
Sekarang dia ada di kampung, di mana di sana lah dia di besarkan oleh kakek dan nenek dengan cinta dan kasih sayang, Teguh sekarang sedang meredam kesedihan, sekarang bulan Desember masih tanggal muda karena sekarang tanggal 2 hari jum’at. Beberapa hari ini memang dia sering main ke rumah uwa’nya, wa’ Sisum, karena dia Bantu uwa’ jualan mie ayam, dan sekarang sudah magrib, dia mau pulang, dia capek seharian Bantu uwa’ jualan.
“Wa’, Teguh pulang dulu ya!”
“Pulang ke mana mas?” suara seorang cewek yang tak dia kenal, itu cewek tetangga uwa’nya, tapi sepertinya dia ingat, waktu dia kelas 6 SD dia masih kelas 3, jadi sekarang dia masih kelas 1 SMK, kalau ngga salah, dan namanya? dia lupa. Tapi untuk apa dia tanya Teguh pulang kemana? Ya sudah pasti karena dia tidak tau rumah Teguh.
“Ya pulang ke rumah lah mba!”
“Emang rumahnya Mas di mana?”
“Di sana mba, di tepi laut, mba mau ikut?”
“Ah ngga lah jauh.”
“Ya sudah, wa’ Teguh pulang dulu ya!”
“Ya sudah pulang sana! Jangan lupa besok datang lagi ya!” Teguh masih mencoba membuka memori di dalam otaknya, dia lupa namanya, dia masih belum berhasil mengingat nama cewek itu, tapi benar dia pernah liat cewek itu sebelumnya, ‘iya bener dia itu adik kelasku, yang dulu masih kecil banget, terakhir aku liat dia masih kecil, kecil banget malah, tapi sekarang sudah gede tapi buat apa aku pedulikan dia? Toh dia tu bukan siapa-siapaku, dia itu tetangga uwa’ku, itu aja kok ngga lebih.’ Dia masih asik aja membicarakan cewek itu dengan dirinya sendiri di dalam otaknya.
Besok malamnya teguh tidak membantu uwa’nya tapi dia tetep datang ke rumah uwa’nya itu karena memang dia itu suka sama mie ayam uwa’nya, malam ini malam minggu, coba kalau dia punya cewek, pasti dia lagi ngapel, tapi buktinya dia lagi ‘Retak’ alias Remaja tanpa kekasih, jadi dia tidak sedang apel. Cewek yang kemaren nanya Teguh mau pulang ke mana datang lagi, namanya Titi, kampungan banget namanya kan memang dia orang kampung, tapi ngapain dia ke sini? Teguh kan lagi ngobrol sama uwa’nya masalah keluarga. Teguh jadi merasa terganggu, Titi malah duduk di depannya, persis di depan matanya, namun apa yang terjadi dia langsung tak bisa ngomong apa-apa, ternyata Teguh telah terpana asmara ‘dia cantik, cantik banget, dia..dia bener-bener sempurna, di antara wanita cantik, mungkin dia adalah wanita yang tercantik,’ pikirnya, dan dia memang sudah terpesona dengan ke cantikan Titi yang selama ini tak pernah dia perdulikan keberadaannya, tapi kali ini dia harus akui, dia terkagum atas kecantikannya, sebenarnya dia ingin mengucap sesuatu kata-kata yang mungkin kan menjadi kalimat yang bisa membuat Titi akan sedikit melayang, Teguh pandai dalam bermain kata-kata, tapi maaf dia bukan ahli bersilat kata. Dan belum sempat dia mengucapkan satu patah kata pun, suara motor masuk dalam halaman rumahnya, dua pria turun dari motor itu, Titi beranjak dari hadapannya, dia menatap mata Teguh, dia pasti sudah tau apa yang ingin Teguh tanyakan padanya, dia tersenyum dan akhirnya Teguh pun bertanya.
“Siapa tu?”
