Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 47. Tiga Siluman


__ADS_3

Xiao Wang yang terus berbincang-bincang dengan ketiga siluman itu tiba-tiba saja berhenti berucap. Pandangannya pun menunduk, membuat mukanya tertutupi oleh poni birunya yang panjang.


Ketiga Siluman menatap aneh Xiao Wang, beberapa saat menunggu Tuan mereka untuk berucap, namun Xiao Wang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berbicara. Bergerak pun tak ditunjukkannya.


Merasa aneh dengan kelakuan Xiao Wang, Siluman Serigala Kabut lantas bertanya.


"Tuan, ada apa. Kenapa kau diam saja?"


Tak ada tanggapan dari tuannya, ia pun lantas mendekati Xiao Wang. Kaki kanan depannya ia angkat dengan ragu-ragu, lalu ia sentuh tangan Xiao Wang.


Sekilas, cahaya biru muda merembes keluar dari tubuh pemuda itu. Rambutnya pun kini telah berganti warna menjadi hitam agak kebiruan. Membuat ketiga siluman itu begitu terkejut melihatnya.


Serigala Kabut langsung melompat kembali ke tempatnya semula, takut tuannya itu akan memarahinya.


Setelah Cahaya itu menghilang, Xiao Wang tiba-tiba saja ambruk. Sontak Siluman Singa Api langsung menghilang dan muncul kembali di samping Xiao Wang, menahan tubuh tuannya agar tak terjatuh di tanah menggunakan tubuhnya.


"Apa yang terjadi?"


"Tuan, tuan!'' Siluman Singa Api berusaha memanggil Xiao Wang, namun tak ada jawaban dari pemuda itu.


Kekhawatiran melanda ketiganya saat itu juga.


"Apa yang kau lakukan pada tuan?" tanya Siluman Ular Naga menyalahkan Siluman Serigala Kabut.


"Apa yang kulakukan? Aku tak melakukan apa-apa." Serigala Kabut nampaknya tak terima di salahkan.


"Kau mau membela diri? Ch, jelas-jelas tadi tuan baik-baik saja sebelum kau menyentuhnya." Siluman Ular Naga tetap pada pendiriannya.


"Kau! mau berkelahi?"


"Ch, Aku takut tubuh lembek mu itu meleleh oleh bisa ku," ejek Siluman Ular Naga.


"Apa kau bilang?"


Siluman Serigala Kabut yang tak terima langsung maju menyerang Siluman Ular Naga.


Pertarungan keduanya pun meledak saat itu juga.


Ledakan demi ledakan besar tercipta dari pertarungan keduanya. Lautan bangkai siluman pun kini tak nampak lagi.


Tempat itu kini menjadi kabut merah, di sebabkan oleh darah siluman-siluman yang meledak akibat di hantam oleh energi-energi yang diciptakan kedua Siluman itu.


Dalam sekejap, tempat itu kini telah di penuhi oleh kawah, baik besar, dalam, maupun kecil.


Salah satu serangan dari Siluman Ular Naga nyatanya salah sasaran dan malah melenceng ke arah Xiao Wang dan Siluman Singa Api berada.


Segera Siluman Singa Api menggotong tubuh Xiao Wang, lalu melesat menghindari serangan nyasar itu.


Nampak tanah yang rata, meleleh saat itu juga ketika terkena bisa Siluman Ular Naga, hingga membentuk kawah yang dalam.

__ADS_1


"Kalian! berhentilah bersikap bodoh. Kalian hampir saja membunuh tuan!" Siluman Singa Api mengaum.


Kedua siluman itu langsung berhenti saat itu juga.


"Benarkah?" Keduanya serempak bertanya secara bersamaan.


"Kau.."


"Jangan mengikuti kata-kataku!"


"Berani kau.."


"Hais.."


Keduanya berucap secara bersamaan, tak hanya itu, bahkan kata-kata keduanya pun nampak sama.


"Puft. Hahaha." Siluman Singa Api tak bisa menahan tawanya ketika menyaksikan keduanya.


"Aku jadi berpikir bahwa di kehidupan sebelumnya, kalian pasti berjodoh. Pft, Hahaha!" Ledek siluman Singa Api.


"Idiih, bahkan dalam mimpiku sekalipun, aku tak akan sudi berjodoh dengannya!" Kembali keduanya berucap dan tentu saja perkataan mereka juga sama.


Melihat itu, tawa Siluman Singa Api semakin menjadi-jadi. Hingga tanpa di sadarinya, bola kabut telah melayang ke arahnya. Beruntung ia masih sempat menghindar.


"Kau! Apa yang kau lakukan. Apakah kau mau membunuh tuan?" protes Siluman Singa Api.


