
Pertandingan 8 besar kini telah usai. Keempat peserta yang masuk final juga telah ditemukan.
Desas desus di bangku penonton terdengar begitu ramai. Pasalnya, Hasil akhir dari pertandingan sangatlah mengejutkan. Dimana keempat finalis berasal dari dua sekte menengah dan dua dari pendekar bebas. Tak pernah masuk dalam iming-iming sebelumnya.
Xing Liao, Mu Liliang, Zhou Huang dan masih banyak lagi kultivator muda dari sekte besar di tiga aliran yang dahulu sempat di wanti-wanti sebagai pemenang dari turnamen Pemuda Berbakat periode ini, kini kalah telak oleh keempat peserta itu. Sungguh sangat di luar ekspektasi!
Sementara di bangku lain, Xiao Liu beserta Xiao Meng sangat bersuka cita atas kemenangan Xiao Wang. Dikarenakan setiap perwakilan dari Sekte Elang Emas pada periode-periode sebelumnya selalu nya kalah pada babak 32 besar.
Pencapaian tertinggi yang pernah di raih oleh salah satu perwakilan sekte Elang Emas sendiri berada di babak 16 besar. Akan tetapi, setelah pulang, dirinya tidak dalam kondisi baik. Dikarenakan perbedaan tingkat kultivasi yang terpaut jauh, membuat lawan menyerangnya secara gencar-gencaran dan tanpa ada belas kasih yang di tunjukan lawan.
Setelah sedikit penuturan dari pembawa acara beserta raja Chen Huang, akhirnya semuanya di persilahkan untuk bubar.
"Li'er, perasaanku tidak enak terkait pertandingan besok!" Wan Li mencurahkan perasaan hatinya pada Chen Li ketika mereka telah sampai di dalam gubuk kediaman mereka.
Chen Li berjalan hendak menyalakan lampu pelita. "Memangnya apa yang paman pikirkan?" Tanya Chen Li sembari ujung jari telunjuknya yang mengeluarkan api ia arahkan pada sumbu lampu.
"Entahlah Li'er. Entah mengapa aku merasa sesuatu yang sangat besar akan terjadi besok!"
Selesai dengan lampu itu, Chen Li kembali mendekati lampu pelita lain. "Mungkin hanya perasaan paman saja."
"Tidak Li'er. Ini bukan sekedar perasaan kosong. Aku sangat yakin kekacauan besar akan segera terjadi besok!"
Chen Li menghentikan tindakannya. Ia menoleh Wan Li sesaat, sebelum kembali menyalakan lampu pelita dengan menggunakan api di jari telunjuknya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita harus mempersiapkan sesuatu untuk menghadapi kekacauan besar yang paman maksud!"
"Kau benar!"
Selesai dengan itu, keduanya mulai mempersiapkan barang-barang yang akan mereka butuhkan nantinya. Chen Li sendiri mengeluarkan Busur Bulan dari cincin ruang, lalu kemudian mengelap dengan menggunakan kain.
"Paman, entah mengapa aku merasa akan berpisah denganmu dalam waktu yang sangat lama!"
Chen Li tiba-tiba saja berbicara. Mimik mukanya pun terlihat begitu serius. Ada sedikit intonasi kesedihan dari ucapannya.
Wan Li yang juga mengelap pedang Naga Api-nya menghentikan aksinya sejenak. Ia menatap lekat Chen Li.
"Kenapa kau tiba-tiba berpikir begitu?" Wan Li kembali melanjutkan aksi lap pedangnya.
Wan Li mendekati Chen Li lalu duduk di sampingnya.
"Li'er, apapun yang terjadi, kita tak akan pernah berpisah. Aku sudah berjanji pada Ratu Lin Ra untuk selalu menjagamu. Tak akan ku biarkan sesuatu terjadi padamu, sampai nanti kau tumbuh menjadi pemuda kuat, aku akan tetap berada di sampingmu dan terus mendukung mu." Wan Li menenangkan Chen Li.
"Tapi Paman...."
"Kau tenanglah. Jika nanti kita memang berpisah, mungkin itu merupakan jalan takdir yang telah di tentukan Dewa untukmu!"
"Iya Paman!" Chen Li berusaha untuk tenang.
__ADS_1
Sangat sulit baginya jika dirinya benar-benar berpisah dengan Chen Li. Pasalnya sejak kecil dia telah di rawat oleh pria itu.
*
Hari ini hari adalah hari dimana babak semifinal dan akan di langsungkan dengan pertandingan final. Hari ini nampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Pasalnya banyak wajah-wajah baru yang mulai bermunculan.
Selain itu, penonton yang kebanyakan dari rakyat, baik seorang kultivator tingkatkan dasar dan menengah maupun rakyat biasa kelihatannya telah berkurang banyak. Kebanyakan dari mereka yang mengenakan tudung, ada juga mereka yang berjubah hitam duduk di bangku penonton.
Hawa aula saat itu terasa agak mencekam. Tidak ada rasa sahabat seperti hari-hari sebelumnya.
Meskipun begitu, pertandingan masih tetap di laksanakan dengan keamanan di perketat.
Keempat peserta memasuki arena. Setelah mendengar perkataan dari Raja Chen Huang, merekapun di persilahkan untuk mengambil bola yang berisi nomor arena yang nantinya akan di pakai untuk bertanding di babak semi final.
Sebelumnya, hari ini telah di sediakan dua arena setelah hari sebelumnya empat arena. Jadi keempat peserta dapat bertanding langsung secara bersamaan.
Selesai dengan mengetahui nomor arena, keempat peserta berjalan memasuki arena masing-masing.
Dapat dilihat, Chen Li di babak semifinal ini berhadapan dengan Xiao Wang, sedang Hei Fang berhadapan dengan gadis cantik bergaun putih.
Dua orang pemuda yang sama-sama memiliki paras yang gagah dan tampan, beserta dua orang gadis yang kecantikannya bak Dewi saling berhadap-hadapan.
Setelah di persilahkan untuk bertarung, Xiao Wang dan Chen Li nampak masih terdiam sambil menatap lawan. Begitupun dengan kedua gadis itu, tak ada yang memulai pertarungan. Keempatnya sibuk dengan strategi yang akan di gunakan untuk menghadapi lawan nantinya.
__ADS_1