“Temen mas! Temen sekolah!” gampang banget dia menjawab pertanyaan Teguh, tapi kenapa di dalam dadanya ada rasa kesal, dia tak percaya kalau orang yang datang itu adalah teman sahaja, sama sekali dia tak percaya, dia begitu marah saat ini, memag siapa Titi? Bukan siapa-siapanya kan mungkin ini karena dia cemburu pada dua cowok yang masuk ke dalam rumahnya, dia terus menunggu Titi keluar dari rumah, ada satu jam berlalu, selama itu dia duduk di teras rumah uwa’nya yang persis ada di samping rumah Titi, sebentar dia masuk rumah, sebentar lagi dia lihat motor di depan rumah Titi, masih ada, begitu seterusnya sampai berkali-kali, bersamaan itu dia juga mencoba menahan amarah, nah, akhirnya Titi keluar juga. Dua pria itu pamit sama Titi, dua pria itu mulai menaiki motornya.
“Ati-ati ya mas!” akhirnya dua pria itu pergi dari rumah Titi, dia sedikit lega melihat kepergian mereka.
“Siapa sih malam minggu ketuk-ketuk pintu, hatiku bertanya-tanya.” Teguh nyanyi sebuah lagu dangdut yang sudah tak asing lagi, dan Titi pun hanya tersenyum.
“Temen kok mas! Temen sekolah.”
“Temen apa temen tuh?”
“Asli mas, temen doank!” ngapain juga Teguh peduli ma dia, mau temennya kek, mau pacarnya kek, suaminya kek, peduli amat! Tapi, dia senyum lagi sama Teguh, senyumnya itu, senyumnya bisa ngebuat Teguh melayang, serasa dia ada di atas awan, Tinggi banget.
Malam ini begitu sepi, Teguh sendirian tak ada teman, tak tampak rembulan, jangankan bintang, kunang-kunang pun tak ada, entah apa yang terjadi malam ini, dan ternyata tidak turun hujan aneh kan? Biasanya kalau tidak hujan pasti tampak bintang, jangan-jangan dia emang ngga keluar rumah, emang dia masih ada di dalam kamarnya.
“Mas ada telpon nih!” Puji sepupunya, anak pertama Kamisah, adiknya Maman, Kamisah sudah punya anak dua, semenjak dia tertangkap polisi di Malaysia dulu dia tak pergi kemana-mana dan akhirnya hamil anak keduanya Edi namanya sekarang baru berusia tiga tahun, dan Kamisah sendiri sekarang sedang merantau ke Singapore lagi anak-anaknya sama suaminya, tinggal di rumah Teguh, peninggalan mamanya, mereka tinggal bareng nenek, ya itu Byunge yang sudah membesarkan Teguh.
“Telpon dari siapa Ji?”
“Mbokde dari Malaysia.” Teguh langsung terima telpon itu .
“Halo ma!” suaranya tidak jelas, “Ma suaranya ngga jelas!” bukan, suaranya ada tapi sepertinya ada yang tidak beres.
__ADS_1
“Teguh…” suara Kasmini serak-serak basah, Teguh pun tau kalau sekarang mamanya sedang menangis.
“Ma! Kalau ngomong yang jelas dong!”
“Mama…kangen Teguh…” masih serak nyaris suaranya tak terdengar.
“Ada apa ma? Mama jangan ngomong sambil nangis dong! Suara mama ngga jelas.” Baru kali ini Teguh berani membentak mamanya.
“Mama lagi sakit Guh, mama ingin pulang!”
“Sebenarnya mama kenapa sih ma? Mama ingin Teguh ke Malaysia?” Kasmini memang sudah berulang kali meminta Teguh ke Malaysia, tapi dia tetap tidak mau, karena dia bener-bener ingin mewujudkan obsesi di dunia perfilman menjadi sutradara dan actor ternama, Tapi kali ini dia tak tau harus bagaimana, Kasmini sudah terlalu ingin bertemu dengannya, dia harus gimana lagi selain meng-iyakan semua permintaan Kasmini.
