Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 43. Berhasil mengalahkan pengendali


__ADS_3

Kedua pria itu kembali melanjutkan pertarungan mereka. Saat sedang serius-seriusnya, tiba-tiba anak-anak panah berapi melesat dari berbagai sisi ke arah keduanya.


Sontak, mereka langsung menghindari anak-anak panah itu. Anehnya, mereka seperti tak menargetkan pria tua. Yang mereka incar adalah pria aneh.


Merasa Anak panah anak panah tersebut tak mengincarnya, Pria tua mencoba untuk berhenti bergerak. Dan benar saja, tak ada satupun dari mereka yang melesat ke arahnya.


Ia memperhatikan pria aneh yang terus-terusan bergerak kesana-kemari, menghindari setiap lesatan anak panah api, yang siap mencoblos dirinya kapan saja jika ia lengah.


Seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Pria tua juga menciptakan ribuan pisau angin yang setelahnya juga ia lesatkan ke arah pria aneh itu.


Sebelumnya ia juga sempat mencari orang yang melancarkan anak-anak panah berapi tersebut, namun tak ditemuinya. Ia pun memutuskan untuk membantu memojokkan pria aneh.


Selang beberapa saat, pria aneh itu mulai kewalahan dengan serangan-serangan yang terus-menerus menyerangnya tanpa henti.


BAAMM!


Sebuah ledakan terjadi dan membuat pria aneh dibuat terpental olehnya.


Saat itu juga, anak-anak panah berapi berhenti melesat, begitupun juga dengan pria tua yang telah berhenti menyerangnya dengan ribuan pisau angin tipis.


Luka demi luka tertentang di sekujur tubuhnya. terdapat pula beberapa anak panah yang menancap di beberapa bagian tubuh pria aneh itu.


Melihat ia yang tak mampu lagi untuk bertarung, Pria tua kemudian mendekati sosok aneh tersebut. Sesampainya di sana, segera pedangnya ia tetapkan pada lehernya.


"Ampun! Ampuni aku tuan," ucap pria aneh mengiba.


"Orang seperti kau ini, tak pantas mendapatkan ampunan dariku."


"Aku mohon wahai tuan, yang maha agung."


"Cih, aku tak butuh sanjungan mu. Yang kubutuhkan adalah kematian mu."


Pria tua kemudian mengayunkan pedangnya, hendak memenggal kepala pria aneh.


"Tu-tunggu tuan. Tunggu!" pintanya sekali lagi.


Pria tua menghentikan aksinya. "Ada apa lagi?" tanyanya kesal.


"Sebelum aku mati, maukah kau ku ceritakan tentang sesuatu yang menarik?" tawarnya.


"Ck, aku tak butuh ceritamu, yang kubutuhkan saat ini adalah nyawamu."

__ADS_1


Pria aneh mulai gelisah. "Tuan akan menyesal jika tuan tak mendengarnya," ucapnya cepat.


"Aku tak akan menyesal jika nyawamu berhasil ku kirim ke neraka."


"Kalau begitu sebelum aku ke neraka, mohon dengarkan aku dulu!"


"..Aku bisa menjaminnya, tuan. Ini menyangkut kekuatan tuan. Jika tuan mau mendengarkanku, maka tuan akan mengetahui sebuah rahasia besar."


Pria tua nampaknya mulai tertarik dengan perkataan pria aneh. "Cepatlah katakan!" ucapnya.


"Baik tuan.." Pria aneh kemudian memulai ceritanya.


Nampak di mata pria tua yang berbinar-binar ketika mendengarkan cerita tersebut.


Setelah pria aneh selesai dengan kisahnya, pria tua hendak membunuhnya. Namun apa yang terjadi selanjutnya, membuatnya begitu terkejut.


"Hahaha, terimakasih karena telah membiarkan aku memulihkan diri!" pria aneh tiba-tiba saja tertawa lantang.


Memang tadi, sementara ia bercerita, ia juga mengumpulkan kekuatan dengan bantuan kabut hitam. Terbukti yang saat ini kabut itu nampak tak setebal tadi.


Raut wajah pria tua nampak gelisah. "Kau! Kau membohongiku?"


"Kau benar-benar bodoh tua bangka. Aku tadi hanya mengarang cerita saja. Kau nya saja yang tolol," tutur pria aneh seraya bangkit dan terbang ke belakang.


"Hahaha.. Hahaha!"


Namun beberapa saat, tawanya terhenti saat ia merasakan perutnya yang panas.


