
Pemuda yang menjadi lawan Xiao Wang melap darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan tangannya.
Ia lalu berdiri seraya berucap.
"Junior Xiao, aku tidak akan menahan diri lagi."
"Baik lah. Kalau begitu, aku juga akan berusaha segenap kemampuanku untuk melawan senior."
Pemuda itu berdiri, ia mengambil posisi ancang-ancang, lalu melesat cepat menebas Xiao Wang.
Xiao Wang sendiri menghindari serangan itu dengan melompat ke samping, sehingga serangan pemuda itu hanya mengenai angin.
Xiao Wang juga tak tinggal diam, ia melesat seraya melibaskan pedangnya ke arah pemuda itu.
Pertarungan sesungguhnya baru saja di mulai.
Keduanya memainkan pedang dengan sangat lihai dan cepat. Setiap serangan yang di lancarkan sangatlah mematikan.
Keduanya nampak imbang, Mereka saling menebas dan menangkis, memukul dan menahan, serta menendang dan membalas.
Hingga keduanya sama-sama melancarkan tonjokan di dada lawan, membuat keduanya sama-sama terpental mundur.
Pemuda itu menciptakan tujuh buah pisau angin tipis sebelum akhirnya ia arahkan pisau-pisau angin itu menyerang Xiao Wang.
Xiao Wang menyambut serangan pisau-pisau angin itu dengan melemparkan tujuh anak panah air pula.
Bunyi rentetan ledakan terdengar menggelegar ketika panah air bertabrakan dengan pisau angin.
Kepulan asap berterbangan memenuhi udara, membuat pandangan para penonton yang kultivasinya di bawah tahapan Bumi tak dapat melihat apa yang terjadi di arena. Hanya kilatan-kilatan cahaya yang berwarna biru dan putih saling berbentur-benturan yang dapat mereka saksikan.
Beberapa saat kemudian, kepulan asap tersebut menghilang dan memperlihatkan sosok Xiao Wang dan lawannya sama-sama berlutut.
Bisa di lihat kondisi lawan Xiao Wang tidak bisa di katakan baik. Dari lengan dan betisnya terdapat goresan yang dalam, selain itu terdapat juga beberapa luka di badannya. Setelan warna putih yang ia kenakan, kini berganti warna menjadi merah.
Begitupun dengan Xiao Wang juga mengalami beberapa sayatan di beberapa bagian tubuhnya. Namun itu tidak terlalu parah jika dibandingkan luka yang di terima lawannya.
Pemuda itu berusaha berdiri, dengan menjadikan pedangnya sebagai topangan. Perlahan tapi pasti, dengan langkah kaki pincang, ia berjalan mendekati Xiao Wang.
__ADS_1
Setelah jarak keduanya terpaut 3 meter, ia pun berucap. "Junior Xiao, kau benar-benar hebat. Apalagi di usiamu yang baru menginjak 7 tahun kau sudah mencapai tahap menengah tingkat 3.
Tak hanya itu, kau bahkan mampu melumpuhkan seorang kultivator tahap Menengah tingkat 4. Benar-benar jenius sejati." Ia menjeda kalimatnya sebentar untuk menarik nafas Lalu melanjutkan.
"Junior Xiao, aku harap kau bisa melewati babak selanjutnya dan mencapai final. Karena aku yakin, tahun depan kau akan bertambah kuat. Dan Aku sangat yakin, di Turnamen Pemuda Berbakat tahun depan kau bisa menjadi finalis dan membuat sekte kita terkenal. Bahkan Sekte kita memiliki peluang untuk menjadi Sekte besar karena mu."
Lalu ia berucap lantang. "AKU MENYERAH!"
"Terima kasih senior, karena mau mengalah dari junior. Aku janji akan berusaha keras untuk masuk final," ucap Xiao Wang
Mereka pun saling memberikan hormat. Lalu keduanya berjalan meninggalkan arena, meninggalkan tanda tanya di setiap benak para penonton yang tak melihat kejadian di dalam kepulan asap.
Walau begitu, mereka tetap bersorak-sorai atas kemenangan Xiao Wang. Menurut mereka, pertandingan seperti inilah yang di tunggu-tunggu.
Waktu berlalu begitu cepat, putaran pertama dan kedua telah selesai di laksanakan. Kini menyisahkan 10 orang yang akan bertanding di putaran ke tiga.
Dari 10 peserta, 5 diantaranya berada di tahap Menengah tingkat 4, 2 peserta di tahap Menengah tingkat 5 dan 3 peserta yang berada di tahap Menengah tingkat 3 salah satunya Xiao Wang.
Para peserta 10 besar di berikan waktu 20 menit untuk beristirahat memulihkan diri.
Sehingga ia tidak terlalu lelah dan siap mengikuti putaran berikutnya.