“Iya deh Teguh akan ke Malaysia tapi mama jangan nangis gitu ah! Teguh ngga suka!” hape dia matikan, dia emosi sendiri, sebenarnya Byunge juga ikut marah sama Kasmini, karena dia nelpon sambil nangis.
Apa mungkin pencariannya hanya sampai di sini saja? Dan dia tak dapat apa-apa dari pencarian ini? Sepertinya dia harus segera melupakan obsesinya ini. Teguh ingin menjadi sutradara dan actor ternama, dan kini sudah jelas kalau ini semua hanyalah khayalan saja, dan dia kini harus menyadari semuanya, bahwa dia tidak mungkin bisa mewujudkan impian ini, mungkinkah ini adalah kesalahan Teguh, kenapa dia harus berobsesi menjadi sutradara? Kenapa obsesinya bukan menjadi penjual Koran yang sukses, atau menjadi seorang waiter pelayan restaurant yang sukses, ataukah lagi jadi seorang cleaning servis pembersih Mall yang sukses, atau apa lah yang jelas bisa dia wujudkan dengan mudah.
Sekarang musim rambutan Teguh sedang metik buah rambutan di pinggir rumah uwa’nya, nah si Titi ada di depan rumah uwa’nya.
“Mas! Sekalian dong buat Titi, Titi juga mau.” dia masih di atas pohon, dia bingung mau metik yang mana, sedangkan pohonnya banyak semut , di tambah dia sempet ngeliat wajah manjanya Titi waktu minta di petikin rambutan, langsung aja dia petik rambutan sebanyak mungkin, habis itu dia langsung turun, turunnya itu yang jadi masalah, kalau pernah ngeliat monyet turun dari pohon, ya…itu dia, persis seperti dia, nylarak dari atas sampai akar, habis itu langsung dia lepas bajunya, di garuk-garuk punggungnya, semut ada di mana-mana, sewaktu dia lihat ke arah Titi dan semua orang yang ada di sana, pada ketawa semua, kecuali dia tentunya, Teguh cuman bisa mringis sambil menahan gigitan semut yang ada di dalam celananya, (oups…sorry), Anunya juga jadi korban, dia langsung lari masuk rumah uwa’nya tanpa perduli dengan rambutan hasil jerih payahnya tadi, dia langsung lepas celananya, tapi ****** ******** tidak dia lepas, tenang aja, langsung di hajarnya semut nakal itu, lega rasanya. Dan bener-bener, sewaktu dia ngaca, sudah kayak orang kena cacar, tapi dia menganggap itu kan cuman kisah kecil yang bagi dia tak ada artinya, toh dia begitu karena makhluk Alloh juga, kalau tidak begitu kan pasti Titi yang sekarang mungkin sedang makan rambutan di depan rumah uwa’nya tidak bakal tertawa, dan menampakan senyuman yang amat manis. Habis kejadian itu, kejadian di mana Teguh turun dari pohon rambutan dengan gaya monyet di gigitin semut, dan setelah kejadian sekujur tubuhnya penuh dengan bintik-bintik merah akibat gigitan semut, dia langsung nemuin Titi di depan, dan begitu Titi ngeliat dia, Titi masih mencoba menahan tawanya, Teguh pun mengakui, emang dia cantik, apa lagi kalau dia sedang mengumbar senyumnya, bedegh… Sekarang dia lagi terus mengunyah rambutan yang sudah Teguh petik tadi.
“Makasih ya mas rambutannya!” dia masih saja mencoba menahan tawanya, ekspresi Teguh waktu baru turun dari pohon rambutan tadi memang sangat lucu, sampai orang yang ngeliat pengennya ketawa melulu.
“Manis ngga Ti?”
“Ngga ah.. semanis apa pun rasa rambutan itu, ngga akan bisa mengalahkan manisnya wajah Titi sekarang ini.” Titi tersipu malu dan tersenyum makin terlihat manisnya .
