Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 30. Penyesalan Seorang Kakek.


__ADS_3

Di kegelapan malam, nampak seseorang yang mengenakan jubah hitam menutupi tubuhnya, sedang berjalan terburu-buru. Dengan obor di tangannya, sebagai penerang jalan.


Sesekali ia akan melihat ke belakang, takut ada yang mengikuti dirinya. Setelah beberapa saat, ia pun menemukan sebuah goa di depannya. Tanpa pikir panjang, ia langsung memasuki goa tersebut.


10 menit berjalan di dalam goa, ia pun berhenti tepat pada bara api merah yang menyala terang.


"BAGAIMANA PEKERJAAN MU, APAKAH KAU MELAKSANAKANNYA DENGAN BAIK ATAU TIDAK?" Sebuah suara terucap dalam bara api tersebut.


Mendengar itu, orang tersebut langsung berlutut, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Dengan tubuh bergetar, ia memberanikan diri menjawab suara itu.


"Ma-maafkan aku tuan. Aku gagal menjalankan tugasku," ucap pria itu, dengan nada bergetar.


"APA?"


Tiba-tiba bara api itu membentuk setengah badan manusia dengan kepala mirip kambing.


"kau masih berani melapor setelah gagal menjalankan tugasmu. Nyali mu besar juga."


Makhluk tersebut menciptakan bola api dari tangannya, dan hendak melemparkannya ke arah pria tersebut.


"A-ampun tuanku."


"Tu-tuan, Hamba berani datang kemari karena hamba mempunyai kabar yang mungkin tuanku akan tertarik mendengarnya," ucap cepat pria tersebut sambil bersujud.


Makhluk tersebut tidak jadi melemparkan bola api itu. "Hmm, aku akan mempertimbangkan keputusanku. Jika kabar yang kau sampaikan menarik, maka aku akan memaafkan mu. Namun, jika kabar itu tak membuatku tertarik, maka aku akan langsung melempar mu dengan bola api ini."


Mendengar itu, pria tersebut bernafas lega. Lalu ia berucap. "Tuanku, sebenarnya, rencana kita berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. namun, karena anak itu yang membuat semuanya menjadi berantakan."


"Maksudmu?" Makhluk tersebut mengernyitkan alisnya.


"Benar tuan, anak itu yang telah menggagalkan semuanya."


Pria tersebut kemudian menceritakan apa yang terjadi di arena tanpa ada yang terlewatkan.


Dimulai dari ketika Lu Wanqiang memakan pil lalu terjadi perubahan pada dirinya. Setelah itu Lu Duanyan maju menggantikan posisi Xiao Wang untuk bertarung dengan cucunya. Singkat cerita, Lu Wanqiang yang hampir saja membuat semuanya pingsan, terhenti karena Xiao Wang muncul dan menghadangnya.


Anehnya aura yang terpancar pada tubuh Xiao Wang tampak lain.


Sampai pada akhirnya Xiao Wang mengalahkan Lu Wanqiang dengan tanpa terjadi pertarungan antar keduanya.


Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan.

__ADS_1


Makhluk itu mendengar perkataan pria tersebut sambil mengangguk-angguk.


"Hmm, Apakah benar yang kau ceritakan barusan?"


"Hamba tak berani berbohong tuanku."


"Baik, kali ini kau ku maafkan. Tapi lain kali jika kau gagal lagi, maka siap-siap menerima konsekuensinya.


"Hamba siap tuanku."


"Sekarang, pergilah!"


"Hmm, tapi tuanku, bagaimana dengan anak ini?"


"Kau awasi terus dia. Jika dia melakukan sesuatu yang mencurigakan, maka segera lapor kemari!"


"Hamba mengerti tuanku."


Pria itu pun berjalan meninggalkan goa tersebut.


**


Di kediaman Lu Duanyan, seorang pemuda sedang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang yang tak terlalu besar.


Baru saja ia akan beranjak, ia merasakan kepalanya yang sangat sakit.


"Aah, apa yang terjadi?"


Kemudian ia mencoba mengingat kembali apa yang telah ia lakukan tadi. Namun ia tak dapat mengingat kejadian apa yang menimpa dirinya sebelumnya, yang ia ingat adalah saat pertandingannya melawan Xiao Wang. Karena merasa tak mampu menang, ia pun memutuskan mengeluarkan sebuah benda pemberian seseorang waktu itu dan menelannya. Ia merasakan tubuhnya yang panas sesaat, setelah itu ia tak tau apa yang terjadi.


Ia melihat pria tua itu telah bangun. Lalu ia berucap.


"Kakek, maafkan aku!" Lirih Lu Wanqiang.


