
Saat memasuki kota, Chen Li tak henti-hentinya di buat terkagum oleh keadaan kota. Bagaimana tidak, pemandangan di sana belum pernah ia jumpai sebelumnya.
Pasalnya dari kecil Chen Li selalu berada di hutan bersama pamannya. Sesekali ia juga akan mengikuti Wan Li keluar hutan, untuk menjual hasil buruan mereka atau membeli pakaian. Itupun dirinya hanya pernah memasuki sebuah desa kecil yang sepi.
Kemarin juga ia telah memasuki sebuah kota kecil, namun tetap saja popularitas di sana masih kalah jauh dibanding dengan suasana orang-orang di tempat ini.
Orang-orang ramai, yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Dengan para pedagang yang tak henti-hentinya menawarkan barang dagangan kepada setiap orang yang melewati tempat mereka. Pembeli juga berkeliaran ke sana-sini dari pedagang satu ke pedagang lainnya. Tak jarang ia juga melihat anak-anak yang merengek meminta di belikan mainan oleh orang tuanya.
"Benar-benar hidup!" gumamnya pelan.
Mereka terus berjalan melewati ramainya orang-orang itu. Hingga tibalah saatnya untuk Wan Li dan Chen Li memisahkan diri dari rombongan tersebut.
Sebenarnya dari tadi perasaan Wan Li tidak nyaman ketika berjalan bersama gerombolan orang-orang itu. Dikarenakan banyak pasang mata yang melihatnya dengan tatapan yang tak sedap.
Bisikan-bisikan kecil pun dapat ia dengar keluar dari mulut mereka, membicarakan dirinya yang kumuh berjalan bersama seorang keluarga kerajaan. Walaupun suara mereka tertelan oleh ramainya orang-orang di tempat itu, namun perkataan mereka yang membicarakan tentang dirinya, tak bisa luput dari pendengaran tajam Wan Li.
Wan Li juga sebelumnya telah mengetahui bahwa pria yang berpakaian mewah yang mengendarai kuda ini adalah adik dari Chen Long, Chen Guan.
Saat terjadinya kudeta di kerajaan Api oleh Chen Huang, saat itu usianya baru berusia 12 tahun. Sehingga dirinya yang tak mengerti apa-apa, hanya bisa menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya yang terkunci dari luar. Tak hanya itu, ketika Chen Long di eksekusi di hadapan semua orang di aula kerajaan Api pun dirinya juga ada di sana, menyaksikan kakaknya di bunuh.
Tak terima, begitulah yang ia rasakan saat itu. Namun dirinya yang masih kecil tak bisa berbuat apa-apa.
Wan Li beserta Chen Li berbelok ke arah barat, sedang rombongan Chen Huang terus berjalan lurus ke depan.
__ADS_1
Pertama-tama mereka berniat mencari tokoh pakaian untuk mengganti pakaian lusuh mereka, dengan berbekal ingatan Wan Li tentang lika-liku kerajaan Api sebagai penunjuk jalan.
"Haaih ... Semuanya masih tetap sama seperti dulu. Hanya beberapa tempat saja yang berubah," gumam Wan Li sambil menarik nafas.
Saat dalam perjalanan, mereka melihat sebuah warung makan di pinggir jalanan. Meskipun terlihat agak kotor, tapi di sana nampak ramai dengan orang-orang yang dengan lahapnya menyantap makanan.
"Li'er, mari kita ke sana untuk mengisi perut kita!" ajak Wan Li.
"Baik Paman."
Seorang wanita menghampiri kedua orang itu, dan menuntun mereka ke tempat duduk yang kebetulan tinggal satu meja saja.
"Silahkan duduk tuan-tuan!" ucapnya mempersilahkan Wan Li dan Chen Li untuk duduk.
"Dua sayur sup dan daging. Untuk minumannya, air putih beserta satu kendi arak!"
"Baik, mohon tunggu sebentar tuan!"
"Umm."
Sepeninggal wanita itu, Chen Li lantas bertanya akan menu yang di pesan oleh Wan Li barusan.
"Paman, arak itu apa?"
__ADS_1
"Arak itu adalah minuman yang khusus di sediakan untuk orang dewasa. Kalau untuk seusia kau ini belum bisa mengonsumsinya."
"Memangnya kenapa paman?"
"Entahlah Li'er, yang intinya jika arak diminum oleh anak-anak seusia kau, maka akan sangat berbahaya bagi kesehatan."
Chen Li mengangguk mendengar penjelasan Wan Li. Beberapa lama menunggu, akhirnya orang yang di tunggu muncul juga dengan tangan yang memegang hidangan yang dipesan Wan Li.
"Selamat menikmati!" ucapnya setelah meletakkan semua hidangan di atas meja, sambil senyum manis tersungging di bibirnya. Setelahnya ia beranjak meninggalkan mereka berdua, yang mulai menyantap hidangan yang disajikannya.
Saat sedang tenang-tenang nya, tiba-tiba mereka kedatangan tamu tak di undang, yang tentu saja Chen Li sangat kesal dengan orang-orang itu.
Ya. Mereka adalah murid-murid dari sekte Pedang Naga. Kali ini mereka datang bersama dengan seorang pria tua yang berjalan di belakang mereka.
"Hai pemulung, kita bertemu lagi!"
"Eh, itu siapa, apakah kau mengenalinya?" Seorang pemuda bertanya ke temannya terkait dengan siapa pemuda itu
"Dasar pikun!" Pemuda lain datang lalu memukuli kepala pemuda yang berucap barusan.
"Pemulung ini yang waktu itu kita temui di hutan.'' Ia menghentikan kata-katanya sesaat lalu mendekati telinga temannya yang bertanya seraya berbisik. "Dan juga pemulung ini lah yang membuat tuan Mu kencing di celananya waktu itu."
"Ow, ya-ya aku ingat. Hahaha!" keduanya tertawa terbahak-bahak setelahnya.
__ADS_1
Sedang orang yang di maksud merasa tersinggung, lalu ia menatap tajam ke arah dua orang itu.