“Ah gombal!” Titi mengambil satu rambutan dan mengupasnya, “Coba deh mas! Ini kan juga rambutan punya Mas Teguh.” Dia mau menyuapkan rambutan yang sudah terkupas itu, “Mas mau? Nih kupas sendiri!” ‘eh sialan!’ batin Teguh, Rambutan yang sudah dia kupas langsung dia masukkan ke dalam mulutnya, dan Teguh di kasih yang masih berkulit dan ada semutnya lagi. Dongkol juga hatinya, tapi dia juga sudah menduga, mana mungkin Titi mau nyuapin dia. memang dia siapanya? Teguh pun terpaksa terima candaannya ‘liat aja suatu hari nanti dia pasti bakal nyuapin makan aku,’ ancam Teguh dalam hati, sekarang dia mau ambil hape Titi.
“Eh mau ngapain mas?”
“Ngga! Cuman buat miss call ke hape mas, ada pulsanya kan?”
“Ada…” langsung dia miss call nomer hapenya sendiri, tapi bukan itu sebenernya pokok pembicaraannya saat ini.
“Ti, mas mau ke Malaysia nih, Titi mau titip apa?” ini pokok utamanya, dia mau pamitan sama Titi kalau dia mau pergi jauh dari Titi, tapi sepertinya Titi tak merespon pembicaran ini Titi hanya menanggapi pamitannya saja.
“Ngapain mas ke sana?”
“Ya, pengen main aja ketemu sama mama di sana, Titi mau di bawain apa?” Titi diam seribu makna, bisa karena bingung mau minta apa, bisa juga karena bingung mau nolak, tapi kemudian dia menjawab.
“Kalau Titi minta di bawakan hape yang bisa buat 3G boleh ngga?” ‘hah???? hape buat 3G, yang kayak gimana tu hape ya?’ Teguh pun bingung dia baru denger istilah 3G, sekarang gilirannya yang terdiam tanpa makna, otomatis dia akan menjawab ‘okelah’ tapi itu bukan jawabannya sebenarnya.
“Emang ni hape siapa? kok minta hape lagi?”
__ADS_1
“Ya itu hape Titi, tapi kan belum bisa buat 3G.”
“Oke!...eh maksudku, suatu saat nanti deh, aku pasti bisa beliin Titi hape yang seperti itu, tapi aku ngga janji ya!”
Setelah pembicaraan yang ngga jelas itu Teguh pamitan lagi sama Titi, meskipun tanpa cupika-cupiki, tanpa menyentuh kulit sama sekali, tapi ada yang aneh, perasaan berat menyelinap di hatinya, perasaan berat untuk ninggalin Titi, seperti dia ini mengangkat jangkar kapal laut sendirian, tapi rasanya tidak mungkin, ya… kecuali dia ini Hercules tapi nyatanya dia hanyalah seorang Teguh Prayitno.
Hari ini dia harus melupakan segalanya, dia harus mengubur dalam-dalam impiannya, keinginan tuk menjadi actor, tuk menjadi seorang sutradara, tuk membuat film, tuk berpartisipasi dalam dunia perfilman Indonesia. Dan dia bener-bener harus membuang jauh-jauh semua itu. Kalau cinta, memang saat ini dia sedang tak punya cinta, bukannya dia tak punya cinta, tapi dia sedang tidak bercinta, sebenernya dia pengen bercinta, tapi orang yang ingin dia kasih cinta belum dia temukan, atau mungkin dia emang tidak akan ngedapatin orang yang memang butuh cintanya, ini bukan do’a dan ini juga bukan kutukan, saat ini dia masih terus mencari, dan terus mencari, tanpa pernah dia merasa bosan tuk terus mencari. Dia pun tak mengerti kenapa begitu banyak cinta yang dia temukan, dan mengapa cinta itu selalu menyiksanya, mungkinkah cinta yang dia cari sekarang sedang menunggunya di negri jiran? Entahlah, semua sudah di atur sama DIA, DIA yang menciptakan segalanya, DIA yang membuat cinta ada.
