
Xiao Wang terus-terusan di pukul dan di siksa oleh pemuda tersebut. Wajah nya yang tampan, beserta kulitnya yang putih mulus berubah menjadi lebam.
Terdapat benjolan-benjolan di bagian mukanya dan sayatan-sayatan pedang di sekujur tubuhnya.
Namun ia memilih untuk menerima semua itu. Karena ia yakin bahwa sakit yang ia rasakan saat ini hanya bersifat sementara saja.
Tak bisa di bandingkan dengan sakit hati anak yang memukulinya itu. Yang kesehariannya mungkin selalu menerima perkataan pedas nan menusuk dari kakeknya.
Akan tetapi, ia tak pernah berpikir bahwa ini adalah hari terakhir ia hidup di dunia ini.
Anak tersebut menghunuskan pedangnya dan hendak menusuk jantung Xiao Wang
"Hahahaha.. Xiao Wang. Setelah kau mati, maka takkan ada lagi anak yang lebih jenius dari aku. Dan aku akan menjadi murid utama peringkat satu di sekte Elang Emas. Hahahaha." Pemuda tersebut tertawa lepas.
Sebenarnya anak tersebut tidak mau melakukan hal keji ini. Namun ia tak mempunyai cara lain selain cara ini.
Ia berpikir bahwa dengan matinya Xiao Wang, maka kakeknya pasti takkan lagi melontarkan kata-kata pedas nan menusuk hatinya.
Ia tak pernah berpikir akan apa dampak yang akan terjadi dari perbuatannya itu.
Pemuda itu memegang gagang pedangnya dengan keras. Menggunakan kedua tangannya, ia menarik pedangnya ke atas sebelum akhirnya mendorongnya ke depan, mengarahkannya ke jantung Xiao Wang.
"MATILAHH!" teriak anak tersebut dengan keras.
"TIIDAAK... KAKAK WAANG... JANGAAN!" Xiao Yin yang melihat Xiao Wang hampir di tikam oleh pemuda tersebut langsung berteriak histeris.
Pedang yang di pegang oleh pemuda itu hampir saja mengenai Xiao Wang. Namun,
Suatu hal aneh baru saja terjadi. Tiba-tiba saja pedang yang di pakai pemuda itu untuk menikam Xiao Wang berhenti bergerak. Padahal tinggal beberapa inci lagi pedang tersebut akan menyentuh kulitnya.
Xiao Wang melihat pedang yang di pegang oleh pemuda tersebut tiba-tiba saja berhenti bergerak. Selanjutnya ia tak mengetahui apa yang terjadi setelahnya.
Karena tubuhnya yang terasa sangat lemas. Darah yang terus menerus mengalir keluar dari tubuhnya. Akhirnya ia tidak mampu lagi, dan ia pun pingsan.
*****
Tlak!! Tlak!! Tlak!!
Xiao Wang terbangun karena mendengar suara percikan air.
Saat dia membuka kedua matanya. Ia mendapati dirinya sedang terbaring di atas permukaan air. Namun anehnya ia tidak tenggelam.
"Apakah aku sudah mati," batin Xiao Wang.
__ADS_1
"Akhirnya kau sadar juga bocah. Aku sudah menunggumu dari tadi." Seorang pria tua muncul dari kegelapan, berjalan menuju ke arahnya.
Xiao Wang menengok ke belakang dan mendapati seorang pria tua yang memegang pedang berjalan ke arahnya.
Melihat pria tua itu yang muncul entah dari mana, ia semakin yakin bahwa dirinya telah berada di alam lain.
Xiao Wang menganggap pria tua tadi adalah Dewa kehidupan yang akan melakukan perputaran reinkarnasi terhadapnya.
Setelah jarak pria tersebut dengan Xiao Wang terpaut 5 meter, pria tua tersebut mengambil posisi duduk. Tiba-tiba air yang ada di bawah terkumpul dan membentuk sebuah kursi.
Xiao Wang melihat apa yang terjadi barusan dengan tatapan takjub.
Lalu ia melangkah mendekati pria tua tersebut. Dan dengan polosnya, ia langsung melemparkan beberapa pertanyaan.
"Apakah kau Dewa kehidupan? Apakah aku sudah mati? Kapan kita akan mulai proses perputaran reinkarnasi? Aku penasaran akan menjadi siapa aku di kehidupan selanjutnya. Ap..."
