
Xiao Wang merasa tak sanggup lagi untuk bertahan. Kesadarannya pun berangsur-angsur mulai menghilang.
"Cih, apakah hanya sampai di sini!" batinnya dalam hati.
Seketika muncullah ingatan-ingatan tentang masa lalunya.
Bagaimana ia yang dulunya sangat iri ketika melihat senior-seniornya mewakili sekte mengikuti turnamen di Ibukota. Bagaimana ia yang dulunya sangat antusias dan menunggu datangnya hari dimana pertandingan ini di mulai.
Bagaimana ia yang telah berjanji kepada ayah, beserta beberapa orang yang telah mempercayakan kepadanya untuk memenangkan pertandingan ini, dan mengikuti turnamen Pemuda Berbakat.
Bagaimana ia yang setiap harinya bekerja keras mati-matian supaya bisa mengalahkan para senior-seniornya dalam pertandingan ini.
"Tidak, Aku tidak boleh menyerah. Perjuanganku selama 2 tahun terakhir tak akan ku biarkan sia-sia."
Seiring dengan ia mengeluarkan kalimat itu, seketika aura biru merembes keluar dari tubuhnya.
Ia merasakan energinya kembali terisi setelah tadi terkuras banyak ketika ia berusaha menahan serangan-serangan yang di lancarkan Mei Lin.
Dengan pedang yang masih tergenggam erat ditangannya, ia lalu menghujamkan pedang tersebut pada lantai arena.
Sambil berlutut, ia menerima setiap serangan cambuk yang datang menghantamnya.
Namun ia tak merasakan apa-apa, malahan ia merasa energinya semakin bertambah banyak.
Energi biru tercipta menutupi tubuhnya. Beberapa saat, energi tersebut meledak, dan menyebar sebelum akhirnya menghilang.
Memperlihatkan sosok Xiao Wang dengan tampilan berbeda. Rambutnya yang hitam agak kebiruan, bertransformasi menjadi berwarna biru muda seutuhnya.
Matanya yang berwarna cokelat agak kebiru-biruan, juga berubah warna menjadi biru muda sepenuhnya.
Banyak yang terkagum-kagum menyaksikan perubahan yang di alami Xiao Wang, terutama para gadis.
Mereka seperti terhipnotis sampai lupa bernafas, dengan mulut yang terbuka lebar.
Bahkan, Mei Lin sendiri sampai menghentikan serangannya karena terkesima dengan ketampanan Xiao Wang.
Begitupun juga dengan para tetua yang menyaksikan itu, mereka langsung berdiri tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
"Ketua, apa yang terjadi pada Xiao Wang? Kenapa penampilannya berubah seperti itu," tanya salah satu tetua kepada Xiao Liu.
"Entahlah, aku juga tak tau apa yang terjadi padanya," jawab Xiao Wang.
__ADS_1
Sementara Xiao Wang yang melihat semua tatapan tertuju padanya, membuatnya heran sekaligus tak enak hati ketika di pandang banyak pasang mata.
Ia menoleh ke depannya dan melihat Mei Lin juga menatapnya aneh. Ia pun lantas bertanya kepada gadis di hadapannya itu.
"Senior Mei, ada apa denganmu?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Mei Lin tersadar.
"Cih. Jangan mentang-mentang tampang mu telah berubah, kau bisa menggodaku. Aku tak akan pernah tergoda dengan wajah jelekmu itu," gerutu Mei Lin.
Padahal tadi ia telah terpanah dengan perubahan yang di alami Xiao Wang. Namun mungkin karena gengsi, ia tak mau mengakuinya. Yah begitulah sifat wanita, tak mau jika di katai salah, semuanya harus benar. Haish, wanita memang susah di mengerti:v
Xiao Wang tambah bingung mendengar perkataan Mei Lin barusan.
"Aneh," gumam pelan Xiao Wang.
Ia pun melakukan perubahan unsur elemen air dan menciptakan cermin air di depannya. Namun, ia langsung mengernyitkan alisnya ketika melihat bayangan dirinya di depan cermin air tersebut hanya samar, bahkan hampir tak terlihat.
