Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)

Reinkarnasi Dua Dewa (Api Dan Air)
Ch 34. Keluar Dari Goa


__ADS_3

1 tahun kemudian.


Di dalam sebuah goa, seorang pria yang berusia sekitar 50-an, bersama dengan seorang pemuda sedang berendam di air yang memancarkan uap.


BAAMM!


Suara ledakan tiba-tiba terdengar dari dalam tubuh pria tersebut. Sesaat ia membuka matanya serta senyum manis tersungging di bibirnya.


"Aku tak menyangka akan mencapai tahap Bumi tingkat 4 hanya dalam kurun waktu satu tahun." Ia menoleh pemuda di depannya.


Sambil menunggu pemuda tersebut membuka kedua mata, ia naik ke atas lalu mengambil dan mengenakan pakaiannya.


Setelahnya, ia keluar untuk berburu. Beberapa saat ia kembali dengan membawa dua ekor kijang di pundaknya.


"Eh Li'er, kau telah bangun?" Ia meletakkan kijang di tanah lalu menghampiri pemuda tersebut.


"Sudah sampai di mana tingkatan kultivasimu saat ini?" tanya Wan Li, karena ia tak dapat mengukur kekuatan Chen Li saat ini.


"Di tahap Langit tingkat 2 Paman."


"Apa! Bagaimana bisa?"


"Paman, Mungkin saat ini adalah saat-saat yang tepat untuk paman mengetahui semuanya."


Chen Li kemudian menceritakan tentang Chen Lu kepada Pamannya, tak lupa juga ia menceritakan bagaimana ia yang sering di latih oleh Chen Lu di alam bawah sadarnya.


Keraguan nampak jelas dari raut wajah Wan Li mendengar cerita Chen Li. "Benarkah demikian. Kau tidak sedang berbual kan?"


"Benar Paman, Li'er tak berbohong." Chen Li juga menceritakan tentang dirinya yang ditakdirkan sebagai penyelamat semesta seperti yang di katakan Chen Lu padanya. Walaupun ia juga masih tak percaya dengan itu.


Mendengar itu, Wan Li menjadi bertambah tak percaya. Dikiranya pemuda di depannya ini sedang membual.


Sesaat, terlintas di benaknya saat-saat kelahiran Chen Li. "Apakah kejadian waktu itu ada hubungannya dengan semua yang di ceritakan Chen Li barusan?" gumam pelan Wan Li namun dapat di dengar samar oleh Chen Li.


"Kenapa paman? Aku tak dapat mendengar jelas yang paman katakan tadi."


"Eeh, tidak Li'er." Jawab Wan Li cepat. Sesaat ia menoleh Chen Li dalam.


"Li'er, ada suatu rahasia yang pernah paman janji kepada kau untuk menceritakannya jika kau telah mencapai tahap Tinggi," ujar Wan Li tiba-tiba.


"Rahasia apa Paman?"

__ADS_1


"Dulu Paman tak mengungkapkannya, karena kau dulu belum cukup kuat. Aku takut kau berbuat sesuatu di luar batas. Dan sekaranglah saatnya untuk kau mengetahui semuanya."


Wan Li kemudian menceritakan kejadian delapan tahun lalu, dimana terjadinya pemberontakan oleh Chen Huang, adik dari ayah Chen Li yang ingin menjadi seorang raja kerajaan Api. Dari pemberontakan itulah ayah Chen Li, Raja Chen Long tewas. Begitupun juga dengan Ratu Lin Ra yang juga tewas ketika melahirkan Chen Li dalam pelarian.


Mendadak sesuatu yang panas merembes keluar dari tubuh Chen Li. Suhu yang tadinya normal mendadak naik drastis.


"Li'er, tenangkan dirimu."


"Paman, kenapa kau tak memberitahuku sebelum-sebelumnya. Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" geram Chen Li.


"Itu karena kalau aku memberitahumu sebelum-sebelum itu, aku takut kau akan bertindak gegabah dan bahkan bisa mengancam keselamatanmu. Aku juga sudah berjanji pada Ratu Lin Ra, bahwa aku akan menjagamu..


.. Li'er, ini semua demi kamu," ucap Wan Li dengan nada meninggi.


