Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 68. Kabar Pemberontakan


__ADS_3

Xiao Wang mengangkat tangan kanannya, tampaklah oleh Xiao Liu benda berkilau di jari tengah Xiao Wang.


"I-itu! Darimana kau mendapatkannya?"


Xiao Liu meraih tangan Xiao Wang. Diperhatikannya cincin yang melingkar di jari mungil Xiao Wang. Tubuhnya tak henti-hentinya bergetar. Ia tau betul cincin yang dipakai Xiao Wang ini adalah cincin ruang. Dimana cincin ini sangatlah langkah di kekaisaran Han.


Ia sendiri memilikinya, namun ia yakin kualitas cincin ruang di jari manisnya tak sebagus cincin ruang di jari tengah Xiao Wang.


"Mengenai dimana aku mendapatkan cincin ini, aku tak bisa menjawab sekarang kakek, namun aku yakin cepat atau lambat, seiring dengan berjalannya waktu kau pasti akan mengetahuinya."


Ya! Xiao Wang tak berani memberitahu kakeknya sekarang bahwa semua itu ia dapat dari Bo Ji. Inginnya semua itu terbongkar dengan sendirinya seiring waktu yang kian bertambah. Dirinya sangat yakin tak akan lama lagi semua pasti akan mengetahuinya.


"Baiklah, kakek juga tak akan memaksamu!"


Xiao Liu bisa memakluminya. Memang sedari cucunya itu lahir ke dunia, ia telah menunjukan suatu tanda-tanda yang tak bisa ia mengerti. Bukan tak mungkin kan ketika ia besar, hal-hal di luar kepalanya akan segera ia saksikan dari cucunya ini.


Keduanya terus saja berbincang-bincang, hingga Lu Wanqiang mendatangi keduanya dan memberitahukan bahwa tetua Cheng Yuan telah sadar.


Segera keduanya mengekori Lu Wanqiang menuju kamar dimana tetua Cheng Yuan terbaring.


Sesampainya di sana, Xiao Liu langsung menghampiri tetua Cheng Yuan.


"Akhirnya kau sadar juga tetua Yuan! Terima kasih, terima kasih karena telah menyembuhkan tetua Yuan."


Xiao Liu bersyukur karena pria yang sebelumnya terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang kini telah membuka mata. Tak lupa pula ia berterima kasih pada Dewa Obat karena telah mau meluangkan waktunya untuk menolong salah satu tetua Sekte Elang Emas.


"Bukan aku yang menolongnya senior, tapi berterima kasihlah pada anak ini. Jika bukan karena kelopak bunga yang ia beri tadi, mungkin nyawa tetua Yuan tak bisa lagi terselamatkan." Dewa Obat membalas ucapan Xiao Liu sembari tangannya menunjuk Xiao Wang.

__ADS_1


Tersipu malu Xiao Wang dibuatnya ketika dirinya di puji oleh seorang tabib terkenal.


Perbincangan sesaat tak bisa tak terjadi antar Xiao Liu, Xiao Meng dan Dewa obat. Selesai dengan berbasa-basi, Dewa Obat pun pamit hendak kembali ke kediaman yang memang di sediakan khusus untuknya.


Namun sebelum kepergiannya, Dewa Obat berpesan kepada Xiao Wang jika dirinya membutuhkan bantuannya, panggil saja dirinya dengan meniup peluit yang diberikan Dewa Obat padanya. Ia pasti akan membantunya, walaupun tanpa dirinya.


"Terima kasih Kakek!" Xiao Wang menerima pemberian Dewa Obat dengan senang hati. Tak lupa pula ia menangkupkan tangan seraya membungkukkan badan memberi hormat pada Dewa Obat.


Setelah kepergian Dewa Obat, Xiao Liu lantas menginterogasi tetua Cheng Yuan.


"Tetua Yuan, apa yang terjadi padamu sebelumnya?"


"Kenapa kau datang kesini dengan keadaan terluka?"


Tetua Cheng Yuan menjadi bingung ketika dua pertanyaan sekaligus dilemparkan dua orang berbeda dalam waktu bersamaan kepadanya.


Seakan mengerti arti tatapan tetua Cheng Yuan Xiao Wang pun menegur kedua orang tua di sampingnya.