"Tolol," suara dari dalam pikirannya kembali terdengar. Ya, itu adalah Bo Ji yang kesal melihat tindakan konyol yang di lakukan Xiao Wang.
Mengapa bisa pria tua sialan itu mengutus ia untuk menjaga bocah tolol ini. Kira-kira begitulah yang dipikirkan pria tua itu sekarang.
Dimana sisi terang harusnya berada di tempat Xiao Wang sedangkan sisi gelapnya berada di belakang cermin.
Tapi Xiao Wang malah mengarahkan cerminnya di tempat yang memiliki ke dua sisi terang. Benar-benar aneh kan.
Saat sedang sibuk-sibuknya, cermin buatan Xiao Wang seketika pecah dan berubah kembali menjadi air.
Xiao Wang kaget dengan itu, ia dengan cepat menoleh dan mengetahui penyebabnya berasal dari cambuk Mei Lin.
Serangan cambuk berikutnya kembali melayang dan hampir mengenainya.
Namun laju serangan cambuk itu sekarang terasa lambat di matanya, sehingga dengan mudahnya ia menghindari serangan itu.
Melihat serangannya dapat di hindari dengan mudah oleh Xiao Wang, membuat Mei Lin marah. Ia lantas mempercepat laju serangannya.
Akan tetapi, Xiao Wang masih saja bisa menghindari setiap cambuk itu, yang semakin lama, semakin cepat. Begitupun juga dengan gerakan Xiao Wang.
Para penonton yang tingkatan kultivasinya di bawah tahapan Bumi, tak mampu mengikuti pergerakan Xiao Wang. Hanya lesatan energi berwarna biru muda yang dapat mereka saksikan.
Mei Lin sendiri agaknya mulai kelelahan, terlihat dari pola serangannya yang mulai melambat.
__ADS_1
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Xiao Wang dengan cepat menciptakan lima anak panah lalu ia arahkan pada Mei Lin.
Melihat anak panah yang melesat cepat ke arahnya, Mei Lin berusaha menangkis anak panah itu dengan cambuk yang ia gerakkan ke arah anak-anak panah itu.
Seakan memiliki nyawa, anak-anak panah itu menghindari setiap lesatan cambuk yang akan menghantam mereka.
Mereka terus melesat, hingga akhirnya anak-anak panah berhenti dan menyebar di berbagai arah mengelilingi Mei Lin.
Ia di buat ketakutan dengan panah itu. Tubuhnya nampak bergetar, keringat dingin pun mulai membanjiri pelipisnya.
"A-aku menyerah," ujar Mei Lin cepat.
Karena Mei Lin telah menyatakan bahwa dirinya telah menyerah, Xiao Wang pun merubah anak panah yang mengelilingi Mei Lin menjadikan mereka air.
Sorak Sorai penonton terdengar menggema di bangku penonton melihat itu. Sementara Mei Lin berjalan kesal keluar dari arena.
Setelah ia di nyatakan menang, Xiao Wang hendak berjalan keluar dari arena. Namun baru saja beberapa langkah ia merasakan tubuhnya yang berat, sebelum akhirnya ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Rambutnya pun berangsur-angsur mulai kembali seperti warnanya semula.
*
"Aku di mana?"
Xiao Wang sadar dari pingsannya dan menemukan dirinya berada di atas air.
Ia pun tersadar bahwa sekarang ini ia berada di alam bawah sadarnya.
"Bo Ji."
Ia langsung memanggil Bo Ji, karena ia tak menemukan keberadaannya.
Beberapa saat, Bo Ji keluar dari kegelapan. Ia lantas mendekati Xiao Wang.
"Bo Ji, apa yang terjadi padaku barusan?"
"Entahlah bocah. Penampilanmu tadi berubah ketika kau hampir kalah dari gadis lawanmu saat turnamen. Dan setelah kau menang, kau malah pingsan, penampilanmu pun berubah kembali seperti sebelumnya," jelas Bo Ji. Ia sendiri juga heran melihat perubahan yang terjadi pada diri Xiao Wang.
"Berapa hari aku tak sadarkan diri?"
"Satu hari di sini atau setara dengan 24 menit di dunia nyata."
__ADS_1