
"Ya atau Tidak?"
"Tidak!" Meskipun tak mengerti, Chen Li tetap menjawab pertanyaan pemuda itu menurut kata hatinya.
"Baiklah."
Sosok itu tersenyum sesaat, sebelum akhirnya tubuhnya memancarkan cahaya yang sangat terang menyilaukan, membuat Chen Li terpaksa harus menutup kedua matanya.
Ketika ia membuka mata, dirinya kembali di sambut oleh kilauan menyilaukan dari cahaya sang mentari yang menembus sela-sela dedaunan rimbun. Saat itu, ia menyadari bahwa dirinya telah terbangun alias kembali ke dunia nyata.
"Jadi semua itu hanya mimpi. Kenapa aku merasa seperti nyata?"
Dahi pemuda itu berkerut ketika Ia mengingat kembali kejadian di alam mimpi itu.
"Apa maksud semua ini?" batinnya.
"Ada apa Li" Tanya Chen Lu
"Hmm.. Tidak! Tidak ada!" Ia ingin menceritakan kepada Chen Lu, namun setelah di pikir-pikir kembali, ia memilih mengurungkan niatnya.
"Paman, ayo!" Chen Li segera turun dari pohon dan langsung mengajak Wan Li untuk melanjutkan perjalanan.
Wan Li di buat terheran-heran dengan sikap Chen Li hari ini. Pasalnya belum 5 menit mereka beristirahat, perjalanan telah kembali di lanjutkan.
Ia pun segera bangkit dan mengejar Chen Li yang saat itu telah jauh.
*
Langit yang cerah, tiba-tiba saja berganti mendung, dengan tiupan angin yang semakin menjadi-jadi beserta gemuruh Guntur juga terdengar menggelegar. Alam seolah-olah sedang mengamuk.
Awan-awan hitam bergerak seperti tersedot sesuatu hingga membentuk sebuah pusaran, dengan kilatan-kilatan petir menghiasinya.
Bo Ji yang melihat itu, langsung berlutut di alam bawah sadar Xiao Wang. "Dewa, maafkan aku!" doanya khusyuk.
Perubahan drastis pada cuaca seakan-akan memberitahunya bahwa seorang penyelamat semesta hari ini telah tiada.
Perubahan drastis pada alam yang tidak bersahabat, seolah-olah juga memberitahunya bahwa mereka turut berduka cita pula atas kepergian seseorang yang memiliki takdir penyelamat, sebelum melakukan tugasnya.
__ADS_1
Hingga tanpa sengaja, pandangannya menangkap sesuatu bersinar dari pusaran awan itu, yang kemudian melesat turun menuju ke arah tubuh Xiao Wang dengan kecepatan tinggi.
"Apa yang terjadi?" tanyanya, tanpa ada yang menjawab.
Sementara itu, Xiao Wang yang di kerumuni oleh siluman, tiba-tiba saja tubuhnya disambar oleh suatu cahaya keemasan yang berasal dari pusaran awan hitam.
Seketika, saat itu juga dari tubuhnya memancarkan cahaya biru muda. Saking terangnya Cahaya itu, bahkan sampai-sampai menembus sela-sela siluman yang menggerogoti dirinya.
Semakin lama cahaya tersebut semakin bertambah terang dan menyilaukan, hingga pada akhirnya para siluman yang mendekatinya langsung menghilang dijadikan debu oleh cahaya itu.
Beberapa saat, Cahaya tersebut perlahan redup, memperlihatkan sosok pemuda tampan nan gagah, dengan rambut beserta pupil mata yang sewarna, yaitu berwarna biru muda.
Terpaan angin kencang, menerbangkan rambut panjang pemuda itu. Matanya pun menatap tajam lautan siluman yang kala itu berhenti melanjutkan aksinya saat menyaksikan pemandangan alam yang merindingkan, seperti bencana akan segera menghampiri mereka.
"Auuuu!"
Suara lolongan keras dari seekor serigala membuyarkan lamunan mereka. Serigala itu adalah salah satu dari tiga siluman berusia 1000 tahun. Siluman-siluman itu pun kembali berlari ke arah Xiao Wang.
Melihat lautan siluman yang berlari ke arahnya, Xiao Wang lantas mengarahkan tangannya ke atas, Tiba-tiba percikan kilat di barengi dengan gemuruh petir yang menggelegar tercipta pada pusaran awan hitam sebelumnya.
Setelahnya, awan hitam itu mengeluarkan Air hujan yang jika di perhatikan dengan teliti, hujan itu seperti anak panah yang berkilau ketika diterpa sedikit cahaya.