"Ayah, Kakek. Apa yang kalian berdua lakukan. Kenapa kalian menyerang tetua Yuan dengan dua pertanyaan sekaligus dalam satu waktu. Tetua Yuan Baru saja pulih dan kalian telah menyerangnya. Kan aneh!"


Kedua pria yang mendapat teguran menjadi tersadar.


"E-eh, maafkan kami tetua Yuan. Dari tadi kami ingin bertanya kepadamu, namun tak ada kesempatan. Karena tak tahan, akhirnya kami menanyai kau ketika kesempatan itu telah ada. Sampai-sampai kami melupakan kondisimu. Hehehe!" Xiao Liu menyampaikan permintaan maaf beserta alasannya. Tak lupa pula tawa kecil sebagai penutup dari kalimatnya.


"Tak apa Ketua. Aku akan menjawab pertanyaan kalian berdua." Tetua Cheng Yuan berhenti sejenak sambil menarik napas dalam sebelum akhirnya menghembuskannya kasar.


Ia mulai menceritakan kisahnya.

__ADS_1


Bermula dari tetua Hai Bao, yang tak pernah nampak semenjak kepergian Xiao Liu dan yang lainnya. Hingga saat ia muncul, dirinya telah membawa beberapa pasukan di belakangnya lalu mulai menyerang orang-orang di sekte Elang Emas.


Pasukan yang dibawanya semua sangatlah kuat. Banyak korban jiwa berjatuhan di pihak mereka, sedang di pihak tetua Hai Bao hanya beberapa orang saja yang tewas.


Penyerangan itu terus berlanjut hingga beberapa hari. Tetua Lu Duanyan yang biasanya selalu menang ketika bertarung melawan tetua Hai Bao sampai dibuat kewalahan ketika kembali melawannya. Kini lengan kirinya telah hilang disebabkan oleh tetua hai Bao yang entah dari mana ia mendapatkan kekuatan itu.


Tepat di hari ketiga, pasukan tetua Hai Bao telah berhasil melumpuhkan semua orang di sekte Elang Emas. Mereka yang mau mengikutinya maka akan ia lepas, sedang mereka yang menolak mengikutinya maka akan menjadi tawanan dan di hukum dipenjara bawah tanah milik Sekte Elang Emas.


Beberapa murid tak ada pilihan lain selain berkhianat dan mengikuti tetua Hai Bao, sedang sisanya siap di jatuhi hukuman hingga akhir hayat.


Setelahnya, kedudukan ketua sekte diambil alih oleh tetua Hai Bao. Tak hanya itu, sekte yang tadinya bernama Sekte Elang Emas, kini berganti nama menjadi Sekte Elang Hitam.


Sementara tetua Cheng Yuan sendiri di suruh tetua Lu Duanyan untuk kabur dan memberitahukan kabar ini pada ketua sekte. Ia awalnya menolak karena tak tega meninggalkan mereka semua.


Namun karena terus-terusan di desak oleh mereka yang bukan hanya tetua Lu Duanyan namun beberapa orang juga mendesaknya untuk melarikan diri, Ia pun akhirnya menuruti desakan tersebut setelah lama berpikir dalam kebimbangan. Dirinya diam-diam memisahkan diri dari rombongan, lalu berlari sekuat tenaga menuju kerajaan Api.


Namun sayang, dirinya ternyata telah di cegah oleh segerombolan orang dengan aura hitam pekat di sekeliling orang-orang itu.


Tak ada pilihan lain baginya selain melawan mereka. Pertarungan tak imbang pun terjadi kala itu. Dirinya sendirian di keroyok oleh sejumlah orang.


Salah seorang yang berperawakan layaknya pemimpin dari kelompok itu berjalan santai lalu memasuki pertarungan. Mendadak beberapa orang yang menggerogoti tetua Cheng Yuan memisahkan diri.


Pertarungan pun kembali imbang saat satu lawan satu. Namun meskipun begitu, nyatanya tetua Cheng Yuan masih sedikit kewalahan. Hingga salah satu tapak dengan energi racun yang sangat pekat menghantam dadanya, membuatnya memuntahkan darah hitam.


Selesai melepaskan tapak itu, orang-orang itu pun meninggalkan dirinya sendirian, karena dikiranya pria tua ini tak akan mampu bertahan lama.


Dengan sisa-sisa tenaganya, ia berlari ke kerajaan Api. Susah payah ia mencari, akhirnya ia bisa menemukan kediaman Sekte Elang Emas berkat petunjuk dari seorang anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2