"DIAM!!" bentak pria tua itu memotong perkataan Xiao Wang.
"Apa yang kau bicarakan bocah? Kau sangat berisik," ucap pria tua itu dengan kesal.
"E-eh, ti-tidak a-ada." Xiao Wang jadi salah tingkah.
Setelah beberapa saat, suasana jadi hening. Tidak ada perkataan yang keluar dari mulut mereka berdua.
Sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Lalu ia memberanikan diri untuk mengulangi pertanyaannya.
"A-apakah, a-aku su-sudah mati?" Tanya Xiao Wang dengan suara yang sedikit gemetaran.
Pria tua tersebut tidak menjawab pertanyaan Xiao Wang dan malah menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam lagi.
Seketika tubuh Xiao Wang bergetar hebat karena tatapan tajam dari pria tersebut yang seperti tombak yang siap menombaknya kapan saja.
Pria tua yang melihat reaksi Xiao Wang ketika di tatap seperti itu, menjadi tambah kesal.
"Ck. Kalau bukan karena pria sialan itu, aku takkan sudi menolong bocah bodoh seperti kau," decak pria tua tersebut.
Xiao Wang menanggapi omongan pria tua itu dengan tersenyum kecut. Sebenarnya ia tak mengerti apa yang di bicarakan oleh pria tua itu.
"Kau belum mati, bocah. Aku yang telah menyelamatkanmu dari sekelompok serangga yang hendak membunuhmu." Pria tersebut menjelaskan kepada Xiao Wang dengan singkat plus kesal.
Bagaimana tidak, pria tua itu telah menyelamatkan nyawanya. Bukannya berterima kasih, Xiao Wang malah menanyakan pertanyaan konyol yang membuatnya semakin kesal.
Xiao Wang mendengar penjelasan dari pria tua itu dengan perasaan campur aduk. Entah itu marah atau sedih karena mengingat kejadian itu.
__ADS_1
Ataukah senang karena mendengar bahwa pria tersebut telah menolongnya.
"Terima kasih karena telah menolongku." Xiao Wang tersenyum dan menunduk mengucapkan terima kasih.
Pria tua itu menanggapi ucapan Xiao Wang dengan anggukan sesaat.
Xiao Wang memperhatikan sekelilingnya yang hanya kegelapan dan air yang sangat luas.
Karena penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.
"Kakek..."
Belum selesai ia berucap, sebuah tangan melesat dan mendarat tepat di kepalanya.
"Aduh..." Jerit Xiao Wang sambil memegangi kapalnya yang kesakitan.
"Kakek, kakek. Enak saja kau memanggilku kakek. Aku masih muda. Umurku baru 1500 tahun." Pria tua itu memukul kepala Xiao Wang sambil mengeluarkan ceramah fatwa kehidupan.
Xiao Wang yang mendengar ceramah tersebut membelalakkan matanya.
"Muda apanya, bahkan kakekku dan kakek buyutku belum dan bahkan tidak sampai 200 tahun," batin Xiao Wang.
Sebenarnya yang di katakan pria tua itu benar. Usianya masih terpaut muda. Karena perbedaan waktu pada lapisan langit dan juga planet.
Misalnya saja di bumi, kebanyakan seseorang hanya mencapai usia 100-500 tahun, itupun kecuali mereka mencapai tahap langit.
Sementara itu di langit pertama, seseorang bisa mencapai usia 1000-1500 tahun.
Langit ke dua seseorang bisa mencapai usia 10.000-50.000 tahun. Begitupun seterusnya.
Itulah mengapa usia pria tua itu masih bisa di bilang sangat muda.
Semakin tinggi tempatnya dan tingkatan kultivasi seseorang, maka semakin lama pula usianya.
Itu lah sebabnya di benua Naga tidak di temukan siluman yang berusia 1.500 ke atas. Itu karena mereka telah berpindah tempat, untuk mencapai usia yang sangat lama, bahkan bisa abadi.
"Lalu aku harus memanggilmu siapa?" Tanya Xiao Wang dengan sesopan mungkin.
"Entahlah. Aku tak memiliki nama." Dengan santainya pria itu menjawab sambil melipat tangan dan mengangkat dagu.
"Hmmm, bagaimana kalau Bo Ji?" saran Xiao Wang.
"Terserah kau saja."
__ADS_1
"Baiklah. Bo Ji."