
Di sepanjang jalan, Guiji menceritakan kisahnya saat penyerangan siluman kepada Xiao Wang dan ketiga orang yang baru saja ia lihat, karena Xiao Wang yang meminta sebelumnya.
Ia mengatakan bahwa, saat Xiao Wang sedang tertidur, Ia yang masih merasa mengantuk lekas berdiri hendak ke sungai, untuk mencuci mukanya.
Saat sedang sibuk-sibuknya membasuh wajah, tiba-tiba ia mendengar suara siluman yang banyak dari arah tempat di mana ia meninggalkan Xiao Wang. Ia pun segera berlari ke sana. Sesampainya di tempat itu, ia telah melihat Xiao Wang yang saat itu sedang membantai habis-habisan para siluman yang mengelilinginya.
Rasa ingin membantu muncul di benaknya, akan tetapi rasa takut juga menghampirinya kala itu. Dengan berat hati, ia menyaksikan Xiao Wang sendirian yang di serang oleh siluman-siluman yang tak ada habis-habisnya.
Seekor Siluman Serigala Kabut ternyata mengetahui keberadaannya. Serigala itu lantas berbalik arah, menuju tempat dimana ia bersembunyi.
Dirinya yang melihat siluman tersebut, lantas berlari sekuat tenaga. Namun kecepatan siluman itu nyatanya di luar ekspektasinya. Dalam sekejap, siluman itu telah berada di hadapannya.
Guiji termundur saat itu juga, walaupun tanpa kehendaknya. Sedang Serigala Kabut maju perlahan sambil menjilati lidahnya, air liurnya pun terjatuh saat itu.
Tak ada pilihan lain, ia akhirnya maju dan menyerang Siluman tersebut. Pertarungan pun tak tak dapat dihindarkan, antara Guiji melawan Siluman Serigala Kabut.
Singkat cerita, dengan susah payah dan juga keberuntungan yang berpihak kepadanya kala itu, Guiji akhirnya bisa mengalahkan Siluman Serigala Kabut.
Namun, pertarungannya tersebut ternyata telah mengundang siluman-siluman lain untuk mendatangi tempat itu. Terpaksa ia harus melarikan diri sejauh-jauhnya.
Pelariannya pun membuahkan hasil, terbukti siluman-siluman yang semula menyerangnya, kini telah berbalik.
"Ow, seperti itu yah," tanggap Xiao Wang saat Guiji telah menyelesaikan ceritanya.
"Xiao Wang, aku minta maaf karena tadi aku tak membantumu melawan siluman-siluman itu," sesal Guiji.
"Iya saudara Gui, aku bisa memakluminya,"
"Bocah, kenapa kau ini sangat gampang terperdaya? Apakah kau tak merasakan keanehan-keanehan pada ceritanya tadi?" Bo Ji tiba-tiba bersuara di kepalanya.
"Keanehan? Aku tak merasakannya. Apalagi aku merasa kalau Guiji ini tipe orang yang tak pandai berbohong. Jadi kalau seandainya ia akan berdusta, itu akan kelihatan dari tingkah lakunya."
Ucapan Xiao Wang nyatanya tak dapat di tangkap oleh Bo Ji.
"Apa maksudmu bocah?" tanyanya namun tak ada jawaban dari orang yang di tanya.
Xiao Wang menanggapi ucapan Bo Ji dengan sudut bibir kanannya yang terangkat.
Ia terus saja melesat bersama dengan empat orang di belakangnya. Semakin lama, kecepatannya kian bertambah, hingga mencapai kecepatan seorang Kultivator tahap Langit tingkat 2.
__ADS_1
"Saudara Xiao, tunggu aku!" teriak Guiji ketika ia tak mampu lagi mengikuti gerakan Xiao Wang.
Xiao Wang nyatanya tak mempedulikan panggilan Guiji, ia tetap saja melesat dengan kecepatan langit tingkat 2. Ketiga pengikutnya pun juga mempercepat gerakan mereka hingga setara dengan kecepatannya.
Sementara Guiji yang telah ditinggalkan oleh keempat orang tadi merasa kesal. Beberapa saat, Ia pun menambah kecepatan langkahnya. Bahkan kecepatannya melebihi kecepatan keempat orang tadi.
Berlari selama beberapa menit, namun ia tak kunjung menemukan mereka.
"Kemana perginya mereka? Kenapa cepat sekali menghilangnya," batinnya.
Beberapa saat, ia merasakan suatu pergerakan di belakangnya. Sontak ia langsung berbalik dan mengarahkan tapaknya yang telah di lapisi energi Api pada sosok itu.
