
Wan Li bersama Chen Li berjalan menuju sebuah kota kecil untuk menjual hasil buruan mereka setelah keluar dari goa, meninggalkan murid-murid sekte Pedang Naga yang malang karena salah memilih lawan.
Beberapa meter di depan mereka nampak pintu gerbang kota kecil dengan dua orang pria yang menjaganya. Terlihat juga beberapa orang yang hendak memasuki kota tersebut. Tentu saja mereka harus di periksa dan di interogasi terlebih dahulu sebelum bisa memasuki desa tersebut.
"Li, sebaiknya kau turunkan terlebih dahulu tingkat kultivasimu ke tahapan yang lebih rendah, untuk berjaga-jaga." Chen Lu tiba-tiba berbicara di dalam pikirannya.
Chen Li menghentikan langkahnya, 'benar juga ya. Tapi bagaimana caranya Lu?'
"Kau tenang saja, ikuti langkah-langkah yang akan aku jelaskan!"
"Ada apa Li'er?" tanya Wan Li yang heran ketika melihat Chen Li tiba-tiba saja berhenti.
Chen Li pun menuturkan apa yang di katakan Chen Lu barusan kepadanya.
"Hmm, benar juga Li'er. Di usiamu yang sekarang, akan sangat aneh jika kau mencapai tahap Langit tingkat 2."
"..Kalau begitu kita berhenti di sini dulu, kau turunkan kultivasi mu. Aku akan menjagamu di sini."
"Baik Paman."
Di bawah pohon yang rindang, mereka beristirahat. Chen Li duduk bersila, pikirannya ia pusatkan pada perkataan Chen Lu.
"Li, untuk menyembunyikan tingkatan kultivasi, ada dua cara. Cara yang pertama adalah dengan tipuan penurunan kultivasi. Sedang yang kedua adalah tipuan penghilang kultivasi."
Chen Lu menjelaskan bahwa pada dua cara ini memiliki perbedaan dan persamaan. Perbedaannya yaitu, jika menggunakan Tipuan Penurunan Kultivasi, orang hanya akan mengetahui tingkatan kultivasi yang kita turunkan sampai di tahapan mana.
Sedang untuk tipuan penghilang kultivasi, maka orang tak akan mampu mengukur tingkat kultivasi kita, kecuali terjadi suatu hal tertentu, sehingga orang lain bisa mengetahuinya.
Sedangkan persamaannya adalah bahwa keduanya memiliki kelemahan, yaitu tak akan mempan pada kultivator yang tahapannya sangat tinggi.
Anggukan Chen Li nampak ketika Chen Lu selesai menjelaskan perihal menyembunyikan kultivasi, menandakan ia telah mengerti.
Setelah itu ia mulai mempelajari keduanya. Butuh waktu tiga hari bagi Chen Li berlatih di alam bawah sadarnya hingga ia mampu menguasai kedua cara tersebut.
Di dunia nyata, Wan Li mengangkat sebelah alisnya ketika merasakan tingkatan kultivasi Chen Li perlahan menyusut. Hingga ketika di tingkatan Menengah tingkat 6 penyusutan tersebut berhenti.
"Li'er, bagaimana kau melakukannya?" tanya Wan Li setelah melihat Chen Li membuka matanya.
Senyum tipis tersungging di bibirnya menyambut ucapan tanya yang di lontarkan Wan Li barusan. Lalu ia menjelasakan bahwa semua itu ia dapat berkat arahan dari Chen Lu.
Setelah itu keduanya berdiri dan melanjutkan perjalanan. Tapi sebelum itu, Wan Li meminta Chen Li untuk mengajarinya juga ketika ada waktu dan di sanggupi oleh Chen Li.
*
Dua pria berwajah sangar itu menatap tajam ke arah dua orang pria yang berjalan hendak memasuki desa.
Kedua pria berwajah sangar tersebut tak mengenakan pakaian seolah-olah memamerkan tubuh mereka yang berotot. Hanya beberapa perhiasan yang ada di tubuh bagian atas sajalah yang mereka kenakan, membuat mereka nampak semakin garang.
Chen Li merasa aneh melihat tatapan kedua pria itu.
"Perlihatkan identitas kalian!" ucap salah seorang dari pria sangar itu.
"Kami tak mempunyai benda semacam itu," ucap Chen Li dengan polos.
"Kalau begitu, silahkan berbalik dan meninggalkan kota ini."
__ADS_1
"Mana bisa begitu?" ucap Chen Li tak terima.
"Li'er, sudahlah." Wan Li melempar sebuah koin perak kepada pria yang berbicara tadi.
'Jendral Kerajaan Api.' Pria tersebut langsung membungkuk memberi hormat, sedang pria yang berdiri di sampingnya merasa heran. Kenapa teman yang terkenal ganas itu kali ini nampak jinak di hadapan seorang pria yang berpakaian lusuh.
Melihat temannya yang masih saja berdiri, membuat pria tersebut kesal. Ia lantas memaksa pria itu untuk mengikutinya membungkuk.
"Mohon maafkan atas kelancangan hamba barusan jendral."
"Tak masalah," Wan Li beserta Chen Li langsung memasuki desa tersebut setelah di persilahkan.
"Paman, benda apa yang kau lemparkan pada pria itu, paman?"
"Itu tak penting Li'er, mari kita lanjutkan perjalanan."
Pertama-tama, langkah mereka tertuju pada salah satu rumah, di mana di situlah tempat para pemburu menjual hasil yang di dapat dari hutan.
