Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 85. Kekalahan Tak Terduga


__ADS_3

Bertarung imbang hingga beberapa saat membuat luka ringan di sekujur tubuh keduanya kian bertambah.


Dengan susah payah, Xiao Wang akhirnya berhasil menjatuhkan salah satu pisau yang di pegang lawan.


Namun, menjatuhkan salah satu pisau pemuda itu nyatanya tidak mengurangi kesulitannya dalam mengahadapi lawannya. Dikarenakan pisau lain kembali keluar dari lengan baju lawan lalu kembali ia memainkan pisau-pisau nya, menyerangnya dengan lihai.


"Sial! Kenapa pemuda ini sangat sulit untuk di tumbangkan!" Xiao Wang membatin.


Setelahnya ia mengambil jarak.


"Serangan jarak dekat saja tidak cukup untuk menjatuhkannya," gumam pelan Xiao Wang.


Segera ia menciptakan 25 anak panah air yang mengelilinginya, lalu mengarahkannya ke arah pemuda di hadapannya.


Pemuda itu nyatanya tak tinggal diam. Ia berlari cepat di pinggir arena mengelilingi Xiao Wang.


Baamm! Baamm! Baamm....


Rentetan ledakan terdengar beruntun tatkala anak panah Xiao Wang meleset dan menghantam tanah satu persatu.


Xiao Wang agak kesal ketika serangannya dapat di hindari dengan muda oleh pemuda itu. Belum sempat ia beraksi, lawannya telah lebih dulu memberinya sebuah kejutan berupa pisau yang melayang kearahnya.

__ADS_1


Dengan sigap, ia menepis pisau tersebut menggunakan pedangnya.


Bluss!


Pisau itu tiba-tiba saja berubah menjadi asap ketika bersentuhan dengan pedang Xiao Wang.


Xiao Wang sendiri sampai dibuat termundur dengan sendirinya karena terlalu kaget. Tangannya ia libas-libaskan, berniat menghalau debu yang masuk dalam matanya.


Saat debu putih tersebut menghilang, tak nampak lagi olehnya keberadaan lawan. Pandangannya ia kitari sekitarnya namun tetap saja ia tak menemukan keberadaan pemuda tersebut.


Tak berapa lama, dirinya merasakan dingin di bagian tengkuknya, segera ia melompat memutar tubuhnya menghindar dari tempat itu. Dan benar saja, sebuah pisau mengkilap dapat ia saksikan tepat di depan matanya dan hampir mengenai batang hidungnya ketika dirinya masih melayang di udara.


Xiao Wang menghela napas sesaat ketika dirinya telah berhasil mendarat dengan tanpa terkena goresan dari pisau tersebut. Akan tetapi, kelegaannya tak berlangsung lama, dikarenakan serangan pisau lain kembali datang menghunjamnya.


"Aku harus segera menemukan kelemahan dari pemuda itu!" Xiao Wang membatin dalam hati sembari menghindari lesatan pisau beruntun yang dilemparkan pemuda tersebut.


Pemuda itu sendiri selain melempar pisau-pisau yang entah dari mana ia mengeluarkan pisau-pisau itu, dirinya juga berlari mendekat kearah Xiao Wang.


Setelahnya pertarungan jarak dekat kembali terbit antar keduanya.


Dua buah pisau pendek beradu dengan sebuah pedang panjang, menciptakan bunga api yang tak henti-hentinya terlihat.

__ADS_1


Disela-sela pertukaran jurus, Xiao Wang sempat-sempatnya memasangkan seringai yang tak di mengerti oleh pemuda itu.


"Ada yang aneh!" Pemuda tersebut membatin. "Apa yang kau rencanakan?" tanyanya setelah itu.


"Apa yang ku rencanakan? Aku tak merencanakan sesuatu."


"Jangan berbohong. Aku tau kau sedang mengatur sesuatu kan! Cepat katakan..."


"Hmm, aku sedang berpikir bagaimana cara mengalahkan mu dengan lancar tanpa harus mengeluarkan keringat setelah ini!" Xiao Wang masih tetap setia dengan seringainya.


"Ho-ho-ho ... Jika kau berpikir dapat mengalahkan ku dengan mudah semudah membalikkan telapak tangan, lebih baik kau tidur sekarang lantas bermimpi kau sedang bertarung bersama ku ... Namun meskipun begitu, tetap saja kau tak bisa mengalahkan ku, Hehehe!" saran sekaligus ledek pemuda itu.


"Benarkah!" Xiao Wang semakin melebarkan seringainya. "Coba berbalik dan lihat apa yang ada di belakangmu!"


Pemuda itu mengernyitkan dahinya. Ia tak percaya namun juga ragu akan kebenaran ucapan lawannya.


"Cih, kau pikir aku ini bodoh! saat aku membalikkan badanku, kau pasti akan menyerang ku dari belakang kan." Meskipun perasaannya kacau antara percaya dan tidak percaya, dirinya tetap enggan menuruti perkataan lawan tarungnya.


"Apakah kau yakin tidak mau melihat ke belakang?" Xiao Wang kembali membaut pemuda itu bertambah penasaran.


Karena rasa ingin tahunya terlalu besar, ia lantas mengambil jarak dengan Xiao Wang, setelahnya ia menolehkan pandangannya ke belakang.

__ADS_1


"Hump!"


__ADS_2