
Ai Fang tak tinggal diam ketika tubuhnya di hajar oleh Xing Liao. Ia lantas membalas dengan melayangkan tinjunya. Namun belum sempat melakukan aksinya, tendangan Xing Liao telah lebih dulu menghantam perutnya hingga membuatnya terdorong keluar arena.
"Hmm... benar-benar membosankan!" ujarnya dengan nada malas.
Selesai dengan mengalahkan Ai Fang dan dirinya dinyatakan sebagai pemenang, Xing Liao segera turun dari arena. Dirinya melangkah ke tempat dimana peserta yang lolos 8 besar. Hai Fang sendiri segera berlari menghampiri adiknya yang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Tenang Aiai! Aku akan membalas perbuatan pria itu terhadapmu ... Lihat saja, akan ku buat kau lebih menderita dari yang di rasa adikku saat ini!" Hai Fang menenangkan Ai Fang sambil menatap tajam ke arah pemuda yang baru saja duduk di bangku peserta dengan senyum remeh yang pemuda itu arahkan padanya.
Hai Fang yang kesal melihat seringai pemuda itu hampir saja menghampirinya kalau saja tidak ada Ai Fang yang menahan lengannya.
Tak berapa lama, beberapa orang berlari cepat ke arah mereka berdua. Setelahnya, Ai Fang di bawa keruang medis supaya segera di beri pertolongan pertama.
Hei Fang sendiri setalah mengantar adiknya ke ruang medis, ia kembali ke bangku peserta dan duduk di samping seorang gadis cantik bergaun putih yang kebetulan baru saja lolos tanpa luka yang berarti.
Beberapa saat, semuanya telah selesai bertanding. Peserta yang lolos 8 besar di beri waktu untuk beristirahat setengah jam.
Setengah jam berlalu, Pertandingan pun kembali di mulai.
Semua peserta maju ke atas arena masing-masing sesuai dengan dimana nama mereka disebutkan.
Kekecewaan nampak jelas dari raut wajah Hai Fang. Pasalnya, lawan yang ia harapkan bukanlah pemuda dengan kultivasi tahapan bumi tingkat 1 di hadapannya ini. Yang ia inginkan adalah seorang pemuda yang kini menjadi lawan Chen Li yaitu Xing Liao. Meskipun begitu, ia tak bisa berkomentar lebih. Dirinya hanya bisa berharap Chen Li mampu mengalahkan pemuda itu dan memberinya pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
__ADS_1
Xiao Wang sendiri mendapat lawan seorang pemuda yang dahulu pertama lolos bersama-sama dengannya beserta Hai Fang dan Chen Li.
Xiao Wang menatap tajam pemuda itu yang kini juga membalas menatap tajam dirinya. Keduanya memang sudah di persilahkan untuk mulai bertarung, namun mereka masih saja saling tatap menatap tajam lawan.
"Cih! Anak kecil, sebaiknya kau pulang saja. Aku tak mau bertarung melawan seorang yang baru belajar memainkan pedang!"
Xiao Wang yang memang memiliki pembawaan tenang layaknya air, tak mengambil hati ucapan pemuda itu.
"Anak besar! Meskipun kultivasi ku di Tahapan ini, namun jangan pernah kau meremehkan ku jika kau tak mau bernasib sial. Ingat, seekor kalajengking kecil bisa saja membunuh gajah besar dalam sekali sengatan!" Xiao Wang membalas
"Tak usah kau menasehati ku anak kecil!"
Dengan lincahnya, ia memainkan dua buah pisau sekaligus tanpa ada kesulitan berarti, menekan Xiao Wang.
Meskipun pisau itu kecil, namun nyatanya pedang panjang Xiao Wang agak kesusahan memblokir setiap pisau yang menyerangnya cepat di berbagai sisi berbeda.
Hingga dalam kurun waktu 10 menit Xiao Wang telah mendapat goresan di bagian lengannya.
Xiao Wang mengambil jarak sesaat.
"Bagaimana adik kecil ... Seekor kalajengking, walupun memiliki bisa yang mematikan, namun di mata gajah ia tak ada apa-apanya. Sekali injak, langsung down!" ujar pemuda tersebut.
__ADS_1
"Meskipun begitu, Kalajengking tetap tak akan menyerah karena ia yakin, sengatannya jauh lebih berbahaya dari injakan seekor gajah!"
Xiao Wang melesat dengan kecepatan tinggi. Disekitar tubuhnya juga tercipta bulir-bulir air yang kemudian menyatu menjadi anak panah yang juga melesat mengikutinya dari belakang.
Pedang panjangnya ia libaskan pada lawan, namun dapat di tangkis dengan mudah dengan menggunakan pisau. Sebuah pisau lain juga melesat hendak menebas kepalanya. Segera Xiao Wang menundukkan kepalanya dan saat itulah kejutan ia berikan kepada lawannya.
Anak panah yang sebelumnya masih setia menunggu di belakang Xiao Wang kini melesat cepat menargetkan kepala lawan.
Baamm!
Sebuah ledakan yang menimbulkan asap tercipta, membuat Xiao Wang dan pemuda tersebut termundur dua langkah ke belakang.
Xiao Wang begitu terkejut dengan benda yang sempat ia lihat sesaat yang menahan laju serangan anak panahnya. Hingga ketika kepulan asap itu menghilang, tampaklah oleh kedua matanya benda tersebut yang ternyata adalah sebuah pisau mengkilap.
"Cih, aku tak menyangka ternyata seekor gajah bisa lebih agresif dari seekor macan!"
"Kau benar adik kecil! Bahkan bisa lebih agresif dari itu!"
Keduanya kembali beradu kekuatan.
Bisa di lihat dari kondisi keduanya, mereka berdua sama-sama telah berhasil menciptakan luka pada tubuh lawan.
__ADS_1