
Esok hari telah tiba dan hari inilah babak 16 besar akan di mulai.
Setelah hari sebelumnya menggunakan 6 Arena, hari ini berkurang dua menjadi empat arena saja. Berarti dalam satu arena akan ada dua pertandingan yang akan tampil secara bergilir.
Xiao Wang dan Chen Li mendapat giliran pertama dalam dua arena berbeda. Mereka yang mendapat giliran untuk bertanding pertama kini berjalan memasuki arena setelah nama mereka di sebut oleh Jawatankuasa.
Chen Li melangkah menuju arena kedua tempat ia akan melaksanakan pertandingannya. Di atas sana, telah berdiri seorang pemuda yang beberapa tahun lebih tua dari dirinya, sedang menunggu kedatangannya.
"Oh, jadi kau yang sebelumnya berani mencari masalah dengan adikku. Besar juga nyali mu yah!" ucap pemuda itu setelah Chen Li berhenti tepat di hadapannya.
"Cih, siapa juga yang mencari masalah dengan pemuda sombong itu. Yang ada mereka yang lebih dulu mencari masalah denganku!" Chen Li membela diri.
"Omong kosong!" Mu Song yang kebetulan mendengar perkataan Chen Li bersuara dengan keras di bangku penonton.
Mendengar teriakan Mu Song, Chen Li tak bisa menahan untuk tak memasang senyum sinis ke arah pemuda itu.
Tanpa pemuda itu sadari, teriakannya telah mengundang banyak perhatian tertuju padanya. Mu Liliang sendiri sampai dibuat malu oleh tindakan adiknya.
"Dasar bodoh!" gumamnya pelan.
__ADS_1
"... Sudahlah, mari kita mulai saja pertandingannya!" Mu Liliang kembali berucap. Kali ini ia tujukan untuk kedua orang yang berdiri di hadapannya.
"Baik ... Apakah kalian siap?"
"Ya!"
"Dari kemarin!" Chen Li menjawab dengan ketus.
Sebenarnya ada rasa tersinggung, wasit ketika mendapati jawaban seperti itu dari seorang bocah. Namun ia memilih tak mempermasalahkannya, dari pada makin rumit nantinya.
Setelahnya, ia mempersilahkan keduanya untuk mulai bertanding. Namun sebelum itu, ia sempat berdoa agar Mu Liliang bisa memberi bocah itu pelajaran yang amat-amat berharga supaya pemuda di hadapannya ini mengetahui posisinya.
Keduanya melesat cepat dengan pedang yang dilapisi energi api yang berkobar-kobar diterpa kencangnya angin.
Gerakan keduanya begitu cepat hingga mereka tampak seperti bayangan putih dan emas kemerahan terlihat di mata para penonton yang bukan seorang kultivator maupun seorang kultivator tahapan dasar dan tinggi.
Percikan-percikan bunga api tercipta selalu ketika pedang keduanya berbenturan. Dikarenakan kecepatan keduanya yang sangat ekstrim, hingga dalam hitungan menit sudah beberapa jurus yang mereka keluarkan.
Chen Li menghindari tendangan Mu Liliang dengan melompat sembari kaki kanannya ia layangkan kearah kepala lawan.
__ADS_1
Tak ada yang mau mengalah. Keduanya saling menyerang menghindar, menebas menepis, meninju menahan, dan menendang membalas.
Setiap lekukan tubuh keduanya mengandung energi api, sampai-sampai menimbulkan bayang energi keemasan di setiap mereka menggerakkan tubuh.
Beberapa saat keduanya mengambil jarak.
"Tidak ku sangka, kekuatanmu ternyata diluar ekspektasi-ku. Bahkan di kultivasi tahapan Menengah puncak, kau masih bisa mengimbangi aku yang berada di tahapan Tinggi puncak tanpa kesusahan." Mu Liliang menjeda kalimatnya sebentar.
"... Namun jangan besar kepala dulu. Aku tadi hanya menggunakan sepertiga dari kekuatan asliku tadi."
Selesai dengan perkataannya, Mu Liliang kemudian melepaskan setengah dari kekuatannya lalu melesat cepat ke arah Chen Li. Kecepatannya bertambah, hingga dalam seratus milidetik dirinya telah berada di hadapan lawan dengan pendang yang telah ia persiapkan untuk menusuk lawan.
Begitu terkejut Chen Li ketika pemuda yang menjadi lawannya telah berada di hadapannya dengan pedang memanjang hendak menusuk perutnya.
Segera ia mundur ke belakang dengan kaki yang terdorong di tanah, menghindari serangan tusukan itu.
Namun, Mu Liliang nyatanya masih tak menyerah sampai di situ. Ia juga bergerak maju dengan pedang yang masih dalam posisi menargetkan perut Chen Li.
Merasa dirinya hampir mendekati garis pembatas arena, Chen Li lantas bertindak lain dengan melakukan salto belakang, dan menendang keatas pedang Mu Liliang.
__ADS_1
Mu Liliang begitu terkejut dengan aksi tiba-tiba Chen Li, hingga ia belum sempat menyerang kembali, dirinya telah mendapat sebuah tinju dari Chen Li membuatnya termundur hingga beberapa meter.