Setelah selesai menjual hasil buruan mereka, keduanya pun berniat mencari warung makan untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Beberapa saat melangkah, akhirnya tempat yang mereka cari ketemu juga.
Tempat makan itu nampak besar dan memiliki tiga lantai. Dimana, setiap memasuki lantai pengunjung harus membayar seharga satu koin emas untuk lantai satu, tiga koin emas untuk lantai dua, dan lima koin emas untuk lantai tiga.
Penjaga yang menjaga masing-masing lantai pun tak main-main.
*
Pandangan remeh seorang pria yang berjaga di depan pintu warung itu tertuju kepada dua orang yang hendak memasuki tempat makan.
"Apa? Kau anggap kami seorang pengemis. Pemuda tampan sepertiku kau anggap pengemis!" Nampak Chen Li tak terima di katakan sebagai seorang pengemis, terlihat jelas dari intonasi suaranya yang meninggi.
Pria itu tak menghiraukan ucapan Chen Li barusan. "Silahkan meninggalkan tempat ini," ucapnya sambil tangannya di libaskan tanda sedang mengusir mereka.
"Maaf, sepertinya tuan salah anggapan. Kami datang kemari dengan tujuan makan, dan tuan tenang saja kami akan membayar makanan kami." Wan Li berusaha menahan emosinya dan berusaha berbicara sopan kepada pria itu.
"Cih, pengemis seperti kalian tak akan mampu membayar makanan di tempat makan ini."
"Kau, berani meremehkan kami." Pemuda kecil itu bersuara lantang hingga menimbulkan perhatian banyak pasang mata tertuju pada mereka.
Pria yang menghalangi jalan keduanya untuk masuk merasa malu di lihat banyak orang.
"Dasar bocah kurang ajar. Kehadiran kalian hanya akan mengganggu pengunjung kami. Silahkan meninggalkan tempat ini, sebelum aku bertindak kasar pada kalian."
"Cih, belagak," cibir Chen Li.
"Apa kau bilang? Dasar bocah sialan, mau ku robek mulut lancang mu itu, bocah."
"Cih, silahkan saja kalau kau bisa."
"Sialan kau." Kobaran api kemarahan nampak menyelimuti perasaan pria itu. Ia lantas menghunus pedangnya dan langsung melayangkannya ke arah bocah itu.
Chen Li tak menghindari serangan itu. Senyuman manis terukir di bibir pemuda itu. Sesaat sebelum pemuda itu terkena tebasan, sebilah pedang langsung menahan laju pedang pria penjaga itu.
"Jangan kau berani melukai anak itu," ujar Wan Li dingin.
__ADS_1
Melihat tatapan mata pria yang menahan laju serangnya, pria itu tersentak kaget. Ketakutan menghampirinya sesaat ketika menatap mata pria tersebut sebelum akhirnya ia berhasil menguasai dirinya.
"Ada apa ini?"
Seorang pria berpakaian mewah muncul, ia langsung menghampiri pria penjaga itu.
"Ini tuan, kedua orang ini hendak mengemis di warung makan kita tuan," ujar pria tesebut berusaha memprovokasi pria berpakaian mewah.
"Hmm, benarkah yang kau katakan itu?"
"Benar tuan."
"Mohon maaf tuan, kami tak dapat melayani pengemis. Mohon tuan tak berkecil hati dengan itu," ucap pria itu dengan sopan.
"Cih, sudah terlanjur sakit," gumam Chen Li.
"Li'er, jaga omongan mu."
"Ck, baik paman."
"Mohon maaf tuan, apakah tuan pemilik tempat makan ini?"
"Ya benar tuan."
"Baguslah kalau begitu."
Wan Li kemudian menjelaskan kejadian tadi pada pemilik warung makan itu.
"Benarkah yang dikatakannya barusan?" tanya pemilik warung makan kepada pria penjaga yang nampak ketakutan.
"Ti-tidak tuan, dia berbohong."
Pandangan pemilik warung makan yang jeli ternyata mampu melihat bahwa pria itu yang berbohong.
"Kau berani membohongi ku! Kau pikir aku tak tahu kau sedang berbohong?" Suara pemilik tempat tersebut nampak meninggi.
"Ma-maafkan aku tuan."
Setelah memarahi pria itu, Sang pemilik Warung makan menghampiri kedua orang itu, ia mempersilahkan mereka masuk.
Orang-orang yang sedang menikmati makanan seketika tak memiliki nafsu makan lagi, ketika melihat kedua orang itu.
Pemilik tokoh membawa mereka ke bagian yang tak seorang pun di sana, tempat itu juga terlihat usang.
"Mohon maaf tuan, kami hanya bisa menyediakan tempat ini untuk tuan. Mohon tuan jangan tersinggung, tuan bisa melihat sendiri tatapan dari pengunjung ketika melihat tuan."
Wan Li bisa memaklumi tindakan pria itu.
"Bagaimana kalau kami makan di lantai tiga saja." Wan Li mengeluarkan bungkusan dari balik bajunya, lalu menyerahkan kepada pria itu.
Melihat isi bungkusan itu, mata pria itu melebar. Namun sesaat ia menggeleng kepala.
"Mohon maaf tuan, tempat di lantai tiga telah di sewa oleh putra mahkota kerajaan Api."
Sontak saja wajah Wan Li memburuk, perasaannya mulai lain. Bayangan tentang masa lalunya kembali muncul di benaknya.
__ADS_1