Sesaat, setelah ia mengucapkan kalimat itu, mendadak organ tubuhnya yang terasa panas dan kesemutan.


"Apa, apa yang terjadi?"


"..Arkh!" tubuhnya ia jatuhkan ke tanah, lalu dirinya berguling-guling sambil tangannya menggaruk-garuk perutnya yang sakit.


Kedua siluman merasa aneh melihat teman mereka yang satu ini.


"Apa yang terjadi, ada apa denganmu?" tanya Siluman Ular Naga.


"Aku tak tahu, tiba-tiba saja orang tubuhku terasa panas dan seperti di gigit semut."


"Celaka, cepat minta maaf!" seru Siluman Singa Api.


"Maksudmu?"


"Mungkin ucapanmu tadi yang membuat dirimu seperti ini."


"Kau benar." Siluman Ular Naga membenarkan dugaan Singa Api.


Dalam kenyerian, Siluman Serigala Kabut mencoba untuk meminta maaf kepada Xiao Wang.


"Tuan.. Tuan, maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Tuan, aku mohon!" harapnya, namun tetap tak terjadi perubahan.

__ADS_1


"Kenapa aku masih merasakannya? Bahkan rasa sakitnya semakin perih.. Arrkh!" Setelah sekian lama menunggu, ia pun akhirnya mengeluh.


"Mungkin karena kau tak khusyuk!" usul Siluman Singa Api dan diangguki oleh Siluman Ular Naga.


Siluman Serigala Kabut pun kembali memohon. Kali ini dengan sepenuh hati.


Setelah beberapa saat, rasa sakit itu perlahan menghilang. Lantas ia berdiri dan melompat kegirangan, setelahnya ia menghadap tuannya yang masih tak sadarkan diri.


Ia berlutut seraya berucap, "Terima kasih tuan! Aku janji akan setia pada tuan, dengan nyawaku sebagai bayarannya jika aku berani berkhianat."


Siluman Singa Api tiba-tiba merasakan pergerakan pada manusia yang terbaring di atas punggungnya.


Ia lantas memberitahukan kepada dua temannya bahwa tuan mereka telah sadar.


Sementara itu Xiao Wang, merasakan kepalanya yang pusing. Pandangannya pun buram sesaat, sebelum akhirnya terang sepenuhnya.


Ia merasakan empuk di belakangnya. Saat ia membalikkan badan, sehelai rambut Siluman Singa memasuki hidungnya. Sontak saja hidungnya menjadi gatal, dan tak berapa lama ia pun bersin saat itu juga.


"A-achou..." Badannya mendadak terbangun dengan sendirinya.


Ia mengusap-usap hidungnya, pandangannya salah menangkap dua ekor siluman yang saat ini sedang menatapnya.


"Siluman seribu tahun!"


Ia langsung berdiri, namun kakinya langsung tergelincir, membuatnya terjatuh di tanah.


Dari situlah ia menyadari bahwa dirinya tadi sedang terbaring di atas seekor siluman Singa.


"Tuan, apa yang terjadi padamu?" Siluman Serigala Kabut melolong kepadanya, namun anehnya ia seperti mengerti arti dari lolongan itu.


"Kau! Kau berbicara denganku?" tanyanya memastikan.


"Tuan, apakah kau lupa kejadian tadi?" Seekor singa yang tadi sempat ditiduri punggungnya olehnya, mengaum ke arahnya dan ajaibnya ia seperti mengerti Auman itu.


"Aku, aku mengerti bahasa siluman!" gumamnya kaget.


"Bocah, apakah kau tak mengingat kejadian tadi?" ucap Bo Ji dalam kepalanya.


"Maksudmu? Yang aku ingat, saat itu diriku telah mati di makan siluman-siluman itu.. Tunggu.." Xiao Wang memperhatikan sekitarnya, tak ada seekor pun siluman yang dapat ia jumpai, hanya debu berwarna merah di mana-mana.


Bahkan pohon-pohon di sekitar mereka kini telah berganti warna menjadi merah. Di beberapa bagian juga terdapat beberapa Kristal Roh yang berserakan di mana-mana.


"Apa yang terjadi?" Xiao Wang semakin tak mengerti dengan situasinya saat ini. Apalagi ketiga siluman itu yang seperti tak berniat menyerangnya.


"Bocah, apakah kau benar-benar tak mengingatnya?" Kembali pertanyaan itu di lemparkan Bo Ji padanya.


"Benar Bo Ji. aku tak dapat mengingat semuanya."


Bo Ji pun kemudian menjelaskan tentang kejadian tadi.

__ADS_1


__ADS_2