
Chen Li kemudian di latih oleh pria tampan tersebut. Namun sebelum itu, ia sempat bingung harus memanggilnya siapa.
Akhirnya ia memutuskan untuk memberinya nama.
"Bagaimana kalau Chen Lu?"
"Hmm." Pria tampan itu agak ragu dengan nama yang di sodorkan Chen Li kepadanya. Namun ia tetap mengangguk.
"Baiklah."
Selesai memberikannya nama, Chen Li pun memulai pelatihannya.
Pertama-tama, Chen Lu mengajarinya teknik Busur Naga Api.
Setelah berlatih selama 2 hari penuh, Chen Li akhirnya bisa menguasai jurus tersebut, walaupun masih belum bisa di katakan sempurna.
Melihat Chen Li yang mampu menguasai teknik Busur Naga Api dalam kurun waktu dua hari, Membuat takjub Chen Lu sekaligus mengerti, bahwa di atas langit, memang masih ada langit.
Karena dahulu, ia bahkan membutuhkan waktu empat sampai lima hari untuk menguasai teknik ini.
Keberadaan Chen Li telah menyadarkan matanya. Ia pun berjanji dan memantapkan hatinya untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang dahulu pernah ia perbuat.
Setelah 3 hari penuh di alam bawah sadarnya atau sama dengan 72 menit di dunia nyata, Chen Li pun memutuskan untuk kembali ke dunia nyata.
Chen Li mengutarakan maksudnya kepada Chen Lu. Ia takut Pamannya akan mencarinya, apalagi ketika Pamannya menemukan dirinya yang tak sadarkan diri sedang tenggelam di air, ia pasti akan sangat khawatir.
Chen Lu mengizinkan Chen Li untuk kembali ke dunia nyata. Namun sebelum itu, Chen Lu mengajarinya terlebih dahulu cara untuk kembali ke dunia nyata.
Chen Lu menerangkan bahwa Jika ia mau kembali ke dunia nyata, maka ia hanya perlu membayangkannya saja, begitu pun sebaliknya.
Sebelum itu, Chen Lu memberitahunya bahwa tubuhnya di dunia nyata telah pulih sepenuhnya. Bahkan tulang-tulangnya yang remuk kini telah kembali normal dan bahkan lebih kuat bak baja.
Itu karena air panas sebelumnya ternyata memiliki khasiat penyembuhan yang sangat luar biasa.
Tak hanya itu, bahkan air panas tersebut juga bisa mempercepat proses penerobosan ke tingkat berikutnya.
Chen Lu juga memberitahunya bahwa pada dasar air panas tersebut terdapat sebuah busur dan harta Karun.
Selepas mendengar semua penjelasan dari Chen Lu, Chen Li lantas kembali ke dunia nyata.
Ia duduk bersila dan menutup kedua matanya. Mengosongkan pikirannya, memfokuskan dan membayangkan ia sedang berada di dunia nyata.
__ADS_1
Setelahnya, ia merasakan tubuhnya berputar dan seperti di tarik sesuatu.
Saat merasakan dirinya berhenti berputar, ia pun membuka kedua matanya dan terbangun ke dunia nyata.
Ia menemukan dirinya sedang terapung di atas air panas.
Tanpa pikir panjang, ia pun langsung berenang ke kedalaman air.
Setelah berenang sekitar 50 meter, ia pun mencapai dasar dari air panas tersebut. Ia segera mencari busur dan harta Karun yang di maksud Chen Lu.
Chen Li terus berenang sampai pada akhirnya ia merasakan nafasnya yang sudah mencapai batasnya.
Terpaksa ia harus naik kembali ke atas permukaan untuk mengambil nafas.
Chen Li mulai berenang kembali ke kedalaman air panas. Namun ia masih tetap tidak menemukan apa yang di maksud Chen Lu.
Ketika ia hendak naik kembali untuk mengambil nafas. Ia melihat sesuatu yang bercahaya merah. Tanpa pikir panjang ia langsung bergegas berenang ke arah sumber cahaya tersebut.
Secara samar, ia bisa melihat sesuatu yang berbentuk seperti cincin.