20 menit telah berlalu. Du Yan melangkah di atas arena, Lalau ia berucap.
"Baiklah semuanya. Tak terasa waktu berlalu kian cepat, hingga kita telah sampai pada putaran ke tiga atau perempat final, penghujung acara kita pada hari ini. Peraturannya masih tetap sama seperti putaran-putaran sebelumnya. Dimana, lawan akan dinyatakan kalah jika mengucapkan kata menyerah, keluar dari arena, dan pingsan." Du Yan mengambil nafas sebelum ia melanjutkan kembali kalimatnya.
"Pada putaran ketiga ini, kita akan mencari peserta yang lolos 5 besar yang akan bertanding besok. Untuk mempersingkat waktu, langsung saja kita mulai putaran ke tiga ini."
Sorak Sorai dari bangku penonton kembali terdengar. Mereka sudah tak sabar untuk melihat siapa yang akan lolos 5 besar. Tak sedikit pula yang menimang-nimang peserta yang akan lolos semifinal besok.
"Xiao Wang dan Mei Ling, silahkan masuk arena," Du Yan memanggil peserta pertama pada putaran ketiga.
Mendengar namanya disebut, Xiao Wang pun beranjak dari tempat duduknya menuju arena. Begitupun juga dengan gadis yang menjadi lawannya.
Setelah keduanya di posisi masing-masing, Du Yan menjelaskan kembali peraturan lalu mempersilahkan mereka untuk bertanding.
Keduanya sama-sama diam di tempat. Tak ada yang berani memulai pertandingan. Xiao Wang sendiri sedang mempersiapkan trik-trik untuk ia gunakan nanti.
__ADS_1
Karena gadis lawan Xiao Wang tak kunjung maju, akhirnya ia memutuskan untuk terlebih dahulu menyerang.
Xiao Wang menebas lawan secara vertikal membentuk tanda silang, namun dapat di tangkis menggunakan cambuk oleh Mei Lin.
Tak berhenti sampai di situ, Xiao Wang membungkuk lalu memutar tubuhnya, menebas bagian perut Mei Lin.
Mei Lin masih dengan mudah menghindari serangan tersebut.
Xiao Wang masih tidak menyerah, ia lalu mempercepat laju serangannya berharap lawannya akan kesusahan menghindarinya.
Dan benar saja, Mei Lin hampir kewalahan menghindari setiap serangan yang di lancarkan Xiao Wang. Sebab ia tidak terlalu ahli dalam pertarungan jarak dekat.
Beberapa saat, ia mengambil jarak untuk mengatur nafasnya. Setelahnya ia berbalik menyerang Xiao Wang. Mei Lin mengalirkan energi Qi pada cambuknya, lalu mengarahkannya ke arah Xiao Wang.
Cambuk yang pendek berubah menjadi panjang dan menjalar menuju Xiao Wang.
Xiao Wang sendiri menghindari serangan itu dengan melakukan salto ke samping. Serangan berikutnya kembali menyusulnya, ia pun berusaha menghindari kembali serangan itu.
Semakin lama, tempo serangan Mei Lin semakin cepat. Xiao Wang sampai dibuat kewalahan menghindari setiap cambuk yang datang ke arahnya dari berbagai arah.
Sesekali ia akan menangkis cambuk tersebut. Akan tetapi karena tempo serangan yang semakin cepat, rasanya menangkis bukanlah hal yang baik. Sebab semakin cepat pergerakan suatu benda, maka akan semakin kuat pula benda tersebut.
Hingga akhirnya, ia di buat terpental ketika berusaha menangkis serangan tersebut dengan pedangnya.
Tak berhenti di situ, cambuk Mei Lin kembali menghantamnya dari arah yang berlawanan. Xiao Wang kembali terpental dibuatnya.
Kepalanya linglung sebentar. Ketika ia tersadar ia merasakan cambuk yang kembali akan menghantam dirinya. Ia pun menciptakan perisai air di seluruh tubuhnya.
Namun, hentakan cambuk itu terlalu kuat, sehingga perisai itu langsung hancur. Pada saat itu, cambuk kembali menghantamnya dengan keras.
Beberapa kali ia akan melayang lalu kembali di hantam cambuk Mei Lin.
Para gadis dan wanita di bangku penonton yang melihat itu langsung berteriak histeris.
Tidak sedikit juga yang mengutuki tindakan Mei Lin. Selain itu, bahkan ada juga yang menangis, tak kuasa melihat kekasih halu mereka mendapat siksaan.
Mei Lin tidak menghiraukan perkataan dari para wanita-wanita yang mengutukinya, ia tetap saja menlancarkan cambuknya, bahkan ia mempercepat laju cambuknya.
__ADS_1