"Cih, setelah apa yang kau lakukan, kau masih berharap aku memaafkan mu. Jangan harap," sungut Lu Duanyan.


Lu Wanqiang tak mengerti apa yang dibicarakan kakeknya. Namun ia sadar kalau yang ia lakukan tadi telah membuat kakeknya marah.


"A-aku minta maaf kakek."


"Ck. Kau tahu, karena ulahmu memakan benda tersebut, aku sampai di marahi oleh ketua. Bukan hanya itu, aku bahkan tak bisa duduk tenang, karena telingaku panas mendengar setiap semburan racun tak kasat mata yang di lancarkan Bao tua sialan itu."

__ADS_1


Lu Wanqiang mendengar itu sambil menunduk, ia ingin sekali berkata dan membela diri, namun rasa patuhnya terhadap kakeknya terlalu besar.


"Dasar anak tak berguna, kau bahkan hampir saja membunuh cucu ketua kalau bukan karena aku yang bertindak cepat menghentikan mu."


"Kalau kau tak bisa mengalahkan Xiao Wang, setidaknya kalahlah dalam keadaan terhormat, bukan seperti itu caranya. Aku tau kau tak bisa mengalahkan Xiao Wang, dia itu anak yang jenius tidak seperti kau anak tak..."


"BERHENTI KAKEK!" Potong Lu Wanqiang.


"Kau, kau berani memotong perkataan ku. Dasar anak tak tahu diri." Lu Duanyan yang naik pitam karena merasa anak di hadapannya ini telah sangat kurang ajar. Ia lantas beranjak, langsung menampar anak itu.


TAK!! TAK!! TAK!!


"Kau benar-benar anak tak tahu diri. Selalu mempermalukan ku di depan ketua dan si Bao sialan itu. Dan sekarang kau malah berani memotong perkataan ku. Kau memang anak ****** tak tau sopan-santun."


Lu Duanyan terus-terusan menamparnya. Tak hanya itu, bahkan berbagai perkataan pedas nan menusuk kembali di lontarkan Lu Duanyan kepada cucunya.


Lu Wanqiang merasakan darahnya mendidih mendengar perkataan Kakeknya. Di tambah, tamparan demi tamparan keras terus-menerus mendarat di pipinya.


Karena tak tahan lagi dengan semua itu, ia lantas menepis tangan Lu Duanyan, dengan tinju yang ia arahkan ke dada kakeknya, membuat Lu Duanyan termundur beberapa langkah.


"Kau. Kau berani memukulku." Lu Duanyan menunjuk Lu Wanqiang. kemudian ia maju hendak meninju Lu Wanqiang.


"PUKUL AKU! PUKUL!! BILA PERLU BUNUH AKU SEKALIAN SUPAYA KAKEK PUAS," teriak Lu Wanqiang di barengi dengan butiran-butiran air mata mengalir membasahi pipinya.


Sontak saja Lu Duanyan menghentikan aksinya. sesaat.


"BENAR! ANAK MACAM KAU TAK PANTAS ADA DI DUNIA INI! KAU HANYA MEMBUATKU SUSAH. KAU HANYA MEMBUATKU MALU."


"INI SEMUA SALAHMU, KAKEK!! KAU SELALU SAJA MENYALAHKAN KU. KAU SELALU MENGHINAKU, BAHKAN KAU TEGA MEMBANDING-BANDINGKAN AKU DENGAN XIAO WANG.


Siang Malam aku berlatih tanpa kenal lelah, semuanya itu ku lakukan hanya untuk membuatmu bahagia. TAPI APA!! APA YANG KU DAPAT.


TAK PERNAH SATU PUN KATA PUJIAN YANG KAU LONTARKAN PADAKU. Rasa sakit ini, sekian lama aku pendam, berharap suatu saat kakek akan mengerti. TAPI, SAMPAI SAAT INI.. Hiks."


Bagai tersambar petir di siang bolong Lu Duanyan, ketika mendengar perkataan cucunya. Rasa bersalah mulai menyembul di benaknya.


'Apakah aku salah selama ini ... Kenapa aku sangat bodoh ... Bahkan cucuku Sendiri ku biarkan mendapat perkataan yang tak sedap di dengar setiap hari olehku."


Emosi yang meluap-luap seketika mereda, berganti rasa bersalah dan penyesalan.


Ia lantas mendekati Lu Wanqiang lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Maafkan Kakek Wan'er. Ini semua salah Kakek. Kakek tak pernah memikirkan perasaanmu. Kakek terlalu egois."


Ada perasaan lega dan nyaman di hati Lu Wanqiang. Pasalnya, ia baru kali ini merasakan pelukan penuh kasih sayang dari seorang kakek. Ia pun membalas memeluk erat sang kakek.


__ADS_2