Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 74. Kabar Buruk


__ADS_3

Zhou Huang menutup keras kedua matanya. Ia tak mampu melihat energi api berbentuk tanda silang yang melesat cepat ke arahnya.


Menunggu, kapan energi itu mengenai dirinya, namun tak kunjung ia merasakan tubuhnya terlanda energi api milik lawan.


Rasa hendak membuka mata ingin di lakukan-nya. Namun keraguan juga menghampirinya kala itu.


Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, ia pun mengangkat perlahan kelopak matanya. Bayangan gelap dapat ia saksikan pertama kali, di sebabkan oleh bulu mata yang masih terkumpul.


Tak melihat apa-apa. Ia mencoba mengangkat kelopak mata sampai batas kemampuan yang telah di tentukan.


Alangkah kagetnya ia, ketika mendapati seorang pemuda yang sebelumnya sempat menjadi lawan tandingnya, kini sedang membantunya menahan energi api miliknya sendiri.


"Kenapa kau masih di sini, cepat menyingkir!" bentak Chen Li ketika pemuda di belakangnya itu masih terdiam diri di tempat dan malah menatapnya dengan kebingungan.


Tersadar Zhou Huang ketika mendapat bentakan dari Chen Li. Ada rasa tak terima di hatinya, namun ia tak membantah, dan segera melompat menghindar dari tempat itu.


Chen Li tersenyum penuh kemenangan tatkala pemuda yang penuh kebencian terhadapnya menuruti perkataannya.


Setelah Zhou Huang selesai mendarat, Chen Li lantas juga menghindar, namun sebelum itu ia mendorong energi tersebut terlebih dahulu sebelum berlari dengan kecepatan suara.


Baamm!


Sebuah Ledakan besar tercipta saat energi Amukan Dewa Phoenix menghantam tanah.

__ADS_1


Debu-debu berterbangan menyebar ke berbagai penjuru arena, sampai-sampai menutupi pandang mata mereka yang menyaksikannya.


Mata beserta mulut mereka yang hadir menyaksikan pertarungan keduanya terbuka lebar kala melihat sebuah kerusakan besar pada lantai arena. Tak bisa di pungkiri, meskipun telah melemah akibat beradu dengan energi cakar naga milik Zhou Huang, nyatanya energi tersebut masih mampu menciptakan kerusakan besar.


Sementara itu, di tempat lain dan masih di aula Turnamen, seorang pria berzirah mendatangi Raja Chen Huang.


Pria itu berlutut seraya berucap, "Ampun Yang Mulia. Hamba sepertinya mengenal jurus yang di keluarkan oleh pemuda itu."


"Kau benar, jurus itu seperti tidak asing."


"Yang Mulia..." Seorang pria tua memanggil raja Chen Long.


Kedua pria itu menoleh ke belakang dan mendapati kepala keluarga Mu sedang berjalan menuju keduanya.


Kepala keluarga Mu tersenyum sesaat sebelum ia berucap.


"Apakah yang mulia melihat teknik yang barusan di gunakan pemuda itu!" Tangannya ia angkat menunjuk pemuda yang berdiri di puing-puing lantai arena yang kini telah hancur oleh energi Amukan Dewa Phoenix.


Raja Chen Huang beserta pria yang berlutut menoleh kearah yang di tunjuk Kepala keluarga Mu.


"Iya, aku juga melihatnya. Entah mengapa, aku merasa tidak asing dengan teknik pemuda itu. Apakah kau mengetahui sesuatu?" Raja Chen Huang menoleh kepala keluarga Mu.


Senyum simpul nampak jelas dari bibir pria itu. "Untuk itulah aku datang kemari, karena ada yang ingin aku sampaikan kepada yang Mulia terkait teknik yang di gunakan bocah itu!" ucap kepala keluarga Mu.

__ADS_1


Kedua alis raja Chen Huang menyatu mendengar pernyataan kepala keluarga Mu. "Katakanlah!"


"Yang Mulia Raja! Tak ada yang bisa menguasai teknik Amukan Dewa Phoenix di kerajaan Api, bahkan di kekaisaran Han sekalipun tidak ada." Kepala keluarga Mu menghentikan ucapannya sejenak. Lalu ia melangkah mendekati raja Chen Huang yang kini nampak penasaran dengan lanjutan ucapan Kepala keluarga Mu.


"Selain Jenderal Wan Li!" bisik pelan kepala keluarga Mu ketika dirinya telah berada di dekat Raja Chen Huang.


Tersentak kaget pria yang di panggil Yang Mulia beserta pria yang berlutut yang ternyata adalah jenderal Shen Lou ketika mendengar nama Jenderal Wan Li.


"Apakah kau tak salah bicara!"


"Benar yang mulia, hamba tidak berani berbohong," Kepala keluarga Mu membela.


"Berarti..." belum sempat Jenderal Shen Lou menyelesaikan kata-katanya, Kepala keluarga Mu telah lebih dulu memotongnya. "Benar, pemuda itu adalah putra Chen Long."


Bagai di sambar petir Raja Chen Huang, mendengar bahwa pemuda tersebut adalah putra saudaranya sendiri yang dahulu pernah ia rebut jabatannya sebagai Raja Kerajaan Api.


"A-apa aku tak salah dengar," ucapnya sedikit gemetar.


"Tidak Yang Mulia, kau tak salah dengar. Memang benar pemuda itu adalah putra dari Chen Long. Ia datang kemari bersama Jenderal Wan Li. Namun aku tak melihat adanya mantan ratu Lin Ra bersama mereka. aku menduga bahwa Lin Ra telah tewas saat melahirkan putranya."


"Jika memang benar demikian, maka kita harus menangkap mereka, dan membunuh putra Chen Long. Aku takut anak itu akan menjadi ancaman besar bagi kerajaan Api dikemudian hari. Apalagi kekuatan yang dimilikinya tak biasa."


"Benar Yang Mulia. Namun alangkah baiknya jika yang mulia melakukannya ketika Turnamen Pemuda Berbakat selesai diadakan. Aku takut tindakan yang mulia justru mengundang kerecokan di hati penonton dan beberapa perwakilan sekte beserta peserta yang lainnya. Dan tentu saja akan merusak image Yang Mulia di mata orang-orang."

__ADS_1


"Hmm, perkataan mu benar juga... Baiklah aku akan menangkap dan mengeksekusi mereka setelah turnamen ini selesai diadakan."


__ADS_2