"Tapi paman. Aaah!!" Chen Li yang tersulut emosinya langsung meninju dinding goa dan membuatnya retak seketika.


Seakan tak merasakan sakit, ia terus saja meninju dinding itu, sampai-sampai tangannya yang seputih salju berubah warna menjadi merah karena kulitnya yang robek dengan darah yang terus menggabak.


Beruntung ia tak menggunakan Qi, kalau tidak goa itu sudah di pastikan akan hancur saat itu juga.


Melihat itu, Wan Li segera menghampiri Chen Li, menariknya lalu memeluknya untuk menenangkan dirinya.


"Sadarlah Li'er, kau hanya akan membuat Raja Chen Long dan Ratu Lin Ra sedih melihat mu seperti ini."


"Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menjadi kuat, supaya kau bisa membalas kematian kedua orang tuamu."


"Aku mengerti Paman."


Chen Li melepaskan pelukannya. Lalu ia di bopong oleh Wan Li menuju air panas. Sesampainya di sana, Wan Li langsung mencelupkan tangan Chen Li ke dalam air panas.


Beberapa saat, luka-luka di tangannya menutup dengan cepat. Lalu mereka berdua memanggang dua kijang hasil tangkapan Wan Li.


Tak butuh waktu lama untuk kijang tersebut matang. Selesai memakan, mereka berniat meninggalkan goa.


Tapi sebelum meninggalkan tempat itu, Chen Li masih sempat-sempatnya memasukkan air panas itu ke dalam cincin penyimpanannya, setelah semuanya selesai ia beserta Wan Li meninggalkan tempat itu, setelah beberapa bulan mereka berdiam di sana.


Keduanya pun melesat meninggalkan tempat itu. Dalam sekejap, keduanya telah menghilang.


*


Di sebuah hutan, nampak tujuh orang pemuda berjalan, sambil salah satu pemuda memegang sebuah benda berkilau di tangannya.

__ADS_1


"Lihat, apa yang kita dapat. Guru pasti akan sangat senang melihat hasil buruan kita."


"Kau benar saudara Pertama."


Lama mereka berjalan sambil bercengkrama, hingga mereka berhenti ketika melihat seorang pemuda berpakaian lusuh sambil mengenakan tudung kepala yang terbuat dari jerami.


"Saudara pertama, lihat ada pengemis di depan kita," seru salah seorang di antara mereka.


"Waah, iya."


"Bagaimana, kalau kita kerjain saja dia?"


"Setuju."


Mereka berbondong-bondong menghampiri pemuda itu.


"Hai teman, kenapa kau mengemis di sini. Bukankah di kota lebih baik karena lebih banyak penduduk?"


"Iyah benar, apakah kau di usir karena telah mencuri."


"Ataukah kau sedang di buru oleh pedagang karena kau memiliki utang dan tak bisa membayarnya?"


Terdengar gelegar tawa yang keluar dari mulut mereka semua, menertawai pemuda tersebut.


Tak ada tanggapan dari pemuda tersebut, membuat ketujuhnya naik pitam. Namun mereka tak langsung menyerah.


"His, sungguh malang sekali nasibmu kawan, masih muda sudah menjadi pengemis gelandangan."


"Justru aku yang kasihan pada kalian, masih muda tapi tak berpendidikan. Aku jadi ragu, apakah kalian menerima pendidikan selama di sekte kalian, atau tidak?" tukas pemuda tesebut.


"Kau!" ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk pemuda di tersebut.


"Bajingan, akan ku bungkam mulutmu!"


"Cih," desah pemuda tersebut di barengi senyum meledek tersimpul di bibirnya.


Melihat senyuman itu, ketujuh pemuda tersebut langsung tersulut emosinya. mereka melepas pedang dari gagang pedang dan hendak menyerang pemuda tersebut.


"Li'er, apa yang terjadi?" seorang pria tua datang menghampiri mereka.


Ketujuh pemuda itu tak jadi menyerang pemuda tersebut yang ternyata adalah Chen Li, saat melihat Wan Li datang. Mereka pun langsung memasang sikap waspada.

__ADS_1


Wan Li tersentak ketika melihat Setelan yang di kenakan oleh Pemuda-pemuda itu.


"Sekte Pedang Naga!"


__ADS_2