Namun ia langsung menghentikan aksinya ketika melihat sosok tersebut yang ternyata adalah Xiao Wang bersama dengan ketiga pengikutnya.
"Eeh, saudara Xiao!"
Ia menjadi salah tingkah, tak disangkanya bahwa orang yang di carinya saat ini telah berada di belakang dirinya. Namun yang membuat ia sangat khawatirkan adalah jika saja orang di hadapannya ini melihat semuanya.
"Ada apa? kenapa wajahmu seperti itu? Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Xiao Wang dengan senyum simpul terpampang di bibirnya.
"Eeh A-anu. A-aku.."
"Kenapa kau begitu gugup. Apakah kau takut aku mengetahui rencana mu?" kembali Xiao Wang berucap, dan tentu saja senyuman manis masih ia pertahankan.
"Sudahlah, kau tak perlu lagi berpura-pura, aku sudah tau semuanya."
*Sebelumnya.
"Tuan, ada yang ingin kami sampaikan padamu, tuan!" ujar Huo Shi.
"Apa yang hendak kalian sampaikan?"
"Tuan, harus berhati-hati dengan pemuda itu." Huo Shi mengingatkan Xiao Wang.
"Benar Tuan." Wu Lang menambahkan.
Xiao Wang mengernyitkan alisnya mendengar ucapan keduanya.
"Memangnya, ada apa dengan Guiji sehingga kalian begitu mengkhawatirkan aku mendekatinya."
__ADS_1
"Tuan! malam sebelum kami menyerang mu, aku melihat ia bertemu dengan sosok yang mengendalikan kami, waktu itu," jelas Huo Shi.
"Benarkah?"
"Benar tuan."
"Lantas, bagaimana dengan bekas cakaran di lengannya?" Tanya Xiao Wang lagi.
"Luka itu memang aku yang membuatnya. Namun kejadiannya tidak seperti yang ia ceritakan," terang Wu Lang.
"Jadi, maksudmu cerita yang dikisahkan Guiji barusan, semuanya itu hanya sebuah Karanganya semata?"
"Benar Tuan."
Wu Lang pun menceritakan yang sebenarnya. Dimana ia yang saat itu masih mempertahankan kesadarannya, berusaha memberontak dari kedua orang itu. Hingga cakarnya yang tajam tidak sengaja menggarut lengan Guiji.
Seketika pemuda itu naik pitam, hingga dengan kepalan tinjunya ia hantam kan ke arah kepala siluman itu, Setelahnya ia tak mengetahui apa-apa lagi karena semuanya telah gelap.
Xiao Wang mengangguk. "Jadi selama ini ia membohongiku. Tapi apa yang ia rencanakan?"
*
"Sudahlah, kau tak perlu lagi berpura-pura, aku sudah tau semuanya."
Merasa penyamarannya telah terbongkar, Guiji tak lagi memasang mimik wajah yang gelisah. Ia memasang seringai sinis setelahnya ke arah Xiao Wang.
"Baiklah, aku rasa tak ada gunanya lagi berpura-pura. To, kau juga sudah mengetahui semuanya kan."
"..Ck, aku tak menyangka kau bisa mengetahuinya dengan begitu cepat. Seorang reinkarnasi Dewa Tertinggi memang tak bisa di anggap enteng."
Xiao Wang melebarkan matanya mendengar ucapan Guiji barusan.
"Maksudmu?"
"Sudahlah, kau tak perlu lagi berpura-pura, aku sudah mengetahui semuanya!" Guiji mengulang kembali perkataan Xiao Wang barusan.
Xiao Wang tak memperhatikan ucapannya yang di ulangi oleh Guiji. Yang ia pikirkan saat ini adalah tentang perkataan pemuda itu sebelumnya. Terlalu banyak misteri yang tak dapat ia pecahkan.
Belum selesai dengan pikirannya, tiba-tiba Guiji melesat ke arahnya dengan tapak api yang di arahkan kepadanya.
__ADS_1
Sontak Xiao Wang langsung menghindari serangan dadakan itu. Tak berhenti sampai di situ, Guiji kembali melesatkan tapaknya yang seperti pedang berapi ke arah Xiao Wang.
Sementara ketiga orang di belakang Xiao Wang, yang melihat tuan mereka di serang, tak tinggal diam. Mereka juga menyerang Guiji dengan serangan gabungan, membuat Guiji kewalahan meladeni keempat orang yang menyerangnya sekaligus.