Mereka yang berlari pun juga tak dapat menyelamatkan diri, dikarenakan hujan anak panah air itu yang jumlahnya melebihi ribuan, sehingga tak memungkinkan mereka untuk lolos.
Semua siluman telah ia bereskan dalam satu serangannya. Hanya tiga siluman saja yang saat itu masih bisa bertahan dari panah-panah air itu, menggunakan kekuatan mereka.
Perlahan, Xiao Wang melayang mendekati ketiganya. Salah satu dari mereka yaitu Singa Api hendak menyerangnya, namun ia langsung menghentikan gerakannya, ketika aura yang sangat agung nan berwibawa menekan mereka bertiga.
Ketiga Siluman itu di buat berlutut di hadapannya. Tak hanya itu, bahkan pohon, dan rumput-rumput pun seperti sedang memberikan hormat.
Xiao Wang pun mengajak bicara ketiga siluman itu dalam bahasa siluman.
Setelah pembicaraan selesai, Xiao Wang menatap ketiganya dengan senyuman penuh arti terpasang di bibirnya. Sedang ketiga siluman itu nampak kesal, namun mereka juga takut pada sosok yang ada di hadapannya ini.
"Bagaimana?" Ucapnya.
Siluman Serigala Kabut dan Ular Naga langsung mengangguk saat mendengar ucapan Xiao Wang barusan yang penuh dengan tekanan. Sedang Siluman Singa Api Enggan memberikan anggukan, tanda ia tak setuju.
__ADS_1
Yap, siluman Singa Api tak mau menjadi bawahan Xiao Wang, begitupun juga dengan dua siluman sebelumnya. Namun Siluman Ular Naga dan Serigala Kabut tak sebodoh teman mereka yang satu ini. Mereka yakin jika mereka tak mengikuti apa yang di ucapkan oleh pemuda di hadapan mereka ini, maka hanya ada satu jalan bagi mereka yaitu Kematian.
Xiao Wang langsung memberikan tekanan lebih kepada siluman Singa Api saat siluman itu tak menganggukkan kepala.
Tubuh siluman itu bergetar hebat, "Baik! Baik, aku akan mengikuti mu!" ucapnya saat ia tak mampu lagi menahan tekanan yang sangat dahsyat itu.
"Nah, gitu dong." Xiao Wang melebarkan senyumannya. Lalu ia melayang ke arah siluman Serigala Kabut, dengan jari telunjuknya ia letakkan di kening siluman itu.
Seketika cahaya biru muda menyembul dari kening Siluman Serigala Kabut. Bersamaan dengan itu, tubuhnya juga di kelilingi cahaya biru muda.
Perubahan terjadi pada siluman itu. Dimana yang tadinya berwarna Hitam, kini bertransformasi menjadi warna abu-abu, dengan tanda di kening serigala itu, matanya pun telah kembali normal.
Begitupun juga dengan kedua siluman di sebelahnya. Mereka juga mengalami transformasi dan juga memiliki tanda di kening mereka.
"Sekarang, kalian sudah terikat dengan anak ini. Jika sedikit saja ada niat di hati kalian untuk mengkhianatinya, maka kalian akan mati saat itu juga." Ucap Xiao Wang.
"Kami-Kami tak berani!"
Baguslah. Xiao Wang kemudian menutup tangan kanannya. Beberapa saat ia membuka kembali kepalan tangan, memperlihatkan tiga buah bola bercahaya. Lalu cahaya itu terbang dan masuk ke kening ketiga siluman itu.
Sesaat, ketiga siluman itu merasakan hangat. Namun semakin lama kehangatan itu berubah menjadi panas layaknya api yang membakar organ tubuh mereka. Lolongan beserta Auman kesakitan keluar dari mulut ketiganya.
Xiao Wang yang melihat tiga siluman itu terguling-guling di tanah, tersenyum sinis.
"Apa, Apa yang kau berikan pada kami?" Tanya Siluman Ular Naga di sela-sela rasa sakitnya.
Xiao Wang nampak enggan menjawab pertanyaan siluman itu. Senyumannya pun masih terpampang di bibirnya.
Beberapa saat, ketiganya berhenti berteriak saat rasa panas tersebut tak lagi mereka rasakan. Kini tubuh mereka di penuhi dengan energi.
"Seribu lima ratus tahun!" Ketiga siluman itu berucap serentak secara bersamaan, ketika mereka merasakan kultivasi mereka yang melonjak naik.
Siluman Serigala Kabut menatap Xiao Wang, lantas ia berucap. "Terima kasih tuan, Kami berjanji tak akan ada setitik pun niat untuk mengkhianati tuan."
"Sama-sama?"
Mereka terus saja berbincang-bincang, hingga tanpa mereka sadari, seseorang telah mengawasi mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Sial!"