataan ini? ternyata ketika Teguh baru pulang dari sekolah, dia melihat mamanya sudah kembali mesra dangan lelaki yang pernah ingin membunuhnya. Gerak- gerik Teguh sudah terlihat kalau dia tidak suka melihat keadaan ini. Mamanya pun menyusul ke kamar Teguh.


“Tok…tok…tok…” suara pintu di ketok.


“Ngapain ma?!”


“Mama mau ngomong.”


“Tidak perlu!” mamanya masuk dengan baik-baik, karena mamanya tau kebiasaan Teguh, kalau dia sedang marah, dia tidak pernah kunci pintu kamarnya.


“Teguh bilang tidak perlu ma!”


“Tapi mama harus ngomong.” Mamanya Teguh masih terus berusaha membaikkan keadaan, tapi Teguh masih tetap membisu, masih tetap diam.


“Teguh Prayitno! Mama tau, dia sudah nyakitin mama, tapi dia sudah minta maaf sama mama!?” Teguh masih tetap membisu. “Dia juga sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”


“Ma!” Teguh mulai kembali membuka mulutnya untuk bicara, “Sekali Ular, ya tetap Ular ma! Selamanya akan tetap menjadi Ular, kapan mama lengah dia pasti kan mematuk mama lagi, dan Teguh tidak akan pernah memaafkannya, sampai kapanpun ma!” Teguh memalingkan wajahnya lagi. Mamanya jadi serba salah, akhirnya mamanya Teguh pun keluar dari kamar Teguh dengan patah semangat.


Teguh benar-benar tidak pernah habis pikir, kenapa begitu mudahnya mamanya memaafkan lelaki itu, Teguh jadi merasa dendam sekali pada lelaki itu, ingin rasanya dia memukul, menghajar lelaki itu sampai mampus, tapi itu hanya ada di dalam angan Teguh saja, sebab selain sudah tentu lelaki itu jauh lebih kuat darinya, Teguh juga tidak mau nyakitin hati mamanya, dia juga tidak mau mamanya marah kepadanya dan nama lelaki itu adalah Jengad.


April, pekan terakhir, dan hari ini Teguh sangat amat gembira, karena Sunaryo akhirnya datang lagi, saat ini lah saat yang selama setahun ini dia tunggu, berbagai macam kejadian telah menimpa dirinya. Dengan kedatangan bapaknya itu Teguh jadi merasa sedikit ada titik terang untuk menyelasaikan masalah yang selama ini menyelubungi dirinya, yang sebenarnya dia belum lah kuat untuk menerima cobaan itu, salah-salah Teguh bisa gila memikirkannya.


“Teguh sudah hafal juz’amanya?”

__ADS_1


“Hah? Juz’ama? Hafal?” ternyata si Teguh belum menghafal juz’ama yang Bapaknya kasih dulu, boro-boro hafal, sekarang juz’ama itu aja Teguh tidak tau dimana.


“Belum pak.”


“Kenapa belum?”


“Teguh tidak tau kalau bapak nyuruh Teguh untuk menghafalnya sih.”


“Kan Bapak sudah bilang, hafalin juz’ama ini!” sepertinya Bapak Teguh sedikit kecewa dengan Teguh, itu pasti karena dia tidak tau dengan apa yang sudah terjadi di rumah ini, dalam setahun ini, rumah ini terlalu banyak persoalan, jadi wajar saja Teguh lupa dengan Juz’ama, jangankan juz’ama, masjid aja yang biasanya Teguh sangat rajin pergi ke sana dalam setahun ini dia tak pernah menginjak dan bersujud di sana.


“Iya, maaf deh pak!”


“Ya sudah tidak apa-apa, Teguh besok ikut bapak ya! kita pergi ke rumah Bapak, sekalian kenalan sama mama.” Teguh tidak perlu berfikir panjang, Teguh langsung saja menjawab.


Dan hanya empat sahabatnya saja lah yang mampu membuat dia bercerita, dan hanya empat sahabatnya sajalah yang bisa mendengar semua jeritan hatinya. Sugi, Lasino, Sri, dan Dwi, merekalah orangnya, yang Teguh sudah menganggapnya seperti saudarnya sendiri, karena merekalah penyemangat di sekolah, teman dalam bercerita, bukan hanya di sekolah saja, mereka juga siap jadi penampung curahan hati Teguh dari mulai masalah keluarganya yang sudah tak terbentuk hingga masalah cinta yang baru saja ingin dia bentuk.