Dia akan segera meninggalkan pulau jawa, di mana di sana dia pertama kali menginjak bumi, di mana di sana dia menangis, di mana di sana dia tertawa, di mana di sana dia merasakan debaran kebahagiaan, merasakan sakitnya jatuh cinta, merasakan indahnya merindukan seseorang, dan merasakan bagaimana rasanya di benci oleh orang yang dia cintai.
Sebulan di Malaysia, dia merasa BT’, bosen, dia ingin sekali balik ke Indonesia, di sini dia tak ada teman main, kalau anak-anak ada, tapi anak-anak kecil, anak ingusan, anak-anak yang sebaya dengannya tak ada yang nganggur, mereka sudah pada kerja semua, tak lama kemudian dia pun merancang berbagai cara supaya dia bisa kembali ke jawa.
***
Sekarang Teguh sudah di rumah uwa’nya, sudah pasti dia mau nemui cewek yang namanya Titi, ternyata dia memang kangen sama Titi, tapi dia tak tau, apa ini namanya cinta? lihat aja nanti, dia pun melihat Titi, dia jadi grogi mau ketemu sama Titi.
“Eh mas Teguh, pa kabar? Katanya ke Malaysia? Mana oleh-olehnya? Katanya mau bawain Titi hape yang bisa buat 3G an?” Titi manja banget sama Teguh, dia manis kalau lagi manja, justu itu yang Teguh seneng dari setiap wanita, MANJA, tapi manjanya ngga keterlaluan.
“Kan mas ke Malaysia cuman main aja, pengen ketemu sama mama.”
“Bawa hape ngga mas? Pinjem dong!”
“Mang hape Titi kenapa?”
“Lagi rusak, katanya sih mau di beliin sama mamasku yang di Jakarta.” dia keluarin hapenya.
“Boleh ya Titi pinjem!” Titi langsung menyambar hapenya.
“Baru ya mas? Ih ada kameranya, Titi bawa ya!” Titi langsung pergi, Dan Teguh? dia cuman bengong, bingung, kegirangan, terlalu bahagia karena bisa melihat wajah manjanya Titi Haryanti. Aslinya Teguh tau siapa Titi, karena Titi itu adik kelasnya waktu SD, jadi waktu Teguh kelas 6SD, Titi baru kelas 3SD. Teguh kebingungan dan menunggunya di teras depan rumahnya.
“Nih mas! Lama ya? maaf ya! makasih juga deh!”
“Ngga apa-apa kok, mas minta imbalannya ya!” Teguh potret wajahnya, tapi dia pinter menghindar, jadi? Ya gagal deh.
“Ngapain sih mas? Di situ kan sudah ada, dua lho mas.” Dia tak percaya namun kemudian dia mencarinya, dan bener aja, ada dua photo Titi dengan pose yang sangat manis, jelas sekali manja di wajahnya, sudah tentu dia sangat teramat, dan paling bahagia saat ini, mudah-mudahan ini awal yang baik buat dia pedekate sama Titi. Amiiiiiiiiinnn….
Hampir setiap hari, dia main ke rumahnya, dan hampir setiap hari juga hapenya jadi mainan rutin Titi, dan suatu hari Titi mengembalikan hapenya dengan gambar dinding hapenya terpampang wajah manis Titi, saat itu dia sempet berkata, walau hanya dalam hati.
“Ni gambar ngga akan aku hapus, sampai Titi sendiri yang menghapusnya, atau sampai HP ini sudah ngga lagi milikku.” HP seperti apa yang Teguh punya? Nokia6610i.
Sayangnya, dia sudah bosan di rumah mulu, dia pengen ke Jakarta lagi, dia belum kapok, dia pengen terus mengejar mimpinya, dan mimpinya adalah pengen jadi sutradara! Ngapain harus ke Jakarta? Kalau pengen jadi sutradara ya tinggal buat aja! Banyak alasannya, kenapa dia harus ke Jakarta, kayaknya dia tidak perlu ngejelasin alasannya ini, mungkin besok atau lusa dia berangkat lagi ke Jakarta. terus Titi? Ah dia mah nomer sekian, sekarang nomer pertama adalah SUTRADARA!
***
__ADS_1