Chen Li langsung mengambilnya dan segera berenang ke permukaan. Sesampainya ia di atas permukaan air, ia langsung mengambil nafas panjang sebelum akhirnya menghembuskannya kasar.
Ia membuka kepalan tangan kanannya dan melihat sebuah cincin yang berwarna merah.
Karena mengira itu hanya cincin biasa, ia hanya memakainya saja tanpa terlalu memperhatikan itu cincin apa.
Sementara itu, di tempat lain Jenderal Wan Li yang telah berhasil mengalahkan Siluman Ular Naga langsung bergegas berlari mencari Chen Li.
Dengan menggunakan patahan pohon bekas tabrakan Chen Li sebagai petunjuk. Beberapa saat ia menemukan sebuah batu besar yang hancur akibat di tabrak sesuatu.
Melihat itu, wajahnya langsung memburuk, perasaannya mulai tak karuan.
Tanpa pikir panjang, ia langsung memeriksa batu tersebut dan menemukan sebuah lubang kecil.
Segera ia memasukinya. Walaupun agak sempit tapi ia tetap memaksakan diri.
Setelah kurang lebih 29 menit, ia akhirnya sampai pada ujung lubang tersebut dan menemukan sebuah ruangan yang sangat luas. Dengan mata air yang mengeluarkan uap.
Pada ujung air tersebut, ia bisa melihat seorang pemuda berusia sekitar 7 tahunan sedang duduk berkultivasi.
**
__ADS_1
Di tempat lain, nampak seorang pemuda yang berusia sekitar 7 tahun bersama seorang gadis cantik dan imut yang berusia sekitar 6 tahun sedang duduk di atas rerumputan sambil memandangi matahari senja.
"Yin'er, lihat betapa indahnya matahari sore itu," ucap pemuda itu sambil menunjuk matahari yang mulai menghilang di telan garis cakrawala.
"Iya kakak Wang. Matahari itu sangat indah," ujar gadis tersebut sambil menatap matahari yang sebentar lagi akan bersembunyi dengan mata yang bersinar.
Pria tersebut adalah Xiao Wang, sedangkan gadis yang bersamanya adalah Xiao Yin.
Mereka tampak menikmati indahnya langit sore yang berwarna merah keemasan dengan matahari sore yang berwarna merah darah.
Sesekali mereka akan bercanda dan tertawa ria, tanpa tau apa yang akan terjadi pada mereka malam ini.
Karena matahari sudah sepenuhnya terbenam dan tak terlihat lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka.
"Yin'er. Mari kita pulang. Hari sudah malam, aku takut nanti akan ada hewan buas atau siluman yang datang menyerang kita." Xiao Wang mengajak Xiao Yin untuk pulang.
"Baiklah. Ayo!" Xiao Yin berdiri dan langsung menarik tangan Xiao Wang.
Mereka pun berjalan pulang ke kediaman mereka dengan keadaan yang remang-remang.
Ketika mereka telah berjalan sekitar 50 meter. Xiao Wang merasakan ada sesuatu yang membuntuti mereka secara diam-diam.
Ia pun berhenti sejenak sambil memperhatikan di sekitarnya.
"Ada apa kakak Wang?" Tanya Xiao Yin penasaran, melihat Xiao Wang yang tiba-tiba berhenti.
Xiao Wang menatap Xiao Yin lalu berucap, "Tidak ada apa-apa Yin'er. Mari kita lanjut!"
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka. Saat itu hari sudah semakin gelap, mereka hanya mengandalkan penerangan dari cahaya sang rembulan. Suara binatang buas dan siluman pun terdengar di sepanjang jalan.
Xiao Yin memeluk erat lengan Xiao Wang karena ketakutan. Suasana malam itu sungguh sangat mencekam.
"Kau tenanglah Yin'er! Aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku akan melindungimu," ucap Xiao Wang menenangkan Xiao Yin.
Xiao Yin menjadi sedikit tenang mendengar penuturan Xiao Wang barusan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa meter mereka beranjak, Xiao Wang merasakan ada suatu pergerakan di balik bayang-bayang pohon.
Lantas ia langsung menghunuskan pedangnya.
"Siapa di sana!" Teriak Xiao Wang.
__ADS_1