Akhirnya Bapaknya Teguh datang ke sekolahan, dia langsung bertemu dengan guru sekolah Teguh, langsung minta Izin pada sang guru untuk membawa Teguh beberapa hari ke tempat tinggalnya. Sang guru pun memberi Teguh Izin selama tiga hari saja, bukan main Teguh senangnya.


Akhirnya Teguh sampai di Indramayu, di mana bapaknya selama ini tinggal dan bekerja.


“Ini rumah bapak Guh. Ayo masuk!” Teguh pun ikut saja apa kata bapaknya, Begitu dia masuk rumah Bapaknya, dia terkejut, wah ternyata Teguh masih punya adik lagi, dia adalah seorang lelaki, kesan pertama Teguh bertemu mama tirinya, Teguh tak dapat menentukan apakah baik atau sebaliknya, tapi Teguh emang dari dulu sudah tidak terlalu suka dengan istilah Tiri, begitu menyakitkan kalau dia mengingatnya.


Esok harinya, Teguh di ajak ke tempat kerja bapaknya, ternyata tempatnya agak jauh dari rumahnya, ya kira-kira sebelas sampai dua belas kilo meter lah dari rumahnya, dia pergi dengan bapaknya dengan mengendarai sepeda ontel, jalan menuju tempat kerja bapaknya Teguh memang sungguh bagus, halus, tak ada sedikitpun batu yang mengganggu jalanya, yang terlihat hanya hitam, aspal membentang sepanjang jalan, padahal, di sana adalah sebuah pedesaan banget, dari rumah ke tempat kerja adalah hutan, ya hutan banget juga deh, sebab sepanjang jalan yang dapat dia lihat adalah pohon jati, nah, begitu Teguh baru mau sampai ke tempat kerja bapaknya, dia melihat ada banyak gedung-gedung tinggi, ini pun membuat Teguh terus bertanya-tanya. ‘Uh megah banget’ batinnya, dari situ Teguh sudah bangga banget, ‘Wah bapakku kerja di gedung megah gitu’ batinnya lagi.

__ADS_1


“Pak itu ya pabrik Bapak kerja?”


“Memang benar itu gedung milik tempat bapak kerja, tapi Teguh salah kalau bilang itu pabrik.”


“Memangnya itu gedung apa pak?”


“Itu sekolahan Teguh, sekolahan terbesar di Indonesia, Teguh nanti juga tau kalau Teguh masuk dalam kawasan sekolahan itu.”


“Sekolahan? Kok gede bangat pak?”


Akhirnya Teguh masuk ke dalam kawasan sekolah itu, sebuah gedung, sebuah sekolahan yang Teguh bilang sekolahan termegah di Indonesia. Ya iya lah termegah dia kan tidak pernah bepergian, paling-paling pergi paling jauh ke kota cilacap. Teguh bener-bener jatuh cinta sama tempat itu, nah ketika Teguh sedang asyik dengan khayalan, ‘Seandainya aku jadi seorang murid di sekolah ini, pasti aku bakal jadi manusia paling bahagia di atas bumi ini’ tiba- tiba Sunar bertanya.


“Teguh mau sekolah di sini?”


“Hah…” Teguh terkejut, dia tidak perlu berrfikir lama, Teguh langsung menjawab, “Teguh pasti mau banget lah pak! Kapan Teguh mulai sekolah disini pak?”


“Ya Teguh harus selesaikan SD dulu donk! Dan hafalkan juz’amanya ya! entar kalau Teguh sudah hafal juz’ama dan lulus SD, nanti bapak datang lagi ke rumah Teguh.


Sebuah sekolah bernama Ma’had Al-Zaytun berlokasi di kabupaten Indramayu, sekolah itulah yang di yakini oleh Teguh untuk menyelasikan permasalahannya dengan Kasmini mamanya. Teguh semangat ingin cepet-cepet masuk sekolahan itu, sesampainya di rumah, Teguh terus berfikir bagai mana caranya mendapat izin dari mamanya, yang Teguh yakin mamanya tidak bakal mengizinkannya, tapi Teguh akhirnya berani meminta izin.


“Ma! Nanti selesai sekolah, Teguh nerusin di tempat bapak ya ma!?” tau tidak apa jawaban mamanya?


“Tidak boleh Guh, Teguh yang membesarkan kan mama, masak setelah Teguh besar, Teguh ninggalin mama?” Teguh jadi tidak bisa ngomong apa-apa begitu dia mendengarkan apa yang baru saja di ungkapkan oleh mamanya, tapi bila inget siapa yang menemani mamanya di rumah, Teguh jadi ingin cepat-cepat pergi dari rumah itu, mamanya tinggal dengan lelaki yang tidak ada ikatan apapun dengan mamanya.

__ADS_1


***


__ADS_2