"Apa! Apa yang terjadi?" ucapnya.


"Akh.." Semakin lama perasaan tersebut akan semakin panas. Bahkan perutnya seakan mendidih. Hingga ia merasakan seluruh organ tubuhnya yang bergeser dari tempatnya. Perlahan tapi pasti ia juga merasakan organ tubuhnya yang mulai merembes naik, sebelum akhirnya ia memuntahkannya.


"Arrkh!" dari mulutnya, keluar sesuatu dan dengan cepat di tangkap oleh tangannya.


Nampaklah olehnya sebuah benda berbentuk selang yang berkelok-kelok. Ia menatap itu dengan tatapan tak percaya, pandangannya ia arahkan pada pria tua yang menyaksikan dirinya sesaat sebelum akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya.


Pria tua yang sempat melihat itu segera memalingkan muka. Perutnya seolah-olah berputar. Ingin rasanya ia mengeluarkan isi dalam perutnya, namun di tahannya sekuat tenaga.


Segera ia mengalirinya dengan Qi kala ia tak mungkin lagi bisa menahannya.


Setelah perasaannya kembali normal, ia memberanikan diri untuk menoleh pria aneh itu yang kini sedang terbaring tak sadarkan diri, dengan kedua mata dan mulut yang masih ternganga lebar.

__ADS_1


Sebuah selang yang seperti ular juga nampak tercecer di tanah dan masih tersambung di mulutnya.


Beberapa saat, rambut beserta kukunya yang panjang mulai menyusut, sebelum akhirnya berubah normal. Tak hanya itu, bahkan mata, bibir, beserta tanduk pria aneh itu berubah menjadi debu hitam. Penampilan pria itu pun berubah normal layaknya seorang manusia pada umumnya.


Kabut hitam juga perlahan berkurang, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.


Sesaat, pandangan pria tua menangkap sosok yang berlari cepat, namun ia tak dapat mengetahui pasti siapa sebenarnya sosok itu.


*


Seorang pemuda berlari dengan kecepatan Suara. Pemuda itu berhenti sesaat.


"Oark..oark!!" Tiba-tiba saja ia mengeluarkan isi perutnya alias muntah.


"Lu.. racun apa yang barusan kau beri, kenapa efeknya bisa sebegitu mengerikan?"


"Oark..oark!" Chen Li kembali mengeluarkan isi perutnya.


Sementara Chen Lu di alam bawah sadarnya tak henti-hentinya menertawainya.


"Li, racun itu bernama racun Laoshi. Aku mendapatkannya dari dewa racun. Sebelumnya, aku belum pernah menggunakannya, untuk itulah aku memberimu racun itu untuk melihat apa reaksi yang akan di timbulkannya."


Chen Li tak menggapai ucapan Chen Lu. Ia masih di sibukkan oleh perutnya yang tak henti-hentinya seperti berputar. Sampai pada akhirnya Chen Lu memberitahunya untuk mengaliri perutnya dengan Qi.


Setelah melakukan apa yang di ucapkan Chen Lu. Chen Li pun merasa agak mendingan. Setelahnya ia melanjutkan perjalanan untuk menemui Pamannya.


Sementara itu, Wan Li yang terus-terusan di serang oleh para manusia tak berjiwa, mulai merasa kelelahan.


"Li'er, kapan kau selesai? Paman mulai kewalahan!" batinnya.


Hingga ketika ia lengah, seorang pria aneh menggigit lengannya, membuat ia menjerit karena itu.


"Sialan kau! akan ku cabut gigimu." Ia lantas menonjok muka pria itu.


Oang-orang tersebut tak henti-hentinya menyerbunya.


Seorang Kultivator tahap Bumi tingkat 4 yang terus-terusan di serang oleh segerombolan kultivator tahap menengah tingkat 3, pasti akan kewalahan.


Apalagi, yang menyerangnya bukan satu dua orang, melainkan ratusan, bagaimana ia tak kewalahan dengan itu.


Setelah beberapa saat berjuang, tiba-tiba saja orang-orang aneh berhenti menyerangnya. Satu persatu dari mereka terjatuh dan terbaring tak sadarkan diri.

__ADS_1


Sebuah asap hitam merembes keluar dari tubuh mereka sebelum akhirnya menghilang di telan angin.


Wan Li yang melihat itu awalnya merasa heran, namun akhirnya ia mengerti bahwa Chen Li telah berhasil mengalahkan pengendali mereka.


__ADS_2